Married With Stranger

Married With Stranger
Camila


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan, terlihat dua pria tengah membicarakan tentang hasil riset pasar yang sudah dilaksanakan Noah Kahan selaku Chief Marketing Officer bersama tim di beberapa tempat.


Noah Kahan adalah sosok pria berjiwa wanita yang sangat membantu kemajuan perusahaan selagi berada di bawah kekuasaan Zach. Ia mampu membangun pencitraan yang bagus dan menarik para investor besar untuk menanam modal di Tomlinson's Group.


Meski sedikit gemulai, pria itu sangat bertanggungjawab akan tugas yang diemban selama beberapa tahun terakhir. Tak pernah sedikit pun Zach mengeluh tentang pekerjaan yang dilakukan. Justru pujian yang selalu diterima.


Untuk itu, Noah sering kali berusaha menarik perhatian Zach meski tahu jika atasannya adalah pria normal. Namun, ia selalu mencoba untuk mendekati, karena berharap dapat berhasil meskipun kemungkinannya sangat kecil.


Saat asyik membaca laporan, terdengar ketukan pintu beberapa kali, tetapi tidak diindahkan oleh Zach. Keningnya sesekali mengernyit tanda ia tengah menyerap kalimat demi kalimat yang tercantum dalam riset tersebut.


"Aku akan membuka pintunya," ujar Noah, lalu berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


Ketika pintu terbuka, Noah langsung tersenyum sembari memberi hormat setelah melihat siapa dalang di balik pintu terketuk. Tak selang beberapa lama, ia mempersilakan orang itu masuk untuk bertemu degan pria maskulin yang masih fokus bekerja. Sedangkan dirinya hanya bergeming di dekat pintu sembari menyaksikan mereka.


"Hi, Son!"


Zach mengalihkan tatapannya dari layar laptop menuju sosok wanita paruh baya yang berdiri tak jauh dari meja kerja. "Kenapa Ibu ada di sini?"


Zach menyandarkan tubuhnya untuk merenggangkan tulang belakang dan juga tulang leher yang menegang. Terlalu lama duduk membuat ia pegal. Setelah itu, ia menatap Noah yang memerhatikan dirinya dengan sang ibu tengah berbincang. Ia berdeham sejenak untuk menyita perhatian pria yang masih berdiri di dekat pintu.


"Noah ...."


"Apa kau butuh sesuatu?"


Zach menggeleng. "Tidak. Kau bisa pergi."


"Baiklah, saya permisi," pamit Noah.


Zach mengangguk mengiakan untuk merespons ucapan Noah. Sepeninggal lelaki berjiwa perempuan itu, Zach kembali bertanya pada sang ibu mengenai kedatangannya ke kantor. "Ada apa?"


"Ibu datang untuk memastikan kabarmu. Memangnya tidak boleh?"


Wanita yang dipanggil 'ibu' oleh Zach berjalan menuju sofa, kemudian duduk. Ia menyimpan tasnya di bagian sofa yang kosong, lalu menatap ruangan kerja sang anak yang tidak terdapat foto, hanya lukisan yang didapatkan dari acara lelang di Clios Gallery beberapa bulan lalu.



Arsitek yang merancang ruangan itu menerapkan konsep modern-klasik sehingga memasang material klasik di bingkai pintu dan lis plafon. Selain itu, ia memadukan sofa dan meja yang tak memiliki desain rumit agar menambah kesan modern, tetapi mewah di ruangan tersebut.

__ADS_1


Penyekat ruangan juga dihiasi dengan berbagai furnitur. Mulai dari rak yang berisikan buku-buku, lampu di sisi meja, dan yang lainnya untuk menambah kesan modern klasik agar nyaman ditempati oleh sang empunya ruangan, Zach.



Begitu selesai mengamati, tatapan Camila kembali ke Zach. Ia menatap sang putra yang semakin hari terlihat semakin matang untuk bersanding dengan seseorang. Ia tersenyum saat mengingat tujuannya ke sana. Ada suatu hal penting yang ingin diberitahu kepada Zach.


Zach mengembuskan napas panjang yang terdengar kasar. "Sebenarnya ada apa?"


"Apa kau tidak mau melihat ruangan ini berisi figura? Sepertinya foto pernikahan akan membuat ruangan ini lebih hidup," jawab Camila sambil sesekali mengedarkan tatapannya.


"Bukan lebih hidup, tapi membosankan." Zach mendengus. "Tidak usah basa-basi, langsung pada intinya. Apa yang kau inginkan sebenarnya, Bu?" lanjutnya.


"Ibu sudah mengatur kencanmu dengan seorang model, Zach. Ibu mau kau menemuinya akhir pekan nanti." Camila berujar dengan perlahan setelah menghela napas.


Lagi. Zach kembali mendengar kalimat yang sangat tidak ingin didengar. Entah sudah ke sekian berapa Camila memintanya berkencan dengan para perempuan yang secara garis besar berprofesi sebagai model. Padahal ia tidak menginginkan hal tersebut terulang terus-menerus.


