
Saat berada dalam perjalanan dari sekolah menuju Madison Avenue, ponsel Zach berdering. Ia segera memencet tombol di setir mobil untuk mengangkat telepon karena sebelumnya ia sudah menghubungkan perangkat ponsel dengan perangkat audio yang terpasang di Arnold. Jadi, ketika ada panggilan telepon di tengah jalan, ia bisa langsung mengangkat tanpa perlu repot memegang ponsel sambil menyetir.
"Apa kau sudah tiba?" tanya Zach tatkala panggilan telepon sudah tersambung.
"Iya, Tuan. Saat ini saya dalam perjalanan menuju kantor Mr. Aryan."
"Lalu ada apa?"
"Berhati-hatilah di sana, Tuan. Karena bisa saja orang itu sengaja memanipulasi dengan mengatur salah satu anak buahnya agar saya datang ke sini dan membuat perlindungan Anda berkurang," jelas Dennis sambil menikmati pemandangan gedung-gedung di tengah kemacetan.
Zach menyunggingkan senyum misterius. Sebelum Dennis memberi tahu akan hal itu, ia sudah menduga-duga sebelumnya dan selalu memikirkan setiap langkah yang diambil. Sebab ia tidak terlalu bodoh untuk tidak mengetahui taktik musuh yang sangat mudah ditebak.
"Aku tahu itu."
Dennis bernapas lega dan tersenyum.
"Apa Nona Agnese sudah bersama Anda?"
Zach menatap Agnese yang terlihat antusias ketika tahu jika yang menelepon pria itu adalah Dennis. Ia pun kembali fokus menyetir dan menggenggam erat setir. "Ya, dia sedang tersenyum karena mendengar suaramu."
"Ma ... maksud Anda?"
"Sepertinya dia menyukaimu. Apalagi dia ingin ikut denganku saat aku menyebutkan namamu," jawab Zach dengan ketus.
Agnese kaget mendengar jawaban Zach. Dengan menahan malu, ia mengubah arah pandangannya ke arah luar jendela. Apakah benar ia menyukai Dennis? Ia pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan mengeluarkan sumpah serapah dalam hati kepada pria di sampingnya yang selalu berucap dengan gamblang.
Berbeda dengan Agnese, pria yang berada di benua lain itu terdengar menghela napas berat yang panjang. Pria itu juga berdeham untuk menghilangkan kecanggungan yang menghampiri setelah mendengar jawaban Zach.
"Maaf, Tuan. Sepertinya kita harus menyudahi panggilan ini," ucap Dennis, mengalihkan obrolan.
"Ya sudah."
Saat Zach ingin memutus sambungan telepon, suara Dennis terdengar lagi. Sehingga ia kembali menggenggam setir dan mengernyit.
"Ada apa lagi?" tanya Zach.
"Anda harus bersikap alami selayaknya pasangan kalau tidak mau dicurigai."
__ADS_1
"Ya, aku akan melakukan itu."
"Baik, Tuan. Sampai jumpa."
🍒🍒🍒
Zach masuk ke tempat yang dikerumuni banyak orang. Ia meninggalkan Agnese demi mencoba makanan yang sedang terkenal di kalangan anak milenial. Saat ingin duduk, pandangannya tertuju pada etalase yang berisi berbagai pilihan rasa dari makanan berbahan dasar tepung terigu tersebut. Ia pun pergi untuk memesan dan kembali ke tempat yang tadi ingin diduduki.
Zach memerhatikan pintu masuk untuk mencari Agnese. Ia melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya dan kembali menatap pintu masuk. Tak selang beberapa lama, ia melihat Agnese berhasil menerobos kerumunan. Ia pun langsung mengangkat tangan agar gadis itu melihat keberadaannya.
"Kau pasti akan menyukainya," ucap Zach, lalu tersenyum sambil menyilangkan tangan di tas meja dan memerhatikan Agnese.
"Maybe."
Agnese menyimpan paper bag di atas meja sebelum duduk. Setelah itu, ia menyentuhkan bokongnya dengan bantalan kursi. Ia mengembuskan napas panjang dan berharap semoga hari ini segera berakhir. Padahal baru beberapa jam bersama pria, tetapi rasanya sangat lama. Berbeda ketika dirinya bersama Dennis. Ia justru tidak ingin hari itu berakhir dengan cepat.
Saking kesalnya, wajah Agnese sampai tidak berekspresi. Ia hanya memasang wajah datar dan berkali-kali mengembuskan napas kasar.
