Married With The Badboy

Married With The Badboy
50. Jamkos


__ADS_3

Hari ini kelas 12 Ips 2 sedang mengalami jamkos di pelajaran pertama, apalagi ini adalah matematika. Sungguh moment yang sangat teristimewakan.


Selama jamkos berlangsung ada yang belajar dari tugas yang di berikan guru piket, bernyanyi, nonton drakor di laptop, mengobrol tiada habisnya bagi para cewek atau tidur seharian.


Berbeda dengan Zahra, cewek itu kurang nyaman menjadi pusat perhatian para cowok-cowok di kelasnya apalagi meminta nomor dan alamat rumahnya. Zahra hanya diam tak bersuara.


Alvian memindahkan kursinya agar bisa dekat dengan Allisya. Cowok itu tak mau jauh-jauh dari sahabatnya.


"Loh Al, ngapain lo pindah kesini? Makannya daritadi kok bau parfum bayi," omel Kaila sensi, apalagi parfum Alvian itu bikin kepalanya pusing dan pegangan kamu jika tak ada tiang.


"Heh sembarangan aja parfum bayi, ini aromanya manly cool cowok banget kai. Makannya hidung lo itu jangan di sumbat jadi gak bisa cium kan?"


"Cium? Buat nafas Al! Gimana sih!" Kaila naik darah, gagal faham sudah.


"Udah kok pada berantem sih?" lerai Aqila, telinganya merasa panas mendengar perdebatan keduanya yang tak pernah akur sehari saja.


"Alvian duluan nih!" seru Kaila menunjuk Alvian. Yang menjadi tersangka menyingkirkan tangan itu.


"Gak ada yang ke kantin nih? Lumayan jamkos makan-makan. Gue sumpek di kelas terus," curhat Alvian mulai mengeluarkan keluh kesahnya, matanya melirik Zahra.


Kaila mengangguk setuju. "Mending habisin roti salju banyak-banyak daripada diem-dieman di kelas," kalau sudah soal makanan Kaila akan melangkah paling depan dan maju duluan.


"Jangan kebanyakan makan yang manis-manis. Lo mau sakit gigi huh?" omel Alvian memberikan nasehatnya pada Kaila yang bandel.


"Apaan? Terserah gue dong! Lo siapa ngatur-ngatur-"


Brak!


Dengan setengah dongkol dan kesal Aqila menggebrak mejanya sampai seisi kelas pun akhirnya terdiam dan anteng menatapnya heran dan penuh tanya.


"Berisik kalian berdua! Lama-lama gue comblangin mau? Biar pacaran sekalian," ketenangan Aqila sekali di usik akan mengamuk melebihi macan yang kelaparan, jangan coba-coba kalau tak ingin Aqila mengamuk lagi.


"Ogah!" seru keduanya kompak.


"Cie cie. Kok bisa barengan gitu? Jodoh ya?"


"Gak apa-apa kai sama Alvian, udah ganteng pinter lagi."


"Sama yang deket di hati aja deh daripada yang jauh kan rindu berat kata Dylan."


Para teman-teman sekelas itu mendukung Kaila dengan Alvian bersatu.


"Yuk ke kantin, aku udah selesai kok ngerjain tugas matematikanya," Allisya beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Bawa aja sya bukunya. Nanti ada tangan yang gak bertanggung jawab malah ngambil buku lo buat jadi contekan," ujar Kaila memberikan sarannya, matanya melirik Zahra cewek itu lebih banyak diam tak meladeni para cowok-cowok yang menggodanya. Sangat tumben sekali.


Zahra yang merasa di lirik pun angkat bicara.


"Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu? Oh, ya gue tau karena lo kagum sama kecantikan gue kan? Ngaku aja deh, makannya jangan iri sama orang yang cantik lo itu kan gak-"


"Mulut lo itu perlu gue jepit pake jepitan jemuran biar mingkem selamanya. Semua cewek itu cantik, gak ada yang jelek apalagi bencong! Jangan sombong deh lo, kecantikan gitu doang bangga. Pas udah tua ya bakalan keriputlah," kata-kata pedas dan ketus Kaila itu membuat amarah Zahra bangkit dari permukaannya.


Zahra beranjak dari duduknya, menyingkirkan para cowok-cowok yang mengerumuni tempat duduknya, sekarang mereka sedikit menjauh. Takut menjadi sasaran empuk Zahra.


"Gak usah ngatain gue!" Zahra menarik rambut Kaila.


Aqila dan Alvian berusaha memisahkan, keduanya mengamankan Kaila.


"Jangan main kasar dong! Gitu aja di masukin ke hati!" Aqila berhasil mengamankan Kaila dari jangkauan tangan Zahra yang beringas itu.


"Yah! Kok di pisahin sih?"


"Lagi seru-serunya juga."


"Biarin aja gelud!"


Seruan mendukung bak supporter bola itu merasa kecewa perkelahian antarcewek di hentikan.


"Sini duduk lagi, aku pingin gombalin kamu lagi."


"Neng Zahra mau gak jajan chiki? Aku suapin ya. Aaaa buka dong mulutnya."


