
Seorang dokter keluar dari ruangan Inez di rawat. Andre menghampirinya, rasanya ingin tau bagaimana kondisi istrinya itu.
"Bagaimana kondisi istri saya dokter?"
"Kritis. Kalian berdoa saja pada yang maha kuasa."
Andre merasa lemas. Kritis? Ia akan mencari tau siapa yang sudah berani menabrak istirnya tanpa ada rasa tanggung jawab sama sekali.
Aris hanya diam, pasti akan seperti ini. Mengenai kondisi mamanya itu sangat parah usai kecelakaan.
Suara adzan Ashar berkumandang.
"Sholat dulu yuk biar hati tenang," ucap Arif, memberanikan diri setelah semuanya saling diam masih sedih dengan kondisi Inez.
"Ayo, mohon doanya ya? Gue mau mama cepet sadar," pinta Aris menatap Javas dan Arif, lalu Allisya dan Kaila.
"Pasti dong ris. Lo udah jadi abang kedua buat gue," ungkap Arif senang, selain Javas abang pertamanya Aris juga mengajarkan banyak hal.
Di tempat wudhu, Kaila memandangi Arif yang jaraknya sedikit jauh dari kakinya berpijak. Ah sangat tampan, pikirnya.
"Ya ampun pacar gue kok ganteng banget ya habis wudhu? Di liatin kayak gini hati gue jadi adem banget sya," kedua tangan Kaila menyatu saling menggenggam, gemas dengan Arif.
Allisya yang selesai wudhu pun menatap Kaila heran. Sahabatnya itu masih waras kan?
"Lo liatin pohon?"
Kaila menggeleng. "Gue melihat masa depan yang cerah. Wajahnya berseri setelah-"
"Ayo masuk, udah iqomah. Isi barisan depan, biar sah sholatnya."
"Iya pak," Kaila mengangguk pada seorang bapak-bapak yang ikut sholat ashar.
***
Andre di kantin dengan Aris, sedangkan yang lainnya menjaga istrinya.
"Ayah pasti akan menangkap pelakunya segera. Tak peduli jika iu perempuan, dia harus menerima hukuman yang berat tanpa ada jaminan sekali pun. Ini soal nyawa, kalau mama kamu kenapa-napa gimana?" tampak guratan lelah di wajah Andre, mata yang sayu itu perlu istirahat meskipun sebentar. Andre sangat lelah.
__ADS_1
"Ayah makan dulu. Pasti laper kan? Jangan mikir yang berat. Nanti ayah sakit," ucap Aris perhatian, ia menuangkan saus dan kecap sedikit tanpa sambal. "Jangan colek sambalado yah. Mau perutnya mules?"
Andre menggeleng. "Kalau udah mules, ayah gak bisa tidur. Mau makan juga males banget," curhatnya, sudah kapok memakan sambel beberapa hari yang lalu. Entah berapa cabe-cabean yang ia makan dengan lahapnya.
Aris terkekeh. Memang benar. "Aku kadang-kadang aja makan sambel yah."
"Jaga kesehatan, ayah gak mau kamu sama mama kenapa-napa. Kalian adalah orang yang berharga bagi ayah," turur Andre serius, rasanya kurang lengkap tanpa adanya Inez.
Di dalam ruangan, Inez masih nyaman dengan mata terpejamnya. Allisya memandangi calon mertuanya itu sedih. Mendapatkan pesan dari Javas bahwa Inez kecelakaan, ia langsung menuju rumah sakit meskipun harus memakai jaket milik Aqila agar menutupi seragamnya. Sedangkan Kaila memang selalu pakai jaket.
"Mama cepet sadar ya? Sebentar lagi Allisya bakalan lulus. Kata mama pingin liat tunangan kak Aris," Allisya mengajak Inez berbicara, mungkin dengan komunikasi seperti ini Inez mendengarnya.
"Allisya janji bakalan jagain kak Aris," dengan suara yang bergetar, Allisya pun menangis. Dulu ia menolak perjodogan ini, tapi setelah mengenal sifat Aris semakin jauh ia tau kalau kekasihnya itu memiliki hati yang baik dan tulus.
"Allisya, kamu gak pulang? Udah sore, aku anterin ya?" Aris menghampiri Allisya yang masih setia duduk menemani mamanya. Allisya sangat menyayanginya, terlihat dengan tangannya yang menggenggam jemari mama.
"Aku maunya disini. Juga sama kamu kak. Gak mau pulang," Allisya masih saja keukuh ingin menemani Inez sampai benar-benar pulih. Wanita itu seperti sosok mama kedua baginya.
Aris meraih pergelangan tangan Allisya. "Ayo pulang. Kamu harus makan juga, daritadi kan belum makan apa-apa. Aku gak mau kamu sakit, bilang apa coba nanti ke mama kamu. Bisa-biasa di cubiti aku," karena mau bagaimana pun juga Allisya harus tepat makan daripada jatuh sakit terus-terusan.
"Gue anterin Allisya pulang dulu, nanti balik lagi kesini," ucap Aris berpamitan pada Arif dan Javas. "Kalian jagain mama ya? Ayah lanjut ke kantor karena ada meeting," tambahnya lagi. Mempercayakannya pada Arif dan Javas.
