
"Apa? Javas sekarang ada di rumah sakit? Ok ok, makasih banget kabarnya," Gavin tersenyum miring. Ia mendapat telepon dari orang terdekat, dan diantara Aris.
"Kenapa gue baru tau sekarang kalau Javas sekarat? Haha, gue terlalu fokus buat kabur."
"Javas, ucapkan selamat tinggal pada dunia," Gavin tersenyum penuh arti. Ia punya rencana cemerlang untuk mencelakai Javas.
"Dan kekalahan geng gue, bukan berarti kebahagiaan buat geng lo Aris," hati Gavin merasa tak terima, Aris bermain curang dengan membawa pasukan banyak demi mengalahkan jumlah dan melumpuhkan pasukannya.
...πππ...
"Rif, lo pulang aja. Biar gue aja yang jagain Javas. Ris, lo juga. Pasti bokap lo nyariin. Biarin aja Javas sekarang jadi tanggung jawab gue," ucap Gibran mantap.
"Titip ya? Gue juga udah ngantuk banget nih. Pingin peluk bantal sama guling," Arif menguap setelahnya, menunggu Javas sadar akhir-akhir ini membuat punggungnya terasa pegal.
"Ok. Hati-hati."
"Jangan tidur lama-lama. Lo juga harus jagain Javas baik-baik bang," tambah Aris, takutnya ada apa-apa mengenai hanya Gibran yang menjaga Javas.
Gibran mengangguk. "Pasti."
...πππ...
Dengan segala taktik curang, Gavin membayar pihak rumah sakit dengan uang agar aksinya nanti tak di pergoki apalagi di laporkan.
"Terima kasih banyak tuan sangatlah baik. Semuanya akan berjalan dengan lancar," ujar sang suster.
"Ok, tapi kasih tau ke semua rekan kerjamu juga. Kalau gak, uangnya aku ambil lagi," ancam Gavin menusuk. Suster itu seketika
"Pasti tuan. Percaya sama saya," suster itu meyakinkan Gavin, jangan sampai uangnya di tarik kembali oleh Gavin. Mengenai ceknya sampai milyaran rupiah.
'Gue jadi gak sabar melihat Javas pergi selama-lamanya,' batin Gavin.
Tepat pukul 10 malam, Gavin yang sudah memantau dari CCTV dimana Javas sedang di rawat. Dan ada Gibran tertidur pulas di kursi. Saatnya beraksi.
Langkah Gavin menuju ruangan Javas yang sedang di rawat. Rencananya sudah tersusun rapi, hanya melaksanakannya saja lalu selesai dan berakhir.
Gavin mendorong pintunya perlahan takut menimbulkan bunyi yang bisa mengusik Gibran yang tengah tertidur.
Tangan Gavin menggapai infus, memotongnya lalu melepas perban yang melilit di kepala Javas sampai darah pun mengucur kembali. Gavin juga merusak alat Elektrokardiograf (EKG)Β atau pendeteksi denyut jantung.
Gavin tersenyum puas, satu lagi. Gavin melepas selang pernafasan yang terhubung dengan hidung Javas.
"Say good bye Javas," Gavin melangkah pergi.
...πππ...
__ADS_1
Jam 11 tepat, Gibran terbangun dari tidurnya karena mendapat panggilan alam. Dengan langkah belari ia menuju ke toilet yang tak jauh dari UGD.
Kondisi Javas saat ini semakin melemah, dahinya terdapat darah yang mengalir lambat, nafasnya cepat.
Setelah menyelesaikan panggilan alamnya, Gibran kembali masuk ke ruang rawat Javas. Matanya terbelalak mendapati kondisi Javas yang memprihatinkan.
Gibran berlari mencari dokter, suaranya berteriak memanggil sang dokter untuk menolong Javas.
...πππ...
Setelah beberapa jam Javas di tangani oleh dokter, keadaannya sedikit membaik.
"Seharusnya kamu tidak terlambat satu jam, tapi tidak apa-apa. Pasien hanya kekurangan cairan dan sesak nafas. Saya permisi dulu," sang dokter pergi.
Gibran menghela nafasnya, menatap Javas nanar. Ini salahnya, seharusnya tak perlu tidur meskipun hanha sedetik pun.
"Berarti gue telah melewatkan sebuah peristiwa. Gue harus tau pelakunya siapa. Dengan cara meminta rekaman CCTV oleh pihak rumah sakit ini, gue akan tau dia siapa."
