
"Akhirnya selesai," gumam Dennis setelah semua pekerjaan kantor selesai.
Dennis menutup laptop, kemudian menoleh ke samping. Ia melihat Agnese sedang tertidur dengan kepala yang disandarkan di jendela pesawat. Dengan sangat hati-hati, ia menyentuh kepala Agnese lalu menyandarkan kepala gadis itu di bahunya.
Setelah itu, Dennis kembali memperbaiki duduknya. Ia menatap sekeliling kabin yang terlihat nyaman meski termasuk pesawat kecil. Ia tidak habis pikir dengan alasan yang dibuat Zach saat meminta dirinya untuk menyiapkan keperluan penerbangan hari ini.
Sebenarnya mereka bisa pergi menggunakan pesawat pribadi yang memiliki fasilitas tempat tidur. Namun, Zach yang menginginkan perjalanan mereka hanya dilengkapi fasilitas yang minim. Semua dilakukan agar perjalanan udara kali ini sedikit berbeda apalagi ada seseorang yang berbeda juga di sana.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Zach hingga membuat Dennis terlonjak kaget dan pikirannya seketika buyar.
Akibat seruan Zach, Dennis membuat tidur Agnese menjadi terganggu karena bahunya yang menjadi tempat sandaran terguncang. Gadis itu perlahan membuka mata dan menyesuaikan matanya dengan cahaya. Begitu sudah fokus, ia melihat Zach yang tengah berwajah masam di depannya dan Dennis yang sedikit khawatir di sampingnya.
"Kita belum sampai, ya?" tanya Agnese saat tatapannya terarah pada Dennis.
Kenapa wajahnya yang baru bangun tidur terlihat menggemaskan sekali?
Zach yang melihat dan mendengar itu mendengus kesal, kemudian kembali memutar tubuhnya menghadap depan. Seharusnya ia tadi tidak berteriak. Namun, semua terjadi karena spontanitas. Padahal ia berniat meminta Dennis untuk membawakan air minum, tetapi saat melihat pemandangan tadi, ia menjadi kesal.
"Lanjutkan saja tidurmu, Nona. Masih ada sekitar satu jam perjalanan," jawab Dennis.
Agnese tersenyum menanggapi dan beralih menatap pemandangan awan di luar sana. Andai sekarang berada di negeri dongeng, ia berharap ada seekor kuda putih yang terbang datang bersama seorang pangeran. Kedatangan mereka pun untuk membantunya mengatasi permasalahan yang datang silih berganti.
Namun, semua itu hanya terjadi di dunia imajinasi yang diciptakan penulis untuk menghibur para penikmat cerita. Karena yang terjadi pada Agnese sangat berbeda. Bukan pangeran yang datang, melainkan seseorang berwajah pangeran yang bersifat menyebalkan. Padahal ia sangat butuh sosok pangeran untuk menemani dan membantunya menghadapi orang-orang yang bersikap tidak baik.
Puas memandangi awan, Agnese beralih menatap interior pesawat. "Sebenarnya kita mau ke mana? Kalau memang mau pergi berbelanja, kenapa harus menggunakan pesawat?"
"Tenang saja, Nona. Anda akan melihatnya saat kita sampai nanti," jawab Dennis setelah tersenyum menenangkan.
Ketika Agnese hendak kembali bertanya, terdengar sebuah suara yang berasal dari perut lapar gadis itu hingga mengundang tawa dari Zach. Sedangkan Dennis hanya tersenyum karena tidak ingin membuat Agnese merasa semakin malu.
Dennis menatap Agnese sambil tersenyum. "Anda lapar, Nona?"
"Eh?" Agnese menggeleng. "Tidak, aku tidak lapar!" dalih Agnese kemudian.
Astaga! Kau membuatku malu perut. Kenapa kau tidak tahu situasi, sih?
__ADS_1
"Kalau kau lapar, makan cokelat saja." Zach merogoh tasnya dan mengambil sebungkus cokelat batang. "Makanlah."
"Tidak perlu, aku tidak lapar," tolak Agnese sembari menggeleng.
Zach mendengus sebal. "Kalau begitu, makan saja angin."
"Memangnya angin bisa dimakan?"
"Lalu kau mau makan apa di sini? Debu?"
"Lebih baik aku tidak makan apa pun," balas Agnese, lalu kembali menatap awan di luar untuk menenangkan hatinya. Ia terlalu malas untuk berdebat dengan Zach.
Zach menghela napas panjang. "Terserah kau saja."
Dennis tersenyum menanggapi, lalu membuka ponselnya karena ada sebuah pesan yang masuk dari orang yang telah menunggu kedatangan mereka di tempat tujuan. Setelah itu, ia kembali menyimpan ponselnya ke saku kemeja yang digunakan.