Para cowok kurang asupan itu berusaha merayu untuk mendapatkan hati Zahra. Kesempatan itu di gunakan Aqila mengajak Kaila ke kantin.


"Minggir! Gue mau lewat!" Zahra menyingkirkan cowok genit yang menghalangi jalannya. Alvian sudah kabur dengan Allisya dan dua sahabatnya.


Di kantin, Aqila menahan tangan Kaila yang akan mengambil sambal dengan porsi 5 sendok begitu kata Kaila.


"Apa sih la? Gue mau sambel jangan menghalangi tangan gue ini untuk mengambil sebuah olahan-"


"Gak. Gue gak mau lo sakit. Udahlah, kan bisa makan baksonya pake kecap sama saos doang," Aqila cemberut, menasehati Kaila yang bandel itu susah-susah mudah.


Allisya hanya tersenyum melihat interaksi kedua sahabatnya, yang satunya perhatian dan khawatir tapi yang satunya lagi ngeyel dan gak mau nurut.


"Kamu itu udah kayak kakaknya Kaila," Allisya meniup siomay-nya yang masih mengepulkan asap.


"Cocok kakak adik sih," Alvian mengusap dagunya, menatap Aqila dan Kaila secara bergantian.

__ADS_1


Zahra tiba-tiba datang dan langsung duduk di sebelah Alvian hingga membuat Allisya yang tak siap pun akhirnya terjatuh di lantai karena terdorong oleh Zahra yang badannya lebih besar.


"Aww, sakitt tangan aku. Aduh, aww shh yah," Allisya menatap tangannya nanar, berdarah karena tergores serpihan lantai yang berlubang atau lebih tepatnya kurang rapi terpasang dan melekat dengan semen.


"Waduh Allisya! Lo kenapa? Sini, kok bisa jatuh sih?" Kaila membantu Allisya berdiri dan mendudukkannya di kursinya.


Aqila dan Kaila menatap Zahra tajam. Cewek itu benar-benar ya.


"Ngapain lo kesini? Ganggu orang lagi makan aja," sinis Kaila memarahi Zahra yang malah sibuk menyisir rambutnya, bertingkah sok anggun di depan Alvian. Dasar tukang drama! batinnya.


Alvian yang cemas dengan Allisya pun mengecek tangan cewek itu. Meniupnya dan memberikan kehangatan.


"Tangan kamu luka. Ayo ke UKS, di obatin-"


Allisya melepas genggaman Alvian. "Gak usah Al, ini cuman ke gores dikit aja. Nanti juga kering sendiri kok darahnya," Allisya berusaha baik-baik saja, jika ia menunjukkan rasa kesakitannya pasti Alvian akan mengadu pada Aris.


"Allisya, tapi tangan kamu terluka. Dan semua ini-" Alvian melirik Zahra sinis, cewek itu yang bikin Allisya-nya terluka. "Gara-gara lo! Sana pergi! Gue gak akan pernah tertarik sama lo! Dih, naj-"


"Is. Najis, iya kan?" Zahra menyela dengan cepat.


Alvian mengangguk. "Itu lo tau. Pergi sana! Gak usah ganggu hidup gue apalagi Allisya. Jangan coba-coba ya, gue yang akan bikin hidup lo gak tenang," tekan Alvian mengancam.


Zahra beranjak dari duduknya. "Oke, gue pergi. Tapi inget ya, hidup Allisya yang gak akan pernah tenang. Gue bisa jamin itu," langkahnya pergi dengan kaki lebar dan rambut yang tersapu angin membuat para cowok yang duduk di kantin memuji kecantikannya.


Dan tujuan Zahra sekarang adalah menghubungi Luna, mengatakan semuanya tentang kejadian baru saja.


...🍒🍒🍒...


Luna yang sedang memejamkan mata menikmati dinginnya rambut yang sudah di keramasi oleh mbak salon kecantikan pun terganggu saat ponselnya berdering terus-terusan.


Dengan malas Luna mengambil ponselnya di dalam tas selempangnya, nama Zahra membuatnya penasaran. Pasti ada hal penting yang akan di sampaikan cewek itu.


"Iya halo?"


"Alvian bener-bener keterlaluan! Gue di usir sama dia. Cuman jatuh gitu doang semuanya panik sama Allisya. Cewek itu berarti banget sih. Gue jadi susah buat menyingkirkan dia!" Zahra berseru berapi-api, bahkan mengomel cepat membuat Luna bingung mencerna apa yang di sampaikan Zahra ke dalam otak lemotnya.


"Bisa gak sih kalau ngomong di rem dulu? Lo itu kayak emak-emak kompleks aja deh. Baru segitu juga lo ngeluh," Luna kesal dengan cara kerja Zahra yang tak sesuai pemikirannya. Ia kira cewek bule itu akan dengan gampangnya menyingkirkan Allisya, tapi zonk.


...🍒🍒🍒...


Di lanjut part selanjutnya ya. Bakal panjang banget nantinya semangat nulis setelah sekian lama masa pemulihan dari sakit typus.


6:37 pagi.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi-,


__ADS_2