Married With The Badboy

Married With The Badboy
34. Pensi


__ADS_3

Setelah berkutat dengan pelajaran matematika yang berhasil membuat pusingnya seperti dia yang gak peka-peka berakhir sudah di susul bel istirahat yang menggema merdu.


Kaila menguap. Ia terbangun dari tidur lamanya. "Istirahat ya? Kok gue gak di bangunin? Kalian tega banget, mau gue kelaparan?" Kaila menatap sedih Aqila dan Allisya yang sudah beranjak dari duduknya.


"Makannya kalau pas jamkos jangan tidur, baca novel atau kerjain tugas dari guru kek. Dasar putri salju," umpat Aqila terlanjur sayang tapi kesal. Cie.


Kaila dengan malas beranjak dari duduknya.


"Kantin yuk. Pingin makan banyak-banyak," Kaila mengusap perutnya yang mulai keroncongan itu.


"Allisya tumben ikut ke kantin? Hm, sekarang gak ada yang nemenin makan. Adanya cuman kita doang," celetuk Kaila, lagipula tanpa Allisya itu seperti cinta tanpa manis, kebiasaan coklat sih.


Allisya tersenyum tipis. "Ya gak papa kalau sama kalian. Lagian kak Aris kan sibuk sama kuliah dan kantor ayahnya."


"Enak ya sya hidup lo udah terjamin di jodohin sama kak Aris yang mapan," Kaila sedikit iri, kalau saja dirinya bisa seperti Allisya mendapatkan lelaki pilihan yang baik dan serius menjalin hubungan bukan sekedar status atau kata sayang dan janji bualan saja.


Allisya terkekeh. "Nanti kalian juga bakalan dapat cowok yang baik dan cintanya tulus. Yuk ah ke kantin, daripada galau mikirin cowok?"


Di kantin, Kaila dengan gesitnya menerobos antrian yang sedang berteriak bersahutan ingin cepat-cepat dapat makanannya.


"Sellow dong! Antri! Enak aja main ngeluyur!"


"Kaila! Budayakan antri!


Teriakan tak terima itu membuat Kaila pura-pura tuli asalkan dapat makan lebih dulu beres.


"Bakso pedes gak pakai kebohongan janji ya mak," pesan Kaila membuat cewek-cewek bersorak setuju, tau saja ada yang patah hati.


"Sip! Siap!" Mak Erot menyiapkan bakso untuk Kaila.


"Kaila ya?" sapa seorang cewek memakai bando merah muda.


Kaila mengangguk. "Iya, emang kenapa? Gue cantik banget kan?"


"Dua hari lagi bakalan ada pensi loh. Aku termasuk panitianya, tolong partisipasi teman sekelasmu ya? Udah itu aja yang mau aku omongin ke kamu."


"Nama lo siapa?!" teriak Kaila saat cewek berbando pink itu akan melangkah pergi tapi terhenti, lalu menoleh.


"Bidadari," setelah itu langkahnya berlari kecil, masih ada tugas lain apalagi kesibukan acara ulang tahun sekolah 2 hari lagi.


"Namanya bagus, Bidadari," Kaila bergumam.


...🍒🍒🍒...


Setelah bel istirahat selesai, semuanya memasuki kelas masing-masing ada juga yang masih di kantin menghabiskan makanannya, nanggung nanti mubadzir.


Kaila berdiri tegak di depan, menyaksikan dan mengabsen teman-teman sekelasnya. Kalau sudah lengkap, barulah ia akan menyampaikan pengumuman tentang pensi sekolah dan partisipasi siswa.


"Kaila? Ngapain lo daritadi berdiri disitu? Gak capek apa?" tanya Ria heran.


"Karena semuanya udah lengkap, gue mau menyampaikan suatu hal bahwa pensi di sekolah kita akan di laksanakan 2 hari lagi. Mungkin untuk persembahan anak MOS atau gak ulang tahun sekolah. Kalian juga harus ikut berpartisipasi, entah ngisi nyanyi, puisi, atau drama. Kayak tahun kemarin," jelas Kaila.


"Kalau pantun?"


"Masak bisa?"


"Beladiri gimana? Kan ada tahun kemarin?"


"Nanti gue tanyain lagi sama Bidadari. Ayo siapa aja yang mau join?"


"Gue!" Dia mengangkat tangannya.


Lalu Aqila, Ria.


"Sya? Lo gak ikut?" tanya Aqila heran, Allisya akan berbakat dengan puisi andalannya.


Allisya menggeleng. "Gak. Lebih baik jadi penonton aja la. Malu ah tampil di depan, apalagi di liatin banyak orang."


Aqila menggeleng miris. "Jangan malu, lo percaya diri aja. Semua pusi buatan lo itu bagus sya, pasti di apresiasi semua orang."


"Gak usah la. Aku udah jarang bikin pusi, aku lebih sering nulis diary," suara Allisya lirih, aksara yang menjadi satu dengan suasana berbeda-beda membuat hatinya sedikit lega.

__ADS_1


"Kalau masalah lo lebih berat, curhat aja ke gue atau Kaila. Kita berdua siap kok dengerin keluh kesah lo," Aqila tersenyum tipis.


Allisya mengangguk. "Makasih la."


"Sama-sama."


...🍒🍒🍒...


Akhirnya 2 hari itu telah tiba, segala persiapan dari beberapa siswa yang berpartisipasi berlatih di belakang panggung pensi dengan serius.


Kaila menemani Allisya ke kantin lebih dulu agar nanti tak perlu menunggu kepastian membeli jajan karena antri.


"Aqila beneran ikut beladiri kai?" tanya Allisya heran.


Kaila mengangguk. "Iya semangat banget sya. Tau sendiri kan Kaila suka beladiri silat?"


