
Beberapa kantong plastik sudah berada di genggaman Dennis dan Reffan. Acara belanja yang dihiasi perdebatan sudah selesai. Sekarang mereka akan kembali ke hotel untuk beristirahat.
Banyak kejadian yang terjadi hari ini dalam waktu yang hampir bersamaan. Bahkan hal itu membuat Agnese pusing dan ingin segera mengistirahatkan pikirannya. Terlalu memforsir tubuh untuk melakukan banyak hal juga tidak baik. Karena jika sampai jatuh sakit, ia tidak bisa mendapatkan perawatan yang baik.
Setelah menyimpan berang belanjaan di bagasi, Dennis dan Reffan bergegas masuk ke mobil. Mereka meninggalkan kawasan Walmart dengan Reffan yang membelah jalan lengang dengan kecepatan tinggi agar segera mendapat waktu senggang.
Tenggelam dalam pikiran masing-masing adalah satu-satunya cara yang dapat mereka lakukan untuk mengusir bosan. Agnese memikirkan Briza. Zach memikirkan masalah yang dihadapi Alex. Dennis memikirkan Agnese. Sedangkan Reffan fokus menyetir sambil sesekali mengingat wajah wanita yang mungkin sudah menunggunya sedari tadi di rumah.
Ketika asyik menyelam di dunia lamunan, Agnese tersentak saat merasakan sesuatu yang basah dan sedikit dingin menempel di pipinya. Ia langsung menatap Zach dengan tatapan bertanya.
Mengerti arti tatapan Agnese, Zach menyodorkan botol cola yang sempat dibeli tadi. "Minumlah!"
Kebetulan sekali, aku juga lapar.
Agnese menerima sodoran minuman itu dan langsung membuka penutupnya. Ia menegak beberapa kali hingga tersisa sepertiga botol. Setelah itu, ia menyimpan di bagian pintu mobil dan kembali menatap Zach.
"Terima kasih," ujar Agnese.
Zach mengangguk, kemudian bersedekap dada. Ia memusatkan pandangannya ke arah depan karena tidak ingin membuat sesuatu di dalam dirinya semakin meronta.
Beberapa saat kemudian, Agnese merasakan panas di bagian dada dan kerongkongan hingga sedikit mual. Ia segera menutup mulut dan mengontrol diri agar tidak menimbulkan suara yang akan membuat Zach, Dennis, atau Reffan curiga. Ketika merasa lebih baik, ia melepaskan tangan dari mulutnya dan bernapas lega.
Saat hendak menyandarkan tubuh di kursi sembari memejamkan mata, Agnese bersendawa dengan menghasilkan suara yang lumayan keras. Secara spontanitas, ia kembali menutup mulutnya.
Zach, Dennis maupun Reffan sama-sama memerhatikan sumber suara. Mereka melihat Agnese sedang menutup mulut dengan tangan.
"Apakah Anda sakit, Tuan?" tanya Dennis pada Zach padahal ia tahu jika yang bersendawa adalah Agnese. Ia melakukan semua itu agar sang atasan tidak berpikiran aneh.
"Bukan aku yang melakukannya!"
Dennis mengernyit. "Lalu, siapa?"
Zach tidak menggubris pertanyaan Dennis. Ia menatap Agnese dengan intens. "Kau kenapa?"
Agnese tersenyum tak berdosa. "Sepertinya aku masuk angin."
"Oh."
Hanya itu responsnya?
Agnese memutar bola matanya dengan malas selepas mendengar tanggapan terakhir Zach. Sungguh. Ketika dua huruf itu sedang bersanding dan membentuk sebuah kata, ia bahkan sebagian orang merasa kesal saat mendengarnya.
"Sebaiknya Nona tidak usah minum soda itu," saran Dennis yang membuat Agnese mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena minuman itu bisa membuat asam lambung naik apalagi Nona meminumnya saat perut sedang kosong."
Zach mendengus dengan tangan yang masih bersedekap. "Apanya yang kosong, Dennis? Dia saja makan banyak sekali."
"Sebenarnya Nona Agnese tidak menyukai makanan yang mentah, Tuan. Tadi saat berpamitan ke kamar mandi, saya yakin kalau dia muntah. Karena wajah lemasnya terlihat saat kembali ke meja," papar Dennis dengan jelas hingga membuat Agnese sedikit takut.
