Married With The Badboy

Married With The Badboy
44. Pasar malam


__ADS_3

Malam minggu, moment yang pas untuk berjalan dengan pasangan. Apalagi Aris dan Allisya, keduanya menikmati semilir angin yang dingin dengan suara bisingnya kendaraan. Ya, mereka masih naik motor.


"Emangnya kamu gak dingin sya?" tanya Aris menatap Allisya di kaca spion motornya, senyum lebar itu sangat terlihat bahagia dan ceria, Aris ikut senang melihatnya.


Allisya menggeleng. "Ini itu sejuk banget kak. Gak kayak di rumah, panas. Apalagi mama selalu nyalain AC, aku kedinginan tau," jawabnya sedikit kesal.


Aris mengangguk faham. "Kalau kamu pake AC terus yang ada masuk angin lagi," Aris sangat tau Allisya tak menyukai angin elektrik yang di salurakan dari listrik pasti akan berakhir masuk angin.


"Aku di rumah kan pakai sweater kak," tapi Allisya juga tak nyaman memakai sweater setiap harinya, terlalu tertutup dan hangat. Ia ingin sesekali merasakan udara dingin.


Akhirnya mereka sampai di sebuah pasar malam. Allisya menatap sekelilingnya dengan penuh binar. Pasti akan sangat menyenangkan apalagi di temani dengan Aris.


"Tapi kamu jangan jauh-jauh dari aku sya. Disini rame, ya nanti kamu hilang gimana?"


Allisya menoleh, senyumnya pudar. "Apa sih kak? Kan aku selalu di sisi kak Aris. Buat apa jauh-jauh."


Aris terkekeh, Allisya langsung ngambek. "Mau cutton candy?"


Allisya menggeleng. Tidak. Jangan itu. "Aku gak mau makan yang manis-manis cukup liat kak Aris aja."


"Udah pinter ya ngegombal? Terus es krim mau?" Aris pikir mungkin yang manisnya sedikit seperti es krim Allisya mau.


"Boleh, tapi yang rasa vanilla ya kak. Aku lagi pingin menenangkan pikiran, baik banget rasa vanilla bikin rileks."


Sedangkan Daniel mengajak Luna ke pasar malam karena permintaan cewek itu sendiri. Sebenarnya Daniel malas, lebih baik ia kumpul dengan teman-temannya di bascamp.


"Daniel! Beliin aku es krim dua dong. Rasa stroberi ya?" merasa tak ada tanggapan dari Daniel, Luna menoleh. "Niel? Kamu denger gak sih?" Luna mulai kesal.


Daniel tersadar, pandangannya tak sengaja menangkap Allisya yang mencolek krim di hidung Aris. Romantis. Daniel iri.


"Ha? Apa tadi lun?" Daniel seperti orang linglung, andai saja itu adalah posisinya. Tapi takdir saja yang memaksanya untuk menjauhi Allisya.


"Beliin aku dua es krim niel rasa stroberi. Kamu mau juga?"


Daniel mengangguk, tentu saja kalau itu untuk melihat Allisya lebih dekat lagi.


"Es krim rasa coklat satu ya pak," ujar Dita memesan. Masih ingat? Ia adalah cewek yang pernah jatuh cinta pada Aris. Entah masih mengingatnya atau sudah lupa.


"Kak Aris! Es krimnya jangan di habisin! Itu punyaku!" Allisya berusaha mengambil alih es krimnya yang kini di lahap doyan oleh Aris.


"Ha? Aris?" Dita menoleh ke belakang, benar saja itu memang Aris. Cowok yang ia cintai selama ini, perasannya masih sama. Rasanya sangat sulit di gantikan oleh siapapun. Aris itu berbeda, Dita mengagumi sisi kebahagiaan sederhana.


"Aris? Aku kangen banget sama kamu!" Dita langsung berhambur memeluk Aris, seperti tak lama bertemu.


Bersamaan itu pula, Daniel menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju pada Allisya yang kini kebingungan.


Aris berusaha melepaskan pelukan Dita, tapi cewek itu malah mencium pipinya dengan sembarangan.


"Lo siapa!" emosi Aris naik, ia tak suka di usik apalagi ada yang menganggu hubungannya dengan Allisya. Jangan sampai ada sebuah kesalahpahaman.


Dita tertawa, Aris masih saja emosian.


"Aku Dita, yang pertama kali menyatakan cinta sama kamu. Tapi malah di tolak. Tenang aja, aku masih jomblo kok, kalau kamu minat sama aku ayo sekarang kita pac-"

__ADS_1


"Dasar cewek gak tau diri. Gue udah punya pacar," sela Aris cepat.


Tatapan Dita jatuh pada cewek berkuncir dua yang kini menunduk.


