Married With The Badboy

Married With The Badboy
22. Geng bubar?


__ADS_3

Saat ini, Aris mengumpulkan semua anggota gengnya.


Apalagi Aris mengajak semuanya bolos, sangat aneh dan heran. Aris yang melarang untuk bolos, sekarang berubah.


Arif menghampiri Aris. Ia duduk di sebelah cowok itu.


"Ris, lo kan ketua OSIS. Masa ngajak kita bolos, gak salah?" tanya Arif sedikit hati-hati, tatapan Aris tajam siap menikam siapa saja.


Aris menoleh. "Gue mau menyampaikan hal penting ke kalian semua," nadanya terdengar serius.


"Apa? Jangan bilang lo mau balas perbuatan Gavin kemarin," celetuk Javas, biasanya Aris tak akan tinggal diam. Pasti keesokannya mengantur strategi untuk menyerang geng Cakrawala.


Aris menggeleng. Bukan itu. Yang jelas, ini akan menyakiti seluruh anggota geng-nya.


"Gue mau geng kita bubar," ucap Aris dengan sekali tarikan nafas.


"Apa? Ris, lo gila!" Arif tak terima.


"Ris, lo jangan ngaco deh!" Javas marah.


"Gue serius. Geng kita, bubar aja. Dan markas ini, gak guna lagi," Aris melangkah pergi.


"Aris! Lo gak tau perjuangan kita bentuk geng ini. Ingat yang waktu itu Ris!" seru Javas, langkah Aris berhenti.


Flashback on


Jumlah anggota 40 itu berjejer rapi.


Gibran melepas jaket berlogo elang emas berukuran 3 kali 4 itu. Memakaikan jaketnya pada Aris.


"Ris, gue salah nilai lo. Gue kira lo cuman main-main masuk geng ini. Tapi, setelah perjuangan lo menyelamatkan gue dari Kevin tadi, udah sepantasnya lo jadi penerus geng ini. Ris, lo berani bertaruh nyawa demi gue. Makasih banget," Gibran mendekap tubuh Aris dalam pelukannya.


Aris terdiam. Benarkah ia menjadi ketuanya sekarang?


Riuh tepuk tangan dan sorakan nama Aris membuat suasana pergantian ketua geng semakin ramai dan penuh makna.


"Selamat Aristide Keano Vavian, menjadi ketua geng Death Night!" seru Gibran lantang.


Malam itu, Aris resmi menjadi geng Death Night setelah mengorbankan nyawanya menyelamatkan Gibran yang hampir mati karena penyerangan geng Cakrawala


Flashback off


"Maaf Jav, gue bubarin geng ini. Karena apa? Gue gak mau kalian kenapa-napa, punya musuh, dan celaka. Kita jadi orang biasa aja, tanpa perlu jadi biang onar. Gue harap, ke depannya kalian lebih baik lagi," Aris melangkah pergi dengan hati beratnya. Ini adalah keputusannya yang mutlak. Kemarin malam, ia memikirkannya matang-matang. Apalagi saat Allisya mengungkapkan rasa perhatiannya dengan tulus.


...🍒🍒🍒...


Di sekolah, Aris tampak lebih berbeda. Wajah tanpa ekspresi, dan menyendiri.


Javas sampai heran dengan sikap Aris yang tiba-tiba berubah, apalagi setelah bubarnya geng Death Night kemarin.


Tapi Arif berusaha mengajak Aris berbicara meskipun responnya hanya iya dan tidak.


"Ris, gue punya komik si Juki pocong pink loh. Mau pinjem gak? Ngakak parah!" seru Arif antusias, ia sengaja membeli komik baru. Aris menyukai komik.

__ADS_1


Aris diam, ia memperhatikan papan tulis dan mencatat tugas yang di berikan oleh guru.


"Aris, marah ya sama gue?" Arif beralih menatap Javas. "Apa gue salah Jav?" tanya Arif dengan nada putus asa.


"Udahlah, gak usah ngomong sama dia. Percuma, kita gak di anggep temen lagi," jawab Javas acuh tak acuh.


...🍒🍒🍒...


Bahkan istirahat pun, Aris memilih duduk sendirian. Di pikirannya tidak ada siapa-siapa. Kosong. Bahkan nama Allisya saja seperti terhapus.


Javas dan Arif duduk di meja terpisah dengan Aris. Berjauhan. Seperti saling bermusuhan.


"Jav, kita samperin Aris yuk?"


Berulang kali Arif mengatakan itu, tapi Javas menolaknya dengan jawaban Aris tidak akan peduli.


"Tapi Jav, Aris gak punya temen. Ya? Kita samperin aja. Yuk," Arif menarik tangan Javas, tapi di lepas.


"Gak usah. Duduk aja, di habisin," tegas Javas dingin.


Sedangkan Allisya tidak menemukan tempat duduk. Kantin sudah penuh, terkecuali Aris yang duduk sendirian.


"Kita duduk sama kak Aris aja ya? Tuh, kosong. Daripada duduk lesehan. Kalian mau?"


Kaila mengangguk, sangat setuju. "Boleh banget sya. Sekalian beliin roti sal-"


"Roti salju satu sya," sela Aqila cepat.


Kaila cemberut. "Kok satu sih?"


