
Pagi ini Allisya datang ke sekolah dengan semangat, Aris mengantarkannya.
Sebelum Allisya keluar dari mobil, Aris selalu memberikan bekal buatannya.
"Gak pedes kok, daripada kamu jajan sembaran di kantin. Yang pinter dan kosentrasi ya?" pesan Aris seperti seorang bapak kepada anaknya.
Allisya mengangguk. "Siap! Kak Aris semangat ya kuliahnya."
Aris tersenyum. Melihat Allisya se-ceria ini saja membuat hatinya berdesir tak karuan.
"Makasih. Aku pergi dulu ya? Maaf nanti gak bisa jemput, langsung ke kantor ayah. Kamu bareng sama Gibran aja ya?"
Allisya merasa asing dengan nama itu.
"Gibran siapa kak?"
"Itu temenku, dia senior sya di geng."
Allisya mengangguk. "Iya kak. Aku ke kelas dulu ya? Bye," Allisya melambaikan tangannya.
Aris melajukan mobilnya, awal pagi melihat Allisya membuat semangatnya nge-jreng.
Di kelas, Allisya menatap horor Kaila dan Aqila. Tapi Allisya senang Aqila kembali tersenyum meskipun Javas belum sadar dari komanya.
"Lagi ngetawain apa sih?"
Alvian juga ikut bergabung. Cowok itu tergelak dengan candaan garing dari Kaila yang sama sekali tak lucu.
"Masa iya gue ke mau mandi bawa spatula. Lucu banget kan? Mama sih nyuruh gue cepet-cepet mandi daripada kecolongan start sama abang gue," ujar Kaila kembali membuat Alvian dan Aqila terkekeh.
Allisya bingung, dimana letak lucunya?
"Terus? Kamu mau goreng di kamar mandi gitu kai? Yang bener aja," Allisya ikut nimbrung tapi dengan wajah dongkolnya. Lawakan Kaila sangat receh tak mempan membuatnya tertawa.
"Ya gak gitu juga sya. Gue balikin lah spatulanya. Eh? Allisya udah dateng nih," Kaila baru sadar, biasanya Allisya datangnya lebih lambat.
"Pasti di anterin kak Aris kan? Hayo mengakulah!" Kaila mulai heboh, beberapa siswa yang baru datang menatapnya penasaran ada apa gerangan?
Allisya mengangguk. "Nanti aku pulangnya bareng sama kak Gib-"
"Sama aku aja sya. Jangan Gibran, dia itu ceweknya banyak. Aku gak mau kamu-"
"Tapi kak Aris bilang gitu, pasti kak Gibran udah tau. Udahlah Al, aku gak papa kok bareng sama dia," Allisya juga ingin mempunyai teman baru, apalagi Gibran. Tak ada yang melarangnya.
"Ya udah, tapi hati-hati ya? Kalau Gibran sampai macem-macem sama kamu telepon aku. Emang bener ya tuh Gibran, masa liat yang cantik dikit langsung tancap gas," Alvian mulai bergosip, kalau menyangkut dirinya jangan di bahas lagi. Cukup cowok yang dekat dengan Allisya saja.
"Heh! Nyadar! Lo juga gitu kan? Ngaku!" Kaila menimpuk Alvian dengan buku tulisnya.
Alvian meringis. "Apa sih kai? Ua terserah gue. Tapi beda gak kayak Gibran di pacarin."
"Kalian kok ribut? Awas cinta loh," goda Aqila.
__ADS_1
"Ogah! Mending kak Arif daripada dia, apaan? Setianya di ragukan mah kalo gitu," Kaila bersidekap dada, berpaling muka dari Alvian.
"Apa? Oh jadi beneran kalau suka sama kak Arif? Ya nanti gue bilangin deh kalau di rumah sakit," Aqila tersenyum licik, sudah saatnya.
"Heh! La! Jangan macem-macem! Itu tadi gue keceplosan!" seru Kaila mulai panik dong masa gak.
Aqila tertawa ngakak. "Biarin lah kak Arif tau."
Allisya menghembuskan nafasnya lelah. "Bosen," gumamnya.
Alvian yang mendengar itu pun duduk berhadapan dengan Allisya.
"Bosen kenapa? Tumben gak ikut gabung sama mereka?" tanya Alvian heran, Allisya selalu lengket dengan dua saudara kembar tak serupa itu.
