
"Ada apa?" tanya Agnese sambil mengunyah.
"Kita harus segera pergi dari sini."
Dennis menjadi tidak tenang berada di sana. Ia kembali duduk dan meneguk margarita hingga tandas, tetapi kali ini sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan orang itu. Karena ia yakin jika dia pasti belum pergi dari sana.
"Kau belum selesai makan." Agnese mengelap mulutnya dengan selembar tisu karena telah menghabiskan tacos dan organic chocolate milk yang dipesan tadi. "Habiskanlah, aku akan menunggu," sambungnya.
"Tidak apa-apa. Aku bisa makan nanti. Sekarang kita harus pergi dari sini."
"Tapi ...."
"Tidak ada kata 'tapi', ayo!"
Dennis bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Agnese pun mengikuti langkah pria itu. Namun, sebelum tangan Dennis menyentuh pintu, Agnese berhenti.
"Eh, tunggu!"
Dennis berbalik menatap Agnese. "Ada apa?"
"Aku mau mencoba main itu," jawab Agnese sembari menunjuk mesin capit boneka.
Tatapan Dennis mengarah ke tempat yang ditunjuk Agnese. Keningnya mengernyit saat melihat sebuah mesin capit boneka yang dikerumuni beberapa anak. Ia menatap Agnese yang juga tengah menatapnya dengan penuh harap. Ia mengembuskan napas panjang. Padahal ia belum tahu apa maksud orang itu mengambil gambar mereka berdua. Namun, melihat wajah Agnese membuatnya tidak bisa menolak.
"Baiklah, tapi jangan lama."
Agnese mengangguk dan berjalan ke arah mesin yang menyimpan banyak boneka di dalamnya dengan perasaan sennag. Ia berdiri di antara beberapa anak yang memainkan mesin tersebut. Sambil memerhatikan mereka bermain, otaknya memutar sebuah memori tatkala ia menghampiri mesin yang sama bersama sang ayah. Raut wajahnya berubah, dari senang menjadi sedih.
Kehilangan seseorang yang sangat disayangi memang selalu terasa sulit. Apalagi kehilangan yang diakibatkan oleh kematian. Akan selalu timbul perasaan sedih karena ketidakmampuan diri untuk bertemu dengan sosok yang membuat hati pedih. Seperti yang dirasakan Agnese saat ini. Ia hanya bisa tersenyum membayangkan dirinya yang sedang tertawa kala melihat sang ayah berjuang mendapatkan boneka di mesin capit tersebut.
__ADS_1
Dari tempat Dennis berdiri, ia melihat Agnese mendadak kehilangan rasa bahagia yang baru saja tercipta. Sambil tetap waspada, ia menghampiri gadis itu. "Hei! Ada apa? Mengapa wajahmu menjadi murung?"
Agnese menghela napas panjang, lalu menatap kosong ke depan. "Aku pernah bermain mesin capit bersama mendiang Ayah, tapi semua itu hanya bisa dikenang, tidak bisa diulang."
"Tunggu di sini. Aku akan kembali," ujar Dennis, lalu meninggalkan Agnese yang mengernyit karena bingung dengan maksudnya.
Tak berselang beberapa lama, Dennis kembali. Ia meminta anak-anak yang berada di sana untuk menyingkir terlebih dahulu dan membiarkan dirinya yang mengambil alih atas permainan itu. Ia memasukkan koin yang sudah ditukarkan di kasir, lalu menyentuh alat penggerak untuk mencari boneka mana yang berkesempatan besar dapat diraih.
Percobaan pertama, kedua, ketiga, bahkan hingga percobaan yang keempat, Dennis belum berhasil membuat pencapit tersebut meraih sebuah boneka untuk dibawa ke lubang yang akan mengeluarkan boneka itu. Orang yang dicarinya pun telah pergi karena ia terlalu sibuk untuk mendapatkan sesuatu yang bisa dibeli tanpa menghabiskan watu untuk mendapatkannya.
Agnese tertawa menyaksikan kegagalan demi kegagalan yang dialami Dennis. "Sudahlah. Kau tidak akan bisa mendapatkannya."
Dennis menatap Agnese sejenak dan kembali memasukkan koin ke dalam mesin. Ia masih belum mau menyerah. Ia yakin jika mesin itu dapat ditaklukkan dan boneka yang ada di dalam bisa keluar. Apalagi saat mendengar tawa Agnese, itu membuat semangatnya semakin berkobar.
Entah hingga percobaan yang ke berapa, Dennis berhasil membawa boneka ke lubang. Ia pun menunduk untuk mengambil hadiah dari kerja kerasnya. Ia menyodorkan boneka tersebut kepada Agnese. "Ini untukmu."
"Thanks, Dennis," ucap Agnese seraya menerima boneka yang disodorkan Dennis.
Dennis senang melihat Agnese tersenyum sambil memeluk boneka hasil pertarungannya dengan mesin capit. Ia bahkan melupakan orang misterius yang sempat mengambil gambarnya dengan Agnese. Yang terpenting sekarang adalah gadis itu tidak sedih lagi. Apalagi tujuan utama mengajak Agnese keluar untuk membuatnya senang.
"Ayo!" ajak Dennis yang diangguki Agnese.
Begitu pintu restoran tertutup, Dennis memencet salah satu tombol yang ada di kunci dan berjalan mendekat ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari pintu masuk. Saat tiba di depan mobil, ia berjalan menuju pintu yang akan dimasuki Agnese. Namun, sebelum berhasil membuka, gadis itu menolak sehingga ia langsung berjalan memutar untuk masuk ke dalam dan duduk di kursi kemudi.
Dennis menginjak pedal gas dan segera mengemudi menuju rumah Agnese. Rencana yang telah disusun saat perjalanan menuju sekolah hancur seketika karena ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Ia akan mengantar gadis itu pulang dan menyelidiki orang misterius tadi setelahnya.
Sambil fokus menyetir, Dennis sesekali melirik Agnese yang tak henti-hentinya mengusap kepala boneka sambil tersenyum.
"Apa kau suka?" tanya Dennis.
__ADS_1
Agnese tersenyum. "Aku suka, terima kasih."
"Aku senang kau menyukainya."
"Aku lebih senang dengan perjuanganmu mendapatkannya."
"Benarkah?"
Agnese mengangguk dan kembali mengingat bagaimana perjuangan Dennis mendapatknanya. "Aku percaya dengan kata orang kalau usaha tidak akan mengkhianati hasil. Karena usahamu tadi berhasil membuatku melupakan kesedihanku dalam sejenak," jawab Agnese dengan jujur.
Dennis bernapas lega mendengar pernyataan Agnese. Setidaknya perjalanan singkat hari ini tidak sia-sia.
"Lain kali, aku akan membawamu ke tempat yang kumaksud. Hari ini cukup sampai di sini."
Agnese menatap Dennis. "Memangnya kenapa?"
"Ada yang harus kulakukan."
"It's okay. Lagi pula kau sudah menepati janjimu untuk membuatku senang."
Beberapa puluh menit ke depan, Dennis berhenti tepat di depan rumah Agnese. Ia menarik sedikit tuas rem tangan ke atas, lalu menatap Agnese.
"Masuklah!"
Agnese tersenyum menanggapi dan segera membuka sabuk pengaman. Selepas itu, ia membuka pintu mobil dan menurunkan kaki kanannya. Sebelum kaki yang lain ikut turun, ia memusatkan pandangannya pada sosok pria yang menggenggam setir sejak tadi.
"Dennis?"
"Ya?"
__ADS_1
Agnese kembali menyunggingkan senyum. "Terima kasih," ucapnya kemudian.