
Allisya bangun pagi-pagi. Daniel sudah berjanji akan menjemputnya di depan gang. Takutnya ketauan mamanya bisa ribet urusannya.
Selesai berganti seragam putih abu-abunya, Allisya menuruni tangga dengan cepat.
Tapi...
"Allisya, sini dulu. Kita sarapan bareng-bareng," ajak Selena sambil menyiapkan roti untuk Allisya.
"Eh? Allisya gak kaper kok ma. Nanti sarapan di kantin aja," Allisya tersenyum kikuk. "Allisya berangkat dulu ya? Nanti telat nih piketnya. Bye ma, pa," Allisya melambai tangannya.
"Buru-buru banget. Emang naik apa?" tanya Allister mengoleskan selai stroberi.
"Mungkin taksi pa,"
Di depan gang, Daniel sudah menunggu di atas motor ninja merahnya.
Allisya tersenyum. "Daniel!" panggilnya berteriak. Daniel menoleh.
"Ayo sya. Pasti kamu belum makan ya?"
"Iya nih. Makan dulu aja ya?"
"Naik my princess,"
Daniel mengajak Allisya ke stan ketoprak.
"Niel, kita jangan lama-lama ya makannya? Aku takut telat,"
Daniel mengangguk. "Kamu aja ya yang makan. Aku udah kenyang," Daniel meletakkan satu porsi ketoprak di hadapan Allisya.
"Terus aku di latin ya?" tanya Allisya kesal. Selalu begitu bukan? Lalu bilang cantik dan menggemaskan.
"Masa gak boleh liatin pacar sendiri? Aku liat cewek-cewek yang ada disana deh," Daniel memalingkan tatapannya tertuju pada empat tante-tante yang menunggu di halte.
Allisya berdecak. "Jadi selera kamu tante ya? Bagus,"
"Kata siapa? Allisya...selerakuu," senandung Daniel menirukan iklan mie instan.
"Apaan sih. Gombalnya pinter banget," Allisya memukul bahu Daniel. "Liat aku aja. Gak usah lirik cewek lain," tegas Allisya sedikit marah.
"Iya Hubbie,"
Allisya tak mendengarkan panggilan manis itu. Fokus saja pada makanan, yang penting kenyang.
Selesai makan, keduanya melanjutkan perjalanan ke sekolah.
Saat sampai, sangat kebetulan sudah ramai.
Termasuk Aris yang turun dari mobilnya.
Kebetulan juga Daniel memakirkan motornya bersebelahan dengan mobil Aris.
__ADS_1
Allisya memilih jalan lebih dulu tapi Daniel memanggilnya.
"Sya, sama aku. Masa ke kelas sendirian. Sini,"
Allisya dengen menurut menghampiri Daniel. "Tapi kan aku mau piket,"
"Nanti aku bilangin ke mereka kamu kecapekan,"
Allisya tak terima. Kecapekan makan?
"Jangan. Nanti mereka gosipin aku yang gak-gak," Allisya sudah tau bagaimana nyinyirnya lambe teman sekelasnya itu.
Aris yang mendengar suara Allisya di belakang pun menoleh. Kenapa dengan Daniel? Bukannya mereka sudah putus dan tidak ada komunikasi lagi?
"Iya sayang," Daniel mengacak rambut Allisya.
Pemandangan itu tak luput dari mata Aris yang sudah berkilat penuh amarah.
"Sayang? Beraninya manggil Allisya sayang. Udah mantan, masih aja baperin anak orang," Aris melabrak keduanya. Seperti tertangkap selingkuh.
"Allisya? Kamu berangkat sama Daniel? Aku tadi nungguin kamu loh," Aris berusaha ceria meskipun tangannya gatal ingin menonjok wajah Daniel.
Allisya terkejut. "M-maaf kak. Aku gak tau," lebih baik ia kabur dari dua cowok ini. "Bye, aku pergi dulu,"
Setelah Allisya pergi, Aris menatap Daniel datar.
"Ngapain manggil Allisya sayang? Lo udah mantan! Sadar!" bentak Aris marah. Jelas saja cemburu, ia ini calon tunangannya! Biarlah terlalu lebay, mencintai satu wanita tanpa berpindah hati dengan mudah itulah Aris.
Daniel terkekeh. "Lo yang seharusnya sadar! Gue pacarnya Allisya! Kita balikan. Kemarin malam," Daniel memperjelas kata mantan.
"Apa? Daniel sama Allisya balikan?"
"Wah, jadi Aris di campakkan gitu aja dong?"
