Married With The Badboy

Married With The Badboy
38. Takut


__ADS_3

Allisya menguap, belajar satu jam lamanya membuat seluruh tubuhnya lelah.


"Kalau jam segini, kak Aris masih melek gak ya?" Allisya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 9 tepat.


Dengan ragu Allisya menghubungi Aris.


Masih menunggu.


Panggilan di alihkan.


"Kak Aris sibuk apa? Memangnya jam 9 malam kak Aris masih kerja?" Allisya mengigit bibirnya, hatinya antara gelisah dan khawatir.


Ting!


Allisya segera melihat notifikasi itu. Dari Aris.


Kak Aris


Maaf sya, aku mau tidur dulu. Soalnya besok masuk kampusnya lebih awal. Kamu jangan begadang ya? Good night.


09:10 pm


^^^Anda^^^


^^^Tapi kak aku pingin telepon bentar. Aku kangen sama kak Aris. Boleh gak? Janji habis telepon aku langsung tidur. ^^^


^^^09:11 pm^^^


Aris


Maaf sya tidur aja ya? Byee.


09:12 pm


Allisya menghela nafasnya. "Kenapa kak Aris tumben gak mau aku telepon? Padahal..." Allisya melihat riwayat panggilannya kemarin, masih ada tentunya sengaja tak ia hapus. Karena setiap waktu menit dan detik itu berharga sebagai penyalur rindu yang semu. Inilah curhat yang nyata.


Allisya melangkah ke tempat tidurnya, ah kasur selain untuk bermimpi yang tidak pasti juga mengistirahatkan hati yang pernah patah dan rapuh.


"Kak Aris udah gak cinta lagi sama aku? Kak Aris udah gak sayang ya? Atau bosen? Aku kurang apa kak?" Allisya menatap langit-langit kamarnya.


"Tau ah, mending aku tidur. Kenapa harus memikirkan kak Aris? Bikin kepalaku pusing aja," Allisya meraih selimutnya lalu guling sebagai penghangat di saat dingin tanpa perlu menginginkan sebuah pelukan.


...🍒🍒🍒...


Allisya berangkat ke sekolah dengan kurang semangat. Di antarkan oleh ayahnya.


"Allisya, jangan lupa ya nanti belikan gorengannya mbak Yuli? Ayah lagi pingin banget makan gorengan. Apalagi kalau pulang dari kantor, hmm kriuk kriuk kriuk gitu," Allister mencoba mengajak Allisya berbicara, anaknya itu lebih banyak diam pagi ini. Sepatah kata pun tak keluar dari mulut Allisya.


Allisya mengangguk. Ia keluar dari mobil tanpa berpamitan pada sang ayah. Hari ini dirinya kurang bersemangat, siapa lagi kalau bukan Aris penyebabnya? Disaat bilang rindu berkata lain dan berkilah lelah demi menghindari.


Sampai di kelas pun Allisya berjalan dengan lesunya. Wajahnya cemberut, tak ada kebahagiaan sama sekali.


Allisya meletakkan tasnya menjadikan bantal dan memejamkan mata. Semalam Allisya tak bisa tidur meskipun matanya sudah di paksakan merem melek berkali-kali.

__ADS_1


"Seriusan? Enak ya sekarang kalau mau tidur di ucapin good night di telepon lagi sweet banget kak Javas," Kaila merasa kagum dan baper.


Aqila hanya tersenyum malu-malu. "Ah bisa aja. Emangnya lo juga di ucapin gitu sama kak Arif?"


Kaila menggeleng. "Hah mimpi lah. Gue juga gak berharap dia ngucapin good night. Jatuh cinta boleh sih, asalkan siap buat sakit hati aja," jawab Kaila sok yes, padahal hatinya berharap lebih pada Arif.


"Allisya? Pagi-pagi udah ngantuk aja nih. Makannya ngopi slur," Aqila duduk di sebelah Allisya, cewek itu menghadapkan kepalanya ke tembok mungkin malas melihat ketidakpastian yang belum tentu menjanjikan.


Allisya beralih menatap Aqila. "Aku ngantuk banget la. Aduh aduh jangan ganggu," Allisya bersenandung ria.


Aqila dan Kaila hanya melempar pandangan bingung.


"Tidur aja gak apa-apa. Tapi kalau ada guru yang masuk gue bangunin deh," Aqila merasa kasihan, di lihat dari penampilannya Allisya saja sudah di pastikan sahabatnya itu memang kelelahan dan butuh istirahata dari kedua kantung matanya yang menghitam.


"Hm makasih," Allisya kembali melanjutkan tidurnya.


...🍒🍒🍒...


Lagi-lagi Allisya pulang sekolah sendirian, Aqila dan Kaila selalu di jemput dengan gebetannya.


"Maaf banget ya sya gue pulangnya bareng sama kak Javas. Kaila udah duluan, biasalah mereka lagi pdkt hihihi," Aqila terkekeh, Javas ikut tersenyum. Kebahagiaan Aqila tertular.


Allisya mengangguk. "Iya, lagian aku juga mau diet hehe. Jalan kaki kan sehat."


