Married With The Badboy

Married With The Badboy
36. Terjebak dengan Daniel


__ADS_3

Selama perjalanan, hanya keheningan dan sepinya malam. Allisya tak berani membuka pembicaraan.


"Kamu kenapa bisa ketemu sama Luna sya? Aqila sama Kaila kok gak sama kamu?" tanya Aris memecah keheningan.


Allisya gugup, haruskah ia jujur?


"Aqila sama Kaila kan pulang duluan sama kak Javas dan kak Arif. Aku masih nyapu kelas kak," jawab Allisya menunduk, ia tak berani memandang mata Aris yang menyipit mencari tau kejujuran.


Aris mengernyit. "Bukannya Javas sama Arif lagi ada jam kuliah ya? Tumben banget mau jemput Aqila sama Kaila."


Allisya menggeleng. "Aku gak tau kak. Aku takut Luna mencelakai aku. Bahkan kalau kak Aris gak datang, mungkin aku udah mati sekarang."


Aris meraih jemari Allisya. "Aku akan selalu ada buat kamu sya. Mulai sekarang, aku bakalan jemput kamu."


Allisya menoleh. "Tapi gimana sama kuliah dan kerjaan kakak? Aku gak papa bisa naik taksi atau ojek. Aku gak mau ngerepotin kak Aris."


Inilah yang Aris tak sukai, sifat penyabar dan rendah hati Allisya.


"Jangan nolak sya, kamu sekarang udah jadi tanggung jawabku. Om Allister bilang kemarin, titip princess cantiknya sama aku gitu," Aris tersenyum simpul, matanya tak bisa lepas dari wajah Allisya yang kini mengerjap kebingungan.


Allisya menghela nafasnya, jika sudah menyangkut dari ayah ia tak bisa menolaknya.


"Makasih ya kak?"


Aris mengangguk. "Kembali kasih untukmu hehe."


Allisya menggeleng heran. Bibirnya ikut membentuk senyuman tipis.


...🍒🍒🍒...


Luna duduk menatap bintang di jendela kamarnya. Lagi-lagi rencananya gagal untuk menyingkirkan Allisya selamanya. Selalu saja Aris datang yang menjadi penolongnya.


Luna berdecak kesal. "Harus mikir apalagi gue?! Kalau Allisya udah mati, gue bakalan tenang dan bahagia sama Daniel. Tapi apa?! Kenapa Aris harus datang dan nolongin Allisya?!" teriak Luna frustasi, ia mengacak rambutnya gemas.


Luna menghubungi seseorang. Besok semuanya harus selesai. Biarlah ia egois sedikit demi kebahagian diri sendiri.


"Ikuti Allisya kemanapun dia pergi. Besok malam jangan biarkan Allisya pulang gitu aja. Jangan sampai cewek itu lepas," Luna menghela nafasnya, semoga saja besok suruhannya itu berhasil melakukan perintahnya meskipun dirinya harus memberikan imbalan banyak.


...🍒🍒🍒...


Allisya melihat isi kulkas yang kosong, di meja makan pun sama. Perutnya sudah keroncongan ingin meminta makan.


"Ayah sama mama kok tumben sih belum pulang dari mall? Enak banget kesana seneng-seneng belanja tanpa aku. Nyebelin," Allisya duduk, sangat lapar. Entah apa yang harus ia makan sekarang tak mungkin makan cinta dan gombalan kan?


"Apa aku makan diluar aja ya? Hm, di kafe atau restoran nih?"


Allisya berpikir sejenak, dua tempat makan itu paling ia sukai.


"Sekali-kali makan di kafe aja deh," Allisya beranjak dari duduknya.


Di tempat lain, Daniel membaca buku menu dengan antengnya.

__ADS_1


Si writers menunggu. "Mau pesan apa kak?"


"Es teh sama spaggeti aja."


"Baik, di tunggu sebentar ya kak."


Kafe, Daniel teringat Allisya.


"Tapi kamu lebih suka makan di warung lesehan. Mau ngajak kamu kesini tapi gak mungkin kamu mau sya," Daniel ragu ingin menghubungi Allisya.


Daniel menggeleng, tidak. Ia tak ingin Allisya semakin menjauhinya.


Sedangkan Allisya sudah sampai di sebuah kafe. Ia duduk di dekat jendela.


Hanya memesan jus jeruk dan spaggeti balado kesukaannya.


"Gak enak juga ya makan sendirian? Biasanya sama kak Aris dan Daniel," gumamnya. Dua laki-laki itu sudah memasuki kehidupannya, memberi warna dan kepahitan secara bersamaan.