...πππ...
Gibran berusaha mencari rekaman CCTV, namun pihak rumah sakit tak mengizinkannya.
Gibran putus asa, ia hanya duduk dan melamun.
"Gibran? Kok kamu gak di dalem? Kenapa?" tanya Aqila, sepulang sekolah selalu ke rumah sakit melihat keadaan Javas.
"Bukan salah lo kok Gib, gue ngerti. Pasti ada yang gak puas dengan semua ini, makannya dia jadikan kak Javas sebagai target utamanya. Oh ya, ini gue bawain makanan sekalian buat lo. Makasih banyak ya udah mau jagain Javas?"
Gibran menerima kantung plastik itu, dari aromanya saja sudah bikin doyan makan. Ah, Javas beruntung mendapatkan cewek se-perhatian ini yaitu Aqila.
"Makasih ya la?"
"Sama-sama," lalu Aqila masuk ke dalam, hatinya begitu rindu dengan Javas.
Aqila duduk, memandangi wajah pucat pasi itu.
"Sebenarnya aku belum mencintai kak Javas, tapi sekarang aku baru menyadari bahwa cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Maafin aku kak, aku baru balas perasaan kakak," Aqila menggenggam jemari Javas yang begitu dingin dulu tangan itu menghangatkannya menyalurkan perasaan nyaman dan tenang.
"Kak Javas, bangun."
"Bangun kak, demi aku dan semuanya."
Aqila kembali menangis, tanpa ia sadari Javas juga menitikkan air mata.
...πππ...
__ADS_1
Hal itu Gibran laporkan pada Aris dan semua anggota geng-nya. Javas saat ini bersama dengan Arif, Aqila dan Kaila.
Di markas, Gibran juga meminta maaf karena sudah lalai menjaga Javas.
"Tunggu," sela Rio saat Gibran masih berbicara.
Semua menatapnya penasaran.
"Kenapa yo?"
"Kayaknya ada yang janggal disini," pungkas Rio serius, otaknya menemukan suatu hal.
"Janggal? Maksud lo?" tanya Aris heran.
"Gibran kan minta rekaman CCTV ke pihak rumah sakit. Anehnya itu disini, kenapa mereka gak mau nyerahin aja? Malah nolak? Pasti ada yang di sembunyiin. Gue tau, pasti mereka juga udah tau kejadian ini. Apa mungkin semua ini di rencanakan?"
"Di rencanakan? Ada pihak pertama gitu?" Gibran mulai menangkap apa yang di sampaikan Rio, penuh teka-teki.
Aris mengangguk. "Dan uang, pasti dia yang bayar pihak rumah sakit untuk diam dan bersikap gak terjadi apa-apa. Tega banget ya, pasiennya lagi ada bahaya mereka malah terlena sama uang," Aris menggeleng miris, semuanya akan selesai dengan harta.
"Itu yang gue duga ris. Ck, gak jauh-jauh lah sama musuh kita. Siapa lagi kalau bukan Gavin?" Rio menuduh si ketua kejam itu, Gavin tak pernah kapok.
"Gavin? Gue juga yakin sih, dia itu cuman mau kemenangan doang. Biar apa? Ya geng-nya semakin berjaya dan besar lah," sahut Gibran kesal.
"Bukti juga susah di dapat. Kita harus melakukan apa biar Gavin itu nyerah?" tanya Aris putus asa, ketua itu selalu saja memancing emosi.
"Intinya satu, kita jangan lengah. Kalau gak mau Gavin berhasil mencelakai salah satu dari kita," ujar Rio si otak cerdas, tak ada salahnya Gibran menjadikan wakil sekaligus bendahara. Kerja Rio sangat sempurna.
Semuanya mengangguk.
Suara adzan ashar berkumandang.
"Eh, sholat dulu yuk? Sekalian doain Javas terus biar kumpul lagi sama kita."
"Untung aja ya kita punya musholla sendiri, jadi gak perlu ke masjid yang jaraknya jauh darisini."
"Semua ini berkat Rio yang pandai mengatur keuangan," ujar Gibran, ia bangga pada Rio.
Rio hanya terkekeh. "Biasa aja toh. Yo wes lah, ayo sembayang." (Ya udah, ayo sholat).
...πππ...
Intinya romantis aja lah, biarin bucin langgeng terus aaminn.
3:55 sore.
__ADS_1
Sampai jumpa-