Married With The Badboy

Married With The Badboy
57. Perhatian Aris


__ADS_3

Selena membangunkan Allisya, tapi anaknya itu semakin nyenyak dan nyaman dengan mengubah posisi tidurnya menyamping kiri, jangan lupakan selimut yang membalut tubuh Allisya membuat tidurnya semakin nyaman.


Selena menarik nafas dalam-dalam, ia siap meneriaki Allisya.


1..2..3.


"ALLISYAA! ADA MALING! TOLONGIN MAMA!" teriak Selena membahana, suaranya menggema di kamar Allisya.


Dengan kondisi bangun tidur dan nyawa belum sepenuhnya berkumpul, Allisya berdiri di atas ranjangnya. Kedua tangannya bergaya seakan siap meninju maling itu.


"Mana ma malingnya? Sini biar Allisya hajar. Biar kapok, berani-beraninya nyakiti mamaku," Allisya menguap, matanya terasa berat. Setelah mengucapkan itu, Allisya kembali tidur namun Selena memercikkan air di wajahnya. Sontak membuat Allisya kesal dan menatap mamanya marah.


"Apasih ma? Wajahku di cipratin air, kayak tanaman aja yang di siram," Allisya mengelap sisa air di pipinya, terasa dingin. Kalau begini ia malas untuk mandi, yang ada kedinginan dan menggigil.


Selena terkekeh. "Ini udah jam lima, cepetan mandi sana. Katanya sekarang Ujian Nasional?"


Allisya berlari kecil menuju kamar mandinya, bisa gawat kalau dirinya telat mengenai sesi ujian jam pertama.


Setelah siap dengan seragamnya, Allisya berpamitan pada mama dan ayahnya.


"Gak," Selena menggeleng ketika Allisya ingin salim. "Kamu harus sarapan dulu. Jangan langsung ke sekolah," tegas Selena memperingati, apalagi ujian Allisya harus sarapan tepat waktu.


Allisya menghela nafasnya. "Tapi aku gak laper ma. Nanti aja sarapannya di kantin. Janji deh aku beneran makan banyak disana," Allisya mencoba bernegoisasi, siapa tau hati mamanya sedang baik dan dengan mudah menuruti idenya ini.


Selena menggeleng. "Kamu itu mau Ujian Nasional, sarapan sekarang biar nanti kosentrasi. Di habisin, jangan sampai ada yang sisa atau gak mama kasih uang saku," ancam Selena tidak main-main.


Akhirnya Allisya menurut, menghabiskan nasi goreng dengan taburan sosis kesukaannya. Karena sangat lapar, Allisya nambah lagi. Dan habis. Selena menganga tak percaya, tadi menolak gak mau sarapan sekarang nambah.


"Wah, kalau makannya nambah uang sakunya juga dong ma?" Allisya mengedipkan matanya, di balik rasa laparnya juga memikirkan uang saku.


Selena mengangguk, baiklah demi Allisya mau makan banyak. Ia memberikan uang seratus ribu pada Allisya, biasanya hanya limapuluh ribu.


Dengan mata berbinar, Allisya bersorak penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa memegang uang berwarna merah setelah beberapa tahun.


Allisya melangkah pergi, rasanya tidak sabar ingin membeli makanan pedas sepuasnya.


Di depan pagar rumah, Aris sudah menunggunya dengan mobil? Ah pasti itu milik ayahnya.


Allisya menghampiri Aris. "Kak Aris udah lama ya nungguin aku?"


Aris yang tadinya fokus dengan ponsel pun mengalihkan tatapannya. "Gak kok, baru aja sampai disini. Udah sarapan?"


Allisya mengangguk. "Udah dong kak, aku aja tadi nambah lagi. Jadi sarapannya dua kali. Hebat banget kan kak? Terus mama nambahin uang sakunya jadi dua kali lipat,: jawab Allisya dengan riang, senyumnya tak bisa luntur.


"Ayo berangkat, daripada telat. Aku bawain kamu susu kotak, buah-buahan dan vitamin. Nih, di makan sekarang," Aris menyerahkan kantung plastik itu.


Di dalam mobil, Aris sesekali memperhatikan Allisya makan apel.


"Besok ya matematika?"


Allisya mengangguk lesu. "Bakalan pusing banget kak kalau ngerjain matematika. Andai aja kak Aris satu kelas sama aku, bisa nyontek."

__ADS_1


Aris mengeleng heran. "Jangan nyontek sya, dulu pas aku UN itu pengawasnya dari sekolah lain. Mungkin sedikit tegas dan gak sama dengan guru di sekolah kita."


"Nanti aku pulangnya naik ojek. Huh, cuman dua jam kak. Pinginnya sih di jemput sama kak Aris," Allisya ingin meluangkan banyak waktunya dengan Aris, selain agar lebih dekat sekaligus mengenalnya lebih banyak.


"Ke kampus aja sya. Tungguin aku di kantin."


Allisya menatap Aris tak percaya. "Beneran kak? Emangnya gak ada kelas?" Allisya tak ingin mengganggu waktu belajar kuliah Aris.


"Tergantung dosennya masuk atau gak. Ya semoga aja gak masuk, biar bisa makan bareng sama kamu di kantin sya," Aris menyunggingkan senyumannya, perasaan nyaman juga senang menjadi satu. Inilah yang ia rasakan selama dekat dan mengenal Allisya dengan kesederhanaannya.


"Aku mau satu kampus sama kak Aris" sekarang hati Allisya yakin, tak ada salahnya melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Entah di izinkan oleh Aris atau tidak tak apa.


