Married With Stranger

Married With Stranger
Reunion


__ADS_3

Zach menutup laptop, lalu memutuskan untuk mandi. Hari ini tepat pelaksanaan reuni di Harvard yang akan dihadiri para lulusan kampus tersebut. Ia tak sabar bertemu dengan kawan lama yang jarang dilihat setelah lulus. Siapa tahu ia bisa meminta bantuan salah satu dari mereka untuk mencari pendamping hidupnya agar tidak terus dituntut oleh Camila.


Usai mandi, pria itu melilitkan handuk di bagian bawah tubuhnya, kemudian berhenti di depan wastafel karena ingin mencuci wajah dengan pembersih agar kadar ketampanan yang dimiliki tidak berkurang. Setelah itu, Zach mengeringkannya dengan handuk kecil. Ia memerhatikan wajahnya dari pantulan cermin.


Tanpa sadar, tangan Zach bergerak untuk menyentuh pipinya. Ia mengamati beberapa detik, lalu mendengus sebal. "Wajahku bahkan terlihat sangat tampan, tapi kenapa gadis bodoh itu terus membandingkanku dengannya?"



Begitu selesai, Zach berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaian sesuai dengan dress code yang telah ditentukan. Meski sempat mendapatkan info dari pihak Harvard jika warna untuk wanita diubah, ia tidak peduli. Lagi pula tidak ada wanita yang akan dibawa ke acara itu.


Ketika kancing kemeja terakhir selesai dikancing, Zach sekali lagi memerhatikan dirinya di dalam cermin. Ia menyunggingkan senyum sebelum meninggalkan ruangan yang menyimpan pakaian serta barang-barang berharganya sambil membawa sebuah jas.



Zach menuruni tangga dan menduduki sofa yang berada di ruang tengah. Masih ada dua jam tersisa sebelum acara tersebut dimulai. Ia ragu untuk berangkat sekarang karena tidak ingin menunggu lama sebab tiba lebih dahulu sebelum acara dimulai. Ia juga tidak ingin terlambat, makanya semalam ia memutuskan berangkat setelah semua pekerjaannya selesai.


Zach berangkat ditemani dan diantar Theo menggunakan helikopter untuk mempersingkat jarak tempuh dari kota New York menuju kota Boston. Ia menginap di sebuah pent house miliknya—salah satu bidang usaha yang dikembangkan oleh Tomlinson's Group—yang berada di lantai teratas menara West Side.


Zach hanya seorang diri di sana karena sengaja tidak mengajak Dennis agar pekerjaan di kantor dapat selesai tanpa melibatkan orang lain. Lagi pula ia sudah terbiasa sendiri, jadi tidak terlalu aneh untuk melakukan sesuatu yang bahkan memerlukan bantuan.


Karena Zach tidak ingin membuang waktu hanya dengan termenung, ia kembali membuka laptop untuk mencari tahu tentang pria bernama Zayn yang selalu diagung-agungkan Agnese agar rasa penasarannya menghilang.


Kening Zach mengerut. "Zayn Malik dinobatkan sebagai pria tertampan di dunia oleh majalah 100 Most Handsome Men."


Zach menyebutkan beberapa berita lainnya mengenai Zayn, lalu beralih ke sebuah foto yang menampilkan wajah pria keturunan darah Inggris bercampur Pakistan. Tatapan elangnya menyusuri dengan baik setiap bagian dari wajah pria di dalam foto tersebut.


"Bahkan aku lebih tampan daripada dia. Hanya saja dia memiliki wajah khas Timur Tengah seperti Alex," komentar Zach tatkala melihat gambar Zayn Malik.

__ADS_1


Setelah itu, Zach berdiri, memakai jas yang tergeletak di atas sofa, lalu memutuskan untuk berangkat. Mungkin lebih cepat tiba di sana lebih baik, daripada tinggal dan terus teringat akan seseorang.


🍒🍒🍒


Zach memukul setir mobil saat melihat sudah banyak orang yang memasuki area acara. "Sial! Aku membuang waktu demi mencari tahu tentang pria itu."


Raut wajah Zach langsung berubah ketika turun dari mobil. Ia berjalan di atas karpet merah yang dibentangkan penyelenggara acara, mulai dari tempat pemberhentian mobil tamu undangan sampai di depan pintu masuk.


Dengan tenang, Zach melewati banyaknya kilatan cahaya yang keluar dari kamera para awak media yang akan meliput acara. Begitu tiba di dalam gedung, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari apakah ada sosok yang dikenal atau tidak.



"Sepertinya Alex dan yang lain belum datang," gumam Zach.