"Terus? Gue cewek sendirian dong disini?" tanya Kaila tak rela Allisya secepat itu pulang. Dengan siapa dirinya akan mengobrol? Arif? Yang ada suasananya akan awkard mengenai kekasihnya itu tak banyak berbicara.
"Kamu mau pulang juga?" tanya Arif tenang, ia masih marah namun Javas memberikannya nasehat mau bagaimana pun juga harus mengerti perasaan Kaila, gadisnya itu mudah menangis jika sekali hatinya di sakiti.
"Iya dong kak. Masa aku disini cewek sendirian, gak nyaman ah," wajah Kaila berubah cemberut, sebenarnya ia tak mau pulang tapi berdua dengan Arif tak baik juga untuk kesehatan jantungnya yang kini berdegup kencang.
...🍒🍒🍒...
Setelah Aris mengantarkan Allisya pulang, ia kembali lagi ke rumah sakit. Javas sendirian, berarti Arif memang benar mengantarkan Kaila pulang.
"Sorry, agak lama. Tadi Allisya minta di jelasin sama tugas PR-nya. Gak pulang juga? Udah mau malem ntar emak lo nyariin," ledek Aris, berbeda dengan Javas. Emaknya itu selalu menasehati agar pulang sebelum maghrib daripada di culik medi.
Javas mengangguk. "Gue udah jagain mama lo. Balik ya? Hati-hati disini," Javas melangkah pergi, tugasnya menjaga Inez selesai. Biarlah Aris yang menemani Inez sendirian.
"Ayah kok gak balik kesini? Kemana ya?" tanya Aris, raut wajahnya tampak bingung. Padahal sebelumnya sang ayah berjanji akan kembali lagi sebelum maghrib tiba.
__ADS_1
Aris mencoba mengirimkan pesan pada ayahnya itu, entah di baca atau tak di balas Aris akan meneleponnya.
^^^Anda^^^
^^^Ayah masih di kantor? Pulang jam berapa? Aku disini sendirian yah, semuanya udah pulang. ^^^
Aris menunggu beberapa menit, tak ada balasan. Itu artinya sang ayah masih sibuk. Baiklah, kali ini sendirian tanpa di temani siapa-siapa. Padahal Aris sangat ingin Allisya nerada di sisinya, tapi ia sadar cewek itu juga perlu belajar.
Sedangkan di tempat lain, Andre berhasil menangkap pelaku yang menabrak istrinya. Hanya seorang perempuan yang usianya sama dengan Allisya. Saat di tanya kenapa bisa menabrak dan mengebut di jalanan perempuan itu diam tak menjawab apapun.
"Oh, jadi kamu mau merasakan sakitnya istri saya? Ini, akan membuatmu berbicara sejujurnya," Andre mengekuarkan sebilah pis*u dari saku celananya. Hanya sekedar menakut-nakuti, ia tak menyakiti karena sosok di hadapannya perempuan.
Zahra menggeleng takut, tidak. Semua ini salahnya karena sudah jujur terpaksa mengatakan yang sebenarnya sebelum ia di tangkap dan berada di rumah kosong yang minim cahaya. Ponselnya pun terjatuh entah kemana.
'Luna, gue butuh bantuan lo. Please datang tolongin gue,' batin Zahra memohon pada sang kuasa, semoga doanya di dengar dan terkabulkan.
"Ok, memang gue yang nabrak wanita itu. Tapi rem-bya blong jadi semuanya gak bisa di hindari," rlak Zahra menjawabnya dengan berbohong, daripada dirinya di jebloskan ke penjara setelah terungkap bahwa ini memang kesalahannya.
"Kalau rem-nya blong kenapa kamu masih hidup sekarang? Bukannya harus mati ya?" tanya Andre sinis, alasan klasik seperti itu tak bisa mengelabuinya.
Zahra terdiam, bohongnya di ketahui. Harus berbuat apa sekarang? Kabur? Tangannya saja di ikat kuat.
"Lepas! Kenapa harus om? Pasti Aris yang nyuruh om nyari pelakunya kan?" tanya Zahra curiga, pria di hadapannya ayah Aris. Tapi setelah tau kegilaan pria ini, Zahra mengurungkan niatnya untuk mendekati Aris lagi.
"Kamu gak perlu tau. Sekarang, kamu diam saja dan tunggu sampai polisi datang. Selamat menikmati hidup di penjara," Andre meninggalkan Zahra sendirian di rumah kosong, biarlah perempuan itu mendekam di penjara untuk selamanya.
"Bebasin gue! Arghh! Sialan!" teriak Zahra emosi, tangannya terasa sakit karena simpul yang di ikat itu sangat kuat.
"Sia-sia gue nabrak wanita itu. Kalau uang 50 juta aja belum gue rasain," gumam Zahra kesal, gagal sudah menjadi orang kaya dadakan malah berakhir pahit seperti ini.
...🍒🍒🍒...
Jangan lupa makan dan sarapan pagi. Buat yang sekolah lagi semangat belajarnya.
06:15 pagi.
See you-,
__ADS_1