
"Kau dari mana saja?" tanya Yoana begitu Agnese masuk ke dalam rumah.
Yoana sudah menunggu kepulangan Agnese semalaman. Namun, ia tidak kunjung melihat batang hidung gadis itu. Bahkan yang datang semalam hanya seorang pria yang memberi tahu jika sahabatnya tidak akan pulang. Pria itu juga mengantar sekarang perempuan untuk membantunya mengurus Briza.
Agnese cengengesan. "Nanti aku jelaskan, ya? Aku mau lihat Ibu dulu."
Yoana terpaksa membiarkan Agnese bertemu dengan Briza. Karena ia tahu jika sahabatnya itu sangat menyayangi Briza. Ia menghela napas panjang, kemudian menyusul Agnese yang telah ada di dalam kamar. Ia tersenyum saat melihat Agnese dengan terlatih menyuapi Briza.
Sepertinya Yoana memang tak salah pilih. Di antara warga sekolah, hanya dirinya dan beberapa orang lain yang memutuskan untuk berteman dengan Agnese. Baginya, harta bukanlah sebuah tolak ukur untuk sebuah pertemanan. Karena hakikat berteman untuk kenyamanan, bukan kekuasaan.
"Biar saya saja yang membawanya, Nona," ucap seorang wanita paruh baya yang dikirim Dennis semalam pada Agnese saat melihat Briza sudah selesai makan.
Agnese tersenyum, lalu menggeleng. "Terima kasih, tapi aku bisa melakukannya."
Setelah itu, Agnese segera meninggalkan kamar itu untuk mencuci peralatan masak yang kotor. Sebenarnya ia sedikit bingung saat melihat seorang wanita paruh baya di kamar Briza. Namun, saat mendengar alasan wanita itu, ia hanya bisa tersenyum. Bagaimanapun, ia tidak boleh mengusirnya apalagi sudah membantu Yoana merawat sang ibu semalam.
Karena merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan di dalam kamar, Yoana memilih untuk menghampiri Agnese di dapur. Ia ingin bertanya sesuatu yang mungkin akan menjawab semua tanda tanya di kepalanya.
"Agnese, sebenarnya apa hubunganmu dengan Tuan Zach?" tanya Yoana saat tiba di dapur hingga membuat Agnese tersentak karena lamunanya harus berhenti.
Agnese mendengus sebal dan kembali fokus mencuci peralatan masak yang masih kotor. Ia mengabaikan pertanyaan Yoana, sebab ia sendiri juga bingung harus menjawab apa. Jika bukan karena Dennis, ia pasti tidak akan berada di rumah pria itu untuk kedua kalinya.
"Agnese, kenapa kau tidak menjawabku?" tanya Yoana lagi.
"Yoana yang cantik, aku juga tidak tahu jawabannya. Kenapa kau tidak tanyakan pada orang itu saja?"
Yoana terdiam sebentar. "Eh? Benarkah? Baiklah, nanti akan kutanyakan saat dia ada di seko ...."
"Apakah Anda sudah bersiap, Nona?" potong Dennis yang baru saja masuk ke dalam rumah Agnese.
Agnese maupun Yoana sama-sama terkejut. Pasalnya, mereka berpikir jika tak akan ada tamu yang datang sepagi itu. Mereka saling berpandangan sejenak, kemudian Yoana mengangkat bahu tanda tidak tahu karena Agnese menatapnya seperti meminta penjelasan.
Agnese beralih menatap Dennis. "Kenapa masih di sini?"
Dennis menunjukkan ponselnya di depan wajah Agnese agar gadis itu bisa membaca perintah Zach. "Lebih baik kalian segera bersiap. Aku akan mengantar kalian ke sekolah."
Agnese mendengus kesal dan langsung mencuci tangannya. Ia sudah tidak berniat menyelesaikan pekerjaannya itu sejak melihat Dennis ada di sana. Kapan ia bisa hidup tenang jika orang itu dan bosnya tidak berhenti mengganggu? Ia tahu mereka memiliki niat baik, tapi sungguh, ia lebih memilih tidak pernah bertemu mereka.
