Married With The Badboy

Married With The Badboy
47. Siswi cantik


__ADS_3

Dua perempuan yang kini berbincang di sudut kafe. Sore hari, jam 3. Keduanya membuat janji untuk membicarakan suatu hal yang sangat penting. Salah satunya adalah Luna.


"Lo kelas duabelas kan sekarang?" tanya Luna pada adik kelasnya itu, termasuk sangat dekat dengan sekolahnya dulu sebelum pindah karena Daniel.


"Iya. Kenapa? Langsung ke intinya deh. Gue gak mau lama-lama disini. Masih ada urusan lain," jawabnya ketus.


Cewek berlensa biru dengan bibir merah muda dan kulit putihnya itu kesal dengan Luna.


"Gue minta lo pindah ke sekolah itu. Sekolah gue yang sekarang. Gampang kok, asal berduit aja. Gak perlu pinter. Penampilan lo menarik, cocok buat ngehancurin Allisya sama Alvian dan Aris. Gue hanya ingin Allisya di benci sama dua cowok itu."


"Terus? Gue mesti ngapain?"


"Sekolah disana. Tugas lo cuman merebut Alvian dan Aris. Nih, fotonya," Luna menyodorkan dua lembar foto Alvian dan Aris.


"Kenapa gak dari dulu! Oh my god! Ini mah ganteng bangett. Gue jadi pelakor aja deh," senyumnya mengembang, wajahnya memancarkan kebahagiaan seolah menemukan harta karun di tengah lautan.


"Emang itu tugas lo. Kalau Aris, biasanya jemput Allisya pas pulang sekolah, kadang di anterin juga berangkatnya. Dan lo bakalan ada partner khusus disana. Namanya Nana, biar gak sendirian juga jadi pelakornya."


"Pasti. Gue juga langsung jatuh cinta sama Aris dan Alvian. Ya, kalau boleh sih milikin dua-duanya."


"Gila ya lo! Rakus banget," Luna melotot terkejut.


"Makannya kalau gantengnya kebangetan, gue bisa pacarin dua-duanya. Apa sih yang gak mungkin bagi Zahra," namanya Zahra, cewek berdarah biru dan campuran Finlandia-Inggris itu tersenyum miring. Kecantikannya yang lebih itu mampu memikat hati para cowok-cowok buaya darat, buaya buntung, buaya-aya wae teh sia lewat sama Zahra.


"Gue tunggu kabar baiknya."


"Imbalannya? Gue gak suka gratisan ya!" sungut Zahra kesal, apa-apa semuanya harus terbayarkan.


Luna berdecak kesal, memang uangnya harus rela terbuang sia-sia karena Zahra sang mata duitan.


"Tenang aja, gue bayar kok. Kalau berhasil dua kali lipat. Gagal, gak ada sama sekali," karena bagi Luna, percuma saja menyuruh Zahra tapi gagal, jangan sampai uangnya di makan cewek bule itu seenaknya.


Zahra tersenyum senang. "Nah, gitu dong. Pasti berhasil kok, gue janji," ucapnya penuh keyakinan.


...🍒🍒🍒...


Pagi ini, sekolah di hebohkan dengan kedatangan sebuah mobil keluaran terbaru hitam mengkilat terpakir manis di deretan mobil dan motor guru.


Siswa yang masih berkeliaran di halaman sekolah menghentikan langkahnya, rasa penasaran yang kuat dan ingin tau siapakah orang yang berada di dalam mobil itu.


Zahra berjalan dengan anggunnya membelah para siswa yang penasaran itu. Dengan kacamata yang bertengger di dahi, rambut pirangnya yang tergerai membuatnya keliatan mencolok dan terlihat bule di antara yang lainnya.


"Wah sok nyeleb nih. Tajir juga iya, cantik iya, mulus putih iya. Komplit dah!"


"Anak baru? Kelas berape emangnye?"

__ADS_1


"Bulepotan? Lumayan nih di jadiin pacar, bakalan famous gue."


"Heh! Cantik! Namanya siapa?"


Zahra tak menggubris sahutan-sahutan heboh itu. Ia sudah tau dimana kelasnya, karena sang kepala sekolah juga termasuk teman dari ayahnya.


Aqila dan Kaila yang masih baru sampai di gerbang sekolah pun heran dengan gerombolan siswa bak semut berkumpul itu.


"Ada apa sih? Kok rame banget?" tanya Kaila berjinjit mencoba melihat apa yang terjadi.


