
Tak jauh dari tempat kejadian, Zach yang baru saja selesai membeli es krim dan gulali berhenti. Sambil memegang setang sepeda, ia memerhatikan kerumunan. Begitu sadar ada siluet yang dikenal, ia langsung turun dan membiarkan sepeda tergelatak begitu saja.
"Agnese!" Zach menghampiri Agnese yang terlihat tersenyum padanya. "Kau benar-benar bodoh! Bagaimana bisa begini?" tanya Zach dengan setengah berteriak.
"Aku tidak sengaja menabrak mobil."
"Menabrak atau ditabrak?" Zach memandang sinis laki-laki yang berjongkok di dekatnya.
"Tidak usah begitu. Lagi pula aku yang salah."
Zach memandang lengan Agnese. "Tapi kau berdarah, Bodoh!"
Agnese menggeleng untuk meyakinkan Zach meski tubuhnya terasa remuk. "Aku sungguh tidak apa-apa."
Zach tidak mengindahkan ucapan Agnese. Ia justru bergerak untuk menggendong gadis itu ala bridal style. Jika terus meladeni Agnese, pasti tidak akan ada habisnya. Mungkin ia biasa menyukai perdebatan yang terjadi di antara mereka, tetapi tidak untuk kali ini.
"Apa yang kau lakukan?"
"Diamlah!"
Zach berjalan menuju tempat parkir dengan Agnese yang berada dalam gendongannya. Ia tidak peduli dengan rontaan gadis itu. Karena fokusnya sekarang adalah tiba sesegera mungkin di parkiran agar bisa membawa Agnese ke rumah sakit untuk mendapat penanganan.
Begitu tiba, Zach meminta bantuan salah satu pengunjung yang baru saja turun dari kendaraan untuk membuka pintu. Tanpa mengucapkan terima kasih, ia meletakkan Agnese di kursi dengan hati-hati.
"Maaf sudah merepotkanmu."
Zach bersedekap dada. "Sebenarnya apa yang terjadi?"
Agnese terdiam beberapa saat, mengingat kejadian traumatik tadi. Dengan kepala yang sedikit pusing dan tubuh yang nyeri, ia menceritakan semua kejadian dengan detail kepada Zach.
"Seharusnya kau tidak pergi sendirian," komentar Zach setelah Agnese selesai bercerita.
"Kau yang meninggalkanku!"
"Aku pergi membeli makanan untukmu."
"Eh ...." Agnese menunduk. Ia tidak tahu jika pria arogan itu pergi untuk membelikan dirinya makanan.
Zach menegakkan tubuhnya dan memegang ujung pintu untuk menutupnya. "Lebih baik kita pulang."
"Tunggu!" Zach berhenti dan menatap Agnese dengan mengernyit. "Bagaimana dengan sepedanya? Aku sudah merusak properti taman," tanya Agnese kemudian.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menyuruh orang untuk mengurusnya."
__ADS_1
"Maaf, lagi-lagi aku merepotkanmu." Agnese menunduk dan menghela napas. "Kenapa kau terus membantuku? Aku tidak ingin berbalas budi!" lanjut Agnese dalam hati.
"Sekali lagi kau minta maaf, aku akan membungkam mulutmu dengan bibirku."
Agnese terdiam. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Meskipun ia sedang merasakan sakit di mana-mana, tetapi ia yakin jika tidak akan ada yang dapat menandingi rasa sakit yang hadir jika pria di hadapannya ini benar-benar melakukan hal itu.
Zach kembali bergerak untuk menutup pintu. Namun, Agnese dengan spontan menyentuh tangannya.
"Bisakah kita lebih lama di sini? Aku mau menikmati danau sebentar."
"Kau baru saja kecelakaan, tapi kau tetap ingin di sini?" Zach mengembuskan napas panjang. "Sebenarnya kau menyimpan otak di mana? Kenapa tidak bisa menempatkan dirimu dengan aman?"
Mendengar itu, Agnese menunduk dan memainkan jarinya. "Baiklah, aku tidak akan memaksa."
Karena geram, Zach meninju udara. Ia tidak mungkin menyalurkan kekesalan pada gadis yang selalu menentangnya. Ia memandang gadis itu sejenak, kemudian menghela napas kasar.
"Ayo!"
Agnese mengangguk dan menerima bantuan Zach untuk memapah dirinya keluar dari mobil. Namun, karena kakinya terkilir, ia tidak sanggup untuk berdiri. Ia pun kembali mendudukkan tubuhnya dan berwajah murung.
