Married With Stranger

Married With Stranger
Penolakan Yang Ke Sekian Kali


__ADS_3

Tetesan air jatuh dari rambut Agnese yang baru saja selesai keramas, membuat lantai kamar sedikit basah. Namun, ia segera melapisi rambutnya dengan handuk sembari berjalan ke tempat tidur. Ia memakai baju tidur milik Rachel yang terlihat kebesaran di tubuhnya karena baju itu untuk ukuran perempuan hamil.


Agnese menatap kakinya yang terbalut perban dan sedikit basah akibat terkena percikan air tatkala dirinya sedang mandi meskipun sudah berusaha menjauhkan dari jangkauan air. Ia kemudian menatap ke arah meja rias yang terdapat sebuah alat pengering rambut.


Dengan langkah terseok-seok, Agnese menghampiri meja rias tersebut. Ia pun melanjutkan aktivitas mengeringkan rambut, tetapi kali ini menggunakan hairdryer. Pikiran gadis itu menjelajah kembali pada saat seorang wanita paruh baya datang dan merendahkan dirinya yang 'katanya' tidak pantas bersanding dengan pria asing-maksudnya pemilik yayasan sekolah.


Ingatan Agnese juga tak luput dari pria itu yang ingin berbicara sesuatu padanya setelah mandi. Entah kenapa ia tiba-tiba saja memikirkan semua permasalahan yang tidak seharusnya dipikirkan.


"Apa yang akan dia katakan?"


gumamnya.


Ketika hendak menyelam lebih jauh ke dalam dunia imajinasi, Agnese segera tersadar karena ponselnya berdering. Tertera nama seseorang yang tengah berada di salah satu negara yang berada di Benua Asia, tepatnya Indonesia. Dengan senyum yang mengembang, ia menggeser tanda panah ke kanan untuk menjawab telepon sebelum menempelkannya ke telinga.


"Dennis!"


"Hey, Agnese! How's it going?"


"I'm pretty good, Dennis. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah menangkap penjahatnya?" tanya Agnese antusias.


"Ya, aku baik-baik saja dan sebentar lagi akan kembali." Dennis menggeleng untuk menjawab pertanyaan Agnese yang kedua meskipun gadis itu tidak dapat melihatnya sembari memasukkan salah satu tangan ke dalam saku celana dan menatap pemandangan Bundaran HI dengan kendaraan yang tampak memenuhi jalan meskipun masih pagi. "Apakah kau dan Tuan Zach tidak apa-apa selama aku pergi? I mean, aku khawatir kepergianku membuat kalian terluka."


"Sebenarnya, kemarin saat kami berada di—"


"Hei, Gadis Kecil!" potong seseorang dari depan pintu kamar sambil mengetuknya beberapa kali.


Agnese menghela napas panjang. "Nanti kita bicara lagi, ya, Dennis? Aku harus melakukan sesuatu."


"Baiklah. Have a nice day, Agnese."

__ADS_1


"Thanks, you too."


Panggilan pun terputus. Agnese menggerakkan tangannya untuk mengambil sebuah remote di atas nakas dekat tempat tidur agar pintu kamar yang ditempati saat ini terbuka tanpa perlu disentuh. Begitu benda yang berfungsi sebagai tempat masuk dan keluar terbuka dan menampilkan sosok Zach, raut wajah gadis itu berubah penasaran.


"Bisakah kita berbicara sebentar?"


Agnese mengangguk. "Ada apa?"


Zach tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat ke arah Agnese diikuti tatapan gadis itu, kemudian duduk di sebuah sofa dekat tempat tidur dan menatap Agnese dengan serius. Sebenarnya ia bingung harus mulai dari mana sebab tak menutup kemungkinan jika apa yang hendak dibicarakan hari ini tidak akan berjalan sesuai keinginannya.


Namun, jika tak dibicarakan, Zach tidak ingin kehilangan kesempatan apalagi sang ayah dan adik tahu bahwa gadis yang sedang menatapnya sekarang merupakan kekasih yang akan dinikahi. Ia kemudian menghela napas yang panjang dan berdeham sejenak untuk menghilangkan kecanggungan yang melandanya.


Zach berdeham. "Kau tahu jika keluargaku menganggapmu sebagai calon istriku, bukan?" jawab Zach, tetapi dengan melontarkan pertanyaan.


"Ya, lalu?"


Zach memperbaiki posisi duduknya, lalu menggaruk batang hidung mancungnya sebentar karena mendadak gatal.