Karena Agnese tahu bagaimana sifat atasan Dennis. Dia memang menolong, tetapi akan meminta balasan di akhir. Bukankah itu namanya tidak ikhlas? Jadi, ia lebih baik tidak pernah ditolong oleh mereka. Apalagi ia juga sangat tidak suka dikasihani.
"Yoan, ayo!" kata Agnese sembari menarik tangan Yoana yang sedikit terpana saat melihat wajah Dennis dengan dekat.
Mau tidak mau, Yoana harus mengikuti langkah Agnese. Jika tidak, ia bisa terjatuh dan membuat sahabatnya itu menjadi marah. Begitu tiba di kamar, ia melepas genggaman tangan Agnese dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang semalam juga ia tempati.
__ADS_1
Berbeda dengan Yoana, Agnese justru mengambil seragam sekolah, lalu mandi. Sesekali ia juga mengumpat kesal karena semua perbuatan Zach dan Dennis mendadak terlintas di benaknya. Ia juga tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Sudah dimanfaatkan, tetapi masih memikirkan mereka.
Kapan mereka berhenti mengganggu kehidupanku, sih?
Tak lama selepas mereka naik, terdengar suara ketukan pintu. Yoana mengembuskan napas panjang, kemudian bangkit untuk membuka pintu dan melihat siapa yang berani mengganggu aktivitasnya. Ia sedikit terkejut saat melihat Dennis berdiri di sana. Ia segera memasang wajah terbaik yang bisa dilakukan.
"Ada apa?" tanya Yoana yang membuat Dennis mengernyit.
"Berapa lama lagi kalian akan selesai?"
"Tidak tahu," jawab Yoana, lalu tersenyum.
"Berhenti menyuguhkan senyummu seperti itu! Lebih baik kau juga bersiap ke sekolah, Nona," ujar Dennis sebelum pergi dari depan pintu kamar Agnese.
Yoana menutup pintu dan segera berbalik badan. Ia berjalan menuju meja belajar Agnese dan mengambil sebuah paper bag yang berisi seragamnya. Ia sebenernya sangat penasaran tentang bagaimana cara Dennis mengambil seragamnya di rumah. Apakah meminta pada salah satu asisten yang bekerja di sana?
"Agnese, apa kau sudah selesai? Pria tampan tadi sudah menyuruh kita turun," teriak Yoana selepas memasang kancing terakhir dari kemeja yang dikenakan.
"Iya, sebentar lagi aku keluar."
🍒🍒🍒
Dennis tersenyum singkat. "Ada sesuatu yang harus kukerjakan di sini."
"Benarkah? Kau tidak dipecat Tuanmu itu, 'kan?"
"Tidak, Nona. Ayo, kita masuk."
Agnese memandang punggung Dennis yang sudah berjalan lebih dulu diikuti Yoana. Ia merasa seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Namun, ia sendiri juga tidak tahu apa itu. Entah mengapa hari ini ia merasa sangat tidak nyaman berada di lingkungan sekolah.
Agnese menyusuri koridor yang terlihat ramai. Sama seperti hari biasa, ia kembali mendapat tatapan yang kurang menyenangkan dari murid di sana. Apakah salah jika seseorang yang telah bangkrut, masih bersekolah di sekolah yang elit seperti Dalton High School?
Jika iya, di mana letak kesalahannya? Pertanyaan itu masih terus menghantui pikiran Agnese hingga sekarang. Mau seburuk apa pun keadaan ekonomi seseorang, bukankah mereka berhak menjalani pendidikan yang baik?
Saat tiba di kelas, Agnese mengernyit karena tidak melihat keberadaan Yoana. Bukankah sahabatnya itu lebih dulu berjalan? Ia mengangkat bahu tak acuh, kemudian berjalan menuju tempat duduknya. Karena belum ada guru yang masuk, ia memutuskan untuk mendengar lagu yang bisa mengusir rasa khawatirnya.
Agnese meletakkan kedua tangannya di atas meja, kemudian menjadikannya sebagai bantal. Ia mulai memejamkan mata karena merasa butuh istirahat yang banyak. Namun, lagi-lagi ketenangannya itu hanya bersifat sementara. Sebab Yoana tiba-tiba datang sambil berceloteh panjang lebar.
