Married With The Badboy

Married With The Badboy
25. Belajar bareng


__ADS_3

Suasana kelas 11 Ips 1 ramai. Apalagi jamkos-nya Matematika. Beberapa mulai pesta, ada juga yang mengerjakan tugas dari guru BK, dan memilih bermain game.


Kaila mengetukkan penggaris ke papan tulis. Semuanya pun mingkem.


"Penting banget! Kurang seminggu lagi kita ujian! Hebat banget kan?" sambil mengumumkan, Kaila menambah kepanikan seisi kelas juga.


"Ini nyata kan la?"


"La! Jangan becanda deh. Masa secepat itu sih?"


"Duh, mana nilai PR gue masih bolong-bolong lagi. Bantuin dong. Ya?"


"Nih. Makannya apa-apa kerjain sendiri. Nyontek terus!"


Kaila mengangguk. "Jadi kalian belajar aja. Soalnya ada yang kkm-nya 80," rasanya berat menyampaikan pencapaian nilai itu.


"Apa?"


"Sejarah," jawab Kaila tenang.


"Gila! Ya kali sejarah kita dapat 80?"


Allisya terkekeh mendengar keluhan mereka. "Itu sih gak belajar dulu. Paling cuman sejarah tokoh sama bangunannya aja," tapi itu terkecuali sejarah kisah cintanya dengan Daniel, perlu di lupakan selama-lamanya.


"Gak kerasa ya mau kelas 12 aja. Gimana tuh sama kak Aris? Pasti sibuk belajar. Di cuekin deh. Hehe, canda kok sya," Aqila terkekeh garing. Allisya menatapnya datar.


Apa? Di cuekin? Mana mungkin Aris seperti itu.


"Kak Aris itu selalu perhatian sama kau. Gak mungkin cuek," itu kan Daniel yang cuek, emang ya dimana-mana manis itu di awal aja, batin Allisya.


"Beruntung banget lo sya, sama kak Aris. Gue sama Kaila aja belum nemu spesies cowok kayak gitu," Aqila mellow, tak pernah ada cowok yang mendekatinya. Apalagi si tukan makan roti, Kaila.


"Kan ada kak Javas. Dari tatapannya aja suka. Terus kalau kak Arif sama Kaila susah akurnya," tapi Allisya senang kalau Kaila selalu tampil dengan bahagia setiap harinya. Ia tak tau di balik kebahagiaan Kaila ada kesedihan atau tidak.


"Dor!" Kaila memegang bahu Aqila, cewek itu terkejut. "Ngomongin gue ya?"


"Percaya diri banget lo. Kita itu lagi diskusiin materi ujian. Apa aja yang keluar, biar belajarnya gak lama-lama," ucap Aqila berbohong, apalagi perasaan ke dia.


Kaila mengangguk faham. "Oh gitu ya? Bagus deh. Jangan main hp terus kalian. Nonton tv di kurangin, jangan begadang, gak nonton dra-emm"


Aqila membungkam mulut Kaila. Sangat membawelkan.


"Ssttt, lo bukan emak gue la. Ya, tau kok. Biar gak remidi. Kan gak enak kita pisah. Allisya jajan, gue jajan, eh lo masih ngerjain soal ujian di kelas. Kan kasihan," Aqila menatap Kaila sedih.


Di kelas 12 Ipa 1, Aris menutup buku latihan try out serta soal-soal untuk persiapan ujian nasional nantinya. Sungguh menguras pikiran dan tenaga.


Sedangkan Daniel menggambar wajah Allisya di buku tulisnya. Berkali-kali Luna memanggil namanya, seolah hanya sapuan debu yang tertiup angin.


"Daniel. Kamu daritadi nyuekin aku. Bosen nih, gak ada temen ngobrolnya niel," Luna menyenderkan kepalanya di bahu Daniel.

__ADS_1


"Lun, ini sekolah. Gak usah manja," Daniel menggeser kursinya menjauh sedikit dari Luna.


"Niel? Emang salah kalau aku manja? Kan aku-"


"Cuman pacar. Gak lebih!" sela Daniel cepat.


"Kita bakalan ni-"


"Gak usah halu. Belajar aja dulu yang bener," sela Daniel lagi. Nikah? Masa depannya saja belum tertata rapi. Lagipula hatinya masih utuh milik Allisya.


'Lagi-lagi Allisya terus. Kapan sih aku bisa gantiin posisi dia di hati kamu niel?' tanya Luna dalam hati, Daniel sendiri yang mengambil keputusan untuk berpisah dan masing-masing. Daniel mempermainkan perasaan.


...🍒🍒🍒...


Allisya terkekeh melihat kebucinan si cowok yang memborong coklat demi pacarnya yang ngambek.


Allisya menonton film romantis di laptopnya. Sepulang sekolah, alangkah baiknya ia refreshing dulu sebelum belajar di medan peperangan ujian.


Ponselnya berdering. Telepon dari Aris.


