
Langit biru sudah muncul akibat matahari yang tidak malu bergerak untuk menampakkan wujudnya. Kicauan burung pun bersahut-sahutan menghiasi pagi. Berbondong-bondong orang sudah beraktivitas seperti biasa. Namun, berbeda dengan seorang gadis yang hingga saat ini masih terlelap.
Bahkan perjalanan dari Dallas menuju New York pun tidak dinikmati gadis itu karena asyik menyelami dunia mimpi yang sangat dalam hingga rasanya tak ingin bangun lagi. Bukan tanpa sebab ia menginginkan hal tersebut. Apalagi di sana ada kepingan kenangan yang tak ingin ditinggalkan.
Kenangan yang membuat kehidupan gadis itu berubah seiring waktu. Hatinya pun ikut membeku dan menganggap semua yang terjadi hanyalah bayangan semu. Namun, ia berusaha menepis segala keburukan yang terjadi, ia lebih fokus menata masa depan dan mengurus sang ibu.
Di lain tempat, Zach memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana, lalu berjalan menuju sofa untuk menikmati secangkir kopi. "Apa gadis bodoh itu sudah bangun?"
"Sepertinya belum, Tuan."
Zach menyeruput kopi sembari menatap Dennis. "Dia sudah tidur cukup lama. Apa dia tidak bosan?"
"Dia butuh istirahat yang lebih. Mungkin saat Anda bekerja, dia akan bangun," jawab Dennis.
"Kenapa harus nanti? Sekarang pun dia bisa bangun."
Dennis tersenyum saat sebuah ide terlintas di kepalanya. "Kalau begitu, Anda bangunkan saja, Tuan."
"Aku tidak mau! Kau saja yang membangunkan gadis pemalas dan bodoh itu!" Zach kembali menyeruput kopi hingga tersisa sedikit.
"Julukannya bertambah, Tuan?" Dennis tertawa kecil. "Dari gadis kecil, menjadi gadis bodoh, lalu sekarang ada sematan gadis pemalas. Apa Anda tidak merasa nama itu terlalu panjang? Kenapa tidak memanggil namanya saja?"
"Aku tidak mau bibirku gatal karena menyebut namanya," ujar Zach sambil menerawang, mengingat-ingat memori kebersamaanya dengan Agnese karena ingin membuktikan jika perkataannya benar.
Dennis mengambil ponselnya, lalu mencari tahu arti nama Agnese di Google. Terlihat kerutan di dahinya saat fokus membaca artikel yang tersedia. Begitu berhasil mendapatkan, sudut bibirnya tertarik agar melebar.
"Bibir Anda tidak akan gatal, Tuan." Dennis menunjukkan sesuatu yang tertera di layar ponselnya. "Lihatlah, arti nama Agnese adalah suci."
"Suci? Aku tidak yakin kalau dia masih suci seperti arti namanya, apalagi dia bekerja di tempat hiburan malam. Tidak mungkin, 'kan, kalau tidak ada pria yang menggodanya?"
Dennis membenarkan perkataan Zach. Gadis itu bekerja di salah satu tempat hiburan malam, pasti banyak pria hidung belang yang menggoda bahkan mengajak untuk melakukan hal tersebut. Namun, hati kecilnya merasa jika semua pernyataan itu tidak benar. Sebab ia yakin jika Agnese bukanlah gadis yang mudah termakan rayuan.
Meski sedang mengalami masalah ekonomi, gadis itu tidak mungkin bersedia melakukan itu. Masih banyak remaja seusia Agnese yang tidak ingin melepas kesucian karena ingin memberikannya pada pria yang dicintai kelak.
Dennis menyeringai. "Anda benar, tapi hanya ada satu cara untuk membuktikannya, Tuan."
"Apa?"
"Anda harus menikahinya terlebih dahulu untuk tahu, Tuan."
__ADS_1
Zach terbelalak mendengar penuturan Dennis. "Menikah? Hell no! Kau ini sedang mabuk? Harus berapa kali aku katakan kalau aku tidak mau menikahinya?"
"Mungkin sampai Anda benar-benar menikah dengannya?" balas Dennis sembari meletakkan jari telunjuk di dagunya dan bersikap seolah-olah sedang berpikir.
Zach mendengus sebal. "Terserah kau sajalah."
Zach bangkit dan meninggalkan Dennis yang sedang menertawakan kebodohannya. Ia benar-benar tidak tertarik membahas topik sensitif itu. Menikah bukanlah hal mudah. Banyak orang yang gagal membina rumah tangga dengan baik.
Bahkan sang ibu gencar mengatur kencan buta untuknya agar segera menikah. Namun, ia selalu mencari celah dengan melihat kekurangan setiap perempuan yang dikenalkan padanya. Alhasil, tak ada satu pun yang berhasil hingga saat ini.
