Married With Stranger

Married With Stranger
Mediator


__ADS_3

Zach mengempaskan tubuhnya di atas sofa sembari melonggarkan simpulan dasi. Ia memijit batang hidungnya agar pusing yang melanda sedikit reda. Perdebatan yang terjadi antara Alex dan Sean di acara reuni tadi sangat menguras kesabaran. Untung saja ia pernah menjadi saksi saat kontrak pernikahan mereka terjadi sehingga perdebatan itu sedikit meredup.


Namun, Zach memberi pilihan pada kedua pria yang tengah memperebutkan Rianti agar permasalahan mereka cepat selesai. Meski belum tentu jika Alex yang menang, tetapi Zach yakin dengan ambisi pria itu apalagi ini menyangkut istri dan anaknya yang sedang dipertaruhkan.


Zach meminta Alex dan Sean agar balapan mobil di salah satu arena balap yang cukup terkenal, Laguna Seca Mazda Raceway sama seperti ketika mereka memperebutkan Monica. Alex sempat tidak setuju dengan usulan tersebut, tetapi setelah diyakinkan oleh sang istri, Alex pun terpaksa menyetujuinya.


Tidak usah tanyakan bagaimana pendapat Sean, karena pria itu telah menyetujui lebih awal sebelum Alex. Sean sangat yakin dapat memenangkan pertandingan balap yang akan dilaksanakan lusa. Ia sudah tidak peduli dengan perusahaannya yang anjlok saat ini. Yang ia lebih pertaruhkan adalah harga diri dan juga Rianti. Ia tak sabar untuk merebut apa yang sangat disukai dan dilindungi Alex. Ia melakukan itu agar dendam kesumat yang disimpan selama ini bisa terlaksana.


Zach mengembuskan napas panjang. Ternyata permasalahan mereka yang telah menikah lebih sulit. Ia semakin ragu untuk mencari pendamping hidup dan menerima siapapun yang direkomendasikan oleh Camila nanti. Tidak ingin tambah pusing karena memikirkan masalah itu, ia memilih berendam agar sirkulasi darahnya mengalir dengan lancar.


Selama kurang lebih lima belas menit,  Zach berada di dalam bak yang berisikan air hangat. Pikirannya yang semula penuh, mulai terangkat. Ia bangkit dari bathup, lalu berjalan menuju walk in closet. Ia memakai kaos putih polos yang dipadukan dengan jeans.


Saat keluar dari ruangan yang berisi pakaian serta barang-barang penting lain, Zach mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mencari nama Theo di kontak sesegera mungkin. Ia menunggu beberapa detik sebelum teleponnya diangkat oleh pilot pribadi yang telah mengabdi di keluarga Tomlinson enam tahun lalu.


"Siapkan helikopternya sekarang. Kita kembali ke New York," ujar Zach saat Theo mengangkat teleponnya.


Meski Zach tidak melihat, Theo tetap membungkuk tanda hormat. "Baik.


Setelah mendengar jawaban, Zach memutuskan sambungan telepon, kemudian bergerak untuk mengemasi barang-barang penting yang akan dibawa kembali ke New York. Tak lupa juga ia menghubungi Dennis agar menyiapkan mobil sebelum dirinya tiba di sana.


Zach keluar kamar, berjalan menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya dengan segelas air. Ah, membahas perihal air, ia teringat akan Alex yang lebih memilih minuman tawar itu daripada minuman dengan kadar alkohol. Benar-benar bukan sosok yang dikenal dulu. Bahkan sepupunya itu rela mempertaruhkan apa pun demi seorang perempuan yang belum lama dinikahi dan itu pun terjadi karena sebuah 'insiden'. Apakah nanti jika ia menikah, ia akan seperti Alex? Entahlah, memikirkannya saja, membuat Zach muak.


Saat hendak menyimpan gelas, suara baling-baling yang beradu dengan angin terdengar begitu memekakkan telinga. Ia meletakkan gelas di atas mini bar, mengambil sebuah tas yang berisi barang-barang penting, dan keluar dari pent house. Ia menaiki tangga yang langsung terhubung dengan rooftop gedung, di mana di sana terdapat dua landasan helikopter lengkap dengan lambang huruf T.



Angin kencang yang dihasilkan mesin di bagian baling-baling membuat baju yang dikenakan Zach bergerak bebas. Bahkan rambut yang sebelumnya terlihat rapi, menjadi berantakan. Untung saja ia mengenakan kacamata sehingga tak perlu menyesuaikan mata dengan keadaan.

__ADS_1


Begitu helikopter yang dikendalikan oleh Theo mendarat, Zach berjalan mendekat. Ia duduk tepat di samping Theo dengan memasang headphone agar suara mesin yang besar tidak merusak indra pendengarannya. Setelah itu, Theo kembali mengendalikan helikopter agar terbang menuju kota New York.


