
"Oh ya, nanti kalian istirahat duluan aja ke kantin. Aku mau nyusul kak Aris di lapangan futsal," ucap Allisya setelah ia selesai menulis materi pelajaran di papan tulis.
Kaila mengernyit heran. "Kok gitu? Emangnya kak Aris tanding futsal ya?"
"Kita boleh ikutan gak?" sahut Aqila, lumayan liat cogan.
Allisya menggeleng. "Jangan, aku kesana kan biar kak Aris ada yang bawain handuk sama minum gitu. Hehe," Allisya terkekeh garing.
"Hmm, yang jomblo mah bisa apa atuh," sahut Kaila miris, entah kapan dirinya bisa di kagumi para laki-laki. Mungkin menunggu Daniel dan Luna bermusuhan.
"Mohon bersabar kai, mungkin suatu saat kita dapet cowok yang bener," ucap Aqila berdoa, ah semoga saja.
Kaila mengangguk. "Aamiin," siapa tau tipenya persis seperti Aris.
...🍒🍒🍒...
Dengan senyum yang mengembang, Allisya membawakan minuman dingin untuk Aris. Ia juga membawa saputangannya sendiri.
Di lapangan futsal, terlihat Aris mengoper bola dengan lihainya. Allisya kagum melihat itu.
Allisya memilih duduk di tribun penonton. Menunggu Aris selesai.
"Kak Aris! Semangat!" teriak Allisya lantang, Aris menoleh dengan senyuman manisnya.
"Kosentrasi!" Javas mengambil alih bola itu, salah sendiri bucin di lapangan.
Aris berdecak kesal. "Javas! Lo curang!"
Javas menoleh menjulurkan lidahnya. "Biarin!"
Allisya tersenyum melihat interaksi Javas dan Aris. Apakah mereka sudah akur?
Setelah mencetak gol dan Aris yang menang, cowok itu menghampiri Allisya yang duduk sendirian di tribun.
Allisya dengan sigap mengelap keringat di pelipis Aris.
"Kak Aris udah akur ya?"
Aris hanya mengangguk, ia belum tau pasti. Tapi ia bisa melihat kalau Javas tak se-marah dulu. Javas juga mengajaknya bercanda sebelum futsal di mulai.
"Kamu gak istirahat sama Kaila dan Aqila?"
Allisya menggeleng. "Aku pingin liat kak Aris main futsal. Nih, kak Aris minum dulu. Kakinya di lurusin ya kak biar gak varises," ucap Allisya perhatian.
'Betapa bodohnya lo niel nyia-nyiain Allisya yang se-perhatian ini,' batin Aris kesal. Disaat yang tulus mempertahankan, justru memilih yang baru. Sangat egois memang.
Arif menepuk bahu Aris.
__ADS_1
"Maafin gue ya ris? Javas juga. Meskipun geng kita bubar, setidaknya kita tetep jadi keluarga kayak dulu," rasanya hampa tanpa Aris, cowok itu sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
Aris mengangguk. "Iya gak papa rif. Kenapa gak sama Javas?" Arif kemana-mana lengket dengan Javas.
"Javas ke kantin. Paling makan, biasa laper. Ya udah, gue duluan ya? Bye," Arif berlalu pergi. Mengganggu yang sedang asmara ia jadi nyamuknya.
Keadaan kembali canggung. Allisya tidak tau harus mengatakan apa.
"Em-kak Aris," panggil Allisya malu-malu.
Aris menoleh. "Iya sya?" ia menunggu Allisya mengatakan apa.
Tapi setelah 2 menit, akhirnya Allisya berbicara.
"Kak Aris habis lulus mau kuliah kemana?" Allisya juga berhak tau, apalagi dirinya akan tunangan dengan Aris.
Aris tampak berpikir. "Maunya sih di luar negeri. Tapi pas tau aku di jodohin sama kamu, niat itu aku batalin," terdengar nada sedih, Allisya merasa bersalah. Apa karena dirinya sampai Aris tak bisa mencapai cita-citanya?
Aris menoleh. "Tapi aku bisa kuliah disini sya. Biar bisa jagain kamu," ucapnya menggombal.
Pipi Allisya merona. "Apaan sih kak Aris," rasanya senang, tapi sama. Daniel dan Aris selalu membuatnya bahagia, bedanya Daniel hanya sesaat.
Daniel yang melihat Allisya berduaan dengan Aris pun hatinya panas.
Luna menahan tangan Daniel yang ingin pergi. "Kamu mau kemana? Temenin aku makan dulu," makan bakso dekat lapangan futsal adalah kesukaannya, selain ramai, juga teduh.
