
Kelas bersih, lantai kinclong, harum yang semerbak wangi. Inilah kelas 11 Ips 2 yang sudah selesai di hias.
Pagi ini, yang baru saja datang meletakkan sepatunya di rak yang sudah di sediakan.
Kaila yang datang di kelas urutan ketiga merasa bangga dengan hasil kerja kelas semua temannya.
"Kai, gue yakin kelas kita menang," ucap Lily.
"Pasti, udah bersih, wangi lagi," Kaila beralih melihat pojok baca, Ria tampak nyaman duduk disana yang beralaskan karpet merah.
"Ria, nyaman gak?" tanya Kaila ingin tau.
Ria mendongak. "Nyaman kok Kai. Terus novelnya masih bagus semua,"
Kaila menatap 6 novel baru. "Bagus deh. Kita berdoa aja semua kelas kita menang meskipun gak juara satu,"
"Aamiin," ucap Ria.
Allisya datang dengan Aqila.
"Sya, kemarin lo kan beli pulpen gel nih," kode-kode Aqila agar tidak membeli pulpen.
"Oh ya," Allisya menepuk dahinya. Ia mengambil dua pulpen gel yang sama kembar dengannya. "Nih, sama Kaila ya," Allisya memberikan pulpen gel itu.
"Kaila! Pulpen gratis is coming!" teriak Aqila heboh.
Kaila menghampirinya semangat. "Wah, makasih ya. Akhirnya pulpen gue yang mau habis gak perlu di cemaskan dan ada pulpen penolong penerus bangsa,"
Aqila menggeleng heran. "Ada-ada aja. Makasih ke Allisya tuh, kemarin dia beliin itu di toko Pelangi sekalian kembaran bareng,"
"Thank you Allisya," Kaila mengedip.
"Bentar lagi bel masuk nih. Duduk dulu yuk, sambil gosipin cogan," ajak Aqila asupannya kumat.
Kaila dan Allisya pun duduk. Mereka mengobrolkan cogan di sekolahnya, termasuk Aris si pemimpin geng Death Night itu.
...🍒 🍒 🍒...
Saat istirahat di kantin, Allisya tidak nafsu makan setelah melihat Daniel satu meja dengan Luna.
"Niel, makasih ya udah nemenin aku semaleman," ucap Luna senang.
Allisya yang mendengar itu terbelalak. 'Apa? Semaleman? Jadi tidur bareng?!' batin Allisya terkejut.
"Sya, di makan dong rujak kecapnya. Kalau gak di makan Kaila beraksi tuh, daritadi ngelirik," ucap Aqila membuyarkan lamunan Allisya.
"Berhati-hatilah, Kaila akan menculik makanan itu. Tangan ini ingin mengambilnya, lapar," ucap Kaila dramatis.
Allisya tersenyum. "Mau minta kai?" tawarnya.
Kaila mengangguk antusias. "Mauuu rujak gue tinggal setengah nih sya,"
Aqila menggeleng, bukannya sungkan atau menolak Kaila mau tapi gak malu.
Allisya memberikan lima sendok rujaknya ke bungkusan kertas minyak Kaila.
"Sya, lo baik banget. Ter-the best pokoknya," Kaila memuji Allisya.
"Kalau memuji gini pasti ada maunya tiap hari," gumam Aqila.
"Lun, kamu jangan begadang lagi ya? Nanti kalau telat ke sekolah gimana," ucap Daniel perhatian.
"Iya janji," Luna mengulurkan jari kelingking, begitu halnya dengan Daniel. Jari keduanya menyatu.
'Oh, jadi kemarin bilang sibuk ternyata lebih nemenin dia daripada aku pacar kamu niel,' batin Allisya sedih. Matanya tanpa sadar berkaca-kaca.
Flashback on
Allisya mengirimkan chat ke Daniel, selesai belajar ia ingin curhat seperti biasanya.
^^^Anda^^^
^^^Niel, kamu masih sibuk gak? Aku mau curhat nih ^^^
Tidak di baca, hanya centang dua abu-abu yang berarti Daniel online tapi tidak membalasnya.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit tak ada balasan hingga Daniel off.
Allisya melirik jam di kamarnya. Saatnya tidur.
^^^Anda^^^
^^^Good night ✨^^^
Flashback off
Kaila menghapus air mata Allisya. "Jangan nangis sya. Lo kenapa?"
"Cerita sya," ujar Aqila.
__ADS_1
Daniel yang mendengar Allisya tengah menangis pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Allisya.
"Sya, kamu kenapa?" tanya Daniel khawatir.
"Ngapain kamu kesini?!" mata Allisya memerah, setelah menangis seperti biasanya ia pilek.
Daniel duduk di sebelah Allisya. Aqila dan Kaila tidak mau ikut campur.
"Pergi!" usir Allisya tajam.
Daniel menggeleng. "Kamu kenapa hm? Maaf ya kemarin aku ketiduran gak bisa bales chat kamu," kilah Daniel seribu alasan.