"Eh? Kenapa? Apa ada presiden ke sekolah ya?" tanya Aqila menepuk bahu seorang cewek yang masih menganga kini menoleh menatapnya.


"Bukan! Ada anak baru, cantik banget kayak bule gitu," jawabnya sangat antusias. "Ah tapi kalau ada dia, pasti semua cowok ganteng disini bakalam jatuh cinta sama bule itu. Nyebelin ah!"


Aqila terkekeh. "Kai, ternyata ada anak baru. Kai? Lo kemana sih? Kok gue di tinggal pas lagi nyaman-nyamannya sih?!" Aqila menatap sekeliling tak menemukan keberadaan sosok Kaila. Curhat sedikit.


Di kelas 12 Ips 2 masih dalam keadaan sepi meskipun ada beberapa yang sudah datang dan duduk semanis kamu.


Sampai bu Mei-mei guru Sosiologi datang dengan cewek bule yang katanya anak baru itu. Sontak reaksi penghuni 12 Ips 2 di buat kaget dengan kehadirannya.


"Kita telah kedatangan siswi baru, silahkan perkenalkam dirimu."


Zahra mengangguk, matanya menangkap sosok Alvian yang duduk paling belakang.


"Sayang."


"Cintaku."


"My honey."


Sahut para laki-laki yang genit.


Zahra hanya tersenyum simpul, baru saja di mulai sudah ada yang terpikat dengan mudahnya.


"Sudah-sudah, Zahra silahkan kamu duduk di belakang Alvian ya? Itu ada bangku kosong."


Zahra mengangguk. Akhirnya!


Selama perjalanan menuju bangku singgahsana, para cowok-cowok meminta nomer, bertanya alamat, sampai nekat kepo dengan instagram dan ID Line.


Alvian menguap, tangannya kembali menggambar motor asal-asalan. Biasa, kreatifitasnya saat bosan sebelum pelajaran di mulai.


Dito menyikut lengan Alvian. "Tuh, di belakang lo ada cewek bule cantik. Jomblo kan? Embat aja sana," suruhnya dengan gampangnya.


Alvian berdecak kesal. "Apa sih dit? Tuh, gambar gue jadi jelek gara-gara lo. Diem ah!" sungut Alvian kesal.

__ADS_1


Zahra yang melihat interaksi Alvian dan teman sebangkunya hanya tersenyum. Alvian galak juga ternyata.


Aqila berbisik pada Kaila. "Satu kelas sama kita?"


Kaila menoleh. "Bener, tapi gue cuman heran aja sih," Kaila mengusap dagunya, nampak berpikir sesuatu.


"Heran kenapa?" tanya Kaila alisnya mengernyit.


"Di sekolah kita, kalau udah kelas duabelas kan gak boleh ada penerimaan siswa baru. Dia kok bisa sih?"


Aqila mengangguk, benar juga.


"Mungkin dia nyogok pake uang, dia kan kaya kai."


Bu Mei-mei memukulkan penggaris panjangnya ke papan tulis membuat seisi kelas terdiam daripada takut di marahin.


"Harap diam! Tolong ikuti pekajaran saya dengan baik. Ini adalah PIB, jangan di buat main-main. Faham?"


Semuanya mengangguk, bu Mei-mei memang guru ter-killer.


...🍒🍒🍒...


Bel istirahat telah tiba, dengan percaya dirinya Zahra mengajak Alvian untuk ke kantin bareng.


"Lo ngomong sama siapa?" Alvian masih fokus dengan buku detik-detik Sosiologinya, pandangannya sama sekali tak berminat dengan objek indah dan subhanallah di sebelahnya.


Zahra menggelayutkan tangannya pada Alvian. "Iya sama kamu dong. Aku gak punya temen," raut wajahnya berubah menjadi sedih.


Alvian sama sekali tak menggubris ocehan Zahra.


"Allisya, ayo ke kantin. Aku udah laper banget nih," Alvian mengajak Allisya yang masih membereskan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.


"Ada yang di cuekin nih?" sindir Aqila matanya melirik Zahra.


"Kasihan banget, hahaha," Kaila tergelak.


Zahra yang merasa di remehkan pun tak terima. "Awas aja ya kalian," langkah lebarnya keluar kelas dengan perasaan dongkol.


...🍒🍒🍒...


Dikit, sakit. Semoga aku lekas sembuh.


6:10 pagi.


See you-,

__ADS_1


__ADS_2