Zach yang melihat hal tersebut tidak tinggal diam. Ia langsung berjongkok karena tidak akan membiarkan Agnese pergi dengan kaki yang terluka. Setidaknya ia bisa menjadi kaki gadis itu untuk sementara waktu.
"Naiklah!"
"Kau ingin menikmati danau, 'kan?"
Agnese mengangguk. "Ya."
"Naiklah!"
"Tapi ...."
"Naik atau pulang?"
"Atau."
Zach menoleh ke belakang. "Atau bukan pilihan, tapi kata hubung."
Tidak ada pilihan lain. Dengan terpaksa, Agnese mengalungkan tangannya di leher dan menaiki punggung Zach. Selang beberapa detik, ia merasakan tangan pria itu menyentuh bokongnya saat berdiri.
"Apa yang kau lakukan?!" pekik Agnese.
"Berdiri."
__ADS_1
"Kau memegang milikku!"
"Memegang apa? Aku tidak mendengarnya."
Agnese memukul punggung Zach. "Kurang ajar!"
Zach tertawa dan mulai berjalan menuju danau taman yang terdekat. Ia tidak ingin berjalan terlalu jauh karena itu akan membuat waktu semakin terbuang.
Ketika tiba di salah satu danau, Zach menurunkan Agnese di sebuah bangku yang ada di depan genangan air yang luas. Ekspresi langsung Agnese berubah menjadi senang, melupakan luka dan rasa sakit di tubuhnya.
"Benar-benar sulit ditebak," gumam Zach.
"Wah! Ini sangat menakjubkan."
Agnese merentangkan kedua tangan dan menghirup napas yang panjang. Udara segar yang dihasilkan pohon-pohon dan belum terpapar polusi kendaraan memang sangatlah nyaman untuk dihirup.
Lagi. Perasaan lega itu muncul ketika melihat wajah bahagia Agnese. Zach tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Yang jelas setiap melihat senyum dan tawa gadis itu, ia merasa tenang. Ia ikut tersenyum dan mengalihkan tatapan. Namun, yang ia dapat justru tidak mengenakkan.
Zach merasa jika ada yang sedang memata-matai. Ia berdeham dan kembali mengedarkan pandangan. Tatapannya berhenti di dekat salah satu pohon besar, terlihat seseorang yang sangat mencurigakan apalagi tatapan orang itu mengarah padanya dan Agnese.
"Hei!" Zach memegang lengan Agnese dan mendekatkan mulutnya ke arah telinga gadis itu. "Bisakah kau diam dan lihat ke arah pukul 12.00 tanpa terlalu menarik perhatian?" ujar Zach dengan sedikit berbisik.
"Pukul 12.00?"
"Ya, tidak jauh dari tempat kita."
Agnese mulai melirik ke arah yang dimaksud Zach. Benar. Di sana ada seseorang berpakaian serba hitam yang sedang memerhatikan mereka.
"Aku melihatnya." Agnese kembali melirik tempat tadi. "Dia melihat kita sekarang!"
"Kau ingin aku menangkapnya?" tanya Zach.
Agnese mengangguk. "Orang jahat harus ditangkap agar tidak bisa mencelakai."
Agnese berusaha berdiri. Namun, rasa sakit kembali dirasakan di bagian kaki dan juga pinggang sehingga ia kembali duduk. Ia mengutuk dirinya yang terluka. Padahal tadi ia tidak terlalu merasakannya ketika dalam perjalanan menuju danau. Kenapa dalam situasi seperti ini ia justru tidak bisa melakukan apa-apa?
"Bisakah kau bersikap alami seperti yang dikatakan Dennis? Jangan sampai dia menyadarinya."
Baru saja ingin menjawab, orang yang sedari tadi mengawasi mereka lari. Agnese yang melihat kejadian tersebut langsung memekik.
"Dia kabur!"
Pandangan mata Zach mengikuti ke mana orang itu berlari. Ia melihatnya menaiki sebuah motor. Tanpa ingin melewatkan kesempatan, mata pria itu langsung menyipit untuk melihat dengan jelas sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk. Setelah itu, ia menyeringai dan menyimpan baik-baik plat nomor yang digunakan penguntit tersebut.
__ADS_1
Zach kembali menggendong Agnese ala bridal style menuju mobil karena situasi sudah tidak baik untuk tetap berada di sana. "Ayo!"