Kenapa Dennis bisa tahu, sih?
__ADS_1
"Apa itu benar?"
"Ti ... tidak!" Agnese menggeleng untuk mempertegas jawabannya. Setelah itu, ia mengambil minuman yang sempat disimpan di pintu mobil, kemudian menyodorkannya pada Zach. "Ambillah! Aku kembalikan minumanmu."
"Astaga! Kau sangat berani, Nona Agnese," batin Reffan sambil fokus menyetir.
Dennis hanya menahan tawa di tempatnya. Ia benar-benar salut dengan keberanian Agnese. Padahal tidak pernah ada yang berani melakukan hal tersebut pada Zach, tetapi gadis itu memiliki nyali yang besar. Semoga saja tidak ada yang akan terjadi.
Zach menatap Agnese dengan tatapan tajamnya. "Kau pikir aku siapa sampai mau menerima bekasmu?"
"Eh?" Agnese menunduk dan menarik uluran tangannya. "Maaf," lanjutnya.
"Hem."
Seketika hening. Baik Zach maupun Agnese sama-sama terdiam karena tidak ingin memperpanjang masalah. Apalagi Zach masih diselimuti kekesalan karena perbuatan Agnese yang tak pernah terpikirkan. Menerima barang baru saja, kadang pria itu tidak sudi menerima. Bagaimana dengan yang sudah menjadi bekas orang lain?
Andai saja Dennis tidak meminta Agnese untuk berhenti minum minuman pemberiannya, mungkin Zach tidak akan diperlakukan seperti itu. Namun, ia memilih untuk bungkam. Ia berusaha memaklumi ketidaktahuan gadis itu daripada mengeluarkan kalimat sarkastis yang akan menyakiti.
Berbeda dengan Zach, kini Agnese kembali khawatir akan kondisi sang ibu. Entah sudah berapa kali ia meninggalkannya semenjak mengenal Zach. Padahal dulu ia tidak pernah melakukan itu selain pergi bekerja.
I really sorry, Mom.
Agnese bertanya pada dirinya sendiri mengenai waktu pulang. Namun, hingga pertanyaan yang ke sekian kali, ia tidak bisa menemukan jawaban yang pas. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian memilih untuk bertanya secara langsung pada pria yang telah membawanya ke kota Dallas secara paksa.
Bagaimana caraku bertanya, ya?
Agnese terlihat berpikir sejenak. Begitu berhasil menemukan ide, ia tersenyum senang, kemudian mengarahkan telunjuknya ke lengan Zach. Ia menekan bagian itu beberapa kali sampai sang empunya lengan menoleh ke samping dan menatap dirinya dengan alis yang mengernyit.
"Ada apa lagi?"
"Apa?" Zach melepas dekapannya, kemudian menatap Agnese. "Aku hanya mau menjawab satu pertanyaan. Kalau kau bertanya lagi, aku akan menciummu sampai kau tak bisa bicara," lanjutnya.
Agnese terbelalak kaget. Cium? Apakah pria itu sudah kehilangan akal? Mengapa melontarkan pertanyaan harus mendapatkan hukuman seperti itu? Padahal masih banyak cara lain untuk membuat seseorang diam, selain dengan cara diancam.
"Kau jadi bertanya atau tidak?" tanya Zach saat Agnese tak kunjung bertanya.
"Iya. Lagi pula pertanyaanku hanya ada satu, bukan sepuluh." Agnese mendengus sebal sembari memejamkan mata, lalu menatap Zach. "Kapan kita akan pulang? Aku harus mengurus Ibuku!"
Pertanyaan macam apa itu? Dasar gadis bodoh!
"Aku tidak berniat kembali ke New York hari ini atau besok. Jadi, kau jangan berharap terlalu banyak, Gadis Bodoh!"
Agnese kembali terbelalak. "Apa?!"
🍒🍒🍒
Reffan berhenti di depan pintu masuk hotel. Ia langsung turun dan berdiri di samping beberapa orang yang masih setia menyambut tamu penting. Ia sengaja tidak membuka pintu karena ingin membiarkan Dennis yang melakukannya.
Di saat Zach dan Dennis sudah turun, Agnese masih tinggal duduk. Ia memejamkan mata sambil menggeleng beberapa kali untuk menghilangkan sesuatu yang membuatnya sedikit tidak fokus. Setelah itu, ia bergerak turun dan menyusul yang lain.
