
Agnese membuka pintu rumah dan berjalan perlahan. Ia tidak langsung menuju ke kamarnya, ia justru melangkah ke arah kamar sang ibu. Dengan sedikit gugup, ia mendorong knop pintu.
"Mom?"
Briza menoleh ke sumber suara, lalu tersenyum singkat. "Kau sudah pulang?"
"Iya."
"Kau dari mana saja?" tanya Briza lagi.
"A ... Agnese baru pulang dari rumah Yoana."
"Benarkah?" Agnese mengangguk mengiakan, sementara tatapan Briza berganti ke arah seorang wanita yang terlihat sedang berdiri di dekat jendela dengan tangan yang saling bertaut dan menatap lantai. "Bisakah kau meninggalkan kami berdua?"
Maid itu mendongak dan menyunggingkan senyum untuk menanggapi, kemudian langsung keluar agar anak serta ibunya dapat berbincang santai tanpa melibatkan orang lain di dalamnya.
Ketika mendengar pintu sudah tertutup, Briza berkata, "Maaf kalau Mommy sudah jadi Ibu yang tidak berguna. Mommy tahu kalau kau mungkin bosan mengurus Mommy makanya akhir-akhir ini kau selalu menghilang."
Agnese menggeleng. "Bu ... bukan begitu. Ada yang harus Agnese lakukan beberapa hari ini, jadi Agnese jarang berada di rumah dan mengurusmu, Mom."
"Tidak apa-apa. Memang sudah saatnya kamu mementingkan diri sendiri." Tatapan Briza masih sama; menatap tempat maid tadi berada sebelum keluar dari kamar. Ia tidak ingin memperlihatkan wajah sedihnya karena merasa jika kepergian Agnese yang tiba-tiba disebabkan oleh dirinya yang tidak berguna.
Agnese berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Ia menggenggam kedua tangan Briza sambil mengelusnya sesekali. "Meski Agnese punya urusan lain, kau tetap menjadi prioritasku, Mom. Hanya kau satu-satunya yang kumiliki saat ini. Bagaimana aku bisa membiarkanmu sendiri di rumah yang penuh kenangan ini?"
Agnese melepaskan genggaman tangannya dan beralih memeluk Briza. "Agnese janji tidak akan meninggalkanmu lagi."
Briza tidak membalas apa pun. Ia hanya memejamkan mata untuk merasakan kehangatan pelukan Agnese yang sewaktu-waktu tidak bisa dirasakan lagi. Ia sangat bangga memiliki anak yang berpikiran dewasa seperti Agnese. Apalagi sekarang banyak anak yang gagal memahami keadaan orang tua saat mengalami masa sulit.
Jika bisa bertukar posisi, Briza akan memilih berada di posisi sang suami yang pergi lebih dulu agar kehidupan anak-anak mereka tidak berantakan seperti sekarang. Apalagi ia merasa hidupnya sia-sia karena tak bisa melakukan apa pun. Hanya terbaring menunggu asupan energi yang dibawa Agnese.
__ADS_1
🍒🍒🍒
Agnese berjalan lesu menuju kamarnya. Ia berhasil menenangkan Briza sampai wanita itu terlelap. Sekarang saatnya untuk membersihkan tubuh dan bersiap untuk bekerja. Ia melempar tas serta jaket yang menempel di tubuhnya ke tempat tidur tatkala tiba di kamar.
Setelah itu, Agnese mandi dengan berdiri di bawah shower untuk mendinginkan kepalanya yang saat ini mungkin tengah berapi-api karena kilatan memori terus menghujani pikirannya.
Well, Agnese menyalahkan Zach atas apa yang terjadi dalam hidupnya sekarang. Andai saja jika pria itu tidak membawanya secara paksa dengan alasan utang, mungkin ia tidak akan mendengar ucapan Briza yang terdengar putus asa dengan keadaan mereka.
Sungguh. Ia sendiri juga lelah dengan semuanya. Namun, ia harus bertahan demi seseorang yang tidak akan ditemukan di kehidupan lain. Ia berharap bisa membahagiakan Briza semaksimal mungkin selagi memiliki kesempatan.
Saat merasa sedikit lega, Agnese menyudahi aktivitas tersebut. Ia menggosok-gosok handuk di kepala agar air yang masih meresap di rambutnya perlahan menghilang. Belum selesai melakukan itu, ia mendengar ponselnya berbunyi.
Agnese berjalan ke arah tempat tidur untuk mengambil ponselnya di dalam tas. Ia melihat nama Yoana di layar ponsel dengan beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari temannya yang lain.
Apa kau sudah di rumah?
Agnese tersenyum sebelum mengetikkan pesan balasan untuk sahabatnya yang mungkin saat ini sedang khawatir.
Sudah.
Belum sempat melanjutkan aktivitas mengeringkan rambut, Yoana sudah membalas pesannya.
Aku akan ke sana sekarang.
Aku mau menunjukkan sesuatu padamu.
__ADS_1
Baiklah.
Take care!
Agnese meletakkan ponsel di atas tempat tidur dan memilih baju untuk digunakan sebelum Yoana datang. Ia mengambil kaos hitam dengan lengan panjang dan celana jeans berwarna putih.
Setelah memakainya, Agnese naik ke atas tempat tidur dan bermain ponsel untuk menghilangkan kejenuhannya menunggu Yoana. Saat terpikir sesuatu, ia langsung mengetik sebuah pesan untuk Dennis agar maid yang dikirim beberapa waktu lalu untuk membantunya segera pergi. Ia akan melakukan semuanya mulai besok dan tidak perlu dibantu.
Sekitar satu jam kemudian, terdengar ketukan. Dengan segera, Agnese bangkit untuk membuka pintu yang sempat dikunci saat masuk. Ia membiarkan Yoana masuk dengan membantu memegang sebuah paper bag dari salah satu restoran cepat saji.
Agnese menyimpan makanan tersebut di atas nakas. Ia tak langsung bergabung dengan Yoana di tempat tidur. Ia tetap berdiri di depan nakas untuk menikmati kentang goreng yang masih hangat sambil memerhatikan Yoana yang terlihat sibuk mengotak-atik laptop.
"Agnese, kau tahu, tidak?"
"Ada apa?"
"Ansel Mahardika akan datang ke New York!" jawab Yoana dengan semangat.
Agnese mengernyit. "Siapa dia?"
"Astaga, Agnese! Ansel pun kau tidak tahu?"
"Memangnya dia siapa?"
"Dia penyanyi yang terkenal hampir di semua belahan bumi ini."
"Benarkah?" Yoana mengangguk. "Lalu kenapa aku bisa tidak mengenalnya? Berarti dia tidak seterkenal itu, 'kan?"
Yoana mendengus sebal. Jawaban yang dilontarkan Agnese benar-benar membuatnya menguras emosi dan tenaga. Terkadang jika ingin berbicara dengan sahabatnya itu, memang butuh persiapan tenaga dan mental yang kuat.
__ADS_1
"Jangankan Ansel, kau bahkan tidak tahu apa saja yang terjadi di sekelilingmu. Bahkan pemilik yayasan sekolah yang sudah kau tempati beberapa tahun tidak kau tahu," kata Yoana dengan menggebu.
Agnese mengangkat bahu dengan acuh. "Lagi pula aku tidak peduli dengannya."