Married With Stranger

Married With Stranger
Mission Completed


__ADS_3

Ismed segera turun dari kendaraan roda empat yang digunakan saat mengejar dan menghampiri orang-orang yang ia lihat ketika sedang membersihkan kotoran telinga sembari menunggu pasukan Dennis keluar dari dalam gedung. Ia mengucapkan sumpah serapah kepada mereka dengan logat Jawanya yang kental. Sedangkan Zeno dan beberapa orang lainnya dengan cepat melumpuhkan dan mengunci pergerakan mereka agar tidak dapat kabur lagi.


Dengan penuh kemarahan, Dennis mendekat dan langsung mencengkeram kerah baju salah satu dari mereka. "Siapa yang mengirim pesan ancaman kepada Tuan Zach?!" tanya Dennis dengan bentakan.


Namun, Dennis tak mendapat jawaban karena mereka tidak ingin membocorkan hal tersebut, terlihat dari mulut mereka yang mengatup dan mereka saling tatap.


Ismed dengan angkuhnya berdiri di samping Dennis dengan tangan yang bersedekap dada. "Menowo ditanya kui dijawab! Bukan diam kayak orang bisu! Nanti Mister Bule ngamuk, baru tahu rasa kalian!"


Sebenarnya alasan mereka tetap diam bukan hanya karena tidak ingin membocorkan informasi.


Bukan.


Mereka justru sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan pria berkulit putih itu. Bahkan aksi saling tatap yang dilakukan pun tidak membuahkan hasil. Apalagi saat menerima perintah kemarin, mereka mendengar dalam Bahasa Indonesia, bukan bahasa asing.


"Kenapa diam saja?!"


Suara Dennis kembali terdengar, bahkan kali ini lebih menunjukkan aura kemarahannya. Ismed yang tadinya berdiri dengan berani langsung mundur beberapa langkah karena ketakutan meskipun tidak paham apa yang dikatakan Dennis.


Dennis mengembuskan napas kesal, kemudian mengeluarkan benda temuan Zeno dan diperlihatkan kepada mereka yang menjadi tawanan kali ini. "Apakah semua ini yang kalian gunakan saat mengirim pesan kepada Tuan Zach?"


Nihil.


Dennis tetap tidak mendapatkan jawaban apa pun. Padahal ia sangat berharap jika misinya kali ini akan selesai dalam waktu dekat. Namun, jika informan yang dimintai keterangan tidak menggubris, sepertinya ia harus menghabiskan waktu lebih lama di negara beriklim tropis itu.


Ismed yang teringat akan perkataan Rud langsung sigap mengeluarkan ponselnya dan membuka translator sebelum diserahkan kepada Dennis. "Iki, Mister. Kata Mas Rud, Mister harus pakai aplikasi kalau mau bicara sama orang di sini."


Dennis menerima uluran ponsel Ismed dan segera bertanya kembali. Semoga saja ia mendapatkan jawaban kali ini. Jika tidak, ia tidak tahu sampai kapan bisa menahan emosi untuk tidak menghabisi mereka.

__ADS_1


"Watson, dia yang menyuruh kami melakukan itu," jawab salah satu dari mereka bersamaan dengan Siri yang selesai mengartikan ucapan Dennis.


Dennis tersenyum lega. Meskipun orang itu menyebut nama yang salah, tetapi ia sangat yakin jika dalang di balik semua aksi teror yang dilakukan terhadap Zach adalah William Sean Waston. Ia pun mengembalikan ponsel Ismed dan meminta pasukan Frans Wijaya segera melepaskan orang suruhan Waston yang berhasil mereka tangkap dan meninggalkan tempat itu.


Dalam perjalanan pulang, Dennis berterima kasih kepada semua pasukan yang telah turut andil membantunya menangkap orang suruhan Waston. Untuk merayakan keberhasilan, ia akan mentraktir mereka makan di salah satu restoran yang mereka inginkan. Selain itu, ia juga akan membagikan royalti sebagai bentuk terima kasih.


...🍒🍒🍒...


Satu per satu kendaraan berhenti di sebuah tempat makan yang dipilih atas keputusan bersama, kecuali Dennis karena ia akan mendukung apa pun keputusan yang dipilih mereka yang telah membantunya.