Dengan alis yang berkerut, Agnese bertanya, "Bantuan apa? Yang kemarin saja belum selesai, sekarang kau minta bantuan lain."


"Aku tahu, tapi kali ini saja kau membantuku. Kau mau menikah denganku, 'kan?" tanya Zach dengan penuh harap.


Berbeda dengan Zach, Agnese justru menggeleng tak percaya. Menikah? Bagaimana bisa pria itu memintanya untuk membantu dengan menikah yang di mana perbuatan tersebut akan melanggar permintaan Camila, Ibu Zach?


Meskipun dulu Agnese juga pernah berbohong dan melanggar perintah orang tuanya, tetapi setelah salah satu dari mereka tiada, ia tidak pernah lagi melakukan hal tersebut sebab tujuannya sekarang hanya satu; membuat Briza bahagia apalagi tak ada lagi yang tersisa di keluarga kecuali dirinya dan sang ibu.


Agnese terlihat menggeleng sebelum menjawab. "Maaf, kurasa lebih baik kau mendengarkan ucapan Ibumu. Dia benar, kau tak pantas bersanding dengan orang biasa."


"Ibuku hanya berbual, tak usah didengar."

__ADS_1


"Kurasa aku sudah terlalu jauh ikut campur masalahmu. Tidak lama lagi Dennis juga akan segera kembali. Lagi pula aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang tidak kucintai karena aku hanya menginginkan pernikahan sekali seumur hidup."


"Kita tidak perlu bercerai jika kau mau. Tak ada yang tahu hari esok. Mungkin saja kita tiba-tiba saling mencintai setelah menikah," kata Zach dengan menekan kata 'mencintai' karena ia sendiri kurang yakin dengan perkataannya. Namun, demi membuat Agnese menyetujui permintaannya, pria itu akan melakukan apa pun.


"Terkadang pilihan orang tua tidak pernah meleset. Lagi pula kenapa kau tidak terima saja perjodohanmu dengan perempuan pilihan Ibumu?"


Zach terdiam. Ia terlihat berpikir. Jika ditanya kenapa, ia bingung dengan jawaban apa yang harus diberikan sebab tak ada alasan khusus untuk menolak perjodohan yang selalu diatur Camila untuknya. Namun, ada sesuatu dalam diri Zach yang membuatnya menolak mereka-perempuan-perempuan yang dijodohkan dengannya-dari dulu.


Zach seperti sedang menanti seseorang yang dapat menerima dirinya dengan tulus. Seseorang yang tidak memandang berdasarkan siapa Zach, tetapi bagaimana dirinya memperlakukan orang lain. Terlebih yang ia lihat dari semua perempuan yang pernah ditemui atas rekomendasi sang Ibu tak lebih dari sekadar perempuan gila harta dan kehormatan.


Saat asyik berpikir jawaban, sebuah suara dari arah depan membuat Zach terlonjak kaget. "Kenapa kau diam saja?"


Zach menatap Agnese sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan secara bergantian beberapa kali. "Sebenarnya tidak ada alasan. Aku hanya tidak menyukai mereka."


"Kalau begitu ... kau menyukaiku?" tanya Agnese yang membuat Zach gelagapan.


Zach pun segera membantah pertanyaan yang dilontarkan Agnese. "Bukan begitu!"


"Lalu mengapa kau memintaku untuk menikah denganmu?"


"Aku hanya tidak memiliki pilihan lain." Zach mengembuskan napas kasar. "Tidak bisakah kau membantuku untuk terakhir kali?" lanjutnya.


"Mungkin bagimu itu adalah hal terakhir, tapi bagiku semua ini adalah awal dari penderitaan. Terlebih aku masih sekolah dan harus kerja saat malam hari. Ada Ibuku yang harus aku rawat."


Mendengar jawaban Agnese, Zach langsung berdiri dan mendekat ke arah gadis itu. Ketika sudah berada tepat di hadapan Agnese yang sedang duduk di tempat tidur, ia pun berjongkok dan menatap mata milik Agnese dengan dalam.


"Sungguh, aku akan memenuhi semua keinginanmu. Bahkan aku akan membawa Ibumu berobat ke ahli terbaik sampai sembuh, bukan hanya menanggung biaya obatnya selama sebulan. Kau mau, 'kan?"


Agnese tersenyum simpul dan menggeleng pelan. "Maaf, tapi jawabanku masih sama, aku tidak bisa."

__ADS_1


***


To be continued ....


__ADS_2