
"Aneh?" celetuk Rachel.
Agnese mengangguk. "Ya. Bahkan dia sangat aneh."
"Kenapa?" tanya Andy antusias.
"Karena ...."
"Karena aku sangat tampan." Zach menatap Agnese dan menatapnya dengan tatapan mengancam. "Benar, 'kan?"
Agnese yang tengah ditatap seperti itu hanya bisa mengangguk mengiakan. Baik Rachel maupun Andy sama-sama tersenyum. Meskipun pada awalnya mereka kurang yakin dengan ucapan Zach, tetapi setelah melihat kedekatan Zach dan Agnese, mereka pun mendukung.
Tak kurang dari lima belas menit, acara makan malam berakhir. Zach, Agnese, Andy, dan Rachel beralih ke ruang keluarga. Di sana mereka terlihat mengobrol—terlebih Zach dan Rachel—atau berdebat mengenai apa saja.
Ketika dirasa tak ada obrolan yang penting lagi, Rachel memutuskan untuk pergi dari sana. Namun, sebelum pergi, ia menyempatkan diri untuk mengajak Agnese agar tidak kesepian karena sang suami tidak ada di sana akibat ada pekerjaan mendesak.
"Agnese, maukah kau menemaniku di kamar? Rasanya aku butuh teman cerita sebelum tidur," ajak Rachel yang langsung diiyakan oleh Agnese dengan senang hati
"Tentu saja."
Belum sempat Agnese berdiri dari duduknya, suara Zach sudah terdengar menginterupsi. "Tunggu!"
Andy berdeham. "Ada apa lagi, Zach? Kau selalu saja mengganggu adikmu. Biarkan dia pergi bersama Agnese."
Zach mendesah kesal. Pasalnya sang ayah justru mendukung Rachel untuk pergi bersama Agnese. Ia ragu untuk meninggalkan mereka berdua apalagi ia sangat tahu bagaimana sifat gadis yang masih menggunakan seragam sekolah khas Dalton High School itu. Ia tidak ingin jika gadis itu mengatakan hal yang tidak sewajarnya apalagi dirinya sudah memberi tahu Andy dan Rachel jika ia akan menikahi Agnese.
"Bukan begitu, tapi kaki dia harus diobati." Zach menunjuk kaki Agnese yang terkilir. "Lihatlah, kakinya sudah sebesar kaki gajah."
"Ah, aku lupa menanyakan hal itu. Kenapa kakimu bisa terkilir?" tanya Rachel sambil menatap Agnese prihatin.
"Dia terjatuh dari sepeda," jawab Zach. Ia tak membiarkan Agnese bersuara.
Mendengar jawaban sang kakak membuat Rachel sedikit kesal. Ia pun bergerak untuk melayangkan pukulan kepada Zach. "Kau ini bagaimana, sih? Menjaga Calon Kakak Ipar saja tidak bisa. Bagaimana nanti kau akan menjaga keluargamu?"
__ADS_1
Zach tertawa. "Kakak Ipar? Hei! Lihatlah dia!" Rachel mengikuti instruksi Zach untuk melihat Agnese. "Dia bahkan lebih muda darimu!" lajut Zach.
"Astaga! Ka ... kau masih sekolah?" tanya Rachel dengan tidak percaya.
Dengan kepala menunduk, Agnese mengangguk. "Iya."
"Dasar Pedofil! Bagaimana mungkin kau ingin menikahi Agnese yang masih sekolah? Kau ingin menghancurkan masa depannya?" hardik Rachel sambil memukul lengan Zach.
"Calm down, Rachie! Lagi pula kau sendiri yang bilang kalau, 'cinta tidak memandang usia'. Kau dan Samuel saja terpaut beberapa tahun."
"Ah, benar juga. Aku sudah mengerti. Kenapa pria tergila-gila dengan wanita yang lebih muda?"
...🍒🍒🍒...
"Di mana Zach?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Andy yang sedang asyik menonton televisi refleks menoleh dan mendapati sang mantan istri tengah berdiri sambil bersedekap dada. Ia berdeham sejenak, kemudian mengambil remote dan mengganti ke saluran berita agar perhatiannya tidak teralihkan kepada wanita itu.
Camila terlihat kaget. "Calon istri?"
"Ya. Dia sudah memilih pasangannya yang sangat cantik dan juga berhati baik."
