Married With Stranger

Married With Stranger
Offer


__ADS_3

Lagi. Agnese kembali berjalan seperti mayat hidup. Tak ada yang bisa dilakukan selain pergi dari sekolah setelah mendengar informasi yang disampaikan Mrs. Pita tadi. Lagi pula tidak ada yang bisa dipertahankan lagi, 'kan? Beasiswanya juga sudah dicabut, jadi ia tidak perlu menjaga kestabilan nilai.


Yoana sempat menahannya dan bertanya banyak hal. Namun, ia memilih mengabaikan dan pergi dari tempat yang mungkin akan membuat kehidupannya bertambah hancur. Sebenarnya ia bisa bayar uang sekolah, tetapi ia memikirkan biaya obat Briza yang tidak sedikit.


Agnese hanya berjalan tanpa arah. Ia mau pulang, tapi tidak ingin melihat sang ibu tahu apa yang sedang menimpanya. Sebab ada banyak hal yang harus disembunyikan demi kebahagiaan orang lain.


Meski dewi kebahagiaan belum berpihak pada Agnese, tetapi ia yakin jika suatu saat bisa bahagia dan tidak perlu memedulikan rasa sedihnya yang belum hilang hingga saat ini. Yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah pasrah dan menikmati masa muda dengan bahagia.


Langkah demi langkah berhasil dilalui Agnese tanpa ada halangan. Namun, karena posisinya tidak jauh dari lampu merah, alhasil ia menabrak tiang lampu merah yang terpasang di ujung trotoar.


Buk!


"Kenapa aku selalu terbentur, sih?" keluh Agnese sembari mengusap keningnya yang mungkin sudah memerah akibat terbentur tiang.


Setelah rasa nyeri akibat benturan itu sedikit menghilang, Agnese mendengus dan menatap tiang itu dengan kesal. "Apa kau tidak bisa melihatku sedang bersedih? Kenapa harus membuat keningku sakit? Hatiku sudah hancur, tahu!"


Tanpa Agnese sadari, ada beberapa pengendara jalan yang tertawa karena tidak sengaja melihat kejadian itu. Salah satunya pengendara yang berada di dalam kendaraan roda empat. Mata pengendara itu tak pernah lepas dari sosok gadis yang memaki tiang lampu merah. Seperti ada perasaan senang yang hinggap, karena ia tahu apa yang terjadi hari ini.


Setelah puas, Agnese kembali berjalan sambil sesekali mengusap keningnya. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana caranya berpikir dengan jernih hingga tiang lampu pun menjadi tempat menyalurkan kekesalan dan kesedihannya. Namun, ia merasa sedikit lega karena beban yang sedari tadi ditahan perlahan menghilang.


Sesegera mungkin gadis itu mengubah mimik wajahnya. Ia menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya dengan perlahan. Selepas itu, ia kembali berjalan dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Apa pun yang akan terjadi lagi nanti, harus ia hadapi dengan senyuman, bukan tangisan.


"Gadis Kecil!"


Agnese berhenti berjalan, kemudian mengernyit. "Apa aku sudah gila? Kenapa aku mendadak mendengar suara pria kejam nan menjengkelkan itu?"


Agnese memukul kepalanya karena merasa dirinya sudah tidak waras. Bagaimana pun, ia tidak boleh mengingat orang yang menjadi salah satu penyebab kesedihannya. Ia kembali mengembuskan napas panjang dan kembali berjalan tanpa memedulikan suara yang terus saja didengar.

__ADS_1


Sementara di seberang jalan, terlihat seorang pria yang merasa kesal dan memutuskan untuk mengejar Agnese menggunakan kaki jenjangnya. Ia turun dari mobil menggunakan kacamata hitam yang membuat kadar ketampanannya bertambah.



Sebagian perhatian orang tersita tatkala melihat orang itu. Mereka terkejut karena salah satu orang berpengaruh di negara nampak di sekitar mereka. Ingin rasanya mengabadikan momen berharga itu, tetapi mereka tidak berani. Karena akan ada hukuman yang tak terkira jika berani melakukan sesuatu yang tidak disukai orang itu.


