Married With The Badboy

Married With The Badboy
12. Galak penolong


__ADS_3


《 Sorry Late Up because revision in part 》


   Saat jamkos pertama, terutama inilah pelajaran matematika. Seperti terbang bebas ke Angkasa.


Ada yang menyanyi lagu K-Pop BTS, bermain teater biasa, yang terpenting tidak keluar kelas atau ke kantin begitu saja.


Kaila mengajak Aqila dan Allisya ikut bermain teater kecil-kecilan.


"Gue jadi Andin deh," itu Kaila, selalu ingin menjadi tokoh utama.


"Aku Rena," suara Aqila di buat-buat seperti anak kecil.


"Terus kita semua dapat peran apa?" salah satunya bertanya, apa hanya orang lewat dan pajangan saja?


"Hm, gini aja deh. Alvian jadi Al, nah Andin itu Allisya. Terus Kaila Kiki," ucap Ria seenaknya membagi tugas, sutradara pro saja.


Kaila menggerutu. "Gak, gue Kimberly aja deh!" bantahnya, padahal sama saja kalau Kiki itu Kimberly.


"Terserah lo pada deh. Gue Elsa aja," karena Dia lebih suka peran antagonis.


"Ok, ayo kita mulai," Ria sebagai sutradara bohongan.


Kelas 11 Ips 2 kompak memainkan drama Ikatan Cinta. Mengingat mainan masa kecil dulu yang sebelum ada teknologi semakin canggih dan maju, apalagi dunia asmara yang labil.


Pintu kelas terbuka. Bu Wiwit menengok kondisi kelas 11 Ips 2.


"Apa kalian sudah selesai mengerjakan tugas dari Bu Rodiah?" tanya bu Wiwit memastikan.


"Sudah bu," seru semuanya kompak.


"Bagus. Jangan keluar ya, semua guru lagi rapat. Di kelas aja," ucap bu Wiwit menasehati. Tapi yang namanya kelas menjaga ketertiban itu langka.


"Gak seru ah main drama film gini. Yang lain lah," ucap Kaila jengah.


"Apa?" Aqila masih bingung, jamkos saatnya bersenang-senang di kelas. Jika keluar sebentar ke toilet tidak apa, tapi ke kantin dan di pergoki guru harus balik ke kelas.


"Main kuis berhadiah aja deh," usulnya cemerlang.


"Kuis? Terus hadiahnya pulpen lo?" tanya Ria menggoda, lumayanlah gratisan.


Kaila menggeleng. "Enak aja! Maksud gue ini tuh cuman sekedar main aja. Ya nanti di tulis kertas, uang tunai satu juta. Ya mana ada duitnya, kalian semua gak pernah kuis hadiah gini pas kecil?" tanya Kaila tak percaya. Jika kamu salah satunya bilanglah iya dalam hati.


Semuanya menggeleng.


Kaila menghela nafasnya sabar, masih untung ikut zamannya tidak ada hp. Main sepuasnya, pulang di marahin, di suruh belajar gak mau.


"Siapin kertasnya. Nanti biar gue yang pilih siapa yang bakal dapet hadiahnya," Kaila sangat antusias, yang lain masih bingung.


"Kalau beneran sih gue mau. Lah ini mana?" tanya yang lain kebetulan mata uangan.


"Duh, terus apa dong? Daripada keluar kelas ngelanggar aturan. Ketemu kepala sekolah di hukum mau gak lo semua?" Kaila kesal, lebih baik bermain di dalam kelas entah petak umpet, konser, atau mainan pada zaman kecil dahulu.

__ADS_1


"Iya deh,"


"ABCD lima dasar aja la," usul Dia, lebih simpel dan tidak meribetkan.


"Ok. Gak semuanya ikut, minimal sih lima orang aja cukup,"


"Mending tidur,"


"Tau aja liat drakor tadi,"


"Makan ah,"


"Allisya, Aqila, gue, Ria dan Dia," Kaila mengatur strategi per-orangan dalam sebuah permainan.


"Duduk di lantai aja. Sana, kan luas tuh," Kaila menunjuk tempat paling belakang yang luas, cocok di gunakan camping juga rebahan ala siswa.


Ketiganya menurut saja, asalkan kau bahagia.


