
Begitu selesai bertemu dengan Mrs. Pita, Agnese bergegas menuju kelas uuntuk mengambil tas dan menemui Yoana yang katanya ingin ditemani makan siang di kantin. Sambil berjalan, ia terus memikirkan ucapan Zach. Bagaimana pria itu bisa mengetahui riwayat pendidikannya?
Ah, orang kaya 'kan bisa berbuat apa saja.
Begitu tiba di kelas, Agnese tersenyum tatkala melihat Yoana yang tengah bermain ponsel. Ia berjalan mendekati gadis itu, lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di samping Yoana.
"Sudah selesai?" tanya Yoana setelah perhatiannya teralihkan oleh suara yang ditimbulkan kursi saat Agnese duduk.
Agnese tersenyum sambil mengangguk. "Everything's gonna be alright."
"Are you sure?"
"Iya, Yoana. Oh iya, bukankah kau mau ke kantin? Ayo!" Agnese berdiri, memakai tasnya, lalu menarik tangan Yoana agar segera bergegas karena ia ingin cepat pulang untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja.
Kenapa kau selalu menyembunyikan masalahmu, Agnese?
Tanpa menolak, Yoana segera berdiri dan mengikuti Agnese dengan langkah terseret karena tangannya masih ditarik. Mereka bahkan mendapat banyak tatapan aneh dari murid yang berada di koridor karena berjalan seperti itu. Tidak. Bukan mereka, tetapi Agnese.
Semenjak menghadapi situasi yang sangat tidak diinginkan itu, banyak orang yang menganggap Agnese sebagai gadis rendah dan lemah. Hanya beberapa yang menaruh simpati padanya, termasuk Yoana. Namun, ia tetap bersyukur karena masih memiliki seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.
Meski terkadang gadis itu menyalahkan keadaan dan Tuhan, tetapi ia langsung tersadar begitu mengingat pesan sang ayah yang menginginkannya selalu tersenyum dan tegar dalam menghadapi apa pun.
Kembali pada dua gadis yang tengah berjalan menuju kantin. Begitu jarak kantin sudah dekat, Agnese melepaskan tangan Yoana. Tak lama setelah itu, mereka memasuki kantin yang lumayan sepi karena banyak murid memilih pulang akibat acara mendadak hari ini.
"Agnese, aku yakin kau punya masalah. Jadi, tolong beri tahu aku ada apa! Aku hanya ingin membantumu, tidak lebih," pinta Yoana setelah duduk di salah satu meja yang ada di sana sambil mengangkat kedua jarinya ke atas. "Sungguh."
Agnese mengembuskan napas panjang sebelum menatap sang sahabat yang sedari tadi tidak berhenti bertanya. Sebenarnya ia bisa memberi tahu, tetapi ada rasa malu dan kecewa yang menghalangi.
Agnese malu karena tidak dapat mengontrol tangan dan juga perkataannya pada pria berkuasa dan menjengkelkan yang pernah ia temui. Ia kecewa karena merasa tidak dapat menjaga dirinya dengan baik sehingga salah satu yang berharga direnggut begitu saja.
"Agnese, kenapa kau melamun? Apa kau memikirkan pemilik sekolah yang tampan itu?"
__ADS_1
Agnese tak langsung menjawab karena melihat salah satu pelayan kantin membawa sebuah nampan di tangannya. Pelayan itu meletakkan dua gelas jus jeruk yang telah dipesan Yoana melalui menu elektronik yang ada di meja. Setelah itu, mereka berdua tak lupa berterima kasih.
Agnese menyeruput jus jeruk itu, lalu mendengus sebal. "Memikirkan pria brengsek itu? Ha-ha-ha!"
"Kau ini kenapa? Dari kemarin tidak pernah sependapat denganku. Padahal semua gadis di sekolah ini terpana dengannya," ucap Yoana sambil menatap Agnese dengan kesal.
Semua? Sepertinya tidak denganku, Yoan.
Agnese mengangkat bahu tak acuh, rasanya lebih baik memandang wajah Zayn Malik daripada pria itu. Ia merogoh saku tas untuk mengambil benda pipih kesayangannya. Namun, setelah beberapa lama berkutat dengan isi tas, ia terbelalak kaget karena tak menemukan benda yang dicari. Ia segera mengeluarkan semua isi yang ada dalam tas ke atas meja.