"Beli nasi bungkus sama roti aja kai. Jangan banyak-banyak makanannya," tegur Allisya saat Kaila mengambil 4 chiki seribuan.


Kaila berdecak kesal. "Lagian gak gue makan semuanya sya, sebagian bawa pulang ke rumah. Gak ada camilan."


"Yuk kesana, pilih di depan aja gak kai biar bisa lihat lebih jelas?"


"Boleh juga tuh. Yuk!"


Pensi ulang tahun sekolah kali ini lebih meriah dari sebelumnya.


Aqila terkejut saat ada kehadiran Aris, Javas juga Arif. Seriusan itu mereka?


Aqila menepuk bahu Javas. "Kok kalian ada disini? Bukannya lagi kuliah atau kerja ya?"


Javas tersenyum melihat kehadiran Aqila, sudah lama ia merindukan gadis memakai jepit merah muda itu.


"Kamu apa kabar?" tanya Aqila ragu. Javas jarang memberikan kabar dari chat atau telepon.


Javas mengangguk. "Baik, maaf ya jarang kabarin kamu? Aku lagi fokus kuliah. Tapi aku usahain meluangkan waktu meskipun sebentar buat kamu."


Hati Aqila terasa tenang, kalau ada si penyemangat ia akan tampil lebih percaya diri lagi di atas panggung pensi 15 menit ke depan.


"Kayaknya sama Kaila kak, paling juga ke kantin dan sekarang nyari tempat duduk di depan," jawab Aqila sudah hafal kebiasaan kedua sahabatnya saat acara pensi.


"Oh, bagus deh. Jadi nanti aku bisa liat Allisya," Aris tersenyum manis mengalahkan coklat tak semanis senyumanmu yang lagi baca.


"Emang kak Aris mau ngapain di acara pensi ini?" Aqila ingin tau saja, pasti tidak jauh dari menyanyi mengenai Aris pastinya akan mengungkapkan perasaan cintanya kepada Allisya melalui sebuah lagu.


"Liat aja nanti. Semangat ya la, kamu ikut apa?"


"Beladiri," jawabnya semangat, sudah lama ia tak menekuni kemampuannya itu.


Arif berdecak kagum. "Woah! Bagus banget ikut beladiri. Kalau Kaila?"


Aqila menggeleng. "Kaila gak ikut apa-apa. Males tampil di panggung."


"Aku siap-siap dulu ya? Sebentar lagi bakalan tampil," pamit Aqila.


...🍒🍒🍒...


Tibalah pensi ulang tahun sekolah dimulai. Siswa yang berpartisipasi menyalurkan bakatnya dari puisi, teater, beladiri sampai menyanyi pun menampilkan bakatnya dengan baik.


Saat peserta menyanyi terakhir itu selesai, Aris menaiki panggung. Kejutan untuk Allisya.


Sahutan sorak sorai dari para siswa yang antusias dengan kehadiran Aris angkatan lulus baru aaja itu semakin tampan dan cool.


Allisya masih menikmati es tehnya, matanya terpejam karena rasa manis itu memperbaiki mood-nya.


"Sya! Itu kak Aris calon suami lo tampil! Kayaknya mau nyanyi sya!" seru Aqila heboh, Allisya tersedak.


"Ha? Mana kak Aris?"


"Tuh," Aqila menunjuk Aris yang sudah siap dengan gitarnya.


"Saya disini akan menyanyikan sebuah lagu. Semoga kalian bisa suka. Ehm," Aris berdehem memperbaiki suara seraknya, kan gak enak nyanyi di depan semuanya fals.

__ADS_1


Aris memetik kunci gitarnya. Lagu kali ini memang sedikit sedih, mengenai akhir-akhir sejak dulu Daniel selalu menjadi penghalang dalam hubungannya dengan Allisya.


Andai aku bisa


Memutar kembali


Waktu yang telah berjalan


'Tuk kembali bersama


Di dirimu selamanya


Bukan maksud aku


Membawa dirimu


Masuk terlalu jauh


Ke dalam kisah cinta


Yang tak mungkin


Terjadi


Dan aku tak punya hati untuk menyakiti dirimu


Dan aku tak punya hati 'tuk mencintai


Dirimu yang selalu mencintai diriku


Walau kau tahu diriku masih bersamanya


Dan aku tak punya hati untuk menyakiti dirimu


Dan aku tak punya hati 'tuk mencintai


Dirimu yang selalu mencintai diriku


Walau kau tahu diriku masih bersamanya


Walaupun kau tahu


Kau tahu diriku


Masih bersamanya


"Tapi sekarang aku akan bersamamu sampai jumpa di penghulu dan pelaminan nanti Allisya Lesham Shaenette," Aris tersenyum tipis. Pandangannya menelisik sekeliling, sampai ia menemukan Allisya yang memandangnya haru.


"Love you," tanpa suara Aris bisa mendengar ungkapan perasaan Allisya.


"Love you too Allisya."


"Aaa! Aku kok jadi baper!"


"Beruntung banget sih Allisya bisa dapetin kak Aris?!"


"Buat aku aja deh."


Kaila menoel pipi Allisya. "Ciee yang di nyanyiin doi."


"Aamiinn aja deh. Asalkan lo bahagia sya," ucap Aqila mendoakan.


"Iya aamiinn, makasih ya la doanya."


"Sama-sama."


...🍒🍒🍒...


Aku bingung bagaimana melindungimu dari mantra, sampai lantunan doaku hanya menyembuhkanmu sementara. Jauhkanlah kami dari mantra dan bahaya buruk ya Allah. Aamiinn ya robbal alamin.


6:27 pagi

__ADS_1


Mohon doanya ya para pembacaku? Terima kasih, semoga kalian juga di berikan kesehatan dan lindungan Allah SWT.


__ADS_2