Agnese membuka earphone yang melekat di telinganya, kemudian menatap Yoana. "Ada apa?"
__ADS_1
"Aku tadi mengikuti pria itu sampai di depan ruangan kepala sekolah, tapi dia sama sekali tidak memandangku. Kau tahu kenapa dia begitu?" jelas Yoana yang membuat Agnese tersenyum sembari menggeleng.
"Sepertinya dia sudah punya kekasih, Yoan. Sudahlah, masih banyak pria lain. Bukannya kau menyukai James?"
"Tidak. Aku sudah tidak suka lagi."
Agnese memperbaiki posisi duduknya. "Benarkah?
"Aku juga tidak yakin seratus persen, sih," balas Yoana, kemudian mereka tertawa bersama.
Kebahagiaan yang begitu sederhana. Hanya dengan melihat sahabat yang disayang bahagia, kebahagiaan itu menyebar dengan sendiri. Sebenarnya Agnese tahu jika Yoana hanya kagum pada sosok Dennis. Namun, hati gadis itu masih tertuju untuk satu lelaki yang mungkin sekarang berada di kelas sebelah.
Ting!
Tawa mereka terhenti karena mendengar dering ponsel. Agnese segera memeriksa ponselnya dan benar saja, suara notifikasi itu berasal dari ponselnya. Yoana yang sedari tadi memerhatikan Agnese langsung terbelalak kaget karena melihat penampakan ponsel Agnese.
"Astaga! Kau memiliki ponsel keluar terbaru? Bagaimana bisa?" cecar Yoana yang secara tidak langsung menyinggung perasaan Agnese. "Eh, maaf. Aku tidak bermaksud untuk meremehkanmu," lanjut Yoana.
Agnese tersenyum, bangkit dari duduknya, kemudian menepuk pelan pundak Yoana. "Tidak apa-apa, Yoan. Aku pergi dulu, ya. Aku ada panggilan penting."
Apa yang mau dibicarakan Mrs. Pita?
Begitulah kira-kira batin Agnese selama dalam perjalanan untuk menemui guru yang mengiriminya pesan. Perasaannya semakin tidak enak saat ruangan guru itu semakin dekat. Ia menyempatkan diri untuk menarik dan membuang napas panjang secara berulang sebelum masuk ke dalam ruangan.
"Hai! Ada apa, Mam?" tanya Agnese setelah menutup pintu.
Tanpa menjawab pertanyaan Agnese, Mrs. Pita mendekati gadis itu, lalu memeluknya dengan erat sambil menangis. "Maaf, Agnese, maaf!"
Agnese mengulurkan tangan untuk mengusap punggung Mrs. Pita Anderson supaya wanita itu bisa sedikit tenang. Meski perasaannya semakin tidak enak setelah melihat Mrs. Pita menangis, tetapi ia terus menyemangati dirinya jika tidak akan ada yang terjadi.
"Sebenarnya ada apa, Mam?" tanya Agnese setelah melerai pelukannya dengan sang guru.
Mrs. Pita mengusap air matanya yang masih keluar meski tak sebanyak yang tadi "Beasiswamu tidak bisa diteruskan. Meski sudah membantu sebisaku, tapi mereka bersikukuh mau memberhentikannya, Agnese."
Kenapa harus ada masalah baru lagi?
Agnese berusaha tersenyum, meski terlihat sedikit terpaksa. "Kenapa begitu, Mam?"
"Katanya ini sudah menjadi keputusan pemilik yayasan," jelas Mrs. Pita dan kembali menangis.
Agnese menjadi tidak enak pada gurunya itu. Seharusnya ia tak usah mempertahankan apa yang sudah menjadi keputusan para pihak penting itu kemarin. Jika sudah begini, ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Ia menghela napas panjang dan berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.
Agnese kembali tersenyum. "Tidak apa-apa, Mam. Kau sudah banyak membantuku."
__ADS_1
"Can I help you, Ag ...."
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja, Mam. Terima kasih atas bantuannya selama ini," potong Agnese, kemudian berpamitan pada Mrs. Pita.