Married With Stranger

Married With Stranger
Misunderstood


__ADS_3

Jakarta, Indonesia.


Dennis bergerak menuju salah satu gedung perusahaan yang terletak di ibu kota untuk menemui Aryan dan meminta bantuan. Bersamaan dengan bunyi tik-tak dari lampu sein mobil, perlahan ia melihat gedung itu menampakkan diri. Ia pun berharap agar masalah ini segera terselesaikan dan bisa kembali ke New York.


Begitu tiba, Dennis masuk ke dalam sebuah perusahaan yang menjadi tempat rekan Zach bekerja. Ia perlahan mendekati resepsionis yang terletak di lobi, tak jauh dari pintu masuk.


Perempuan yang berdiri di balik meja resepsionis menatap sosok di hadapannya dengan intens. "Selamat sore! Apa yang bisa kami bantu, Pak?" tanyanya.


"Can I meet Mr. Aryan?"


Mendengar Dennis berbicara menggunakan bahasa asing, perempuan itu tersenyum dan menghela napas dengan tenang. Meski kemampuannya tidak terlalu fasih, setidaknya ia mengerti dan bisa menjelaskan sedikit menggunakan bahasa internasional tersebut.


"Excuse me. What's your name, Sir?"


"Dennis."


"Just a moment, Sir. I'll calling Mr. Aryan."


Dennis mengangguk. Dengan memasukkan tangan kiri ke dalam saku celana, ia menatap sekeliling gedung dengan tatapan menilai. Sederhana, tetapi tetap elegan. Nilai pria itu dan beralih menatap perempuan di hadapannya yang sedang menekan beberapa angka di telepon.


"Halo, Pak! Maaf, ada yang mencari Pak Aryan," ucap resepsionis tatkala telepon sudah tersambung.


"Siapa?"


"Namanya Dennis, Pak."


"Suruh dia ke ruangan saya," titah Aryan yang diangguki resepsionis.


"Baik, Pak."


Begitu selesai menempelkan gagang telepon di tempat semula, tatapan resepsionis itu terpaku pada sosok yang berada di belakang Dennis. Ia pun menunduk tanda hormat.


"Selamat siang, Pak Rud!" sapa resepsionis itu kemudian.


Meski tak mengerti apa yang diucapkan perempuan di hadapannya, tetapi ketika mendengar nama seseorang yang dikenal disebut, Dennis secara spontanitas menoleh ke belakang dan mendapati Rud Dinata, mantan Manager perusahaan tersebut dan pengawal pribadi Rianti.


"What are you doing here, Rud?"


"Dennis?" ujar Rud dan Dennis secara bersamaan.


Dennis dan Rud tertawa sejenak, kemudian melakukan fist bump—salaman ala pria dengan mengepal tangan dan disentuhkan ke tangan teman yang juga terkepal—secara pelan. Mereka mengabaikan resepsionis yang menatap keduanya dengan kagum.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Dennis menggunakan bahasa asalnya sesaat setelah terdiam beberapa detik.


"Apa kau lupa? Ini negara asalku."


"Aku tahu. Maksudku, bukankah kau di Amerika?"


Rud mengangkat bahu. "Ke mana pun atasan pergi, di situlah aku berada. 


"Tuan Alex ada di sini?"


Rud mengangguk. "Ya."


Sepertinya aku bisa meminta bantuan Tuan Alex juga.


"Memangnya kenapa?" lanjut Rud.

__ADS_1


"Nanti kau akan tahu sendiri," jawab Dennis.


"Baiklah."


"Maaf, Pak Rud, Pak Aryan sudah menunggu di ruangannya," ujar resepsionis lagi yang menyita perhatian Dennis dan Rud.


Rud menatap Dennis, kemudian berujar, "Ayo, aku antar kau untuk bertemu Aryan."


Dennis mengangguk. "Baiklah."


Dennis mengikuti langkah Rud. Di sepanjang koridor menuju ruangan Aryan, beberapa karyawan yang lalu lalang menatap Rud dengan hormat. Ia penasaran dengan alasan pria di hadapannya sebab beralih profesi dari manager menjadi pengawal pribadi. Namun, ia enggan bertanya karena permasalahan kali ini lebih penting.


Tak lama, mereka tiba di depan sebuah pintu ruangan dengan tulisan yang menandakan jika ruangan itu adalah milik manager, Aryan.


Rud mengetuk hingga terdengar suara dari dalam. Ia pun menekan knop dan mendorong pintu. Begitu terbuka, terlihat sosok pria yang sedang menatap layar komputer dengan intens.


"Hi, Mr. Aryan!"


"Come in, Dennis," jawab Aryan tanpa mengalihkan tatapan sehingga tidak menyadari jika tidak hanya ada Dennis di sana.


Dennis pun melangkah masuk ke dalam ruangan dan mendekat ke arah meja Aryan, tetapi pria itu tidak menatapnya karena sibuk mengetik sesuatu sambil sesekali menatap layar monitor.


"Take a sit." Dennis mengangguk dan duduk. "So, what do you need from me?" lanjut Aryan.


Dennis memberi tahu perihal kedatangannya dengan detail. Ia juga sedikit menjelaskan mengenai strategi yang telah disusun semalam sesaat selesai meretas lokasi. Ia tersenyum ketika mendapat respons baik dari pria di hadapannya. Ia semakin yakin jika orang itu akan mudah ditemukan.


Aryan menekan tombol enter dan menutup laptop. Ia mengalihkan tatapannya dari benda persegi itu menuju tamu yang sudah membuat janji dengannya beberapa jam lalu. Ia sedikit tersentak tatkala melihat sosok yang dikenal duduk di samping Dennis.


