
Reffan sudah mengecek dan memastikan keberadaan pasta gigi sebelum Zach tiba di sana. Maka dari itu, setelah makan malam yang penuh drama, ia membawa Zach, Dennis, dan Agnese menuju salah satu tempat perbelanjaan yang ada di kota Dallas, Texas.
Keadaan di dalam kendaraan roda empat itu lumayan sepi karena tidak ada obrolan yang tercipta. Hanya terdengar embusan napas dan sesekali suara klakson dari pengendara lain. Setelah kejadian tadi, Reffan tak berani menyalakan radio untuk menemani perjalanan mereka.
Perjalanan yang ditempuh kali ini tidak memerlukan banyak waktu. Reffan berhenti di depan Walmart yang terlihat sepi karena sudah hampir memasuki jam tutup.
Zach turun terlebih dahulu sebelum Agnese dengan ponsel yang menempel di telinga kirinya. Ia mendapat kabar dari Tommy jika Alex tengah menghadapi masalah yang lumayan rumit. Namun, ia hanya bisa mengiakan kabar tersebut sebab yakin jika sepupu jauhnya itu bisa menyelesaikan masalah yang bersifat pribadi dengan mudah.
Begitu telepon terputus, Zach berjalan lebih dulu ke dalam Walmart. Ia harus segera menyelesaikan agenda hari ini agar bisa beristirahat dengan tenang sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju New York.
Agnese menyusul setelah Dennis membukakan pintu. Ia tersenyum dan tak lupa berterima kasih kepada Dennis karena selalu membantunya seperti seseorang yang tengah berada di sebuah tempat untuk menjalani masa hukuman atas kejahatan yang bahkan tidak dilakukan sama sekali.
Saat asyik berjalan sembari memerhatikan keadaan sekitar gedung, Agnese terjatuh karena tak sengaja menabrak tubuh Dennis yang tiba-tiba berhenti berjalan. Ia meringis dan segera dibantu berdiri.
"Are you okay?" tanya Dennis setelah membantu Agnese.
Agnese mengangguk. "Yes, I am. Thanks, Dennis."
Mereka kembali melanjutkan jalan yang sempat tertunda. Agnese sesekali mengusap bokongnya yang terasa sedikit perih. Sedangkan Dennis berjalan dengan pikiran yang melayang sebab memikirkan gadis di sampingnya. Namun, pria itu ragu untuk bertanya karena tak ingin membuat sang atasan marah pun membuat hatinya tidak bisa bertahan.
Meski ragu, Dennis tetap menimang keputusannya dalam diam. Saat selesai mengumpulkan keberanian, ia kembali berhenti berjalan, menggenggam tangan Agnese, dan menatap gadis itu dengan lekat.
"Apa kau benar-benar kenyang?" tanya Dennis karena ia yakin jika pamitnya Agnese ke kamar mandi tadi untuk memuntahkan semua makanan yang sudah ditelan secara paksa.
Agnese mengangguk. "Aku bahkan sangat kenyang. Tidak perlu khawatirkan aku."
Tak jauh dari tempat mereka berhenti, Zach juga ikut berhenti berjalan dan menajamkan pendengaran saat Agnese berbicara. Setelah itu, ia berbalik badan untuk menatap Dennis dan Agnese dengan alis berkerut. Ia heran atas pertanyaan yang diajukan Dennis. Bukankah semua sudah jelas? Gadis itu bahkan terlihat sangat kenyang setelah menyantap makan malam yang mungkin baru dirasakannya.
__ADS_1
Zach berdeham. "Apa kau akan terus memegang tangannya sampai ke dalam?"
Dengan spontanitas, Dennis melepaskan tangan Agnese tatkala mendengar suara Zach. Ia menatap ke depan dan melihat sang atasan sudah berwajah masam. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Maaf, Tuan."
"Apa kau tidak lihat bagaimana lahapnya dia saat makan tadi?" tanya Zach, mengalihkan pembicaraan.
"Saya hanya mau memastikan saja, Tuan," dalih Dennis yang membuat Zach merasa kesal.
Agnese menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya dengan perlahan. Ia sangat lelah hari ini, tetapi Zach tidak pernah berhenti memancing keributan. Andai saja sekarang ada waktu luang, ia akan gunakan waktu itu untuk memulihkan tenaga dan akan meladeni perdebatan apa pun dengan pria itu.
Setelah semua itu selesai, Agnese akan meminta Dennis untuk mengantarnya pulang ke New York. Ia merasa sangat pusing karena banyak yang dipikirkan olehnya seharian ini. Ia memikirkan kondisi Briza, pekerjaannya yang terbengkalai, juga masalah lain yang tidak ada habisnya.
Agnese menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, kemudian menatap Dennis dengan tatapan lembutnya.