Aris mengangguk. "Boleh, biar aku bisa jagain kamu. Kalau mau kemana-mana bisa awasin kamu."


"Kak? Boleh nanya gak?" Allisya hanya ingin tau, apakah Aris satu kampus dengan Daniel? Jika iya, lebih baik ke kampus lain meskipun ada Aris yang akan menjaganya.


"Tanya apa sya? Boleh kok."


"Daniel satu kampus ya sama kak Aris?" tanya Allisya hati-hati, menunggu bagaimana reaksi kekasihnya itu. Marah atau menanggapinya dengan tenang.


Aris menghela nafasnya.


Allisya menunduk, ia siap di marahi. Keingintahuannya tentang Daniel yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya. Bukan rindu, tapi masih ada secuil rasa cinta di dalam hatinya.


Aris menggeleng. "Daniel gak akan bisa masuk di kampus aku. Dia gagal seleksi," jawab Aris dingin, raut wajahnya berubah datar.


'Bukannya Daniel sama pintarnya sama kak Aris ya?' batin Allisya bertanya-tanya.


Allisya mengangguk. "Iya kak," ia merasa bersalah telah menanyakan hal itu pada Aris. Seharusnya ia tahan dan diam daripada Aris menjadi marah seperti ini.


...🍒🍒🍒...


Selesai UN, Allisya naik ojekan dan tujuannya adalah ke kampus Aris. Untung saja tadi berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun.


"Kampus mana neng?" tanya pak ojek yang menghentikan motornya karena lampu merah.


"Universitas Indonesia pak."


"Oh, ok."


Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, akhirnya sampai juga di kampus Aris.


Allisya melangkah ke kantin, entah dimana letaknya tapi ia memanggil salah satu mahasiswi.


"Kantin dimana ya kak?"


"Disana, lurus aja. Masa lo gak tau? Kan mahasiswa juga disini," tanya cewek berambut lurus itu heran.


Allisya tersenyum kikuk. "Aku masih sekolah kak. Mau nyari pacar aku."


"Oh ya?" raut wajahnya berubah ceria. "Siapa namanya kalau boleh tau? Bisa aja kan itu temen gue."

__ADS_1


"Kak Aris," jawab Allisya ragu-ragu. Entah se-terkenal apa kekasihnya itu di kampus.


Cewek itu berdecak kesal. "Gak kenal ah gue. Ya udah sana ke kantin."


Allisya menggerutu. Ia kira cewek itu akan tau siapa Aris malah di usir ke kantin.


Javas menyodorkan komik terbaru untuk Arif.


"Lo beli dimana? Dari kemarin gue cari-cari di toko buku gak ada," Arif dengan semangat dan serius membaca komik itu.


Allisya melihat Javas dan Arif. Tumben gak kumpul, bahkan tak ada Aris disana.


"Kak Javas," sapa Allisya, Javas menatapnya heran.


"Loh sya? Ngapain disini? Nyari Aris ya?"


Allisya mengangguk. "Dimana? Lagi ada kelas ya?" kalau begitu ia sedikit kecewa jika Aris memang ada kelas, kedatangannya sungguh tidak tepat. Allisya bosan menunggu.


"Gak makan sya? Gue beliin deh. Mau apa?" tanya Arif ramah. Kalau saja ada Kaila, mungkin cewek itu akan memesan banyak makanan dan bikin dompet Arif gersang.


Allisya mengangguk. "Mau banget kak. Seblak ya?"


"Gak!" suara tegas Aris penuh penekanan di belakang Allisya itu mengejutkan. Allisya seperti tertangkap basah.


"Eh? Kak Aris, daritadi aku cariin gak ada," habislah Allisya, pasti Aris akan marah.


"Kenapa gak kak? Biasanya juga boleh makan pedes," bibir Allisya cemberut, kalau begini ia jadi ingat Daniel yang melarangnya makan pedas.


"Jangan dulu. Kamu kan masih ujian sya. Nurut ya?"


Oh jadi ini alasannya. Baiklah, Allisya mau. Memang Aris-nya sangat perhatian.


"Kak Aris perhatian banget. Makasih udah di ingetin. Hampir aja makan pedes kalau kak Aris gak bilang aku masih ujian," tanpa ragu, Allisya menarik tangan Aris untuk duduk bersama dengan Javas dan Aris.


"Bakso aja ya?" tawar Aris. Allisya setuju.


"Jangan pake seledri kak, dan gak boleh pedes. Masih ujian," Allisya menyengir, Aris mencubit hidungnya. "Aw! Kak Aris! Sakit!"


"Haduh, pacar gue masih ujian nih. Jadi gak bisa bucin," keluh Arif merasa bosan, kalau ada Kaila mungkin suasananya lebih ramai dan berwana.


"Aqila udah kok. Kak Javas telepon aja, habis fotokopi kisi-kisi matematika. Biasa, Kaila yang nyuruh kan gak sempet udah mepet banget masuk sesi kedua," Allisya memberitahu Javas. Cowok itu mengerti.


"Gue otw dulu. Bye," Javas menjemput Aqila.


Hanya Allisya, Aris dan Arif. Disini yang mengenaskan adalah Arif karena di abaikan, Allisya dan Aris asik menyuapi dan tertawa seolah memang Bumi ini milik kita berdua.


...🍒🍒🍒...


Cewek cuek luluh sama cowok humoris. Bener gak ya?


8:46 pagi.

__ADS_1


See you-,


__ADS_2