"Eh! Tungguin sya!" Kaila mengikuti Allisya.


"Kak Aris tumben sendiri?" tanya Allisya setelah duduk dengan Aris. Cowok itu makan cilok pedas.


Aris menatap Allisya. "Pingin aja," jawabnya bohong. Sebenarnya Javas dan Arif menjauh.


Allisya mengangguk paham. "Oh. Kak Aris udah mendingan?"


"Makasih udah ngobatin lukanya. Langsung sembuh loh sya," Aris mencoba tersenyum, meskipun hatinya merasa kecewa dan sedih di jauhi kedua sahabatnya.


"Halo kak Aris!" sapa Kaila ramah. Pasti ada maunya.


"Hai juga Kaila," sapa Aris balik. Rasanya ada yang kurang, Javas dan Arif. Javas yang cerdas, dan Arif yang kekanak-kanakan.


"Kak Javas sama satu singa mana? Tumben gak gabung," celetuk Kaila.


"Singa siapa? Emang lo pelihara singa di rumah?" tanya Aqila curiga. Ini perlu di telusuri sampai tuntas.


"Bukan itu! Singanya Arif. Gak peka ah Aqila!" Kaila ngambek. Lidahnya terasa kaku mengucapkan nama Arif.


Aqila tersenyum penuh arti. Oh, Arif.


"Kak Arif! Sini, Kaila pingin di temenin sama kakak!" teriak Aqila memanggil Arif dengan hebohnya.

__ADS_1


Arif dengan hati senangnya menghampiri Kaila. Tapi, Javas melarangnya.


"Gak usah. Lo disini aja rif," Javas menahan tangan Arif.


"Tapi Jav, Kaila-"


"Gue bilang gak ya gak rif!" Javas membentak Arif. "Pilih Aris, apa gue. Jawab sekarang," Javas memberikan pilihan, siapa yang paling penting bagi Arif.


Allisya, Aqila dan Kaila merasa bingung dengan apa yang terjadi.


"Mereka kenapa sih? Kok berantem gitu. Mana Javas ngasih pilihan," ucap Kaila heran. Tak seperti biasanya Javas bisa semarah itu.


"Jav, cuman gara-gara geng bubar masa gue jauhin Aris? Dia temen kita Jav, gak seharusnya lo ngejauhin Aris tanpa sebab," dengan wajah sayunya, Arif menjawab pertanyaan Javas.


Allisya menatap Aris yang tenang. Apa? Geng bubar?


'Kenapa kak Aris rela bubarin gengnya? Karena apa?' batin Allisya di penuhi berbagai pertanyaan. Apa karena dirinya? Kalau iya, rasanya senang. Tapi ada sisi sedih, dimana Javas dan Arif menjauhi Aris.


"Kak Aris bubarin geng ya? Kenapa?" tanya Kaila, mulutnya tidak bisa di rem.


Aqila membungkam mulut Kaila. "Kai, gue beliin roti salju sepuluh deh. Tunggu ya," tidak ada cara lain, menyogok Kaila dengan roti salju agar diam.


"Wah, makasih banget ya la. Kamu adalah sahabat terbaikku," Kaila menyengir. Ada saja maunya.


Allisya ingin bertanya langsung pada Aris, tapi melihat wajah cowok itu yang sedih pun ia urungkan niatnya.


'Kalau kak Aris emang bubarin gengnya demi aku, itu lebih baik. Kak Aris gak bakalan terlibat baku hantam lagi,' batin Allisya.


...🍒🍒🍒...


Javas tidak akan membiarkan geng Death Night bubar begitu saja.


"Kalau Aris gak mau lagi jadi ketuanya. Biar gue aja," ujarnya memutuskan tanpa di musyawarahkan.


"Lo ngambil keputusan jadi ketua tanpa izin dari bang Gibran?" sahut yang lain tidak terima.


"Kita lebih baik di ketuai sama Aris. Bukan lo Jav," tambahnya lagi.


Arif hanya mendengarkan, ia sibuk membuka instagram scroll atas melihat postingan baru. Sampai ada notifikasi siaran langsung dari Aris.


Arif mengeraskan volumenya. Siapa tau Aris menyampaikan hal penting.


"Alasan gue bubarin geng Death Night adalah Allisya-"


Mendengar suara Aris, Javas dan yang lainnya pun mendekati Arif.


"Buat semua temen dan sahabat gue, termasuk Javas dan Arif. Maaf atas sikap gue yang cuek ke kalian. Gue cuman gak mau kehilangan orang yang gue sayang. Besok, alumni Death Night makan bareng di rumah gue. Ya, besok ulang tahun gue. Sekalian ngadain acara syukuran dan doa sebelum ujian nanti," Aris mengakhiri siaran langsungnya.


Javas terdiam. Itu alasannya? Kenapa Aris tidak jujur?


"Datang yuk besok. Biar kita semua tambah akrab. Jav, ikut kan?" tanya Arif, Javas masih bengong.


"Javas! Denger gak sih? Ikut gak? Kalau gak mau, ya udah kita tinggal lo aja," Arif lama-lama gemas.

__ADS_1


Javas tersadar. "Eh? Iya. Ikut kok," Javas mengangguk.


...🍒🍒🍒...


__ADS_2