
"Ada apa, Tuan? Kenapa wajah Anda kesal begitu?"
Zach mendongak lalu menatap sekretarisnya. "Ibu memintaku pulang."
"Lalu, apa yang Anda pikirkan?"
"Ibu memintaku kencan dengan wanita pilihannya lagi," jawab Zach, lalu mendengus sebal karena teringat akan permintaan Camila, sang ibu.
Sekretaris itu menghela napas panjang. Terkadang ia merasa kasihan pada Zach karena kehidupannya selalu diatur oleh sang ibu. Namun, karena Zach sangat menyayangi Camila, pria itu rela melakukan apa saja.
"Apa Anda akan pergi kencan hari ini?" Zach mengangguk. "Saya akan mengantar Anda."
"Tidak perlu. Kau sudah banyak bekerja, istirahatlah."
Sekretaris itu menggeleng. "Saya hanya ingin memastikan keadaan Anda, Tuan."
"Baiklah, tapi sebelum itu, tolong cari tahu tentang orang yang kau belikan ponsel."
Tubuh sekretaris itu menegang. Bagaimana tidak? Sebelum diminta, ia telah mencari tahu informasi mengenai seseorang yang dibelikan ponsel beberapa hari yang lalu. Ia melakukan itu karena tidak ingin terjadi apa-apa pada Zach.
Bagaimana ini?
"Hei! Kenapa kau diam saja? Kau tidak mau membantuku?" tegur Zach saat sekretarisnya hanya diam.
Sekretaris itu terlonjak kaget. "Eh, tidak! Bukan begitu, Tuan."
"Lalu?"
Sekretaris itu berdeham. "Sebenarnya ... saya sudah mencari tahu tentangnya, Tuan."
"Apa?!" Zach bangkit dari duduknya lalu menatap sekretaris itu dengan tatapan tidak percaya. "Kenapa kau lakukan itu?"
"Maaf, tapi saya melakukan itu untuk menjaga Anda."
Zach diam dan mencerna ucapan sekretarisnya. Ia tahu betul bagaimana sikap cekatan pria itu. Sebenarnya ia senang karena tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui informasi yang diinginkan, tetapi ada rasa tak suka yang menghinggapinya. Ia menghela napas panjang lalu kembali duduk.
"Ceritakan tentangnya sekarang," titah Zach yang langsung diangguki sekretaris itu sebelum menyampaikan informasi yang berhasil dikumpulkan.
Saat sekretaris itu menyampaikan jika Agnese bekerja paruh waktu untuk memenuhi kehidupannya, Zach terkesiap dan langsung berdiri. "Ayo, antar aku ke tempat kerjanya."
"Bagaimana dengan kencan Anda, Tuan?"
Zach mengangkat bahu acuh. "Aku bisa bertemu dengan orang itu malam nanti. Sekarang antar saja aku ke tempat kerjanya."
“Baik.”
Tangan kanan Zach itu mulai menyusuri jalan dengan kecepatan normal setelah mendapat kabar dari seseorang jika orang yang ingin ditemui Zach sedang ada di sana. Ia tersenyum simpul sambil menatap wajah Zach melalui kaca spion dalam. Tak pernah terpikirkan olehnya jika ia akan turun tangan membantu sang atasan untuk mencari tahu tentang seorang wanita yang bahkan masih belia.
__ADS_1
Meski begitu, ia merasa senang apalagi Zach jarang melibatkannya dalam urusan pribadi. Ia rela melakukan apa pun demi Zach karena pria itu sudah banyak membantunya. Banyak yang tak diketahui orang luar mengenai sang atasan sebab ada beberapa hal yang menurutnya aneh, tetapi lucu.
“Sudah berapa lama dia bekerja di sana?” tanya Zach tiba-tiba.
“Tidak lama setelah ayahnya meninggal,” jawab sekretaris itu sembari tetap fokus menyetir.
Alis kanan Zach terangkat. “Meninggal?”
Zach memang baru mendengar sebagian informasi tadi, belum sampai di berita duka itu. Jadi, ia sedikit terkejut saat mendengarnya. Ia kembali meminta penjelasan agar tidak membebani pikirannya.
“Iya. Dari informasi yang saya dapatkan, ayahnya dibunuh dan ibunya terkena strok setelah kejadian itu.”
Kasihan sekali kau, Gadis Kecil. Tapi aku tidak akan berhenti mengganggumu.
Zach memandang jalan dengan pandangan kosong. Sebutlah ia kejam dan egois, tapi itulah dirinya. Ia tidak segan-segan melakukan sesuatu yang tak pernah dipikirkan orang lain. Ia tidak peduli jika yang sedang dihadapi adalah wanita sebab sedari dulu ia memang kurang suka dengan wanita apalagi mengingat perbuatan ibu kandungnya.
Zach mendengus karena merasa perjalanan kali ini sangat lama. “Berapa lama lagi kita akan sampai? Kenapa kau tidak menambah kecepatan? Kalau dia pergi dari sana, bagaimana?”
"Tenang saja, dia akan ada di sana sampai malam tiba."
“Baguslah.”
Setelah melalui perjalanan yang lumayan panjang, Zach akhirnya tiba di tempat yang dimaksud sang sekretaris. Ia segera turun dari mobil dan membawa laptop sebagai alat untuk menutup diri. Saat di dalam, ia mengedarkan penglihatan untuk mencari sosok itu, tetapi tidak ada. Ia memutuskan untuk duduk dan menunggu.