"Loh, kamu di sini, Rud?" tanya Aryan kepada Rud, mengabaikan Dennis yang berusaha mencerna apa yang dikatakan.


Rud mengangguk. "Iya. Kebetulan Bosku ada urusan di sini."


"Bisa, sih, tapi aku harus minta izin dulu."


"Ya udah. Mending kamu pergi minta izin dulu, nanti kamu nyusul Dennis." Aryan menatap Dennis. "Would you like to go with my driver, Dennis?" lanjutnya.


Dennis mengangguk. "Ya, sure."


"Alright. Do you need anything else?"


"That's enough. I'll go now, thank you." Dennis berdiri dan menyodorkan tangan untuk berjabat dengan Aryan.


Aryan tersenyum dan menjabat tangan Dennis. "My pleasure."


Setelah itu, Dennis dan Rud keluar dari ruangan Aryan, meninggalkan sang empunya yang kembali melanjutkan pekerjaan. Mereka berjalan sambil bercakap, membahas hal sensitif untuk dibahas para pria atau wanita yang belum memiliki pasangan.


Selepas melewati pintu keluar gedung. Rud berhenti dan menegak saliva dengan susah payah ketika melihat sosok perempuan yang baru saja turun dari mobil. Ia tidak menyangka jika akan kembali bertemu dengannya hari ini.


"Mas Rud?"


Mendengar itu, Rud berdeham dan memandang Dennis. "I need to go. Catch you later, Dennis."


"See ya."


                          🍒🍒🍒


Dennis melepaskan kacamata yang digunakan untuk menghalau cahaya matahari. Ia menatap pria yang sedang meliuk-liukkan tubuh sembari menatap layar ponsel. Dengan tenang, ia turun dari mobil. Tak lupa berterima kasih pada sopir yang sudah mengantarnya sampai di depan rumah salah satu orang yang berpengaruh di Indonesia, Frans Wijaya. Ia berjalan ke arah pria itu dengan pelan agar tidak mengganggu.

__ADS_1


Aku suka body goyang mama muda


Mama muda


Da da da da da da da


Mama muda


Da da da da da da da


Bersamaan dengan lagu terputar, pria asli Jawa yang bernama Ismed mulai menggerakkan tubuhnya, berusaha mengikuti gaya dari video yang ditonton, tetapi yang terjadi justru berbeda. Ia melengkungkan tubuh ke samping dengan kaki yang dilebarkan dan tangan yang ikut melengkung sambil tersenyum.



Ismed menghela napas panjang. "Video opo iki? Susahnya minta ampun," gerutu Ismed.


Dennis berhenti melangkah dan memerhatikan Ismed yang terlihat kesal. Ia tersenyum sebentar dan menyapa pria berpakaian warna putih itu. "Hi! Excuse me."


Ismed mendongak dan mengernyit. "Ono opo?"


"Is this Mr. Frans Wijaya's house?" tanya Dennis.


Ismed menganga mendengar pertanyaan yang diajukan Dennis. Ia menggaruk belakang kepala dan celingak-celinguk untuk mencari siapa saja yang bisa membantunya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang dikatakan Dennis, sebab hanya bahasa Jawa dan Indonesia yang dapat dipahami.


Dennis melambaikan tangan di depan wajah Ismed. "Hey! Do you hear me?"


"Yes ... no, Mister." Ismed memalingkan wajah dari Dennis. "Duh! Piye iki? Aku ora ngerti apa yang dibilang Mister Bule," gumamnya kemudian.


"What do you mean? Yes or no?"


"Saya enggak tahu kamu bilang apa, Mister. Saya cuma tahu yes sama no. Piye toh?"


Sepertinya dia memintaku untuk bertanya.


"Can you show me the way to Mr. Frans's house?"


Ismed mengernyit sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu, seolah tengah berpikir keras. "Mister Bule mau beli HP Xi*omi?"


Dennis terdiam. Ia hanya dapat mengerti satu kata, itu pun singkatan dari ponsel. Ia sungguh tidak dapat mencerna apa yang dikatakan Ismed. Terlebih ia hanya fasih berbahasa Inggris dan Spanyol.


"Handphone? No, I want you to show me the way to meet Mr. Frans," ulang Dennis dengan harap Ismed dapat mengerti dan segera menunjukkan jalan untuk bertemu dengan Frans Wijaya.


"Oalah. Mister mau makan siomay? Kalau itu mah, enggak ada di sini, Mister." Ismed menyimpan ponsel yang sedari tadi digenggam ke dalam saku celana dan memajukan tangannya. "Mister tunggu di sini, ya! Saya mau ambil motor dulu."


Ismed meninggalkan Dennis yang berdiri dengan kebingungan. Ia pergi ke dalam untuk mengambil motor sekaligus meminta izin agar bisa mengantar Dennis membeli siomay. Tak selang beberapa lama, Ismed kembali muncul sambil membunyikan klakson berkali-kali.


Dennis mengernyit melihat Ismed yang sudah duduk sambil tersenyum lebar di atas kendaraan roda dua.


"What are you gonna do?" tanya Dennis masih dengan kening yang mengerut.


"Naik, Mister! Kita pergi cari penjual siomay di luar."


Meski tak mengerti apa yang diucapkan Ismed, Dennis memilih naik ke atas motor karena berpikir jika pria itu akan mengantarnya untuk bertemu dengan Frans Wijaya.


***


Silakan cek cerita di bawah untuk baca kisah Pak Aryan, Mas Rud, dan Ismed.

__ADS_1




__ADS_2