Married With The Badboy

Married With The Badboy
41. Penyerangan tiba-tiba


__ADS_3

"Maaf ya om, tante. Saya gak mau lama-lama, pasti ayah bakalan nyari juga," ujar Aris berpamitan pada Selena dan Allister.


"Kirain mau disini lebih lama. Tapi gak apa-apa deh," Selena tak rela Aris pamitan secepat itu.


"Allisya, kamu jangan begadang ya? Jam sembilan langsung tidur, gak usah nonton drakor. Apalagi yang espisodenys gak kelar-kelar," nasehat Aris serius, Allisya langsung berubah masam dan cemberut.


"Kakak aja begadang, kenapa ngelarang aku?" Allisya bersidekap dada menatap Aris sengit.


"Itu namanya udah sayang sama kamu sya. Aris gak mau kamu sakit," sahut Allister.


Setelah Aris pergi, Allisya melangkahkan kakinya ke kamar. Setelah makan begini, enaknya belajar. Sangat pas untuk kembali berpikir.


...🍒🍒🍒...


Markas Cakrawala.


Tepat pukul 6 malam, Gavin menyuruh semua anggotanya berkunpul di markas.


"Ada apa sih vin? Mau tawuran lagi? Udah kelar kali," celetuk Udin setengah kesal.


"Gue mau Aris hancur malam ini juga. Meskipun dia dan geng-nya gak aktif. Tapi markasnya masih sering di kunjungi, cuman sebagai tempat nongkrong doang. Dan gue-" Gavin menjeda ucapannya, mata elangnya menatap satu-persatu anggotanya. "Gue mau malam ini serang markas Aris tanpa aba-aba. Biar dia tau rasa dan hancur. Gue yang selalu hidupnya gak enak, dan Aris selalu mendapatkan apa yang dja mau tanpa harus berusah payah. Dan ini, benar-benar gak adil!"


"Oke, gue bakalan siapin pasukan. Dan Kelvin biar atur strategi penyerangannya. Semuanya bakal berjalan dengan lancar," ujar Angkasa, yang menjabat sebagai perwakilan Gavin jika cowok itu malas mengatur taktik penyerangannya.


"Dua jam lagi. Semuanya udah siap," tegas Gavin lagi.


"Oke!" seru semuanya kompak.


...🍒🍒🍒...


Markas Death Night.


Gibran, Rio, Javas dan Arif duduk santai dan berkumpul. Markas itu adalah tempat yang sangat di rindukan siapapun bagi anggota Death Night. Gibran kembali menghidupkan geng yang sempat bubar gara-gara Aris.


"Untung aja ada bang Gibran yang bisa nyatuin geng ini lagi," celetuk Arif setelah menghabiskan secangkir kopi hangat buatannya sendiri.


Gibran hanya terkekeh. "Gue tau kalau kalian pada kangen berat kan?"


Javas mengangguk. "Banget, sekarang udah berkumpul aja bersyukur banget bang. Tapi tampilannya beda-beda karena semuanya udah berprofesi."


Gibran menyapu pandangannya di sekelilingnya. Beberapa anggotanya ada yang memakai jas, kaos pabrik, dan baju lusuh karena bertempur dengan matahari dan tanah.


"Mereka tetap ganteng aja ya?" tanya Gibran tersenyum miring.


"Siapa? Gue ya bang?" tanya Arif menunjuk dirinya sendiri, geermu ketinggian Arif.


"Dih, percaya diri banget lo," cibir Javas nyinyir. Aris cemberut.


"Apa sih Jav? Emang lo gak seneng kalau gue ganteng selamanya?" tanya Arif dengan wajah memelasnya berharap Javas langsung mengiyakannya daripada membantahnya garis keras.


Javas menggeleng cepat. "Gak."

__ADS_1


Sedangkan tak jauh dari kediaman markas Death Night, dari arah utara suara deruman motor yang saling bersahutan dan mengebut itu menuju markas Death Night. Dengan jumlah pasukan 40 orang


PYAR!


Lemparan batu itu mengenai kaca depan markas Death Night, Gibran dan semua anggotanya langsung panik.


"Jangan ada yang coba-coba buat ngintip ke jendela!" gertak Gibran memberikan peringatan tegas. Semuanya mengangguk, sangat berbahaya jika mengintip saja mungkin akan ada yang terluka.


"Terus biar tau siapa yang nyerang gimana dong Gib?"


"Dan kenapa tiba-tiba?"


"Geng kita ini udah gak ada lagi musuh. Semuanya udah bubar."


Sahutan-sahutan dari yang lainnya itu menimbulkan tanda tanya besar bagi mereka.


"Ya udah, biar gue liat dari CCTV aja kalau gitu," Javas mengecek ponselnya, markas ini sengaja di pasang CCTV agar jika terjadi tindak kejahatan rekamannya bisa di jadikan bukti untuk melacak sang pelaku.


"Gimana Jav? Siapa yang nyerang markas kita?"