Javas merasa bersalah. "Emangnya Aris gak jemput lo? Padahal hari ini gak ada jam kuliah. Cuman hari Kamis, Jumat sama Sabtu aja sya."


Allisya terdiam. Apakah kemarin Aris berbohong?


"Ih paling kak Aris lagi kerja. Makannya gak bisa jemput Allisya," ucap Aqila positif thingking dulu lah belum chat dan menunggu lama-lama itu sedih dan menyakitkan.


"Iya," Allisya hanya menjawab singkat, mood-nya buruk. Allisya pikir Aris akan menepati janjinya saat itu yang akan menjemput dan mengantarkannya setiap hari. Ah janji manis berakhir pahit.


Jalan kaki sendirian, hanya hari ini Allisya pulang tanpa Aris. Berbeda dengan hari kemarin yang dimana Aris selalu menjemputnya, mengobrol hangat dan melempar canda tawa.


Tak jauh dari Allisya, seseorang mengikutinya diam-diam.


Allisya berhenti sejenak, matanya menangkap orang misterius melalui spion mobil yang terparkir di dekat minimarket.


Allisya menoleh, orang itu bersembunyi di balik pohon.


"Kok aku kayak di ikuti ya?" Allisya mempercepat langkahnya, ia harus segera sampai ke rumah.


Sampai di jalanan yang sepi, setiap langkah Allisya sesekali menoleh ke belakang, lagi-lagi orang itu bersembunyi. Ternyata benar, dirinya di ikuti.


"Aku harus telepon kak Aris," Allisya menunggu jawaban, tapi kenapa si operator yang menyapanya hangat?


"Duh, kok gak di angkat sih? Please kak angkat teleponku."


"Minta tolong sama siapa ya? Daniel! Iya! Pasti Daniel bisa," Allisya pun menghubungi Daniel, tapi nomornya tidak aktif. Dalam keadaan genting ini, Allisya hanya mengingat 2 nama Aris dan Daniel.


Ting!


Allisya mengalihkan pandangannya pada notifikasi pesan dari Alvian.

__ADS_1


"Oh ya! Kan ada Al, masa aku lupa sih sama sahabatku sendiri?"


"Halo?" Allisya langsung menelpon Alvian, untungnya di angkat. Harapan Allisya sekarang hanyalah Alvian.


"Al, tolong aku. Ada orang yang ngikutin aku daritadi. Aku takut Al, aku gak mau kejadian yang dulu terulang lagi," lirih Allisya, ia hampir menangis.


"Kamu tenang ya sya. Sekarang share lokasinya biar aku ngebut kesana."


"Tapi teleponnya jangan di matikan ya Al? Aku pingin di temani sama kamu," pinta Alllisya.


"Iya bawel, gak aku matiin. Nih lagi di jalan."


Allisya mengembangkan senyumnya. Setidaknya ada Alvian yang menyelamatkannya.


Deg.


Tangan Allisya di tarik, saat menoleh ke belakang ternyata orang itu ingin membawanya paksa entah kemana.


"Lepasin! Lepas! Kamu siapa?! Jangan bawa aku! Aku gak enak! Aku pahit gak manis!" Allisya berusaha memberontak, dari tenaganya ia bisa merasakan bahwa orang di hadapannya ini laki-laki.


Di balik masker itu terlukis senyum tipis, Allisya masih saja sama. Menggemaskan.


"Allisya? Kamu baik-baik aja kan? Ini aku mau sampai kok."


Suara Alvian itu tak bisa menenangkan Allisya. Panik lah masa gak apalagi tangannya di tarik secara kasar, Allisya meringis kesakitan. Pasti akan merah muda tangannya nanti.


Alvian mempercepat langkahnya, akhirnya sampai juga. Alvian melayangkan tinju mentah pada orang itu. Pegangan tangannya terlepas.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Alvian khawatir. "Maaf aku sedikit telat, padahal udah ngebut. Tadi-"


"Alvian! Awas!" teriak Allisya panik.


Alvian menoleh ke belakang, karena tak siap Alvian menerima pukulan telak. Alvian tersungkur, perutnya terasa sakit.


"Allisya, kamu pulang aja sekarang. Biar aku yang menghadapinya," ucap Alvian terbatuk setelahnya, cairan darah.


Allisya menggeleng pelan. "Gak Al, aku gak akan ninggalin kamu."


Alvian bangkit berdiri. Kembali melawan orang misterius itu. Menangkis dan memberikan pukulan bertubi-tubi.


"Nyerah aja deh lo. Bukan lawan gue!"


Orang itu kabur.


Allisya menghampiri Alvian. "Makasih ya Al? Aku takut, aku pikir gak bakalan ada yang nolongin aku."


Alvian mendekat, tangannya mengusap rambut Allisya. Tatapannya beradu dengan lensa coklat madu yang teduh itu. Tatapan sama, menghangatkan hati.


"Mulai sekarang, aku bakal jadi bodyguard kamu."


***


Entah kenapa pipi ini semakin chubby mungkinkah kebanyakan jajan dan ngemil saat tengah malam?

__ADS_1


9:47 pagi


Sampai jumpa lagi.


__ADS_2