Untuk mencari sosok pendamping, ia membutuhkan waktu lama agar dapat menemukan yang sangat cocok. Sebab sudah beberapa kali berkencan dengan perempuan berbeda, tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Yang ia tahu, mereka semua hanya menginginkan materi, tidak lebih.


Zach tidak ingin bermain-main lagi di usianya yang hampir menginjak kepala tiga. Ia ingin seperti orang lain yang bahagia saat bersama pasangan, bukan merasa tidak nyaman saat berada di dekatnya.


Ah, mengingat Alex, ia mendapatkan sebuah ide untuk menolak permintaan Camila. Senyum smirk terlihat di sudut bibirnya sebelum mengutarakan penolakannya yang mungkin akan berhasil.


"Aku tidak bisa. Alex akan datang bersama istrinya di hari itu," bohong Zach pada Camila.


"Kau bisa menemuinya setelah kencan, Zach. Lagi pula tidak butuh waktu lama, hanya makan malam dengan obrolan kecil. Kau mau, 'kan?"


"Tetap tidak." Zach bersedekap, menatap Camila dengan lekat hingga membuat raut wajah wanita itu sedikit berubah. "Berhentilah berbuat sesuatu yang tidak kusukai."


Camila terdiam. Ia menarik napas yang panjang, kemudian mengembuskannya dengan pelan. "Bukannya kau akan merasa tidak nyaman berada di antara mereka? Mereka sudah menikah, Zach. Sementara kau?"


"Aku tidak peduli dengan mereka. Kalau aku mau, aku juga bisa menikah sekarang, tapi aku tidak akan menikah dengan sembarang perempuan apalagi dari hasil perjodohan. Apa kau lupa, Bu? Pernikahanmu berawal dari perjodohan. Dan apa yang terjadi? Kalian tidak bahagia!"


"Zach?"


"Aku tahu kalau kau mau yang terbaik, tapi tidak begini caranya." Zach memejamkan mata, lalu berusaha meredam emosi yang mulai menguasai. Mungkin kata-katanya tadi sudah melukai perasaan Camila, apalagi ia mendengar isak dari arah yang ditempatinya. "Beri aku waktu untuk menemukan pasangan, kalau dalam waktu tiga bulan aku belum berhasil, kau bisa menentukannya," lanjut Zach setelah agak tenang.


Camila menghapus jejak air matanya, lalu tersenyum. "Benarkah?"

__ADS_1


"Ya."


Camila bangkit dan mendekati Zach. Ia mendaratkan kecupan di puncak kepala pria itu sembari memeluknya. "Ibu akan menunggu."


Selepas itu, Camila memutuskan untuk pulang. Ia cukup senang mendengar tawaran mendadak yang dikatakan Zach tadi. Jika tidak, mungkin ia tidak tahu harus berkata apa untuk membuat sang putra mau menuruti keinginannya.


Camila menatap Zach sekali lagi sebelum keluar dari ruangan kerja tersebut. Ia berjalan dengan anggun melewati beberapa karyawan meski telah meneteskan air mata. Ia tidak memedulikan mereka yang memberi hormat. Ia terus saja berjalan hingga menemukan lift.


Tangan kanan Camila bergerak untuk menekan tombol kedua dari atas. Ia menunggu beberapa saat hingga lift terbuka dan siap membawanya ke basement.


Ting!


"Mrs. Tomlinson?"


Camila tersenyum sembari mengangguk. "Oh, hai!"


"Anda tidak melakukan sesuatu yang aneh di dalam, bukan?"


"Saya melakukan hal apa pun, bukan urusanmu, Dennis," jawab Camila, lalu masuk ke dalam lift.


Saat tubuh Camila sudah lenyap, Dennis berjalan menuju ruangan Zach yang tidak jauh dari lift. Saat masuk ke dalam, ia melihat Zach tengah berdiri menghadap tembok kaca untuk menyaksikan pemandangan jalan dan gedung-gedung tinggi sembari memegang segelas wiski.


"Tuan?"


"Apa dia sudah pulang?" tanya Zach tanpa menatap Dennis.


Dennis mengangguk. "Sudah."


"Baguslah." Zach berjalan menuju meja kerjanya, kemudian duduk dengan menggenggam gelas. "Apa jadwalku beberapa hari ke depan?"


Dennis menyalakan iPad di tangannya, kemudian menyimpan benda persegi itu di atas meja kerja Zach. "Anda mendapatkan undangan reuni dari Harvard. Kabarnya, Alex dan Rianti akan hadir di sana."


Zach terdiam beberapa saat. Setelah itu, ia menyeringai karena sadar jika kebohongan yang disampaikan pada sang ibu tadi menjadi kenyataan. Alex akan datang. Dengan artian, ia tidak perlu menanggung dosa akibat perkataannya.


"Aku akan datang. Ingatkan saja waktu dan tempatnya."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


__ADS_2