Sebab lebih baik memikirkan persoalan bisnis, daripada harus membahas pernikahan yang akan membuat hatinya teriris apalagi mengingat kehidupan pernikahan orang tuanya yang miris.
Sekali lagi terdengar dengusan sebelum Zach masuk ke dalam mobil. Ia mencengkeram erat kemudi dan menginjak pedal gas agar segera meninggalkan kawasan rumah yang membuat paginya sedikit tidak baik.
Di saat mobil Lamborghini Veneno Roadster—mobil yang hanya dimiliki seorang pemenang lelang di ulang tahun perusahaan otomotif itu—membelah jalanan yang sudah ramai, Dennis beranjak menuju kamar tamu untuk membangunkan Agnese.
Dennis masuk ke dalam kamar, kemudian mendekat ke arah tempat tidur. Ia mematikan lampu di atas nakas, kemudian menyalakan lampu utama. Setelah itu, ia menggeser tirai jendela yang menghalangi cahaya matahari masuk.
Akibat perbuatan Dennis, gadis yang masih terperangkap dalam dunia mimpi terusik. Perlahan bola mata abu-abu miliknya terlihat dengan jelas. Begitu selesai menyesuaikan dengan cahaya, ia menatap pria di hadapannya dengan bingung.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Agnese selagi mengubah posisinya menjadi duduk.
Mulut Agnese membulat sambil mengangguk saat merespons jawaban Dennis. Ia mengembuskan napas panjang sebelum menatap Dennis dengan serius. "Kapan kita akan kembali ke New York? Aku benar-benar harus pulang secepatnya."
"Kita sudah di New York."
"Really?"
Dennis mengangguk. "Iya. Seperti yang kau lihat, ini kamar yang selalu kau gunakan di sini."
Mata abu-abu itu mengedar untuk memerhatikan keadaan sekitar. Benar. Sekarang ia berada di kamar yang entah sudah ke berapa kali menginjakkan kaki di sana. "Kapan kita pulang?"
"Semalam, saat kau masih pingsan atau tertidur."
"Bagaimana bisa?" tanya Agnese lagi.
Dennis mengangkat bahu. "Tuan Zach yang menyiapkan semuanya karena khawatir kau kenapa-napa saat pingsan."
"Di mana dia sekarang?"
__ADS_1
"Mungkin dia sedang berpacaran," balas Dennis.
Sungguh. Agnese sedikit terkejut mendengar jawaban itu. Meski memiliki kekasih adalah hal yang wajar bagi pria seperti Zach, tetapi ada rasa aneh menjalar di dalam tubuhnya.
Agnese terngaga. "Dia memiliki kekasih?"
Dennis mengangguk. "Iya, kekasihnya sangat perhatian dan cantik."
"Wow! Can I see his girlfriend?"
"Maaf, tapi itu urusan pribadi Tuan Zach, tidak boleh diumbar."
"Aku hanya penasaran dengan kekasihnya itu. Apakah dia cantik? Kalau iya, kenapa dia mau menyia-nyiakan kecantikannya bersama pria menyebalkan seperti dia?"
Dennis berusaha keras menahan tawa setiap mendengar kalimat yang dilontarkan Agnese. Padahal yang ia maksud sebagai kekasih adalah benda persegi yang dapat menampung berbagai macam soft file di dalamnya, bukan manusia. "Kekasih Tuan Zach sangat cantik. Kalau tidak ada Tuan Zach di dekatnya, dia akan dingin. Bahkan dia sangat berguna untuk perusahaan."
"Perusahaan?" Agnese mengernyit. "Dia memiliki perusahaan?"
"Ehem." Dennis berdeham, kemudian bangkit. "Sebaiknya kau mandi, Nona," lanjutnya.
Agnese mengembuskan napas panjang. Rasanya tidak sopan jika memanggil pria itu hanya dengan nama, di saat dirinya dipanggil dengan julukan 'nona'. Apalagi usia mereka terpaut cukup jauh.
"Em, Dennis?"
"Iya, Nona?"
Lagi. Mendengar kata itu, telinga Agnese seperti berkedut. Ia harus segera memberi tahu ketidaksukaannya pada pria itu, sebelum menjadi kebiasaan karena selalu menggunakannya.
"Tolong jangan memanggilku seperti itu. Cukup Agnese saja, oke?"
Salah satu alis Dennis terangkat. "Kenapa?"
"Kau sudah kuanggap seperti Kakakku, jadi bicara layaknya saudara saja. Tidak usah menggunakan bahasa baku juga."
"Tapi ...."
Agnese menggeleng cepat. "No buts anymore."
"Baiklah."
__ADS_1