"Nah, terserah deh mau berapa jarinya. Nanti gue yang menggitungnya,"


Allisya dua dan tiga, Aqila nol, Kaila lima dan lima, Ria dan Dia satu sama. Kaila mulai menghitungnya.


"Nama hewan ya. Kalau gak ketemu bakal di hukum,"


"Apa?" tanya Aqila was-was, bisa saja traktiran roti salju beserta penjualnya sekalian.


"Hm," Kaila tampak berpikir. "Nah!" Kaila menjetikkan jarinya. "Beliin gue sepuluh roti salju. Mudah dan sederhana kan?"


"Udahlah, di coba dulu. Ulang deh,"


"ABCDEFGHOJKLMNOPQR," Kaila menghitung seluruh jari ketiga temannya ini. Hurf 'R' lah yang menjadi target utamanya.


"Rakun!" seru Allisya si cerdas cermat harapan bangsa.


"Rusa!" jawab Ria senang, akhirnya ketemu juga.


"Rafael!" ucap Dia keceplosan. Merasa namanya di sebut, Rafael menoleh.


"Apa?"


Kaila menepuk dahinya. Kenapa otak Dia tergeser dari daratan.


"Dia, masa Rafael? Manusia tau, bukan animal," ucap Aqila meluruskan jalan yang benar.


"Iya juga sih," Dia baru tersadar.


"Hm, rang-rang deh," Kaila tengah berpikir, jawabannya putih abu-abu.


"Itu semut rang-rang la!" seru Aqila kesal. Berbeda tapi tak se-kata.


"Rifa! Kan R," seru Ria bahagia. Merasa terpanggil namanya, Rifa menoleh.


"Apa manggil gue?" tanya Rifa dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Gak papa, cuman jawab aja," ujar Kaila tak enak hati.


Aqila tersenyum licik, kalau ia menang artinya hukuman beli roti salju untuk Kaila terhormat batal sudah.


"Rajawali!" seru Aqila semangat. "Nah, kan gue bilang apa. Pasti nemu. Dan lo la, kalah," daripada membeli camilan khusus Kaila, alangkah baiknya uang sakunya ini di amankan.


"Aqila curang! Gak boleh pinter!"


Kaila tengah merajuk. Sayang sekali ia tak ada gratisan traktir camilan favoritnya itu.


Seisi kelas tertawa melihat Kaila merengek seperti anak kecil itu.


...🍒🍒🍒...


Di kantin yang ramai itu Kaila memaksa Aqila membelikannya roti salju. Agar Kaila tidak rewel, Aqila turuti saja.


"Ok. Gue beliin!" kedalnya galak. Kaila tersenyum senang.


"Aku ke toilet dulu ya?"


"Nanti balik lagi ya sya!" seru Kaila. Allisya mengangguk.


'Kenapa pas mau makan kebelet ya? Tadi sih, mama nyuruh aku minum wedang jahe segala,' batin Allisya kesal.


Setelah selesai, Allisya keluar dari toilet perempuan.


"Allisya?" panggil Alvian. Allisya menoleh.


"Iya Al?"


"Bentar. Itu ada daun di rambut kamu," Alvian mengambil daun yang menyangkut di rambut Allisya.


Aris yang kebetulan dari ruang OSIS melihat Allisya berdekatan dengan cowok lain pun cemburu.


Dengan cepat Aris mendorong cowok itu menjauh.


"Lo mau apain Allisya?!" bentak Aris emosi. Tak ada yang di perbolehkan menyentuh Allisya-nya.


Alvian terkekeh. "Aku cuman mau ngambil daun di rambutnya. Kamu kira aku ciuman sama Allisya?" tanya Alvian heran.


Aris terdiam. Salah duga. 'Untung aja belum di cium,' batinnya lega. Biar ia saja yang mendapatkan itu nanti.


Allisya masih bingung mau berkata apa. "Kak Aris gak gabung sama temen-temen?"


"Ini mau gabung. Aku dari ruang OSIS tadi. Ayo," Aris meraih tangan Allisya, menjauhkannya dari Alvian yang nakal itu.


"Beruntung Allisya bisa dapatin Aris. Gak kayak Daniel yang bikin Allisya sakit hati dan nangis,"


Tak apa jika perasannya itu menghilang. Asalkan Allisya bahagia dengan pilihannya sendiri.


...🍒🍒🍒...


...Revisi ulang. Agak lupa alurnya 😑...

__ADS_1


__ADS_2