
"Bagaimana? Kenapa dia bisa pingsan seperti itu?" tanya pemilik rumah setelah Agnese diperiksa oleh Dokter Daisy.
Dokter Daisy memandang Agnese. "Sepertinya dia belum makan dan pola makannya sangat tidak teratur. Ditambah terkena hujan tadi, jadi dia tumbang."
Astaga!
"Apa ada efek samping karena pola makannya tidak teratur?" tanya Dennis.
"Iya, sering tidak makan seharian dalam satu waktu dapat menyebabkan efek samping dan meningkatkan risiko untuk komplikasi tertentu. Tidak makan seharian lebih dari dua kali per minggu bisa meningkatkan risiko terkena aritmia jantung dan hipoglikemia," jelas Dokter Daisy yang membuat kedua pria di kamar itu mengernyit karena tidak mengerti maksud dari ucapan si Dokter.
"Bisa kau jelaskan apa itu aritmia jantung dan hipo ... ah, intinya yang kau sebutkan tadi," titah pria yang berdiri di samping Dennis.
Dokter Daisy tersenyum sembari mengangguk. "Aritmia jantung adalah suatu kondisi di mana irama jantung menjadi tidak ber ...."
"Apa?!" teriak pria yang bertanya tadi hingga memotong ucapan Dokter Daisy. Ia menatap Agnese yang terlihat damai dalam tidurnya. "Kenapa kau sangat bodoh, Gadis Kecil?"
Merasa kondisi sedikit tidak bersahabat setelah mendengar penjelasannya yang bahkan belum selesai, Dokter Daisy memilih untuk mencatat resep obat dan vitamin untuk Agnese. Setelah itu, ia menyerahkan resep pada Dennis dan pamit pulang.
"Dennis, antar dia ke depan."
"Baik," kata Dennis, lalu mengantar Dokter Daisy hingga di pintu depan rumah dan kembali masuk ke dalam kamar Agnese. Namun, saat baru membuka pintu, ia melihat wajah pria yang sedari tadi bersamanya terlihat khawatir.
"Ada apa, Tuan Zach?" tanya Dennis berjalan ke arah sofa, di mana orang yang ditanya berada.
Ya, seperti yang kalian duga sebelumnya. Dennis dan Zach adalah seorang teman karena mereka sudah lama mengenal sebagai bos dan sekretaris. Dennis selama ini selalu berada di sisi Zach, hingga terkadang mereka diduga memiliki hubungan yang 'terlarang'.
"Apa dia akan mati?" tanya Zach yang membuat Dennis sedikit bingung karena tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
Dennis menatap plafon, lalu berdeham. "Dia akan baik-baik saja. Percayalah, dia adalah gadis yang kuat."
"Tapi, bagaimana ka ...."
"Oh iya, bagaimana dengan kencan Anda, Tuan? Apakah berjalan lancar?" potong Dennis untuk mengalihkan fokus Zach.
Zach mendengus sebal. "Aku tidak suka perempuan itu. Kau tahu? Dia benar-benar tidak bisa merawat diri."
"Memangnya ada apa?"
"Dia berketombe," jawab Zach sambil membayangkan bagaimana penampilan perempuan yang ditemui beberapa jam lalu.
Dennis tersenyum karena menahan tawa. "Bukankah itu bisa dihilangkan? Kenapa Anda tidak menerimanya saja?"
"Kalau kau mau dengannya, ambil saja. Dia bukan tipeku."
Zach terlihat berpikir dengan tatapan yang berfokus pada Agnese. "Yang jelas dia wanita, bukan perempuan."
Dennis mengernyit. "Maksudnya?"
"Perempuan adalah perempuan, tapi tidak semua perempuan itu adalah wanita. Kau paham maksudku, 'kan?"
"Eh, iya. Saya paham, Tuan."
Zach bangkit dari sofa. "Jagalah dia. Aku mau mandi dulu."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Zach segera berjalan dan meninggalkan Dennis bersama gadis yang kembali berada di rumahnya itu. Namun, ketika mencapai pintu kamar, ia menoleh dan memberi tahu Dennis untuk mengganti kompres Agnese.
Begitu pintu tertutup, Dennis segera menghampiri Agnese yang masih terlelap. Ia duduk di pinggiran tempat tidur sembari menatap sejenak wajah gadis itu sebelum mengganti kompres seperti yang diperintahkan Zach. Sungguh, ia merasa sangat bersalah. Andai saja ia tidak memaksa Manajer itu, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Dennis menghela napas panjang, kemudian menatap lama Agnese dengan intens. Tak lama kemudian, terbit sebuah senyum di bibirnya itu. Entah mengapa, rasanya ia ingin melindungi dan menjaga gadis itu.
"Dennis, pasta gigiku ha ...." Zach berhenti berbicara sejenak. "Hei! Kenapa kau menatapnya seperti itu?" lanjutnya sambil berjalan ke arah Dennis.
Dennis terkesiap dan langsung berdiri. Akibat larut dalam lamunanya sendiri, ia sampai tidak sadar jika Zach sudah kembali ke kamar itu. "Sa ... saya hanya menjaga Agnese dari nyamuk, Tuan."
"Nyamuk?" Dennis mengangguk. "Sejak kapan ada nyamuk di rumah ini?" tanya Zach lagi.
"Sejak tadi, mungkin?" jelas Dennis yang membuat Zach mendengus.
"Istirahatlah, kau menginap di sini saja."
Dennis kembali mengangguk. "Baik."
"Satu lagi, jangan lupa beli pasta gigi."
Dennis mengiyakan permintaan Zach, kemudian keluar dari sana. Untung saja Zach masuk dan mmbuatnya tersadar. Jika tidak, ia tidak bisa menjamin jika dirinya tidak akan jatuh pada pesona Agnese. Ia tidak boleh menyimpan apa pun pada sesuatu atau seseorang yang sedang menarik perhatian atasannya itu. Karena akan menimbulkan masalah besar jika itu sampai terjadi.
Tatapan Zach tak lepas dari Dennis hingga pria itu benar-benar menutup pintu. Selepas itu, ia menatap wajah Agnese dan bergumam akan suatu hal yang disebutkan Dennis tadi.
"Apa benar ada nyamuk yang masuk?" gumam Zach sembari menatap sekeliling kamar untuk memastikan ucapan Dennis.
Zach kembali menatap Agnese, kemudian mengangkat handuk kecil yang menempel di dahi gadis itu. Ia menyentuh dahi Agnese untuk memastikan apakah masih demam atau tidak. Ia merasakan hangat di punggung tangannya, tetapi ia bernapas lega karena panasnya sudah turun.
__ADS_1
Setelah itu, Zach berjalan menuju sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya di sana sambil menatap Agnese. Ia merasa sedikit lelah hari ini apalagi banyak kenyataan yang membuatnya berpikir keras sejak tadi. Tak lama kemudian, ia mulai terlelap dan mengakhiri hari ini dengan damai.