Zach menerima segelas sampanye yang ditawarkan seorang pramusaji saat lewat di hadapannya. Ia meneguk sedikit minuman yang terbuat dari sari anggur jernih asal Champagne, Perancis itu. Saat melihat sosok yang tak asing, ia memicingkan mata.


Zach mengalihkan tatapan dan menyeringai. Ia tidak percaya jika William Sean Waston berani muncul meski perusahaannya tengah mengalami guncangan. Ia menduga jika yang mendasari kemunculan Sean adalah untuk meminta bantuan para petinggi perusahaan yang hadir atau justru ingin membuat masalah agar dendam yang disimpan sejak lama dapat terlaksana.


"Di mana istrimu? Kudengar, kemarin kalian sedang berlibur dan tidak mau diganggu bahkan tidak mau menerima telepon dari seseorang yang butuh penjelasan atas sesuatu yang dilakukan tanpa pemberitahuan."


Tubuh Zach seketika menegang. Istri? Apakah yang dimaksud Sean adalah Agnese? Ah, benar. Karena Dennis memberi alasan pada bawahan Sean, pria itu menganggap dirinya telah menikah. Padahal sampai sekarang, menemukan sosok yang dapat dinikahi pun belum ada.


"Kenapa kau diam saja? Apakah kalian bertengkar?" Sean kembali bertanya.


Zach mendengus. "Bukan urusanmu!"


Sean tertawa sumbang. Rasanya ia ingin langsung menghabisi siapa pun yang telah ikut andil dalam kehancurannya. Seperti Zach yang membuat nilai sahamnya turun drastis. Ia tidak akan diam dan membiarkan mereka hidup dalam ketenangan.

__ADS_1


"Jelas itu urusanku! Karena menghabiskan waktu dengan wanita itu, kau mengabaikanku saat ingin meminta penjelasan," ujar Sean dengan nada yang tenang, tetapi terdengar tajam. Sorot matanya pun memperlihatkan kilatan marah yang sudah tak tertahankan. "Apakah wanita itu seperti istri Alex? Yang kau nikahi hanya untuk mendapatkan warisan?" lanjut Sean.


Zach meletakkan gelas yang masih terisi sampanye ke atas nampan saat seorang pramusaji lewat. "Kendalikan emosimu jika kau tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan semua orang."


Zach memilih untuk meninggalkan Sean daripada meladeni orang sepertinya yang hanya akan mengundang masalah. Apalagi di luar banyak awak media yang siap meliput apa saja yang terjadi di acara reuni tersebut.


"Lihat saja nanti apa yang akan kulakukan pada istrimu itu!" ancam Sean saat Zach baru berjalan beberapa langkah.


Zach berbalik badan, lalu menyunggingkan senyum mengejeknya. "I don't fu*king care!"


"Damn it!"


Zach menghampiri sahabat serta sepupu jauhnya yang baru saja memasuki tempat acara dilaksanakan bersama seorang perempuan cantik yang ia yakini sebagai istri dari Alex.


"Hey, Dude! How are you?" Zach melerai pelukannya dengan Alex. Ia beralih menatap sosok perempuan yang datang bersama Alex. "Siapa dia?"


"Dia istriku," jawab Alex, tetapi tidak digubris Zach karena tengah berpikir bagaimana rasanya jika datang ke sebuah acara bersama pasangan yang dicintai seperti sepupu jauhnya itu. "Jangan terlalu lama menatapnya atau kau tidak akan bisa melihat hari esok."


Zach tersadar dari lamunannya dan langsung berdecak sebelum mengangkat tangan tanda menyerah untuk merespons ucapan Alex. Ia kembali menatap perempuan yang bernama Rianti tersebut.


"I'm Zach. Zach Tomlinson, Nona Manis." Zach mengulurkan tangan, tetapi tidak dibalas. "Aku menyesal kau harus menikah dengan saudara sepupuku yang sombong itu," lanjutnya.


"Jangan kau hiraukan dia, Sweetheart. Dia teman sekaligus sepupuku, CEO Tomlinson's Group." Alex terlihat tersenyum miring saat menatap Rianti. "Dan dia pedofil," lanjutnya.


Zach langsung terbahak dan memukul saat mendengarnya. Pedofil? Yang benar saja. Bahkan ia selalu menolak untuk memiliki hubungan dengan siapa saja yang masih di bawah umur. Bagaimana Alex bisa menyebut dirinya dengan julukan seperti itu?


"Sepertinya kita sama, Dude," ujar Zach masih dengan terbahak.

__ADS_1


Setelah itu, satu per satu dari teman mereka muncul dan memperkenalkan diri di hadapan Rianti. Mereka juga terlibat obrolan yang seru hingga mereka tertawa saat saling meledek.


__ADS_2