"Kenapa wajahmu begitu? Apa kau tidak suka tempat ini?" tanya Zach.
"Lalu?" tanya Zach lagi dengan salah satu alis terangkat.
"Aku hanya lelah."
"Kau lelah berbelanja?" Zach tertawa pelan. "Apa kau tidak pernah belanja seperti tadi sebelumnya?" lanjutnya.
"Huh, untuk bayar uang sekolah saja, aku masih mengharapkan beasiswa."
"Bukankah kau dulu pernah merasakan kemewahan?"
Dari mana dia tahu?
Agnese tersenyum getir. Ia bahkan sudah lupa dengan yang namanya kemewahan. Jadi, untuk apa mengingat-ingat apa yang sudah lalu? Toh, sekarang ia hanya bisa menjalani masa-masa sulit ini untuk mencapai kebahagiaan lagi. Ia percaya dengan ungkapan 'akan ada pelangi setelah hujan', jadi ia hanya bisa bersabar agar kelak dapat diceritakan ke anak cucu dan menjadikannya sebagai motivasi supaya tidak putus asa jika tertimpa masalah.
"Merasakan kemewahan bukan berarti menghambur-hamburkan uang, bukan? Aku bukan dirimu yang bisa beli apa pun tanpa melihat harganya. Keluargaku tidak sekaya itu." Agnese menjawab sambil melihat salah satu pramusaji yang berjalan ke arah meja mereka dengan membawa pesanan pengunjung di meja dorong.
"Sepertinya kau sudah mengerti betapa susahnya mencari uang."
__ADS_1
"Kurasa begitu," jawab Agnese.
Zach dan Agnese tidak melanjutkan percakapan. Mereka hanya diam sembari menunggu pramusaji tiba.
"Permisi." Pramusaji memindahkan pesanan Zach dari kereta dorong ke atas meja. "Selamat menikmati," lanjutnya sebelum meninggalkan meja itu ke meja yang lain.
Zach memotong kue cokelat berlapis, memindahkannya ke piring, dan menyendokkan ke dalam mulut. "Makanlah," katanya setelah mengunyah.
Agnese memotong kue sambil menatap Zach dengan kesal. Ia tidak menyangka jika yang dimaksud pria itu adalah makanan penutup khas Perancis, Mille Crepes. Sungguh, ia sangat menghargai pemberian Zach, tetapi ia merasa tidak sepadan dengan apa yang telah dilakukan dirinya hari ini.
Agnese berkata dalam hati. "Kupikir dia mau membeli dress atau sesuatu yang berharga, tapi ternyata aku salah."
Menyadari ada yang salah, Agnese menepuk keningnya dan kembali berkata dalam hati. "Apa aku baru saja berharap sesuatu yang lebih darinya? Astaga! Sadar, Agnese!"
"Kenapa kau memukul dirimu?"
Agnese menggeleng. "Tidak ada apa-apa."
"Makanlah," pinta Zach sambil kembali menikmati Mille Crepes.
Para pengunjung yang menyambangi kawasan Madison Avenue pasti akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Lady M Cake Boutique dan mencicipi kue Mille Crepes yang terkenal.
Maka dari itu, Zach memutuskan mengajak Agnese ke sana karena tidak tahu harus membeli apa untuk gadis itu. Ia pikir, makanan adalah hal terbaik untuk dijadikan pilihan.
"Kau menyukainya, 'kan?" tanya Zach.
Agnese mengangkat bahu untuk merespons pertanyaan Zach. Ia terus menyendoki mulutnya dengan Mille Crepes hingga benar-benar tandas. Setelah itu, ia menyeruput milk shake rasa stroberi dengan perlahan.
Setelah meninggalkan beberapa lembar uang pecahan seratus dolar, Zach mengajak Agnese untuk keluar dari sana. Mereka berjalan menuju tempat di mana mobil terakhir kali diparkir. Di sana sudah berdiri seorang pria yang disuruh Zach untuk membawa mobil lain.
"Ini kuncinya, Tuan."
Zach menerima kunci mobil yang dibawakan salah satu orang kepercayaannya dan segera pergi dari sana dengan mengendarai Lamborghini Aventador S Roadster yang memiliki kapasitas 6500 CC dan dikombinasikan dengan transmisi ISR 7 percepatan. Meninggalkan Arnold dengan orang itu.
__ADS_1