Bu Ika memasuki kelas, semuanya duduk dengan rapi. Bu Ika adalah guru bahasa Inggris.
"Good morning students."
"Morning mom."
"Let's pray together."
Selesai berdoa, seperti biasa bu Ika berbasa-basi sebelum pelajaran. Tapi seisi kelas dari seluruhnya hanya dua atau satu orang yang mengerti.
"Okay, let's begin to engslih lesson. Please open the book page 31. Do it now and move forward. Two groups, it's up to you who choose your partner. Understand?"
"Ha? Bu Ika ngomong apa? Kok aku gak ngerti?"
"Buka aja buku halaman 31. Terus kalian bebas mau pilih partner, kerjakan dulu terus maju ke depan. Gitu maksudnya," jawab Allisya membuat seisi kelas ber 'oh' ria.
"Aku sama kamu aja deh sya," Alvian menoel pipi Allisya dari belakang. Cewek itu menoleh.
"Iya deh. Gantian ya ngerjainnnya? Biar cepet selesai."
"Heh! Enak banget, mentang-mentang dapat partner Allisya. Beliin aku jajan gak jadi-jadi, huh," Kaila mendengus kesal, yang enak Alvian dirinya yang menderita.
"Malah ngiklan lo, kan bisa tuh sama Aqila. Dia juga pinter bahasa," ujar Alvian melirik Aqila yang kini fokus membuka kamus mengartikan kalimat yang tak di fahami.
"La, lo yang becus ya ngerjain bahasa Inggrisnya?" Kaila tak mau tau, berurusan dengan bahasa Inggris sama saja membuat kepalanya pusing keliling.
"Hm," Aqila hanya bergumam, kosentrasinya tak bisa di ganggu.
Setelah beberapa menit, Allisya dan Alvian maju ke depan. Banyak bisik-bisik dari teman sekelasnya.
"Kok sama Alvian? Emangnya kak Aris gak cemburu?"
"Hey! Disini tuh sekolah, mana tau lah kalau gak ada yang ngasih tau ke kak Aris."
Allisya tak mempedulikannya, lagipula Aris sudah tau Alvian hanya sekedar sahabat.
"Introduce me Allisya and this is my partner Alvian will present the threes from mrs. Ika. Now, exsample reading by Alvian."
__ADS_1
"Why do you look confused?"
"It's graining, i don't have a raincoat."
"I always bring a raincoat in my bag. What can to you purpose?"
"Don't you use it yourself?"
"I will go home by bus. I don't think i need it. Here, please take it."
"Ok, thank you so much."
"You are welcome."
Tepuk tangan dan pujian untuk Allisya dan Alvian yang tampil sempurna.
"Hebat banget. Gue aja gak faham apa yang di omongin mereka."
"Itu derita lo gak faham."
"Dih, emang lo bisa? Sok iye banget."
Setelah pelajaran bahasa Inggris selesai, mulailah matematika. Seisi kelas hanya mengeluh otaknya secapek hati yang di sakiti berkali-kali.
...🍒🍒🍒...
Rupanya Aqila dan Kaila sengaja istirahat ke perpustakaan, sedangkan Allisya ke kantin berdua dengan Alvian.
"Nilai kita paling tertinggi loh sya," ucap Alvian angkat suara setelah lama beberapa saat saling terdiam.
Allisya ikut tersenyum. "Wah, ya bagus Al. Dengan begitu nilai bulanan kita bagus."
Tapi ada saja yang iri bagi para cewek-cewek yang menyukai Alvian. Sebagian dari mereka memotretnya dan di viralkan agar Aris tau kalau Allisya tengah berselingkuh.
"Biar tau rasa, gak bisa jaga hati emang."
"Kak Aris udah ganteng, tapi Allisya gak puas tuh."
"Maunya banyak cowok yang bakalan Allisya deketin. Jadi waspada aja ya sama pacar kalian."
"Setuju."
Alvian yang mendengar grasak-grusuk itu pun menggeram kesal. Awas saja ya. Semuanya akan lurus dan beres. Jangan sampai Aris salah faham.
...🍒🍒🍒...
Menunggu terdiam ide hadir dalam pikiran.
7:00 malam.
See you-,
__ADS_1