"Itu pacarmu? Ya ampun ris ris, kayak anak TK aja deh. Pasti dia manja dan kekanak-kanakan. Biar apa? Ya caper lah," kata pacar membuat hati Dita panas juga kesal menjadi satu.


"Jaga mulut lo!" Daniel tak terima Allisya di bilang kenak-kanakan.


"Lo siapa? Ngapain ikut campur?"


"Gue mantannya Allisya."


"Oh ya?" Dita mengerjap tak percaya. "Mantan? Balikan aja deh. Biar gue sama Aris. Urus aja tuh, cewek culun lo!"


PLAK!


Daniel menampar Dita.


Dita menatap Daniel nanar. "Tampar aja, ayo. Gue emang pantes di sakitin. Sejak kecil gue gak bisa bahagia. Apa salahnya kalau gue minta kebahagiaan meskipun egois? Gue gak punya siapa-siapa selain nenek."


Semuanya terdiam. Dita memiliki sisi rapuh.


"Alasan gue jatuh cinta sama Aris, karena dia bisa memberikan kebahagiaan buat gue meskipun kecil. Please ris, mau kan?" Dita memohon, menyingkirkan gengsinya daripada perasaan cinta di pendam sakit tak berdarah.


"Dita, gue-"


"Oh, kak Aris mau pacaran sama Dita? Silahkan," Allisya beranjak dari duduknya, ia sudah muak mendengarkan semua ini.


Dita tersenyum miris. Ia kira Aris akan mau. Terlalu bermimpi.


"Ya udah, gue gak akan maksa. Bye," Dita melangkah pergi, rasanya sakit dan kecewa.


Luna yang melihat itu semua dari jarak jauh pun jengah, kenapa sih Allisya selalu ada dimana-mana? Bisakah sehari saja cewek itu hilang dari pandangan Daniel? Gara-gara Allisya, Daniel lupa dengan permintaannya.


"Daniel, kamu itu niat gak sih beliin aku es krim?" Luna datang dengan marah-marah, seperti melabrak dan menangkap basah Daniel yang coba-coba selingkuh.


"Eh Luna? Ya ini mau beli kok. Kamu tunggu aja," Daniel melangkah ke stan es krim.


Luna menghampiri Allisya. "Siapa tadi? Gebetannya Aris ya? Kasihan, cemburu. Dia cantik banget, kayak model, bule, tinggi, bodygoals. Gak kayak lo, cih apaan? Pendek, gendut, culun, jel-"


"Cukup Luna! Mau lo apa sih?" Aris tak suka dengan Luna, kehadiran cewek itu selalu saja merendahkan Allisya.


"Mau gue? Ya putusin aja Allisya. Mending sama cewek cantik tadi."


"Nih es krimnya, ambil tuh," Daniel menjatuhkan dua es krim pesanan Luna dengan santainya. Telinganya terasa panas saat Luna menjelek-jelekkan Allisya.


"Daniel! Kok gitu sih? Beliin lagi!"


"Ogah! Beli aja sendiri," Daniel melangkah pergi, meninggalkan Luna yang mencak-mencak memaki namanya.


Allisya tertawa. "Haha, kasihan. Emang enak? Kasihan deh lo," Allisya sangat senang melihat Luna di abaikan Daniel.


"Udah sya, gak usah di urus cewek kayak ginian. Kita pulang yuk?"

__ADS_1


"Ayo."


Luna berdecak kesal. "Awas aja ya, tunggu pembalasan gue!"


...🍒🍒🍒...


Aris mampir ke minimarket dulu.


"Sya, aku beli titipan belanja dari mama dulu ya? Gak papa kan kalau kamu disini?"


Allisya mengangguk. "Iya, aku tunggu disini kak."


Dita tak tinggal diam, ia menyuruh dua partner-nya untuk membawa Allisya.


"Jangan sampai ketauan sama Aris. Yang becus kalau kerja!"


"Siap bos!"


"Pasti berhasil. Tenang aja bos."


Allisya memainkan ponselnya, membalas pesan dari Aqila dan Kaila.


Dua pria itu membekap mulut Allisya dan mengikat tangannya.


"Emm-"


Allisya berusaha memberontak.


"Terima kasih, ini kembaliannya mas," mbak kasir itu menyerahkan uang hijau kepada Aris.


"Iya," akhirnya selesai juga belanja sesuai permintaan sang mama.


Aris terbelalak melihat Allisya yang akan di bawa kabur oleh pria jahat jalanan.


"Lepasin dia!"


"Apa? Gak lah. Enak aja."


"Jangan dengerin dia, ayo bawa ke mobil."


BUGH.


"Kak Aris! Jangan!" akhirnya Allisya bisa lepas dari jeratan 2 pria itu.


Dita yang melihat itu pun kesal. Gagal.


...🍒🍒🍒...


Ketika bola lebih penting daripada aku. I think the priority is me, but false.


4:35 sore.


Bye.

__ADS_1


__ADS_2