"Wah, iki restoran atau istana?" celetuk Ismed saat melihat desain eksterior dari restoran yang dituju Dennis atas permintaan anak buah Frans Wijaya.


Mereka memasuki restoran yang kebetulan sedang sepi karena jam makan siang sudah lewat dengan beriringan. Mereka menempati beberapa meja karena tidak tersedia meja besar yang dapat menampung mereka semua. Setelah memesan, mereka semua sibuk bercengkerama.


Berbeda dengan Ismed. Di saat semua orang menjaga image di hadapan Dennis, Ismed justru menjelajahi restoran tersebut. Bahkan ia mendekati barista yang sedang membuat beberapa pesanan dari rombongannya. Ia mendekatkan hidungnya pada kumpulan toples yang berisikan macam-macam kopi berbeda di setiap toples. Ia membuka salah satu toples dan memegang sendok kecil yang berada di dalam, kemudian mengisi kopi ke sendok dan diarahkan ke hidung untuk menghirup aromanya.



Ismed yang ditegur seperti itu langsung menjauh karena salah tingkah. Namun, ia tidak kembali ke dalam rombongan, ia justru berjelajah di bagian yang lain. Melihat dan meneliti apa pun yang terpajang dengan kagum.


Ketika merasa puas berkeliling, Ismed menghampiri meja yang terdapat Dennis dan tersenyum lebar tatkala melihat seorang pelayan membawa nampan yang berisi selada, tomat, dan spageti—mie khas Italia yang sangat Ismed inginkan selama di kampung ketika menonton orang di televisi memakannya—pesanan Ismed. Dengan antusias, ia pun segera mendekati dan berjongkok tepat di samping piring spageti.


Ismed mengeluarkan ponselnya dan menatap Anu. "Mas Zeno, tolong fotoin, dong. Iki momen langka, harus difoto," pinta


Ismed.


Begitu Zeno sudah siap mengambil gambar, Ismed pun tersenyum dengan hidung yang sengaja dibuat berkerut dan menunjuk ke arah spageti.

__ADS_1



"Nih," kata Zeno sembari menyodorkan ponsel Ismed.


Namun, Ismed menolak dengan dalih suapan pertama juga harus diabadikan agar dapat ditunjukkan kepada keluarga di kampung jika ia berhasil memakan makanan favoritnya. Ia lalu menyendokkan spageti tersebut ke dalam mulutnya, tetapi tidak mengunyah. Ia justru langsung tersenyum sehingga membuat bagian mie yang tidak masuk ke dalam mulut bergelantungan di sudut bibirnya.


Zeno melakukan permintaan Ismed dengan baik. Meskipun objek foto yang diabadikan tidak terlalu menarik, tetapi hasil tangkapan gambarnya lumayan bagus. Ia menunjukkan hasil tangkapannya kepada Ismed.


"Sudah, ya. Saya juga mau makan," kata Zeno setelah mengembalikan ponsel Ismed.


"Aku ganteng juga, yo, mirip Aliando," puji Ismed ketika melihat wajahnya di dalam foto.


Pasukan yang lain tertawa ketika Ismed dengan bangga memperlihatkan foto yang diambil Zeno kepada mereka. Eskpresi pria berambut panjang itu sangat mengocok perut. Tak lupa Ismed juga memperlihatkan foto tersebut kepada Dennis.



Pria berkebangsaan negeri Paman SAM itu tertawa sambil mengangkat kedua jempolnya. "That looks good."


Ketika makanan yang lain baru saja diantarkan, Dennis langsung menyodorkannya kepada Ismed, berharap teman barunya menyukai hidangan tersebut.


"Ini harganya berapa, Mister? Cuma sosis sama buncis," ujar Ismed, kemudian menggigit hidangan sosis bakar yang menempel pada tusuk sate.


"Ismed!" panggil Dennis agar Ismed menatapnya yang sedang bersiap mengambil gambar.



Begitu berhasil mendapatkan foto Ismed, Dennis kembali tertawa. Sungguh. Meskipun misi kali ini terasa kurang menantang, tetapi ia senang karena dapat bertemu orang-orang baik seperti Ismed dan Zeno.

__ADS_1


__ADS_2