'Cih ketiduran sama dia?' batin Allisya kesal.
Luna yanh tak suka Daniel mengobrol dengan pacarnya pun melabrak.
"Niel, kok aku di tinggal sendirian sih?" kesal Luna merengek.
"Nil, kik iki di tinggil sindiriin si," Kaila menye-menye. "Lebay, gak bakalan ada yang nyulik lo," ucap Kaila tajam.
"Lo diem dong! Gue ngomongnya sama Daniel," Luna menatap tajam Kaila.
Allisya pindah posisi duduk di tengah-tengah Aqila dan Kaila.
"Sya, kamu kenapa? Mau aku beliin coklat? Seblak? Samyang? Apa ramen?"
'Tumben. Aku yakin ini cuman akal-akalan Daniel biar dapet maafku,' batin Allisya yang tak akan mudah tergiur dengan tawaran itu. Daniel pasti bohong, cowok itu melarangnya garis keras makan pedas.
"Aku beliin ya?"
Luna mencegahnya. "Gak usah. Punya kaki kan?!" sentak Luna marah. Waktunya berduaan dengan Daniel tadi tersita sia-sia.
"Punya telinga gak lo?! Pergi sana!" usir Kaila tak kalah pedas.
'Lanjutin kai, hajar,' batin Aqila menyemangati.
"Gak usah ngegas dong!" Luna tak terima.
"Lun, bisa gak sih diem?" tekan Daniel kesal.
Luna terkejut. "Kamu lebih milih dia?"
Daniel menggeleng. "Gak, aku tetep pilih kamu, sahabatku,"
Kaila menggebrak meja. "Kalian berdua kalau cuman bikin keributan disini mending pergi!" usir Kaila.
"Ok. Gue pergi, Daniel ayo," Luna menarik tangan Daniel.
"Sya, jangan lupa makan ya," ucap Daniel sebelum pergi meninggalkan meja dimana Allisya masih terdiam.
"Sya, mata lo sembab. Ke toilet yuk, cuci tuh wajah lo. Kalau di tanya guru kan gawat," ucap Kaila menyarankan, seorang siswi yang menangis memang membuat heran para guru, penasaran mengapa tangisan itu bisa keluar di area sekolah. Se-besar apa masalahnya.
...🍒 🍒 🍒...
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, di mulailah penilaian kebersihan kelas.
Allisya yang masih memakai sepatu di tunggu dengan setianya oleh Aqila dan Kaila.
"Gue penasaran deh gimana sih sistem penilaiannya?" tanya Aqila yang selalu pulang lebih awal.
"Dari kebersihannya la, kerapian, terus ide-idenya," jelas Kaila pelan seperti seorang guru.
Aqila bosan mendengarkan ocehan Kaila. 'Gue udah tau dodol! Lelet banget jelasinnya,' sayangnya kata-kata itu Aqila penjarakan di hati.
"Yuk pulang. Gue mau beli mie ayam nih, buat makan di rumah," ucap Allisya, makan itu-itu saja bosan.
Sambil menunggu mie ayam selesai di buat, Allisya, Aqila dan Kaila duduk sambil nonton serial India.
"Ini di bungkus semuanya?" tanya bu Dewati.
"Iya mak. Sama mereka juga ya," Allisya menunjuk Aqila dan Kaila.
"Seriusan lo sya? Eh ngerepotin nih," ucap Aqila tak enak.
"Makasih banget sya," Kaila memeluk Allisya terharu. Aqila mendengus, bukannya menolak malah iya-iya saja.
"Sama-sama. Biar tau makan mie ayam disini,"
"Udah pernah sih sya, cuman males aja kalau antri," Kaila tukang mageran.
"Antri aja sono sama cogan,"
"Nah! Kalau itu sih gue mau la. Penyegar mata," Kaila menangkup kedua pipinya mengedip gemas membayangkan cogan adik kelas.
"Itu temennya gak papa mbak?" tanya Dewati menunjuk Kaila yang tak hentinya tersenyum.
"Kumat mak," jawab Aqila asal di hadiahi cubitan maut dari Kaila.
"Semuanya jadi enambelas ribu lima ratus mbak,"
Allisya mengambil selembar uang hijau dari dalam tasnya. "Kembaliannya buat mak aja,"
"Makasih banyak ya mbak," ucap Dewati senang.
"Sama-sama mak," Allisya memberikan dua bungkus mie ayamnya ke Aqila dan Kaila.
"Kalian pulang naik apa?" tanya Allisya saat menuju parkiran sekolah.
__ADS_1
"Gue di jemput sya, tapi bentar lagi dateng kok," jawab Kaila.
"Gue nungguin angkot," jawab Aqila. Sudah kebiasaan sejak SMP. 'Gak ada yang jemput gue sya, mereka gak peduli,' batinnya sedih.
"Bareng ya la, gak ada yang jemput nih," biasanya Daniel selalu stay menunggunya.
