
Dengan nafas tersengal Allisya berlari. Bangun pagi-pagi dan hampir jam tujuh. Allisya menatap gerbang itu, sudah di tutup.
Karena berlari, dan tali sepatu Allisya lupa-lupa ingat tidak di ikat. Insiden tersandung dengan lutut yang tergores tanah dengan kerikil itu.
"Aww. Sakitt," Allisya duduk santai di tanah, memegangi lututnya yang berdarah.
"Ceroboh," gumam Daniel. Ia berlalu begitu saja tanpa menolong Allisya.
Allisya mendongak. "Daniel?"
Sebuah tangan terulur. Saat Allisya menoleh ke belakang ternyata itu Aris.
"Hati-hati. Mana yang sakit?"
'Kak Aris beda. Dia lebih peduli,' daripada Daniel melewatinya begitu saja.
Allisya meraih tangan Aris. "Aku gak papa kok," kilahnya berpura-pura kuat. Cewek memang begitu, tidak apa-apa.
Aris mendapati lutut Allisya yang berdarah. Aris besimpuh. "Kata siapa gak papa? Ini luka. Harus di obatin sebelum infeksi. Masib bisa jalan kan sya?"
Allisya ragu mau menjawab apa. "Gak tau,"
"Ya udah, naik. Aku gendong kamu ke UKS,"
Allisya menurut. 'Makasih. Kalau aja gak ada kak Aris, mungkin aku cuman duduk disitu terus. Duh, gak lucu lah. Yang ada di ledekin nanti,' Allisya meletakkan dagunya di bahu Aris, mencari kenyamanan.
Di UKS, Aris mengambil kotak P3K, mengobati luka Allisya bukan luka hati luka diri.
"Kak Aris ke kelas aja. Aku bisa kok ngobatin ini sendiri," ucap Allisya tak enak hati.
Aris tersenyum tipis. "Gak papa, aku mau nemenin kamu disini sya. Lagian di kelasku sekarang jamkos,"
'Jamkos bukan berarti Daniel berdua sama Luna kan?' tanya Allisya dalam hatinya, perih sekali jika melihat dua manusia lawan jenis itu berdua.
Wajah Allisya berubah sedih. 'Tau aja dulu aku gak perlu nerima. Kalau ujungnya seperti ini, cinta emang bikin sakit. Karena menyatu dengan kata jatuh dan cinta. Siap atau tidak di tinggalkan itulah resikonya. Huh, gak papa, mungkin dia bukan yang terbaik buat aku. Mungkin nanti, ada seorang laki-laki yang tulus dan selalu ada meluangkan waktu untukku,' batin Allisya curhat sendiri. Putus cinta pandai merangkai kata, ah sangat rumit.
Aris melambaikan tangannya di depan wajah Allisya. "Kok diem? Kenapa?"
Dan Allisya bersyukur masih ada Aris.
Allisya menggeleng. "Gak apa-apa," Allisya turun dari ranjang UKS. Mencoba berjalan meskipun masih nyeri. 'Rasa sakit ini aja gak seberapa pas Daniel ninggalin aku tiba-tiba,' gegana melanda Allisya, semenjak putus cinta matahari terasa di tutupi awan mendung yang hujan tapi gak jadi.
Aris membantu Allisya. Tangan mungil itu ia genggam.
"Mau ke kelas ya? Aku anterin," Aris perhatian, sangat di sayangkan jika cowok sepertinya di sia-siakan apalagi di tinggalkan. Saat pergi menyesal dan meratapi kesalahan.
Allisya mengangguk. "Iya, makasih ya kak,"
Dan kelas Allisya tampak heboh saat Aris mengantarkan tuan putrinya 11 Ips 1 dengan selamat. Termasuk bu Yeti.
"Aris? Allisya kenapa?" tanya bu Yeti khawatir. Ia menunda penjelasan pelajaran Ekonomi sebentar.
"Allisya tadi jatuh bu. Saya bawa ke UKS dulu ngobatin lukanya,"
Bu Yeti menghampiri Allisya. "Kamu gak papa kan nak? Masih sakit?"
Tak perlu sedih, masih ada banyak yang perhatian dan peduli. Allisya senang.
"Udah mendingan kok bu,"
"Aris, anterin Allisya ke bangkunya yah," pinta bu Yeti, Aris mengiyakan. Ini adalah princess-nya, di jaga dan di kawal.
Kaila masih melongo dan tak percaya. "Gue masih hidup kan la?" tanyanya pada Aqila.
