
Allisya tidak bisa tidur, entah kenapa badannya tidak enak.
"Masa iya aku sakit? Kan gak salah makan," ucapnya. Pola makannya selalu di perhatikan sang mama dan Aris jika di sekolah.
Pandangannya berkunang-kunang. Allisya duduk, memijat pangkal hidungnya.
"Huh, pusing banget. Mana sih minyak telonnya?" Allisya berjalan sempoyongan menuju laci lemarinya.
"Sshh. Gak kuat, apa aku harus panggil mama?"
"Gak deh. Nanti mama ke ganggu lagi sama aku. Shh, aku gak kuat," mata Allisya terpejam, ia pingsan.
...🍒🍒🍒...
"Allisya! Ayo sarapan nak," Inez mengetuk pintu kamar Allisya.
Tak ada sahutan.
Inez membuka pintunya. Ia terkejut melihat Allisya tidur di lantai.
"Allisya! Kok tidur di lantai sih sayang. Ayo bangun, gak sekolah kamu?" Inez menepuk pipi Allisya beberapa kali, tapi anaknya itu tak bangun juga.
Inez panik. "Nak! Bangun! Sayang," Inez memapah tubuh Allisya di kasur.
"Sayang?" Inez mengecek dahi Allisya, tidak panas.
"Gak sakit. Apa asam lambungnya kambuh lagi ya?" Inez menghubungi Allister, suaminya itu masih kerja dan akan pulang jam 7 pagi.
"Mas, cepetan pulang. Allisya pingsan nih," ucap Inez saat teleponnya tersambung.
"Pasti minyak telonnya hilang entah kemana. Duh sya, ada-ada aja naruhnya gak di inget dulu. Jadi pingsan kan," gerutu Inez mencari minyak telon di laci lemari, nihil.
Di kantor, Allister terburu-buru ingin pulang. Satu jam lagi akan meeting, tapi kali ini ia tidak hadir di rapat itu.
'Kenapa bisa pingsan? Pola makannya nih salah,' batin Allister.
Langkahnya menuju parkiran, mobil sedan hitam itu milik Allister. Ia mengendarainya dengan mengebut. Semoga Allisya baik-baik saja.
Di rumah, Allisya sudah sadar setelah Inez mengolesi minyak telon yang akhirnya ketemu di kolong meja.
"Kamu gak papa kan sya? Kok bisa pingsan? Apa kurang makan?" tanya Inez khawatir. Apalagi wajah Allisya pucat dan suhu badannya dingin.
Allisya tak menjawab.
'Gigiku sakit banget. Pasti semalem lupa gak sikat gigi,' batinnya mengeluh. Ia tak bisa makan apa-apa selain sesuap nasi dan seteguk air.
"Sya? Kita ke rumah sakit aja ya?"
Allisya menggeleng. "Gak usah ma. Lagian hari ini kan ada ulangan," Allisya melangkah ke kamar mandi.
"Tapi mama tadi udah telepon ayah loh," entah bagaimana ekspresi suaminya saat tau Allisya pingsan, mungkin sekarang ngebut di jalan.
Langkah Allisya terhenti. Apa? Menelepon ayah?
"Ma, gimana kalau ayah-"
"Allisya! Bangun nak!" Allister datang tergopoh-gopoh apalagi Inez meneleponnya.
"Mas, tuh Allisya udah sadar," Inez menunjuk Allisya yang tersenyum kikuk.
"Apa prank ayah? Gak lucu ah," Allister melangkah pergi dengan hati yang greget.
"Mama mau gombalin ayah dulu ya? Jangan lupa sarapan," Inez menyusul Allister, ngambek lagi.
Allisya terkekeh. "Sshh aduh sakit banget gigiku," Allisya memegangi pipi kanannya. Lihat saja di sekolah nanti ia lebih banyak diamnya.
...🍒🍒🍒...
__ADS_1
Di sekolah, Allisya berjalan dengan lunglai. Kepala pusing, sakit gigi, dan tamu.
Sampai di kelas pun, Allisya diam meskipun Kaila menawarinya seblak dan Aqila menunjukkan foto cogan sekolah tetangga.
"Sya? Kok diem aja? Sariawan?" tanya Kaila perhatian dan peka.
Allisya menggeleng.
"Apa? Kita gak tau sya. Bukan peramal," sahut Aqila gemas.
"Apa gigi lo copot sya?" tebak Kaila sembarangan.
"Hush! Kai, ya gak lah. Itu kan lo yang kebanyakan makan manis-manis," Aqila kembali menatap Allisya, wajahnya sedih, tak bersemangat.
"Gimana kalau kita samperin kak Aris dulu? Siapa tau Allisya jadi semangat?" Aqila mengusulkan ide cemerlangnya.
Kaila mengangguk. "Ya udah. Lo aja sana, gue tiba-tiba pegel nih. Sshh aduh, gak ada apa yang mau pijetin kaki gue?"
Kaila mulai beralasan lagi.
"Ok. Kalau kak Aris ngasih coklat, lo jangan minta. Bye!" Aqila berlalu pergi, salah sendiri banyak alasan.