Karena tak kunjung melihat sosok yang dicari, Zach berdecak sebal. Rasanya sia-sia datang ke sana jika tidak bertemu. Ia mengirim pesan pada sang sekretaris untuk menanyakan kebenaran informasi yang didapat. Namun, saat tengah menunggu balasan, ia melihat seorang pelayan lelaki, jadi ia memanggilnya.
"Agnese?" Zach mengangguk. "Iya, ada."
"Dia ada di mana sekarang?"
Pelayan lelaki itu mengernyit, lalu menatap Zach dari kaki hingga kepala. Ia sedikit curiga karena ditanya tentang Agnese. Ia tak biasa memberi informasi pada orang asing sebab ia menghargai privasi Agnese.
Karena paham pada situasi yang terjadi, Zach menyunggingkan senyum dengan paksa. "Tenang saja, saya tidak punya niat jahat pada gadis itu. Saya hanya ingin bertanya mengenai sepupunya yang kebetulan adalah temanku," jelas Zach yang membuat pelayan itu mengangguk.
"Baik. Tunggu di sini, biar saya memanggilnya." Pelayan itu memutar tubuh dan berjalan, tetapi berhenti saat mendengar teriakan Zach. "Ada apa, Tuan?"
Zach menyerahkan beberapa lembar uang, lalu menyodorkannya pada pelayan itu. "Ambillah."
"Eh, tidak usah, Tuan."
"Ambillah, itu hadiah untukmu yang sudah membantuku," jelas Zach yang membuat pelayan itu tersenyum senang sebelum menerima uang darinya.
Setelah itu, ia melihat pelayan itu pergi untuk menghampiri Agnese. Sementara dirinya langsung memakai kacamata dan menatap layar laptop agar tidak dikenali. Tak lama kemudian, ia mendengar sebuah suara yang sangat ingin didengar dari tadi.
“Permisi, apakah Anda ingin memesan sesuatu?”
Zach mendongak, membuka kacamata, kemudian tersenyum jahil. “Bagaimana kalau aku memesanmu?”
__ADS_1
Pelayan yang belum lama menginjakkan kaki di depan meja Zach langsung mematung. Mengapa di saat ia ingin terbebas dari ingatan-ingatan buruk, ia harus bertemu dengan orang yang menciptakan ingatan itu? Ia menghela napas panjang, lalu memberanikan diri untuk menatapnya.
“Maaf, di sini tidak melayani pesanan manusia. Hanya ada makanan dan minuman, terima kasih,” pelayan itu segera beranjak dari sana.
“Hei, tunggu!”
Pelayan itu mengembuskan napas kasar, berhenti berjalan, dan kembali ke tempat Zach. “Ada apa? Sebaiknya Anda memanggil pelayan yang lain saja.”
“Kenapa kau begitu ketus? Bukannya aku yang seharusnya bersikap begitu?”
Pelayan itu mengernyit. “Maksudnya?”
“Apa kau ingat? Kau sudah menamparku, Nona Agnese.”
“Kau? Dari mana kau tahu namaku? Kau harus tahu kalau aku tidak pernah menyesal sudah menamparmu. Justru aku senang melakukannya apalagi kau ...." Agnese terdiam sejenak dan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Yoana menjelaskan padanya mengenai insiden yang sebenarnya.
"Aku kenapa?"
Berbohong sekali tidak apa-apa, 'kan?
Agnese memejamkan mata, lalu mengembuskan napas panjang. "Kau mengambil sesuatu yang berharga dariku."
“Apa harga dirimu begitu rendah sampai hanya dibalas dengan tamparan?” Zach tertawa meremehkan lalu bersedekap. “Kasihan sekali.”
Seharusnya Agnese tahu jika pria di depannya ini akan mengaku seperti itu meski ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia terlihat sangat kesal setelah mendengar ucapan pria itu. “Sebenarnya apa maumu?”
“Menagih utang, mungkin?”
Agnese terbelalak. “Utang apa? Bukankah semua sudah selesai setelah kau mengantarku pulang dan ke sekolah?”
“Tidak semudah itu, Gadis Kecil. Justru utangmu semakin banyak padaku.”
Agnese menarik napas dalam, lalu mengembuskannya. Seharusnya ia tidak boleh percaya begitu saja pada omongan orang asing. Ia mengepalkan tangan agar amarahnya menghilang. Ia tidak boleh lepas kendali jika tak ingin sesuatu yang lebih buruk akan menimpanya.
“I don't fuc*ing care about that.”
Zach terkekeh. “Kau tak cocok berkata kasar seperti itu. Lebih baik kau menyebut namaku nanti saat kita ....”
“Apa? Jangan harap aku mau melakukannya denganmu. Kau bukan orang yang kucintai, jadi jangan bermimpi bisa melakukannya denganmu.”
“Kita lihat saja nanti.”
“Nanti? Kuharap setelah hari ini, kita tidak pernah bertenu lagi. Dan, ya ... urusan kita sudah selesai,” kata Agnese sebelum meninggalkan Zach.
“Sialan!” umpat Zach saat Agnese sudah menjauh.
Zach tahu jika ucapannya sangat melantur, tetapi ia tidak bisa mengontrolnya. Ia seperti ingin mengeluarkan kalimat itu untuk membuat Agnese kesal dan melawan. Ia senang bisa berdebat mengenai hal yang tak penting daripada tidak terjadi percakapan sedikit pun yang akan membuatnya terus memikirkan gadis itu.
__ADS_1