Dengan malas Aqila menjawab. "Gak, lo antara hidup dan mat-" karena Kaila kesal membungkam mulut Aqila. "Ssstt, kecilin suara lo. Lagi nonton drakor di depan mata nih la,"
Aqila menyingkirkan tangan Kaila. "Serba salah,"
"Aku ke kelas ya sya? Nanti istirahat disini aja. Gak usah ke kantin kalau kakinya sakit," ucapan Aris membuat seisi kelas menjerit baper. Mereka berkhayal bisa mempunyai pujaan hati se-baik dan pekanya seperti Aris.
"Jangan bolos, jangan ikutan geng lagi," Allisya khawatir, geng biasanya melibatkan tawuran. Allisya tidak mau hal itu terjadi pada Aris.
"Siap bu Bos," sebelum pergi Aris membenarkan rambut Allisya yang menutupi sebaian wajahnya. "Nah kalau gini kan cantik,"
__ADS_1
"Kenapa ya cowok selalu bilang cantik," Kaila berpikir jernih. Entah menemukan titik terangnya atau tidak.
"Ya karena dia suka lah, mana ada cowok bilang cantik tanpa ada alasannya," sungut Aqila kesal, pengalaman cintanya se-pahit asam.
"Siapa yang ngomong gitu? Sini, hadapin gue dulu," ucap Aris bikin para cewek di kelas itu baper lagi.
Aqila kikuk. Ia diam tak berani menyebutkan mantannya itu. 'Duh, kak Aris bisa aja. Allisya beruntung banget bisa dapetin kak Aris,'
"Kalau ketemu, nanti gue kasih pelajaran yang-"
Allisya memegang tangan Aris. "Jangan berantem, aku gak suka,"
Demi Allisya-nya, Aris menurut. "Iya, sya. Aku balik dulu ya?"
Bu Yeti masih memandangi drama layar lebar anak remaja, hatinya terbawa suasana.
'Romantis banget sih Aris. Andai aja suamiku juga gitu, gak sibuk sama laptopnya terus. Sayang aku apa laptop? Laptop lah,' batin bu Yeti kesal.
Di kelas 12 Ipa 1 yang jamkos itu, ada yang belajar, baca buku, bernyanyi, bercertia dongeng si kancil, dan bermain ABC lima dasar pada masa kecil.
Berbeda dengan Daniel dan Luna. Daniel bosan, Luna bercerita tentang K-Pop yang tak ada ujungnya.
'Kenapa sama Luna gampang bosen ya? Kalau sama Allisya gak,' Daniel mulai membandingkan dua cewek yang ia sukai.
"Niel, nanti kita makan di kafe aja ya? Aku bosen tau di kantin terus. Makanannya itu-itu aja," pinta Luna setelah bercerita panjang lebar kali alas dan tinggi.
"Gak usah Lun. Nanti kita telat masuk lagi, aku gak mau kalau gerbangnya di tutup dan gak di bolehin masuk sama satpamnya," Daniel menolak halus, tanpa menyakiti hati Luna tentunya.
"Tapi aku alergi tau makan jajan yang gak sehat di kantin. Kemarin aja wajahku ada yang merah-merah," Luna mencari-cari alasan. Kalau saja ada Kaila mungkin sandal swallow sebelah sudah melayang beserta penggorengan dan panci.
"Ya udah. Kita ke perpus aja,"
"Gak! Aku gak suka baca buku niel. Bosenn!" sentak Luna marah, yang tadinya kelas ricuh menjadi damai. Mendengarkan ocehan Luna.
"Luna kenapa sih?"
"Gak tau. Manja banget,"
"Mending Allisya daripada tuh cewek,"
Arif sampai berdecak kagum. "Duh ris, sejak kapan lo rajin belajar gini?"
"Biarin aja rif. Aris pingin kuliah di luar negeri," Javas tau Aris belajar keras demi permintaan orang tuanya.
"Kalian gak belajar juga?"
"Gak ah. Ujian masih lama juga," Arif memunggu waktunya, masih lama mending santai.
"Gak, di rumah aja deh ris. Lagian disini rame, gue gak kosentrasi," adakah yang belajar harus sepi dan baru masuk ilmunya? Javas salah satunya.
Bel istirahat berbunyi. Sesuai janji yang Aris ucapkan, ia ke kelas Allisya. Arif dan Javas ikut saja.
