Married With Stranger

Married With Stranger
The Power Of Ismed


__ADS_3

"Maaf, Mister, saya takut dipenjara karena belanja pakai uang palsu," ucap Ismed pada aplikasi translator seraya mengembalikan uang kepada Dennis sehingga membuat Dennis mengernyit bingung sebab uang yang diberikan kepada pria berambut panjang itu adalah mata uang dari negara asalnya, bukan uang palsu.


"Itu uang asli, bukan palsu! Astaga, mulutku!" Dennis mengibaskan tangannya di depan mulut, berharap dengan cara itu rasa pedas yang menguasai segera hilang.


Karena tak ingin menunggu lebih lama, Dennis memutuskan untuk menukar uang tadi dengan mata uang negara yang sedang dikunjungi. Namun, ia tidak berniat untuk menukar dengan kerumunan warga yang ada di sana. Ia justru mengamati keadaan setempat dari tempatnya berdiri saat ini. Begitu menemukan sesuatu yang dicari, ia pun segera meninggalkan Ismed yang penuh kebingungan.


"Stay here!" pinta Dennis sebelum benar-benar beranjak.


Langkah kaki Dennis kian mendekat ke arah sebuah taman yang berada di seberang jalan Ismed membawanya untuk menikmati siomay. Ia pun mempercepat langkahnya sambil sesekali menengok ke kiri dan kanan untuk melihat kendaraan saat hendak menyeberang.


Tepat ketika Dennis telah berbelok sedikit di dekat pintu masuk, ia melihat seseorang yang sedang termenung, lengkap headset yang menyumbat telinga. Ia mempercepat jalan dan langsung duduk di samping kanan orang itu.


"Hey!" tegur Dennis sesaat selesai mengatur napas. Namun, karena tak mendapat respons apa pun, ia menyentuh pundak orang tersebut hingga membuat tatapan mereka bertemu.


"Siapa kamu?"


"Can you help me?" tanya Dennis dan orang itu secara bersamaan.


Orang itu terlihat melepaskan headset yang sedari tadi membantunya menyelam lebih dalam ke alam imajinasi melalui lagu-lagu yang terputar. Keningnya ikut mengerut tatkala ia tengah berpikir dan bertanya pada diri sendiri mengenai sosok di sampingnya saat ini.


"I need your help," ujar Dennis sambil mengubah arah pandangnya.


Dengan kening yang masih mengerut, orang itu bertanya, "Who are you?"


"Oh, I'm Dennis." Dennis menyodorkan tangannya untuk bersalaman. "You?" lanjutnya.


"I don't know who you are."


Dennis menarik tangannya dan tersenyum singkat. "I know, but can you help me, please?"


"Sorry, I have to go." Orang itu segera berkemas, berdiri, dan bersiap pergi.

__ADS_1


Dennis yang tak dipedulikan merasa sedikit kecewa. Padahal ia sangat yakin jika semua orang di negara ini sebaik yang ada di pikirannya, tetapi ia salah. "I thought all Indonesians were kind, but they weren't," ucapnya yang membuat langkah orang itu terhenti dan kembali mendekat.


"What can I do for you?" tanya orang itu pada akhirnya setelah menghela napas yang cukup panjang.


Terbit senyum penuh kemenangan di bibir Dennis. Ia pun memberi tahu maksudnya kepada orang itu. Meskipun tak bermaksud menyinggung, tetapi ia berhasil membuat dirinya tertolong dengan mendapatkan sebotol air mineral yang meredakan rasa pedasnya.


Ketika selesai menegak dan menyingkirkan rasa pedas yang memenuhi mulutnya sejak beberapa menit yang lalu, Dennis pun tersenyum dan bersiap untuk berterima kasih kepada orang yang telah menolongnya. Namun, belum sempat membuka mulut, suara dari arah belakang menyita perhatiannya. Ia melihat sosok Rud dan Ismed yang tengah berlari kecil.


"Dennis! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rud ketika berdiri tepat di hadapan Dennis dengan napas yang tak beraturan disusul Ismed.


Dennis tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain—ke arah orang yang telah memberinya sebotol air untuk menghilangkan pedas—, tetapi orang yang dicarinya sudah tidak ada di sana. Ia pun menatap Rud dan Ismed secara bergantian sembari menggenggam botol air mineral dengan erat dan berharap dapat bertemu orang tadi agar dirinya dapat berterima kasih dengan lebih layak.


"Kapan kau tiba?" tanya Dennis balik.


"Baru saja. Oh iya, aku sudah memberi tahu Tuan Frans perihal kedatanganmu dan beliau setuju untuk membantu dengan mengarahkan beberapa orang terkuat yang pernah mendaftar bodyguard termasuk yang telah terpilih."


Dennis tersenyum, kemudian berdiri dan langsung memeluk tubuh Rud. "Terima kasih."


"Sekali lagi terima kasih, Rud. Kau sangat membantuku."


"Sama-sama. Jangan lupa untuk selalu menggunakan translator karena tidak semua orang memahami bahasamu di sini," kata Rud sebelum pergi dari sana.


Di saat Dennis dan Rud saling berpamitan, Ismed hanya memandang mereka dengan tatapan bingung ditandai  tangan yang menggaruk kepala beberapa kali.


...🍒🍒🍒...