"Kenapa gak makan niel? Enak banget loh baksonya. Aku aja mau lagi," ucap Luna antusias. Daniel hanya duduk diam, dan itu membuat Luna bosan.
"Suapin aku dong Lun," siapa tau Allisya melihatnya dan cewek itu tau bagaimana sakitnya melihat orang yang di sayang dengan yang lain.
"Aaa niel," Luna senang akhirnya Daniel meminta perhatiannya.
Daniel membuka mulutnya. "Manis, kayak kamu," gombalnya.
Luna tersipu.
"Ya emang aku manis niel. Dan ngangenin," ucapnya percaya diri. Kalau Kaila mendengar ini, mungkin jus jeruk milik Aqila sudah ia siramkan.
Allisya menyipitkan matanya. Apa itu Daniel? Kenapa romantis sekali dengan Luna?
Allisya menggeleng. Tidak, Daniel bukanlah pacarnya lagi. Daniel sudah ada penggantinya.
Aris mengikuti arah pandangan Allisya. Daniel.
"Sya, ke kantin yuk. Aku laper nih," Aris meraih jemari Allisya. "Biarin gini ya?"
Allisya terdiam kaku. "T-tapi kak kalau guru yang-"
__ADS_1
"Sekolah ini kan milik kakekku sya. Jadi mereka udah tau kalau kamu itu calon istriku," Aris tersenyum senang, pipi Allisya merona.
Saat Aris dan Allisya berjalan berisian, menunjukkan status mereka yaitu couple.
"Wah romantis banget Allisya sama kak Aris!"
"Kak Aris buat aku aja ya sya?"
"Gak usah nikung lo!"
Daniel yang mendengar seruan itu pun menoleh. Tampaknya Aris memang ingin menunjukkan Allisya adalah miliknya.
'Mentang-mentang sekolah ini punya kakeknya jadi sebebas itu,' gerutu Daniel dalam hati.
"Ngeliatin apa sih niel?" tanya Luna penasaran. Luna mengikuti arah pandangan Daniel. Aris dan Allisya.
"Kamu masih cinta sama Allisya?" tanya Luna menuntut. Kurang apa dirinya dengan Allisya?
Daniel mengangguk. Spontan.
"Iya, aku masih cinta sama Allisya. Aku bodoh banget ya Lun mutusin Allisya gitu aja?"
Luna membanting sendoknya. "Cintai aja Allisya! Aku gak penting lagi!" Luna melangkah pergi dengan isak tangis yang tertahan.
"Luna! Dengerin aku dulu!" Daniel mengejar Luna, apa yang ia katakan itu jujur. Tapi Luna salah paham.
...🍒🍒🍒...
Aqila menggeleng heran. "Kai, lo nuangin sambel banyak. Tuh, mie ayam lo udah merah. Yakin mau di makan?"
Kaila tersadar. Ia terlalu fokus melihat Allisya dan Aris yang suap-suapan. Romantis dan membuat hati jomblonya iri.
"Hah?! Ya ampun. Kalau kayak gini bikin gue sakit perut la! Duh, gimana dong?"
Aqila berdecak kesal. "Iya lo cari aja kucing yang biasanya keliling di sekolah. Daripada mubadzir? Kalau mau dimakan sih terserah lo. Derita lo kalau sakit perut," Aqila masa bodoh dengan Kaila, kalau sudah ada yang lebih menarik maka Kaila akan gagal fokus saat itu juga.
Kaila cemberut. "Sayang banget kalau di buang. Gue makan aja deh, tapi nanti ke UKS dulu ya la? Ngambil minyak telon," jurus jitu menangkal sakit perut sesudah makan pedas, ramuan ajaib itu menyembuhkannya.
"Gak gabung sama mereka?" tanya Aris menunjuk Kaila dan Aqila yang masih berselisih.
Allisya menggeleng. "Aku pingin aja sama kak Aris. Kalau sama mereka mungkin kak Aris gak nyaman, apalagi Kaila yang kebaperan," sahabatnya itu suka menjerit melihat hal romantis atau bucin.
"Gak papa kalau mereka juga gabung sama kita. Biar rame," tak masalah jika keromantisanya dengan Allisya terganggu. Yang penting jangan lupakan sahabat saat punya pacar.
'Kak Aris beda ya sama Daniel?' rasanya senang sekaligus bahagia berada di sisi Aris, tak sabar menunggu hari spesial dan istimewa itu.
...🍒🍒🍒...
__ADS_1