Sedangkan seseorang yang tak jauh dari Allisya duduk mengirimkan pesan pada bosnya bahwa Allisya berada di kafe.


The Leader


Jangan lupa, minta kunci kafenya ya? Biar Allisya terkurung di kafe itu semalaman. Ya meskipun cuman sementara, tapi cewek polos itu pasti ketakutan.


08:00 pm


Allisya terhanyut dengan ponselnya, membaca novel digital kesukaannya Married with The Badboy.


Seseorang itu keluar mengendap-endap. Lalu ia mengunci pintu depan kafe dan pergi. Tugasnya selesai.


Allisya menguap. "Jadi ngantuk. Jam berapa ya?" Allisya menatap jam di ponselnya.


Allisya tercengang. "Ha?! Jam sembilan?" suaranya menggema sampai Daniel menoleh.


"Allisya?" Daniel menghampiri mantannya itu. "Kamu disini sendirian?"


Allisya terperanjat kaget. "K-kamu? Ngapain disini?" tanya Allisya gugup.


Daniel tersenyum simpul. "Makan, tadinya aku pingin ngajak kamu makan bareng disini. Tapi, kayaknya kamu belajar deh."


Allisya menggeleng. "Kalau Sabtu malam Minggu aku gak belajar niel, ya setidaknya bersenang-senang main hp, nonton drakor di latptop, atau main sama sahabat aku biar gak bosen belajar terus."


Daniel mengangguk faham. "Kalau Sabtu malam Minggu aku ngajak kamu makan bareng kesini mau gak? Kalau gak mau ya-"


"Mau!" seru Allisya semangat.


Daniel terkekeh. "Ciee belum bisa move on dari aku ya?"


Allisya diam. 'Bukan gitu! Aku cuman mau aja makan bareng sama kamu niel gak lebih dari itu,' batinnya.


"Kamu diam berarti iya," Daniel menoel hidung Allisya.

__ADS_1


"Apa sih niel, udah ah mending pulang aja," Allisya beranjak dari duduknya.


"Aku anterin kamu pulang. Udah malem," dengan sigap Daniel meraih tangan Allisya, menggandengnya.


Allisya membuka pintunya tapi tidak bisa.


"Niel, kok gak bisa? Di kunci atau pintunya rusak?"


"Masa sih?" Daniel berusaha mendorong pintunya, sangat sulit.


"Sya? Apa udah di kunci ya? Kok pemilik kafenya gak ngasih tau kita kalau bakalan tutup?" Daniel mulai panik.


"Terus gimana niel? Apa kita terjebak disini sampai besok? Aku gak mau ayah sama mama khawatir nyariin aku," mata Allisya berkaca-kaca, ia sangat takut.


"Sstt jangan nangis ya? Aku bakal berusaha buat keluarin kamu darisini," Daniel menghubungi seseorang menyuruhnya untuk segera ke kafe.


"Siapkan saja kunci duplikatnya. Pasti kamu punya salah satu bentuk semua kunci. Aku tidak mau menunggu lama-lama," Daniel mematikan sambungan telepon, ia beralih menatap Allisya.


"Kamu tenang aja ya? Kita pasti bisa keluar kok."


"Makasih ya niel?"


"Sama-sama cantik."


Sedangkan Luna menghubungi suruhannya, apakah sudah becus melakukan perintahnya.


"Gimana? Apa Allisya sudah terjebak di dalam kafe sendirian?"


"Apa?!" seru Luna tak percaya. "Sama cowok? Siapa? Coba kamu foto dan kirimkan ke aku secepatnya."


Hati Luna merasa tidak tenang, bagaimana kalau itu adalah Aris? Tidak, mana mungkin Aris mengajak Allisya makan bareng.


"Aris kan sibuk sama kantornya, gak mungkinlah itu dia."


Luna berjalan mondar-mandir menunggu balasan pesan dari suruhannya.


Ting!


Luna membuka pesan itu, betapa terkejutnya cowok itu adalah Daniel, pacarnya sendiri.


"J-jadi Allisya terjebak di kafe sama Daniel? Kenapa harus sama Daniel sih? Kenapa?!" Luna mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Aku udah capek-capek mikirin rencananya, tapi sekarang? Allisya malah keenakan bisa berduaan sama Daniel. Damn it! Gagal!" Luna meninju udara yang tak bersalah menyalurkan kekesalannya.


...🍒🍒🍒...


Malam hari dan wedang tape yang manis-manis.


7:53 malam


See you-,

__ADS_1


__ADS_2