"Mana mungkin dia bisa menemukannya secepat itu?"
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Camila."
"Aku tidak terima!" kata Camila, lalu beranjak dari sana meninggalkan Andy yang tersenyum penuh arti.
Camila berjalan menuju kamar sang putra. Namun, ketika bertemu Galeno, ia pun menanyakan keberadaan Zach ada di kamar yang mana. Setelah itu, ia kembali berjalan menuju kamar yang diberi tahu kepala pelayan di sana.
Saat sudah mencapai tempat yang dituju, Camila pun mengetuk pintu di depannya beberapa kali. Tak lama kemudian, terdengar suara khas pintu terbuka. Terlihat Zach yang berdiri tepat di belakang pintu, sedangkan Agnese dan Rachel duduk di atas tempat tidur.
"Ibu?"
__ADS_1
"Apa benar kau akan menikahi dia?" tanya Camila sambil menunjuk ke arah Agnese yang mendadak beku, mengabaikan keterkejutan Zach ketika melihatnya.
Zach mengikuti arah pandang Camila. "Ya, dia pilihanku."
"Bagaimana dengan pilihan Ibu?"
"Aku punya kekasih. Kau sudah tidak berhak mengaturku tentang masalah ini. Kita sudah berjanji tempo hari. Apa kau lupa?"
"Ibu sudah menemukan pasangan yang baik untukmu, Zach, jadi menikahlah dengannya," balas Camila sambil berjalan masuk dan mendekat ke arah Agnese dan Rachel.
Camila meneliti penampilan Agnese dari ujung rambut hingga ujung kaki yang salah satunya terbungkus perban. Ia tersenyum meremehkan, lalu beralih menatap Zach dengan serius. Ia tak akan membiarkan sang putra menjalin hubungan dengan seseorang yang berpenampilan seperti Agnese.
"Zach, kita harus menjalin hubungan dengan keluarga terhormat supaya citra keluarga kita sebagai pebisnis terjaya terus dipandang," kata Camila yang membuat Agnese bergerak tak tenang di tempatnya.
Belum sempat Zach membalas perkataan sang ibu, muncul Andy dan langsung berucap, "Tidak melulu keluarga terhormat berasal dari keluarga yang berada. Untuk apa menjaga citra jika tak bahagia? Untuk apa citra jika hanya hidup dalam rasa kecewa?"
Camila menatap Andy dengan kesal. "Jangan ikut campur masalah kami, Andy!"
"Kenapa jangan? Dia juga putraku!" Andy mengembuskan napas panjang. "Kenapa kau harus mengurusi permasalahan hati anakmu dengan mengatur pernikahan untuknya? Apa kau lupa bagaimana rumah tangga kita hancur karena perjodohan? Kau yang mengatakan jika, 'dua hati yang dipaksa bersama tidak akan bertahan lama', lalu mengapa kau melakukan semua ini?" lanjut Andy dengan geram.
"Aku melakukan ini demi kebaikannya!"
"Kebaikan apa? Justru kau ...."
"Berhenti!" lerai Zach yang membuat ucapan Andy terpotong.
Kebiasaan Zach—memotong ucapan— sangat berguna kali ini. Sebab jika tidak dihentikan, perdebatan yang terjadi antara Andy dan Camila tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Ia juga memberi kode kepada sang ayah agar segera pergi dari sana untuk menengakan diri.
Belum sempat Zach meminta Camila pergi, wanita paruh baya itu sudah memutuskan pergi karena merasa kalah telak. Camila pergi dari sana dengan tatapan penuh kebencian terhadap seseorang di depan putrinya. Ia tidak tahu mengapa tak ada yang mendukung padahal ia berniat baik meskipun memang ada maksud terselubung di dalam niatnya. Namun, tetap saja ia ingin yang terbaik untuk Zach.
Rachel yang merasakan ketidaknyamanan yang dirasakan 'calon kakak iparnya' perlahan mendekat dan menarik Agnese ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan layaknya seorang kakak yang sedang menenangkan sang adik.
Rachel sendiri bingung dengan pendirian Camila. Padahal ia dengar dengan jelas saat ibunya mengatakan perihal perjanjian perjodohan yang dilakukan dengan Zach. Di saat sang kakak telah mendapatkan seseorang yang ingin dinikahi, justru reaksi Camila seperti tidak merestui.
__ADS_1