🍒🍒🍒
Beberapa waktu kemudian, pesawat yang membawa Zach, Agnese, dan Dennis akhirnya mendarat di sebuah tempat lapang. Perjalanan udara selama kurang lebih empat jam membuat mereka sedikit lelah, terutama Agnese.
Zach berdiri dan berjalan mendekati pintu. Namun, saat mengingat jika masih ada orang lain di sana, ia memutar tubuh dan memandanginya sambil bersedekap dada.
"Kenapa kau masih di situ? Apa kau mau terbang lagi?" tanya Zach.
Agnese tersentak, kemudian menggeleng. "Tidak mau."
"Kalau begitu, ayo! Jangan membuang-buang waktu! Banyak yang harus kau lakukan untuk melunasi utang."
Agnese menghela napas panjang dan segera mengikuti Zach untuk turun dari pesawat. Saat bertatapan dengan Theo, gadis itu sempat berterima kasih dan dibalas dengan senyuman oleh Theo.
"Selamat datang di Dallas, Tuan Zach," sambut pria yang bernama Reffan tatkala melihat Zach turun dari pesawat.
Zach mengangguk dan langsung berjalan menuju mobil yang telah disiapkan Reffan. Begitu tiba di depan mobil, Dennis membukakan pintu untuknya. Ia segera naik dan menunggu mobil berjalan. Dari dalam sana, ia melihat Agnese yang masih berjalan mendekat ke arah rombongan mobil yang datang untuk menjemput mereka.
__ADS_1
Saat Agnese tiba di depan Dennis, ia merasa sedikit bingung. Ia tidak tahu harus naik ke mobil yang mana, sebab terdapat lima mobil di sana. Untuk saat ini, ia tidak ingin berada di dekat Zach. Ia merasa sangat malu setelah kejadian tadi. Selain itu, ia juga malas berdebat.
"Silakan naik, Nona," kata Dennis yang langsung mendapat respons gelengan dari Agnese.
"Aku tidak mau satu mobil dengannya. Bisa, 'kan?"
Dennis mengernyit. "Memangnya ada apa?"
"Tidak bisakah kau tidak bertanya begitu? Aku juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya."
"Kalau begitu, segera masuk ke dalam mobil yang ditumpangi Tuan Zach, Nona."
Agnese menghela napas panjang. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak mau satu mobil dengannya."
"Baiklah." Dennis berjalan menghampiri salah satu orang yang berdiri di depan mobil. Ia memberi tahu bahwa dirinya yang akan membawa mobil. Selepas itu, ia kembali ke hadapan Agnese. "Ayo, Nona."
Zach yang melihat Agnese dan Dennis memilih pergi bersama, langsung mendengus. Ia juga meminta Reffan segera meninggalkan tempat itu. Alhasil, mereka berangkat dengan mobil yang terpisah. Padahal ia sudah meminta Dennis mengatur semuanya. Namun, yang terjadi justru tidak sesuai dengan rencana. Terkadang kita memang hanya bisa berencana, masalah terpenuhi atau tidak, itu urusan yang di atas.
Setelah menikmati perjalanan darat hampir satu jam, mereka semua tiba di sebuah hotel milik Tomlinson's Group yang berada di kota Dallas, Texas. Di depan pintu masuk sudah ada beberapa orang berpakaian rapi yang menunggu kedatangan anak dari pemilik salah satu perusahaan besar yang ada di Amerika Serikat.
Begitu Zach turun dari mobil, mereka semua menundukkan badan tanda hormat, lalu mengucap kata selamat datang. Zach hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam hotel.
Sebenarnya pria ini siapa? Kenapa orang-orang sangat tunduk padanya?
"Ayo, Nona!" ajak Dennis yang diangguki Agnese.
Agnese terus mengikuti langkah Dennis hingga tiba di depan sebuah pintu kamar. Dennis menyerahkan sebuah kartu pada gadis itu dan pamit undur diri sebab ada sesuatu yang harus dibahas dengan Zach.
Agnese memerhatikan kartu di tangannya dengan saksama, kemudian perlahan mendekati daun pintu. Ia menempelkan kartu itu pada sebuah alat yang terpasang di sana. Sedetik setelah itu, ia mendorong pintu agar dapat masuk ke dalam. Ia disambut oleh kamar yang serba berwarna putih. Tampak sederhana, tetapi tetap memiliki kesan elegan.
"Wow! Aku suka kamar ini!" seru Agnese, kemudian berlari menuju tempat tidur tanpa menutup pintu.
Agnese menjatuhkan tubuhnya di atas sana. Rasanya sangat nyaman apalagi setelah melalui perjalanan yang cukup panjang. Ia benar-benar butuh tempat berbeda untuk menenangkan hati dan pikirannya masih sedikit kacau. Ia melebarkan kedua tangan, lalu mulai menggeseknya di atas kain yang menjadi pengalas tempat tidur itu.
__ADS_1