"Rif, beliin nasi goreng buat Allisya," titah Aris. Arif masih belum faham. "Uangnya mana?" Arif menjaga ketat keuangannya.
"Pakai uang lo lah. Cuman goceng aja masa gak ada?"
"Iya iya,"
"Guys gue ke kantin ya? Takutnya ada yang borong roti salju gue," pamit Kaila. Hanya Javas yang menyahutinya.
"Iya,"
"Masih sakit?" Aris duduk di tempat Kaila.
Allisha menggeleng. "Gak. Gimana kak jamkosnya? Seru ya?" Allisya hanya ingin tau bagaimana kondisi kelas Daniel.
"Seru sih. Tapi aku lebih belajar aja sya buat ujian,"
Bagaimana dengan Daniel? Apa saja yang cowok itu bicarakan dengan Luna?
'Ngapain sih mikirin Daniel terus,' Allisya menggeleng, enyahlah pikiran mantan itu.
Di kantin, Arif dan Kaila bertemu.
__ADS_1
"Eh ada kak Arif. Tumben ke kantin?"
"Tadi kan di suruh Aris,"
Kaila pelupa. "Iya juga sih. Beli apa?"
"Nasi goreng buat Allisya,"
"Aku gak mau ke perpus niel! Dengerin aku dulu!" teriak Luna menarik perhatian seisi kantin.
"Gue duluan ya?" Arif tak mau di puji oleh Aris terlambat satu detik saja.
Sekarang Kaila memperhatikan Luna dan Daniel. Dua manusia lawan jenis itu menuju ke perpustakaan.
"Cerewet banget sih tuh cewek. Untung aja Allisya di kelas gak ke kantin," Kaila kembali mengambil 5 roti salju lagi.
Di kelas, Aris menyuapi Allisya.
Aqila seperti patung pajangan. 'Duh si Kaila kok lama banget sih? Gue jadi gak ada temennya kan,'
Dan Javas menatapnya, tentu saja membuat Aqila salah tingkah.
'Kak Javas kok ngeliatin gue terus ya?' baru kali ini Aqila di tatap lekat oleh cowok, tapi berbeda. Ada ketulusan disana.
"Kamu gak ke kantin? Gak laper emangnya?" tanya Javas perhatian.
"E-hehe. Uang sakunya ketinggalan kak,"
"Kenapa gak bilang daritadi? Ayo ke kantin, sepuluh menit lagi bel masuk," istriahat 15 menit memang tak cukup bagi para siswa, mintanya 2 jam.
Aqila tak bisa menolak.
Sekarang Arif yang jadi patungnya. 'Haduh Javas kenapa sih ngajak cewek itu? Gue jadi pajangan kan?'
"Kaila yang cantik ini telah datang. Sambutlah kedatanganku!" teriak Kaila, roti salju 10 sudah aman di tangannya.
"Duh berisik banget!"
"Pergi sono!"
Kaila cemberut. "Kalian tega banget sih,"
Kaila menghampiri Allisya yang tengah tersipu di gombalin Aris.
"Kamu tau gak perbandingan matahari sama kamu?" Aris tak pandi gombal.
"Apa?" Allisya polos, untung saja Daniel tidak menggombali.
"Kalau matahari menerangi Bumi, kamu hati aku,"
Kaila tersedak. "Uhuhuk. Ambilin air!" titahnya entah pada siapa.
Arif menyodorkan minuman milik Allisya yang belum terbuka. "Makanya gak usah berkhayal lo!"
'Kak Arif ngegas banget sih. Beda sama kak Javas,' batin Kaila kesal.
"Eh, Aqila mana?" Kaila baru sadar partner seumur hidupnya itu tidak ada di kelas.
"Aqila ke kantin sama kak Javas," jawab Allisya.
"Apa?!" Kaila terduduk di lantai. "Sesak hatiku, hancurnya perasannku. Pupus sudah harapanku, bagai debu yang berterbangan. Luka hati luka diri, kemana...akan ku bawa..," Kaila bernyayi dangdut, wajahnya galau. Tangannya kesana-kemari.
"Haha, derita lo!" Arif tertawa paling lepas.
"Ish, nyaut aja!"
"Jangan berantem. Awas cinta," celetuk Allisya, Kaila mendengus kesal.
"Gak akan!" ujar keduanya kompak.
"Ciee," seisi kelas menyoraki Kaila dan Arif, siapa tau nantinya jadian.
...🍒 🍒 🍒...
__ADS_1
...Next chapter coming soon 》 》 》...