"Terima kasih atas perhatiannya, Dennis." Senyum yang disuguhkan untuk Dennis hilang saat beralih menatap Zach. "Tolong tidak usah diperpanjang lagi. Apa kau tidak lelah berdebat?" lanjutnya.
"Kapan ada perdebatan? Aku hanya menanggapi obrolan kalian." Zach mengalihkan pandangan ke arah lain. "Apa kau tidak suka aku mengganggumu saat berbincang dengan Dennis?"
Dasar gadis bodoh!
Agnese memasuki tempat belanja itu dengan perasaan berkecamuk. Ia tidak memedulikan tatapan orang yang sempat menatapnya di depan pintu masuk. Yang ia pikirkan adalah segera menjauh dari semua orang agar bisa menyelesaikan misi pelunasan utang gaib dengan tenang.
Melihat Agnese sudah masuk ke dalam, Zach juga kembali melangkah ke tempat yang akan menyelamatkan giginya dari kerapuhan. Dennis juga tidak tinggal diam, ia segera berjalan cepat agar bisa sejajar dengan Reffan.
"Kenapa kau tidak memberi kode kalau Tuan Zach memerhatikanku?" geram Dennis dengan suara kecil saat berhasil menyamai langkah Reffan.
Reffan mengangkat bahu tak acuh. "Itu urusanmu, kenapa aku harus ikut campur?"
"Kurang ajar kau!" Dennis segera menyusul Zach serta Agnese yang sudah berada di dalam Walmart.
__ADS_1
Di dalam sana, Agnese menunggu di dekat sebuah rak yang berisi makanan ringan. Zach berdiri di dekat pintu masuk yang terdapat tumpukan troli. Reffan berdiri di sisi kanan Zach. Sementara Dennis mengambil sebuah troli untuk membantu atasannya itu saat mengambil barang.
"Berikan troli ini pada gadis bodoh itu," interupsi Zach pada Dennis sembari menunjuk Agnese dengan dagunya.
Dennis mendorong troli tersebut ke arah Agnese. "Silakan, Nona."
"Terima kasih."
Setelah itu, Reffan memberi tahu Zach tempat pasta gigi yang diinginkan berada. Mereka berjalan secara beriringan dengan Reffan yang berada paling depan sebagai petunjuk jalan. Begitu tiba di rak yang ditunjukkan Reffan, mereka semua berhenti.
Zach melangkah sekali lagi untuk melihat apakah pasta gigi yang diinginkan benar-benar ada. "Segera minta stok pasta gigi yang ada di gudang," interupsi Zach yang langsung dilaksanakan Reffan.
"Baik, Tuan," ujar Reffan sebelum meninggalkan sang atasan untuk melaksanakan perintah.
Zach menyusuri lorong di antara rak yang tersusun rapi. Ia mengambil beberapa bungkus makanan ringan yang berukuran besar, kemudian melemparkannya ke arah Agnese yang berjalan di belakang sambil mendorong troli. Selepas itu, ia mendekati lemari pendingin dan mengambil sebotol cola.
Zach tak meminumnya, melainkan mendekati Agnese dan menyimpan cola itu ke dalam troli bagian atas. Ia tidak langsung beranjak dari sana, ia menyempatkan diri untuk memerhatikan wajah Agnese. Keringat yang terlihat di wajah gadis itu membuatnya sedikit heran.
Apakah di dalam ruangan yang memiliki pendingin hampir di setiap sudut terasa panas? Mengapa gadis itu sampai berkeringat? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan? Zach segera menggeleng agar pikirannya mengenai Agnese menjadi buyar dan kembali berjalan untuk mengisi troli hingga penuh.
Berbeda dengan Zach, Agnese justru berhenti berjalan. Ia memejamkan mata saat pusing yang melanda semakin terasa. Tangan kanannya pun terangkat untuk memijit bagian yang sakit. Setelah itu, ia menghela napas panjang dan bersiap untuk berjalan.
"Nona, biar saya saja yang membawanya," tawar Dennis saat melihat Agnese memijit pelipis.
Agnese tersenyum. "Tidak usah. Aku bisa melakukannya."
Tak jauh dari tempat Agnese dan Dennis berdiri, Zach kembali mengambil sebuah makanan ringan. Selepas itu, ia mendekati Agnese dan memasukkan makanan yang dipegang ke dalam troli dengan perasaan kesal.
Ada rasa tak suka yang timbul saat mendengar percakapan singkat antara Agnese dan Dennis. Seperti ingin marah, tetapi tak bisa. Jadi, ia memilih untuk mengambil alih troli yang dipegang Agnese daripada harus mendengar mereka bercakap tentang siapa yang berhak mendorong troli tak bersalah tersebut.
__ADS_1
"Berikan padaku!" Zach mendengus sebelum mendorong troli.