Motor Daniel melewati Allisya begitu saja, cowok itu membonceng Luna yang melingkarkan tangan di perut Daniel. Allisya tidak akan kebakaran jenggot, cemburu? Sejak awal Daniel sudah bermain-main seperti ini.
"Jatuh aja tuh cewek. Males gue liatnya," kritik Kaila jengah.
"Sya, tung angkotnya," akhirnya Aqila bisa mengalihkan perhatian Allisya. "Kai, kita duluan ya? Bye bye," Aqila melambaikan tangannya berpamitan pada Kaila.
Kaila membalas lambaiannya. "Sana-sana pulang! Bikin Allisya senyum la,"
Aqila mengangguk. Setelah menyetop angkot dan berhenti, ia masuk dengan Allisya.
Selama perjalanan, Aqila mencari topik receh dari joget benyanyi hingga kebiasaan Kaila saat tidur.
"Kaila kalau tidur, kepalanya di masukin dalam tas sya. Gak tai biar apa," ucap Aqila membeberkan kebiasaan Kaila di luar kelas.
Allisya tersenyum tipis. "Biar gak berisik kali la,"
"Nyenyak banget sya, terus ilernya-"
"Kalau Kaila tau gimana? Udah la," Allisya tidak enak menggosipi Kaila karena tidak ada waktunya beraksi.
"Hehe iya ya sya. Biar lo ketawa, daritadi cemberut aja kayak centong sayur,"
"Gak ya, nih senyum," Allisya tersenyum dengan keterpaksaannya.
...🍒 🍒 🍒...
"Pengumuman, seluruh siswa-siwi berkumpul di halaman sekolah sekarang juga. Sekali lagi, seluruh siswa-siswi berkumpul di halaman sekolah. Sekian thank you," pengumuman itu melalui speaker sekolah. Di pagi hari bukan Senin dan upacara, tibalah saatnya mengumumkan peraih juara kebersihan kelas dengan piala bergilirnya.
Semuanya yang baru datang meletakkan tasnya sembarang dan membentuk barisan sesuai kelasnya seperti upacara.
Kaila dan Aqila berada di barisan paling tengah, Allisya baru datang mengambil barisan di belakang.
"Duh deg-degan nih. Semoga kelas kita menang ya,"
"Jangan sampai kelas 12 Ipa 1 lagi,"
Kelas Daniel, Allisya baru tau kelas Daniel meraih juara itu berturut-turut.
Setelah semuanya berbaris dengan rapi, kepala sekolah menaiki podium. Di awali dengan pembukaan, penilaian kebersihan kelas, dan dekorasi yang paling unik.
"Setelah penilaian kemarin, juri kami memutuskan bahwa. Yang meraih juara pertama kebersihan kelas adalah..."
Jedag-jedug, berharap cemas, berdoa, agar bisa menang dan tidak di cap kelas ter-kotor di tahun ini.
"Sebelas Ips 2. Salah satu perwakilan silahkan maju mengambil pialanya,"
Kaila sebagai bendahara dan pemimpin kebersihan kelas di berikan kepercayaan oleh semua temannya untuk maju.
"Lo aja kai,"
"Iya lagi mager nih gue. Panas disana," ucap sang ketua kelas lebih mencari teduhan daripada hitam kegosongan.
"Ck, iya ya," Kaila maju dengan malas-malasan.
"Untuk juara yang kedua adalah duabelas Ipa satu,"
"Ketiga adalah sepuluh Ipa lima,"
Di barisan kelasnya Daniel, mereka menyuruh Luna untuk maju.
"Lun, maju sana,"
"Aris lagi rapat OSIS," Aris lah ketua kelasnya.
Daniel melihat Kaila yang maju, ia kira Allisya. Maka dengan semangat ia maju paling depan bersisian dengan Allisya.
"Iya guys. Gue maju nih,"
"Kenapa kelas kita bisa ke geser ya sama kelas sebelas?"
"Gak tau,"
"Katanya sih bagus dekorasinya,"
Kaila menerima piala kebersihan itu pertama kalinya. 'Akhirnya bisa menang, tahun lalu di cap kelas kotor kayak pasar,' batinnya kesal, karena baru mengenal semuanya sulit di ajak kerja sama. Tapi kemarinnya lagi lebih mudah dan simpel.
"Gak usah bangga dulu," bisik Luna. Kaila menjauhkan dirinya dari Luna.
'Lo yang gak usah bangga. Bentar lagi juga minggat dari sekolah,' batin Kaila kesal.
Selesai penyerahan piala, ketiganya kembali ke barisan.
Kaila menunjukkan piala itu. "Guys kita menang,"
"Berkat kerja keras kita dong,"
"Iya, daripada tahun lalu kelas kotor,"
"Pokoknya selalu jaga kebersihan ya," nasehat Kaila.
"Siap bu bos!"
__ADS_1
...🍒 🍒 🍒...
...Next Chapter coming soon 》 》 》 ...