"Padahal Aris itu idaman loh. Ngapain milih Daniel,"
Luna yang baru saja sampai melihat kerumunan melingkar itu pun ikut penasaran.
"Ada apa sih?" Luna menepuk bahu salah satu siswi.
"Itu Daniel balikan sama Allisya,"
"Minggir," Luna menyingkirkan para kerumunan seperti semut itu.
"Kamu balikan sama Allisya? Daniel, seharusnya kamu mikir sama perasaanku. Sakit," mata Luna berkaca-kaca. "Aku mencintaimu Daniel," ungkap Luna blak-blakan di depan semua siswa. Biarlah mereka tau.
Daniel tidak terkejut. Ia tau Luna memang ada rasa.
"Maaf Luna. Aku hanya menganggapmu sekedar sahabat saja. Tidak lebih," dengan santainya Daniel mengucapkan itu.
"Lo nyia-nyain cewek kayak Luna? B*ngs*t!" Aris berlalu pergi. Emosinya tidak bisa di kontrol.
__ADS_1
"Semuanya bubar!" gertak Daniel membuat kerumunan itu pergi dengan ucapan kecewa.
Daniel menghampiri Luna. "Lun, kita itu udah sahabatan dari kecil. Jangan bawa perasaan lebih dalam persahabatan kita," jelas Daniel agar Luna faham. Perasaan tak bisa di paksakan, berjuang sendirian akan lelah sendiri.
Bahu Luna naik-turun. Ia terisak. Perkataan Daniel menyakiti hatinya.
"Aku sayang kamu niel,"
"Ayo masuk kelas. Kamu jangan nangis, ntar di tanya sama guru kenapa mau?" Daniel menghapus jejak air mata Luna.
"Gak lah. Apalagi di bawa ke BK di suruh cerita," ketus Luna kesal. Memang yang menangis di sekolah atau sedang dalam masalah di bawa ke ruang BK untuk bercerita.
...🍒 🍒 🍒...
Di kantin, banyak yang bergosip tentang hubungan Daniel dan Allisya.
Aqila yang tak tau apa-apa meminta penjelasan pada Allisya.
"Iya. Aku balikan sama Daniel," Allisya mengangguk mantap.
Aqila meletakkan sendoknya kasar. "Lo gila sya?" suara Aqila meninggi. Untung saja Kaila tidak ikut, bisa bertambah runyam.
Sampai seisi kantin beralih menatap Aqila heran.
Merasa jadi pusat perhatian, Allisya menenangkan Aqila.
"Dengerin aku dulu la. Aku balikan sama Daniel itu mencoba memperbaiki semuanya. Gak ada salahnya kan ngasih kesempatan sekali lagi?"
"Kalau lo di sakitin sama Daniel lagi. Gue panggilin Kaila, biar di jotos tuh cowok. Emangnya main perasaan itu seneng? Ya gak lah!" ucap Aqila menggebu. Siapa saja yang menyakiti Allisya akan berhadapan dengan Kaila, lalu dirinya sebagai pendukung sportif. Dan kalian yang membaca ini hanya menyaksikan saja dan duduk manis sambil ngopi.
"Iya deh. Tuh, la bakso kamu jadi muncrat kuahnya sampai ke seragam kamu,"
Aqila terkejut. "Apa?! Gimana nih? Masa ada kuahnya? Mana nanti presentasi lagi. Bisa di kritik habis-habisan sama temen,"
Allisya terkekeh. "Jangan tampil di depan. Ke samping aja kayak pajangan,"
Aqila mendengus. "Iya bagus sya. Terus gue gak ke bagian jelasin materinya ya?" tanya Aqila gregetan.
...🍒 🍒 🍒...
"Kesel gue!!" Aqila menghentakkan kakinya kesal. Kaila dan Allisya menertawakan kesialan Aqila.
"Makannya gak usah emosi la. Be calm down," ujar Allisya masih terkekeh.
Presentasi tadi sangat menyenangkan. Seisi kelas menggoda Aqila.
"Habis mandi kuah bakso ya la?"
"Terus gak panas la? Kasihan seragamnya kotor. Belum lagi ntar di marahin sama nyokap lo,"
Seperti itulah sahutan menggoda tadi.
__ADS_1
Aris hanya melihat tawa Allisya dari kejauhan. Jujur ia kecewa sekaligus sakit hati. Allisya mengkhianati cintanya. Memilih Daniel hanya demi memperbaiki hubungan yang sudah kandas begitu mudahnya tanpa berpikir panjang dengan sebuah cinta yang berjuang sendirian. Iya, itulah dirinya. Cinta yang tak terbalaskan.
...🍒 🍒 🍒...