
"Bagaimana dengan masalah dengan Waston Grup? Apakah kau sudah mengatasinya?" tanya Zach memecah keheningan.
Dennis mengangguk. "Sudah, Tuan. Saya juga sudah menarik setengah dari nilai investasi kita dengan perusahaan itu."
"Baguslah. Kau harus mengurus tuntas masalah ini. Kita harus membantu Alex menghancurkan orang itu, kalau memang Alex berkata benar," ujar Zach sembari mengingat percakapannya dengan Alexander Kemal Malik—CEO dari perusahaan Malik's Corp—beberapa waktu lalu.
Zach adalah tipe orang yang menyukai kejujuran. Jadi, jika ada yang berani membohongi atau mengkhianatinya, ia tidak segan-segan turun tangan untuk menghancurkan mereka. Tidak peduli jika itu adalah teman maupun keluarga.
Dennis tersenyum. "Sebenarnya pihak Waston Grup mau bertemu dengan Anda, tetapi saya mengatakan kalau Anda sedang berlibur dengan istri. Jadi, tidak bisa diganggu."
Zach terbelalak tatkala mendengar ucapan Dennis. Istri? Yang benar saja. Bahkan ia tidak pernah berpikir akan menikahi gadis kecil itu. Mengapa tangan kanannya justru membuat berita yang akan menghebohkan khalayak banyak?
"Bodoh!" Zach mendengus sebal. "Bagaimana kalau orang-orang tahu aku tidak menikah dengannya?"
"Maafkan saya, Tuan. Lagi pula Nona Agnese adalah gadis yang baik. Kenapa Anda tidak menikah dengannya saja? Daripada Tuan Zach selalu disuruh kencan buta oleh Nyonya," papar Dennis yang membuat Zach semakin kesal.
"Menikahi gadis kecil yang bodoh itu?" Zach tertawa lepas beberapa saat, kemudian mengusap sudut matanya yang mengeluarkan sedikit air mata. "Yang benar saja kau! Apa yang akan orang pikir tentangku nanti?" tanyanya kemudian.
"Bukankah Tuan Alex juga menikahi seorang gadis kecil, Tuan?" tanya Dennis balik.
Zach menyeringai. "Gadis bodoh itu bahkan lebih muda daripada istri Alex."
"Cinta tidak pernah memandang us ...."
__ADS_1
"Tahu apa kau tentang cinta? Kau saja belum memiliki pendamping. Jadi, tidak usah menasihatiku!" potong Zach dan segera bangkit dari sofa.
Zach menutup pintu dengan kesal, lalu berjalan menuju sebuah kamar yang tak jauh dari kamarnya. Ia terus saja menyebutkan sumpah serapah pada Dennis. Ia masih tidak bisa menerima perkataan Dennis, meski itu hanyalah sebuah lelucon.
Dennis tidak tinggal diam, ia segera menyusul Zach keluar dari kamar. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat keberadaan Zach. Saat melihat siluet atasannya itu di koridor sebelah kanan, ia langsung berlari kecil. Ia takut jika Zach akan melakukan sesuatu yang menimbulkan masalah.
Zach berhenti di depan sebuah kamar. Pandangannya menjadi semakin kesal tatkala melihat Agnese terlelap tanpa mengunci pintu. Ia semakin tidak bisa menerima ucapan Dennis. Entah bagaimana kehidupannya nanti jika menikahi gadis kecil yang ceroboh itu.
"Tuan?" panggil Dennis begitu tiba di samping Zach.
"Kau memintaku menikahi gadis bodoh dan ceroboh itu?" Zach menunjuk Agnese yang sedang terlelap di atas tempat tidur. "Pintu kamar saja dia tidak bisa perhatikan, bagaimana dengan reputasiku nanti?"
Dennis menghela napas panjang. "Maafkan saya, Tuan."
Zach tidak mengindahkan ucapan Dennis. Ia memilih masuk ke dalam kamar yang dipakai Agnese untuk beristirahat. Ia duduk di sofa putih yang ada di sana sambil memerhatikan nuansa kamar itu. Cukup nyaman, pantas saja Agnese dengan mudah terlelap.
"Bangunkan dia dan suruh bersiap dalam setengah jam." Zach segera meninggalkan kamar Agnese setelah mengatakan itu.
Dennis mengangguk. "Baik, Tuan."
Setelah Zach menutup pintu, Dennis berjalan ke arah tempat tidur. Ia menyentuh lengan Agnese, lalu menggoyang-goyangkannya. "Nona, bangunlah!"
Karena percobaan pertama gagal, Dennis menegakkan tubuhnya dan memikirkan ide yang bagus untuk membangunkan Agnese. Begitu dapat, ia segera berjalan ke kamar mandi dan membasahi tangannya dengan air dari wastafel. Setelah itu, ia kembali ke samping tempat tidur dan memercikkan air ke wajah Agnese.
__ADS_1
Gadis itu perlahan membuka mata dan kaget saat melihat Dennis ada di sana. Ia mengucek mata, kemudian menggeliat sebentar sebelum mengubah posisinya menjadi duduk. "Apa aku sudah lama tidur?"
Dennis menggeleng. "Tidak, Nona."
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" tanya Agnese lagi.
"Tuan Zach memintamu segera bersiap dalam waktu setengah jam."
Agnese mengernyit, kemudian menghela napas kasar. "Sebenarnya kita mau ke mana? Kalian mau menculikku, ya?"
"Bukan begitu, Nona. Kita akan mencari pasta gigi Tuan Zach di kota ini."
"Apa?!"
"Silakan bersiap, Nona. Saya pergi dulu," pamit Dennis di saat Agnese masih berusaha mencerna jawabannya.
Agnese tidak habis pikir dengan Zach. Padahal ia sempat merasa kagum karena melihat Zach sangat dihormati oleh semua orang. Namun, saat mengingat kebiasaan aneh pria itu, ia menjadi sedikit tidak yakin. Sepertinya ia harus mencari tahu mengenai Zach untuk meyakinkan diri atas rasa kagumnya.
Setelah berperang dengan pikiran sendiri, Agnese bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajah serta menggosok gigi agar terlihat lebih segar. Begitu selesai, ia mengambil sebuah lip balm dan bedak dari dalam tas. Ia harus mengolesi bibirnya agar tetap lembab.
Selepas itu, Agnese keluar dari kamar. Namun, saat berada di depan pintu, ia merasa kebingungan harus ke mana. Ia tidak tahu di mana keberadaan Dennis dan Zach. Ia menghela napas panjang, kemudian melirik ke kanan dan kiri secara bergantian. Siapa tahu ada orang yang lewat di sana, jadi ia bisa bertanya pada mereka.
Namun, sebelum ada orang yang lewat, Agnese teringat akan sebuah pesan yang pernah masuk saat ponsel itu baru tiba di tangannya. Ia tersenyum senang, lalu mencari riwayat pesan yang dimaksud ingatannya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, ia berhasil menemukanya. Nomor Zach ada di sana. Tanpa menunggu waktu lama, ia segera mengirim pesan pada pria itu. Semoga saja ia tidak terlalu lama saat bersiap tadi. Karena jika terlambat, pasti sekarang ia sudah ditinggalkan oleh Zach dan Dennis menuju tempat perbelanjaan dan utangnya yang tidak jelas itu tidak akan pernah lunas.
Kau ada di mana?