"La! Jangan gitu dong! Gue juga mau coklat!" Kaila menyusul Aqila.
Allisya sendirian di kelas. Tapi ada beberapa orang yang datang.
'Kapan ya sembuhnya? Huh, kalau gini mana bisa makan yang pedes-pedes. Huwaaa! Pingin nangis di kira cengeng,' batinnya menjerit kesakitan.
Sedangkan Aqila dan Kaila memanggil Aris yang menikmati musiknya. Tapi cowok itu tak mendengarnya.
"Kak Javas! Tarik aja tuh earphonenya kak Aris. Penting nih," ucap Kaila tak sabaran.
Javas menoleh melirik jendela yang menampakkan wajah Kaila.
"Lah mana gue tau," Javas mengedikkan bahu.
Aris yang merasa namanya di panggil pun menoleh. Kaila, mungkin ada perlu.
Aris menghampiri Kaila yang ada di luar kelas itu.
"Ada apa?"
"Astaga! Bikin kaget aja kak," Kaila terkejut. Aqila biasa saja.
"Allisya sakit kak. Kakak beli-"
Aris berlari menuju kelaa Allisya. Ada apalagi dengan kekasihnya itu?
Aqila terkekeh. "Kai, mingkem. Awas ada lalat," ia mendapat tatapan tajam dari Kaila.
"Bawel!"
Di kelas Allisya, Aris mengecek dahinya tapi normal.
Allisya tidur. Aris ingin memandanginya lebih lama.
"Yang jomblo minggir aja deh!"
"Beruntung banget ya Allisya dapat kak Aris?"
"Iya, daripada mantannya itu. Malah pilih cewek lain!"
Allisya yang merasakan usapan di dahinya pun terasa. Saat matanya terbuka, Aris tersenyum manis.
"Eh? Kak Aris? Ngapain disini?" tanya Allisya bingung.
"Tadi Kaila sama Aqila bilang kamu sakit. Aku kesini deh. Di kelas bosen," andai saja ia sekelas dengan Allisya, sudah di jamin betah sekolahnya. Sayangnya beberapa bulan akan lulus. Waktu begitu cepat.
__ADS_1
"Kak boleh gak aku pinjem tangannya?" pinta Allisya dengan sedih, ada maksud tersembunyi di balik itu.
Aris mengangguk. "Iya. Silahkan sya. Emang buat ap-a" Aris masih deg-degan ketika Allisya menempelkan tangannya di pipi gembul itu.
"Sya? Tangaku wangi ya?"
"Sakittt!" erang Allisya kesakitan. Tangan Aris aja tak cukup membuat sakit giginya menghilang.
"Sakit apanya?"
Allisya diam.
"Sakit apa sya? Ayo ke UKS. Atau pulang aja?"
"Allisya masih diam.
Aris gemas. Kenapa cewek selalu diam di tanya kenapa selain gak papa?
"Sya? Aku gendong ya?"
'Mauuu banget!' batinnya menjerit baper.
Aris pun menggendong Allisya ke UKS.
Allisya hanya memandangi wajah Aris yang begitu tampan.
'Kenapa dulu gue sia-siakan kak Aris ya? Malah pilih Daniel?' batinnya. Aris begitu perhatian sekarang.
Di UKS, PMR yang berjaga pun di suruh pergi oleh Aris.
"Kok di usir kak? Biar aku ada temen ngobrolnya," mengobrol dengan Aris mungkin akan canggung.
"Sakit apa?" tanya Aris langsung pada intinya.
"Ini," Allisya menunjuk pipinya.
Aris tak mengerti. "Sakit pipi?"
"Masa kak Aris gak tau sih?" Allisya mulai ngambek.
"Apa? Kalau sakit pipi aku elus aja biar sembuh," Aris menyentuh pipi Allisya. Tapi cewek itu menyingkirkan tangannya.
"Kenapa? Katanya sakit pipi," Aris tetap tidak mengerti.
Ingin Allisya berteriak jika dirinya sakit gigi, bukan pipi!
"Gak papa," jawabnya jutek.
"Hm, sakit apa ya?" Aris mencoba berpikir.
Nah! Sekarang ia tau Allisya sakit apa.
"Sariawan?" tebaknya salah.
"Sakit gigi kak!" jawab Allisya gemas. "Ngerti kan?"
Aris tersenyum. "Maaf, aku gak tau. Masih sakit ya?"
"Gak papa," Allisya menahan rasa sakit itu dalam diam.
"Astaga. Gak papa lagi. Duh bikin gemas aja deh sya. Jadi kalau bikin anak terserah aku aja?" sekarang Aris menggoda Allisya.
"Apa sih kak! Gak gitu juga!" Allisya memukul bahu Aris kesal.
Aris hanya terkekeh. "Makannya jangan jawab gak papa. Apalagi terserah aja. Jangan lupa nanti ke dokter ya? Biar sembuh," Aris mengusap pipi Allisya pelan.
Senang? Iya, meskipun Aris tidak se-peka Daniel, tapi Aris membuatnya senang. Berbeda dengan Daniel yang ujung-ujungnya pasti di marahi.
__ADS_1
...🍒🍒🍒...