Yoana yang melihat sahabatnya tengah gusar langsung mengernyit. Seperti ada yang tidak beres. Tanpa berpikir panjang, ia bertanya pada Agnese. "Apa yang sedang kau cari?"
"Ponselku."
"Memangnya kau simpan di mana?" tanya Yoana lagi.
Agnese menatap Yoana sejenak, lalu kembali sibuk mencari benda pipih itu. "Aku lupa. Yang jelas aku masih memegangnya sebelum turun dari ...."
Agnese memukul meja kantin hingga mengundang beberapa tatapan dari murid lain yang tengah menikmati makan siang. "Ponselku tertinggal di mobil pria brengsek itu, Yoana!"
"Ha? Siapa yang kau maksud?"
"Pria yang selalu kau bahas beberapa waktu terakhir ini," jawab Agnese sambil terduduk lesu. Ia menenggelamkan wajahnya dalam lekukan tangan yang diletakkan di atas meja.
"Astaga! Bagaimana bisa? Jangan bilang kau sudah lebih dulu bertemu dengannya sebelum dia datang ke sini?" Agnese mengangguk. "Apa yang terjadi? Kau tidak men ...."
Agnese mengangkat kepalanya lalu kembali menatap Yoana. Ia tidak ingin sahabatnya itu berpikir negatif tentangnya. Meski sedang menghadapi situasi yang sulit, tetapi ia tidak pernah berpikir ke arah yang dipikirkan Yoana.
Daripada terjerumus ke dunia yang tak masuk akal, lebih baik Agnese banting tulang untuk menghidupi dirinya dan juga sang ibu. Karena ia masih memiliki akal yang sehat, ia memutuskan untuk tidak akan pernah menerima tawaran keji itu.
"Tenang saja. Dia hanya membantuku melawan penjahat sewaktu pulang dari minimarket," jelas Agnese yang membuat Yoana bernapas lega sekaligus penasaran.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?"
Agnese mengangguk sembari tersenyum. "I'm good, don't worry."
"Bagaimana rasanya ditolong pria setampan dia?" tanya Yoana dengan mata berbinar dan pikiran yang sudah berlarian karena memikirkan keadaan Agnese pada malam itu. "Ah, kau beruntung sekali."
Agnese tak memedulikan ucapan Yoana. Ia hanya memikirkan bagaimana cara agar ponselnya dapat kembali tanpa harus bertemu dengan pria itu. Namun, semakin lama berpikir, ia justru semakin sulit mendapat jalan keluar.
Di saat Agnese mengusap wajah dengan gusar, Yoana justru kembali berbicara sambil mengingat sesuatu yang sempat dilihat sebelum sang sahabat memberi tamparan pada Zach, pria yang dikaguminya dan seluruh gadis yang ada di sekolah.
"Apa kau yakin ponselmu tertinggal di mobilnya?"
"Memangnya mau di mana?" Agnese menyeruput jus jeruk yang dipesan beberapa saat setelah tiba di kantin.
"Tapi, sepertinya tadi aku melihat ponselmu di tangan Sir Zach, Agnese." Yoana memejamkan mata sejenak untuk mengingat, lalu menjentikkan jarinya begitu teringat sesuatu. "Iya, benar! Ponselmu tadi sempat dia tempelkan di bibirmu."
Agnese kembali dibuat terbelalak setelah mendengar ucapan Yoana. "Apa?"
Jadi, dia tidak menciumku tadi? Astaga! Sadar, Agnese! Bagaimana mungkin orang itu tertarik denganmu?
"Kau melihat semuanya?" Yoana mengangguk dengan mantap hingga membuat Agnese langsung menggeleng tak percaya dan menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan.
Bagaimana ini? Argh! Aku malu.
Yoana terlihat menahan tawa karena ia paham maksud Agnese. Untung saja ia tadi melihat kejadian itu sehingga bisa memanfaatkannya untuk menggoda Agnese. Apalagi saat melihat wajah sahabatnya yang berubah pias, ia semakin bersemangat.
"Astaga! Ternyata kau bisa berpikir mesum juga, ya? Ha-ha-ha!"
Agnese tak berani memperlihatkan wajahnya. Ia memukul pelan bahu Yoana dengan wajah yang tetap ditutup karena tidak dapat menahan malu. Ia yakin jika wajahnya sangat merah sekarang.
"Apa yang harus kulakukan, Yoan?"
__ADS_1
"Tidak ada cara lain, kau harus menemuinya."