🍒🍒🍒


"Selamat datang, Tuan," sambut Dennis tatkala helikopter baru saja mendarat di atas gedung kantor Tomlinson's Group.


Zach mengangguk untuk menanggapi, kemudian masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya pulang ke rumah. Perjalanan udara yang dilakukan cukup membosankan. Rasanya ia ingin segera tiba di rumah untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Apalagi ia perlu energi untuk menyaksikan dan menilai pertandingan balap antara Alex dan Sean.


Ketika mobil baru saja menyusuri jalan raya, Dennis yang sedari tadi menyimpan rasa penasarannya memilih bertanya. Ia menoleh ke belakang, tempat Zach duduk. "Bagaimana acara reuninya, Tuan?" tanya Dennis.


"Lumayan lancar meski ada beberapa insiden kecil yang terjadi." Zach menjawab sembari menatap lalu lintas melalui jendela mobil yang sedang tertutup rapat.


Dennis terdiam. Berarti apa yang diberitakan media benar adanya. Terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan di acara reuni itu.


"Tuan tidak apa-apa, bukan?"


Zach mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Sial!" Zach merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Setelah itu, ia menelepon Alex untuk memberi tahu masalahnya dengan Sean yang terekspos media. Padahal ia sudah bersusah payah membawa kedua pria itu ke tempat yang aman agar tidak sampai tersebar seperti sekarang.


Namun, apa daya. Sebab mereka lebih dulu membuat keributan sebelum dirinya tiba di sana untuk menengahi. Apalagi banyak awak media dan tamu undangan yang datang di sana. Tidak ada yang bisa menjamin siapa saja yang bisa dipercaya, sebab banyak dari mereka tertarik dengan para petinggi perusahaan yang hadir. Sehingga saat ada celah, mereka akan merekam dan menyebarkannya.


"Berhenti bermesraan, Alex!" Zach mendengus sebal saat Alex sudah mengangkat teleponnya, tetapi masih mengelurkan kalimat-kalimat cinta untuk Rianti. "Sekarang kau harus bereskan masalahmu yang terekspos media!" lanjutnya.


"Calm down, Dude! Akan kubereskan masalah itu nanti. Sekarang istriku lebih penting dari apa pun."


Zach memutar bola mata dengan malas. "Sepertinya kau memang harus menghabiskan waktu lebih banyak bersama istrimu karena tidak menutup kemungkinan jika kau akan kalah di pertandingan nanti."

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Zach. Aku akan melakukan apa pun demi Rianti. Kau tahu itu," kata Alex di seberang telepon dengan nada yang berubah serius.


"Ya, ya, tapi jika kau kalah, kau harus siap mati di tanganku."


"Coba saja jika kau bisa."


Zach menyeringai. "Tentu saja aku bisa. jika kau kalah, aku yakin kau tidak akan sanggup melihat Rianti bersama Sean selama tiga puluh hari lamanya."


"Shit!" Alex terdiam beberapa saat. Ia membenarkan perkataan Zach. Ia tidak akan sanggup melihat istri dan calon anaknya berada di dekat pria seperti Sean. Ah, membayangkan itu saja membuat Alex ingin membunuh Sean agar tak berkesempatan memenangkan pertandingan. "Lihat saja nanti siapa yang memenangkan pertandingan sialan itu."


"Tentu saja. Bahkan aku yang akan menjadi juri terjujur untuk kalian," balas Zach.


Terdengar napas Alex yang memberat. Zach semakin senang memanasi sepupunya itu agar saat bertanding nanti, dia akan menang. Karena iya yakin, tidak ada yang bisa menghalangi niat baik sekalipun harus berjumpa dengan sesuatu yang buruk.


Alex berdeham untuk mengiakan ucapan Zach. "Jangan lupa datang dengan adikmu. Pasti Rianti akan senang jika kau membawanya."


"Aku tidak akan membawanya. Kau bodoh atau apa? Dia sedang hamil!"


"Kau pikir Rianti apa? Dia juga sedang mengandung anakku, Zach."


Zach kekeh dengan pendiriannya. "Aku tidak peduli. Yang jelas aku tidak akan membawanya."


"Bawa gadis yang kau ajak liburan ke Dallas kemarin saja, tidak usah adikmu," ubah Alex karena percuma meminta jika Zach tidak menginginkannya.


"Aku juga tidak akan membawanya! Dia bukan siapa-siapa yang harus kubawa untuk menyaksikan pertandinganmu. Dia tidak layak berada di sisi pria setampan aku."


Zach berujar dengan percaya diri hingga membuat Alex mengembuskan napas panjangnya.

__ADS_1


"Terserah kau saja."


Zach kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana karena Alex memutuskan sambungan telepon lebih dulu. Ia hanya menikmati perjalanan pulang dengan tenang, tidak peduli dengan Dennis yang jawabannya sempat terpotong.


__ADS_2