"Ismed, kau tetap di mobil dan jangan lupa beri kabar jika melihat seseorang yang mencurigakan datang," pesan Dennis kepada Ismed melalui aplikasi translator agar pria berkaos putih itu mengerti apa yang diucapkannya tanpa harus mengalami kesalahpahaman seperti yang terjadi kemarin.


Ismed melakukan gerakan hormat sambil berkata, "Siap laksanakan, Mister!"


Setelah itu, Dennis dan bala bantuan dari Frans Wijaya mulai memasuki sebuah gedung tua yang bisa dipastikan jika tempat tersebut digunakan sebagai markas oleh komplotan orang yang menyerang Zach. Mereka melangkah dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara yang akan membuat misi berantakan.

__ADS_1


Dengan mengandalkan kemampuan meretasnya, Dennis dengan mudah menemukan tempat di mana pesan yang masuk ke ponsel sang atasan berasal. Ia juga menemukan kode yang digunakan penyerang untuk masuk ke dalam gedung.


Selepas beberapa anak buah Frans Wijaya memberi kode bahwa sekeliling gedung telah aman, Dennis mulai memasukkan kode yang terpasang di pintu masuk dengan Zeno di sampingnya. Terdengar suara khas pintu terbuka ketika Dennis berhasil memasukkan kode yang telah dicari semalam. Ia dan beberapa orang menyusup masuk dengan hati-hati dan sisinya menunggu di luar gedung untuk berjaga-jaga.


Begitu masuk, mereka disuguhkan pandangan yang sangat kotor. Botol-botol minuman tersebar hampir ke penjuru ruangan, puntung dan pembungkus rokok juga tak luput dari pandangan, termasuk tisu magic yang berceceran di lantai. Bau tak sedap pun menyambut indra pencium mereka.


Mereka berkeliling di dalam gudang beberapa saat. Namun, karena merasa tidak ada sesuatu di dalam sana, akhirnya salah satu anak buah Frans Wijaya mendekati Dennis dan memberi tahu sesuatu.


"Sepertinya tidak ada orang yang dicari di sini, Mister," ujarnya sambil terus mengamati sekitar.


Di sisi lain, Zeno mengangkat beberapa bantal, tumpukan sampah, apa pun itu, dan kembali meletakkannya di tempat semula. Ia melakukannya untuk mencari sesuatu yang mungkin dapat membantu mereka. Dengan penglihatan yang tajam, ia berhasill menemukan beberapa sim card dengan provider yang berbeda-beda di antara tumpukan sampah plastik. Ia pun mengambilnya dan langsung membawa benda tersebut di hadapan Dennis.


"Saya tidak tahu apakah ini akan berguna atau tidak, tapi sa ...."


Dennis menoleh dan mendapati Zeno tengah menunjukkan sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia pun langsung mengambil alih benda yang ditemukan Zeno sambil tersenyum. "Terima kasih. Ini akan sangat berguna untuk petunjuk."


Mereka pun memutuskan untuk keluar dari gedung tua setelah memastikan tidak ada apa pun atau siapa pun di sana. Dengan mengantongi benda yang ditemukan Zeno, Dennis merasa tidak sia-sia datang ke sana. Mereka berjalan beriringan menuju tempat di mana Ismed berada.


Namun, saat tiba di tempat kendaraan mereka terparkir, Ismed tidak ada di sana. Bahkan beberapa orang lainnya yang disuruh berjaga di luar gedung. Dennis meminta mereka untuk tidak terpecah karena bisa saja itu adalah trik tipuan dari orang yang mereka cari.


Untuk itu, Dennis menajamkan penglihatan dan pendengaran sambil memerhatikan lingkungan sekitar gedung tua. Dari kejauhan, ia melihat beberapa orang yang datang bersamanya dan bertugas berjaga-jaga di luar gedung berlari di belakang sebuah mobil yang dikendarai Ismed dengan kepala yang sesekali keluar dari jendela sambil meneriaki dua orang yang berpakaian serba hitam, tetapi berantakan.



"Itu mereka!" ujar Dennis dengan nada tinggi hingga menyita perhatian yang lain dan mengikuti arah pandangnya.


Tanpa aba-aba, mereka langsung naik ke motor dan mobil dan ikut dalam aksi pengejaran Ismed dan yang lain. Tak terkecuali Dennis yang memilih ikut di motor yang dikendarai oleh Zeno dengan posisi kaki yang melebar karena tidak tahu cara menjangkau tempat kaki.


Dengan jarak yang mulai mendekat, mereka dapat mendengar teriakan Ismed yang meminta orang-orang tersebut berhenti. Namun, bukan penjahat pro namanya jika mengikuti perintah seseorang yang bahkan tidak ada urusan dengan pekerjaan yang dijalani.


"Woi, berhenti! Kalian pengin tak santet biar ora bisa makan pentol lagi?" teriak Ismed lagi dengan nyaring hingga membuat fokus orang-orang yang sedang dikejar terpecah hingga membuat ban sepeda motor yang dikendarai tak sengaja menghantam batu dan masuk ke dalam parit.

__ADS_1


Akibat kejadian tersebut, pasukan Dennis berhasil mengepung mereka yang terlihat sedang meringis karena terjatuh dari sepeda motor berkat kekuatan teriakan Ismed yang membahana.


__ADS_2