"Anak buahnya Gavin. Mereka bawa jumlah banyak, asal kalian tau. Lebih berbahayanya lagi mereka bawa sajam buat nyerang kita," jelas Javas sesuai pengamatan jelinya yang begitu detail. Sajam (Senjata Tajam).


"Terus kita sembunyi kayak pengecut gitu disini?"


"Jangan gegabah dulu, kita harus siap hadapi mereka," jawab Gibran mengambil tindakan. "Hubungi Aris, biar dia juga ikut bantuin kita. Jangan lupa kirim anggota yang jumlahnya mengalahkan Cakrawala. Libatkan geng lain yang merasa kuat dan gak bisa terkalahkan," tutur Gibran menatap Javas serius.


"Siap bang," Javas menghubungi Aris.


"Emangnya markas kenapa? Ada yang nyerang? Kita itu udah gak ad-"


"Ha?! Geng Cakrawala?" Aris terkejut saat Javas dengan cepat menyela ucapannya.


"Oke, gue otw kesana," dengan langkah cepat, Aris menuju parkiran. Mengendarai motor ninjanya dengan kecepatan bak pembalap legendaris.


Sedangkan keadaan di markas, semuanya berusaha keras melawan jumlah pasukan Cakrawala yang banyak.


Javas sampai kehabisan tenaganya.


Arif tak sanggup lagi untuk sekedar menangkis pukulan dari musuh.


Gibran masih sanggup meskipun tonjokkannya tak sekuat tadi.


Suara deruman motor dari arah timur itu mengalihkan perhatian Cakrawala.


"Beraninya main keroyokan!"


"Sini lo semuanya! Lawan kita!"


"Serang!" teriak Aris suaranya lebih lantang dan merasa berani, pasti akan menang mengenai ia berhasil membawa jumlah pasukan banyak. Posisi Cakrawala saat ini hanyalah sekelompok semut kecil yang hanya menunggu kekalahan.


Pukulan yang keras dan rintihan kesakitan bersahutan. Sebagian Cakrawala masih membawa senjata meskipun Death Night berhasil mengambil alih setengahnya. Melawan dengan kehati-hatian.

__ADS_1


"Ris!" teriak Javas panik. "Awas!" Javas menyingkirkan Aris yang akan di pukul menggunakan balok kayu. Javas yang belum menangis dengan cepat pun terkena pukulan kuat di kepalanya. Javas terkapar tak sadarkan diri.


"JAVAS!" pekik anggota Death Night yang melihat Javas tak sadarkan diri.


"Beraninya lo bikin temen gue pingsan," Gibran langsung maju dan merampas kasar balok kayu itu, membuangnya dan menghadiahkan bogeman mentah di perut dan pelipis sang lawan.


Aris ikut membantu Gibran. Memberikannya pukulan tanpa ampun.


...🍒🍒🍒...


"Sial! Kenapa kita kalah? Dan kalian semua lemah!" Gavin menggebrak meja. Emosinya naik pitam.


"Kita gak sanggup lawan mereka."


"Aris malah dateng bawa pasukan banyak. Kita kalah jumlah vin."


"Lebih baik kalah daripada mati di tangan mereka. Lo mau harga diri Cakrawala di injak-injak?"


Gavin menggeleng. "Gak lah! Enak aja. Sekarang emang kalah, tapi suatu hari nanti. Aku akan menang, dan Aris kalah!"


...🍒🍒🍒...


Keadaan markas Death Night sangat kacau, beberapa darah pun masih ada dan melekat dengan tanah. Menjadi bukti bahwa pertarungan beberapa jam yang lalu itu sengit dan mengakibatkan luka fatal. Contohnya Javas. Aris sudah membawa Javas ke rumah sakit. Sekarang dirinya kembali lagi ke markas, membereskan benda-benda tajam yang berserakan di tanah.


Aris tak sendiri, ada Gibran yang menemaninya.


"Ris, gue gak tau kalau Gavin kesini. Semuanya tiba-tiba," suara Gibran memecah keheningan, Aris menoleh menatapnya datar.


"Gavin cuman mau kita hancur dan kalah. Gavin gak terima kalau Death Night kembali," pungkas Aris, suaranya terdengar lelah. Tenaganya benar-benar terkuras.


Ponsel Aris berdering, dari Allisya.


"Kak Aris? Katanya mau ngajak aku makan malam di luar?" nada penuh harap itu membuat Aris merasa bersalah, ia melupakan janji dengan gadisnya.


"Iya sya, aku kesana sekarang," Aris menatap Gibran, cowok itu mengangguk.


"Biar semuanya gue yang urus, lo kencan aja sama Allisya."


"Makasih bang."


"Sama-sama."


Aris menaiki motornya, memacunya dengan mengebut seperti biasanya, Allisya pasti sudah menunggu.


...🍒🍒🍒...


Semangat update gk tau tiba2 idenya banyak.


1:08 siang


See you-,

__ADS_1


__ADS_2