
"Agnese, kenapa dari tadi kau diam saja?" tanya Yoana dengan pertanyaan yang sama selama beberapa kali.
Yoana bingung atas apa yang menimpa sang sahabat. Sebab setelah diberi tahu sesuatu oleh Zach, gadis itu tak banyak bicara. Bahkan hampir tidak mengeluarkan suara jika ada yang menyapa atau mengajak berbicara.
Pemilik sekolah mengancamku, Yoan!
Agnese mengembuskan napas panjang, kemudian tersenyum singkat. “Aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Aku tidak percaya. Kau tahu? Kau tidak pandai berbohong padaku. Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan.”
Karena tak ingin membuat sang sahabat berpikir sesuatu yang buruk, Agnese bangkit lalu mencubit kedua pipi Yoana dengan gemas. “Tidak ada yang kusembunyikan, Yoan.”
“Hei! Kau mau ke mana?” teriak Yoana, mengabaikan ucapan Agnese saat melihat gadis itu berjalan dengan cepat.
“Aku ingin buang air. I'll be right back, Yoan!”
__ADS_1
Agnese berjalan dengan tatapan kosong karena sedang memikirkan ucapan Zach. Ia tidak pernah menyangka jika akan diancam seperti tadi. Ah, andai saja ia menahan diri untuk tidak menampar pria itu, pasti ia akan merasa tenang sekarang.
Namun, ia juga merasa puas karena merasa telah melakukan hal yang benar. Ia hanya tidak ingin terjadi hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Diperkosa, mungkin. Ia tak akan rela jika sesuatu yang sangat dijaga khusus untuk seseorang di masa depan akan hilang karena kecerobohannya. Ia berharap dengan tamparan itu, Zach tidak akan mengganggu kehidupannya lagi.
“Aw!” ringis Agnese tatkala tak sengaja menabrak kolom praktis karena melamun.
“Kenapa hari ini terasa berat? Pria itu benar-benar membuat hariku menjadi tidak berwarna,” kesal Agnese lalu bangkit dan kembali melanjutkan langkah.
Namun, belum sempat mengangkat kaki, Agnese mendengar seseorang memanggil namanya. Ia pun memilih untuk mencari asal sumber suara. Ia tersenyum tatkala melihat seorang guru yang membantunya mendapatkan beasiswa.
Tanpa berlama-lama, ia berjalan untuk menghampiri guru itu. “Ada apa, Ma'am?
Gadis bermata cokelat bersinar itu mengekor di belakang Pita Anderson. Ia merasa sedikit tegang karena takut jika sesuatu akan mengancam pendidikannya. Berulang kali ia mengembuskan napas panjang hingga tiba di dalam ruangan yang dimaksud. Ia melangkah masuk dengan perasaan gugup.
“Duduklah.”
__ADS_1
Agnese mengangguk dan segera duduk di kursi kayu yang ada di hadapan Mrs. Pita Anderson. Mereka duduk saling berhadapan dan hanya dibatasi oleh meja berukuran sedang yang menjadi penghalang.
“Kau tahu apa yang membuatmu dipanggil kemari?” Agnese menggeleng sembari menggigit bibir bawahnya. “Baiklah. Apa kau sadar jika kinerja belajarmu agak menurun?
Tubuh Agnese mendadak kaku. Ia memang merasa jika semangat belajarnya sedikit berubah. Namun, ia tidak ingin beasiswa yang selama ini membantunya melanjutkan pendidikan akan hilang begitu saja. Tanpa diduga, ia menunduk dan mulai meneteskan air mata. Ia seharusnya tidak boleh selemah ini, tetapi ia tidak tahan apalagi sejak tadi ia merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri.
“Maafkan aku,” lirih Agnese.
“Ada apa, Agnese? Bisakah kau memberiku alasan agar aku bisa membantu memperjuangkan beasiswamu? Karena kalau tidak diperbaiki, beasiswa bisa saja dicabut dan kau hanya memiliki dua pilihan saat itu, kembali membayar atau keluar dari sini.”
Agnese mendongak dan menatap wajah khawatir Mrs. Pita Anderson. “Sebenarnya aku mu ... mulai bekerja untuk biaya sehari-hari. Sepulang sekolah dan setelah mengurus ibuku yang sakit, aku langsung berangkat kerja hingga larut malam. Dan aku tidak tahu kalau semua yang kulakukan akan berdampak pada prestasi belajarku.”
Agnese semakin tidak bisa membendung air matanya tatkala ia ditarik ke dalam pelukan guru yang sangat pengertian itu. Ia sangat-sangat berterima kasih karena masih ada orang baik yang mau menolongnya di saat dunia sedang tidak berpihak padanya.
“Tenanglah, aku akan membantumu agar tetap mendapatkan beasiswa. Kau murid yang sangat teladan, Agnese. Kau wajib mendapatkan sesuatu yang sepadan,” ujar Mrs. Pita sembari mengelus rambut dan punggung Agnese dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Terima kasih, Ma'am.”
“Don't mention it!”