__ADS_1
Begitu Dennis selesai menutup pintu, Agnese memijit pelipisnya untuk mengurangi sakit yang mulai menjalar. "Kenapa aku merasa pusing, ya?"
"Ada apa, Nona?" tanya Dennis karena tak sengaja mendengar gumaman Agnese. Saat melihat wajah gadis itu memucat, ia mengernyit bingung. "Nona?"
Agnese menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. "Tidak ada apa-ap ...."
Buk!
"Nona!"
Teriakan Dennis berhasil mengundang perhatian Zach dan yang lain tatkala mereka baru melewati pintu masuk. Tanpa berlama-lama, mereka kembali keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Zach terbelalak tatkala melihat tubuh Agnese terbaring di bawah dengan Dennis yang berusaha membangunkan. Seperti ada yang menyentil hatinya untuk bergerak membantu gadis itu. Namun, karena ego terlalu tinggi, jadi ia bersikap tidak peduli.
Ketika Dennis bersiap untuk mengangkat tubuh Agnese, Zach menjadi semakin tidak karuan. Ia mendengus sebal. "Menjauh darinya!" kata Zach hingga membuat Dennis menjauh dan membiarkan dirinya yang mengangkat Agnese.
Zach tidak langsung berjalan. Ia menatap Reffan dengan tajam meski pria itu tidak dapat melihat karena sedang menunduk. "Ini semua karena kau, Reffan! Andai kau tidak membawa kami ke restoran itu, tidak mungkin dia sampai pingsan seperti ini."
Zach beralih menatap Dennis. "Jangan lupa kau urus hukuman untuknya!" lanjutnya.
"Baik, Tuan."
Reffan terbelalak. "Ma ... maafkan kelalaian saya, Tuan."
Zach tidak menjawab. Ia langsung berjalan menuju kamar dengan Agnese yang berada dalam gendongannya. Entah apa yang membuat dirinya seperti sekarang. Yang jelas, seperti ada rasa tak suka yang menyelimuti dirinya saat melihat kondisi gadis itu.
Reffan mendekati Dennis. "Jangan melakukan sesuatu yang merugikanku!"
"Aku hanya akan melakukan apa yang Tuan Zach katakan," balas Dennis dengan santai, bahkan ia mengangkat bahu tak acuh.
"C'mon, Dude! Apa kau tidak kasihan padaku?"
Dennis menyeringai. "Itu urusanmu, kenapa aku harus ikut campur?"
"Sialan!" umpat Reffan karena Dennis mengulang ucapannya.
Dennis tak memedulikan Reffan, ia menyusul Zach yang mungkin sudah tiba di kamar Agnese sambil membawa tas. Melihat Zach yang terlihat khawatir seperti tadi membuatnya senang. Kembali terukir momen langka hari ini. Dan semua terjadi karena kehadiran seorang gadis ke dalam hidup pria arogan itu.
Begitu pintu lift terbuka, Dennis langsung berjalan menuju kamar Agnese. Namun, saat berada beberapa langkah dari kamar, ia melihat Zach masih di sana. Mereka tak kunjung masuk ke dalam. Ia segera mendekat. "Kenapa belum masuk, Tuan?"
Zach mendengus sebal saat melihat Dennis yang baru tiba. "Bagaimana bisa masuk kalau kartu aksesnya tidak ada padaku?"
Dennis langsung merogoh tas Agnese untuk mengambil kartu. Setelah itu, ia membuka pintu agar Zach bisa segera meletakkan Agnese di atas tempat tidur. Saat gadis itu sudah berada di tempat yang lebih nyaman, ia menatap menatap Zach yang tengah menatap Agnese.
"Saya sudah menelepon Dokter, mungkin sebentar lagi akan datang," kata Dennis.
"Batalkan saja! Dia tidak perlu diperiksa, dia pasti hanya kelelahan."
Dennis mengangguk. "Baik, Tuan."
Zach berdiri dan bersiap untuk kembali ke kamarnya sendiri. Ia juga butuh waktu untuk beristirahat. Ia menatap Agnese sekali lagi sebelum berjalan.
"Anda mau ke mana, Tuan?"
__ADS_1
"Kamar." Zach berhenti berjalan, lalu menoleh ke arah Dennis. "Kau juga sebaiknya ke kamarmu. Biarkan dia istirahat dengan tenang."