Begitu berhasil mengejar, orang itu langsung menarik tangan Agnese hingga membuat tubuh mereka bersentuhan. "Kenapa kau tidak mendengar panggilanku, ha?"


Agnese melihat sosok di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Begitu sadar dengan siapa ia berhadapan saat ini, ia langsung terbelalak kaget dan berusaha melepas tangannya dari cengkeraman orang itu.


"Ka ... kau? Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Agnese yang masih berusaha melepaskan tangannya.


"Aku bebas berada di mana pun. Kau tidak berhak mengaturku."


Agnese memutar bola matanya dengan malas. "Memangnya aku pernah mengaturmu? Aku hanya bertanya."


"Kenapa kau suka mengajakku berdebat, Gadis Kecil? Apa kau suka berbicara lama denganku?" tebak orang yang tak lain daripada Zach William Tomlinson.


Zach melepas cengkeraman tangannya pada tangan Agnese, kemudian bersedekap dada. Ia semakin merasa tertantang untuk menyelidiki lebih dalam mengenai gadis di hadapannya. Ia belum pernah bertemu dengan sosok perempuan yang memiliki sikap dan sifat seperti Agnese. Karena yang mendekatinya selama ini hanya perempuan pecinta harta dan tahta.


"Berhenti menatapku!" tegur Agnese saat menyadari jika Zach terus saja menatapnya meski tertutupi kacamata.


"Baiklah." Zach kembali meluruskan tangannya. "Aku mau menagih utangmu," lanjutnya.


"Utang apa lagi? Kenapa kau tidak pernah menganggap lunas, ha? Apakah tidak cukup dengan mencabut beasiswaku? Kau ini punya hati atau tidak?" cecar Agnese.


Rasanya Zach ingin tertawa karena melihat wajah Agnese yang terlihat lucu saat sedang marah seperti itu. Ia tersenyum sejenak, lalu memerhatikan keadaan sekitar yang mendadak sedikit ramai karena antusias warga setempat melihat dirinya. Tanpa berlama-lama, ia segera menarik tangan Agnese menuju mobilnya terparkir.

__ADS_1


"Hei! Lepaskan tanganku!" titah Agnese, tetapi tidak digubris sama sekali.


Setelah tiba di depan mobil, Zach membuka pintu dan menyuruh Agnese untuk masuk. Namun, gadis itu tetap bergeming di tempatnya. Mau tidak mau, Zach harus kembali memintanya sebelum di sana semakin ramai.


"Aku bilang masuk!"


"Tidak mau!"


"Bodoh! Kau mau jadi tontonan mereka semua?" bisik Zach yang membuat Agnese seketika kelu.


Dengan takut, Agnese mulai mengedarkan pandangannya untuk menatap keadaan di sekitar mereka. Benar. Saat ini mereka tengah menjadi tontonan publik. Setelah itu, ia menatap Zach dengan sinis dan memutuskan untuk masuk ke dalam mobil.


Begitu Agnese sudah duduk dengan nyaman, Zach berjalan memutari mobil dan masuk ke dalam sobat lamanya itu. Setelah memasang sabuk pengaman, ia segera meninggalkan kawasan itu dengan cepat. Bahkan ia membuat Agnese sedikit takut karena kecepatan Arnold tidak kira-kira.


"Sebenarnya kau mau aku membayar utang seperti apa?" tanya Agnese sambil terus menggenggam erat sabuk pengaman yang mengamankan dirinya.


"Cukup temani aku berbelanja."


Mata Agnese seketika berbinar. "Benarkah? Sungguh hanya itu?"


"Iya."


Kalau tahu begini, lebih baik aku menemaninya dari kemarin.


"Jadi, kalau aku menemanimu berbelanja, utangku semua akan lunas?"


"Iya."

__ADS_1


"Terima kasih." Agnese mengubah posisi duduknya, ia menghadap ke arah Zach yang fokus menyetir. "Tapi, kenapa kau begitu kasar tadi? Aku ... takut," lirihnya kemudian.


Zach menghela napas kasar. "Lain kali jadilah gadis yang penurut! Sebenarnya aku tidak suka kasar pada wanita, apalagi masih belia sepertimu."


__ADS_2