"Iya kak? Kenapa?"


"Belajar bareng? Tapi kan kak Aris beda, udah kelas 12. Nanti keganggu, apalagi sama Kaila yang berisik," tapi hatinya juga senang, belajar bareng Aris? Baiklah, tapi Allisya juga mengerti kesibukan Aris jauh lebih padat daripada dirinya.


"Ya deh. Lagian aku juga gak terlalu pandai matematika. Malam ini ya kak?"


"Oke. Nanti aku kabarin Aqila sama Kaila buat kesini," Allisya mengembangkan senyumnya. Selama ada Aris, pasti ada saja kebahagiaan kecilnya.


...🍒🍒🍒...


"Apa sih? Gue gak suka ya sama dia," Kaila menatap Arif sengit.


"Gue juga ogah suka sama lo," sahutnya tak kalah pedas.


"Kak Aris, ini susah banget. Daritadi aku hitung hasilnya gak nemu-nemu," keluh Allisya meletakkan kalkulatornya, pasrah.


"Mungkin kamu masukin angkanya salah. Seharusnya ini di kanan sya, biar hasilnya gak negatif," Aris membenarkan jawaban Allisya yang salah.


"Kamu gak ikutan belajar juga?" tanya Javas pada Aqila. Cewek itu menoleh dengan wajah gugup, apalagi Javas dekat dengannya.


"E-iya. Ini aku lagi baca sejarah kok," tanpa sadar buku yang Aqila pegang itu terbalik seperti perasaanmu ke dia.


Javas terkekeh. "Itu bukumu kebalik. Salah tingkah gara-gara aku ya?"


Selena datang dengan camilan dan minuman segar rasa jeruk.


"Serius banget belajarnya?" Selena meletakkan itu di meja. Apalagi Allisya sangat terlihat dekat dengan Aris.


"Iya tante. Seminggu lagi ujian kenaikan kelas. Biar bagus nilainya, gak di kasih jajan susah sendiri aku," curhat Arif. Ia hanya mengandalkan Javas saja, Aris selalu bilang 'Makanya usaha dulu. Yang penting jujur,' sama saja, nilainya di bawah kkm.

__ADS_1


"Aris, ajarin Allisya matematika ya? Nilainya suka jelek. Cuman itu aja yang gak pernah tuntas," Selena pernah menasehati Allisya belajar matematika, katanya lebih membingungkan daripada yang lain.


Aris mengangguk. "Allisya akan aku ajarin kok ma. Iya kan sya?"


Allisya hanya bisa menunduk malu-malu. Aris memanggil mama! Apakah lampu hijau sudah di izinkan?


"Ciee salting!"


"Allisya baper!"


"Apaan sih kalian," Allisya menutupi kedua wajahnya, menyembunyikan pipi meronanya.


Di tempat lain, Daniel mendengarkan rekaman dari telepon itu baik-baik.


"Oh, jadi sekarang Allisya belajar sama Aris? Meskipun aku udah putusin kamu, setidaknya jangan jauhi aku sya. Aku bukan musuhmu!" Daniel berbicara dengan wallpaper Allisya yang tersenyum manis.


Daniel mengetikkan sebuah pesan.


Anda


Awasi Allisya. Terutama Aris. Makasih lo udah mau kerja sama dengan gue. Imbalannya udah gue transfer.


07:00 pm


Seseorang membaca pesan Daniel, ia tersenyum penuh arti. Baiklah, ia harus pandai memasang topeng dan dramanya. Diam-diam menjadi musuh, semua orang tak akan percaya jika dirinya jahat.


...🍒🍒🍒...


Akhirnya selama 2 jam belajar, Allisya sudah faham bagaimana menyelesaikan matematika dengan cepat. Semua ini berkat Aris yang mengajarinya dengan sabar dan telaten.


"Udah malem nih. Pulang yuk," ajak Kaila, ia menutup buku Geografinya.


Aris mengangguk. "Kita pamit pulang ya sya? Semoga lancar ujiannya. Love you," Aris mengacak rambut Alllisya. "Gemes!"


"Kak Aris! Jadi berantakan rambutku!" Allisya membenarkan rambutnya dengan bibir cemberut. "Udah sana pulang," jantungnya kurang baik sampai deg-degan tak ada hentinya.


"Jangan kangen. Biar aku aja," Aris mengedip lucu.


"Kak Aris!" Allisya tersipu lagi.


"Kok gue merasa jomblo ya?" tanya Kaila pada dirinya sendiri.


"Baguslah kalau lo sadar. Jangan halu!" seru Arif tepat di telinga Kaila.


"Apaan sih! Gue gak ngomong sama lo!"


"Kalian berantem terus siapa tau akur," celetul Aqila mendapat tatapan tajam dari Kaila dan Arif.


...🍒🍒🍒...

__ADS_1


...Ngetik sambil makan. Agak lama mikirnya 😅...


...See you next episode...


__ADS_2