
Di hari minggu ini, Aris mengajak Allisya jogging.
"Lebih seru lagi kalau ada Aqila sama Kaila kak," Allisya tak mau terjebak moment awkard apalagi romantis dengan Aris.
"Gak usah sya. Aku kan pingin sama kamu aja. Udah pernah juga ngajak mereka berdua makan bareng. Kenapa? Takut baper sendirian?" Aris mencolek dagu Allisya, cewek itu berpaling menyembunyikan semburat merah di pipinya.
Allisya menggeleng. "Gak kok, siapa juga yang baper. Kak Aris aja gak gombalin aku."
Duduk di taman setelah lari mengelilingi kompleks rumah, Allisya yang akan membeli es krim mendapat larangan keras dari Aris.
"Sya jangan minum es kalau habis olahraga. Air putih aja ya?"
Allisya menghela nafasnya, jika perhatian Aris demi kesehatannya maka ia akan menurut.
"Kamu disini aja, aku beliin air minum. Jangan beli macem-macem," nasehat Aris.
'Bawel sih, tapi lebih perhatian daripada Daniel. Meskipun kak Aris gak ngelarang aku makan pedes,' batin Allisya, ia tersenyum menatap punggung itu yang menjauh.
Luna memekik senang saat melihat Allisya duduk sendirian.
"Daniel! Itu Allisya kan? Ayo kita samperin. Kasihan dia sendirian," dengan wajah pura-pura antusiasnya Luna akan memulai akting barunya.
Daniel mengangguk. "Yuk," ia juga merindukan cewek berkuncir dua itu.
"Hai Allisya!" sapa Luna ceria.
Allisya seketika merinding mendengar sapaan itu. Matanya juga terkejut saat ada kehadiran Daniel sekaligus yang tepat ada di hadapannya sekarang. Pasokan oksigen Allisya menipis, Daniel semakin tampan saja. Mungkin benar kata pepatahnya cinta mantan setelah putus itu damage-nya menyilaukan hati.
"H-hai. Kalian disini juga ya?" tanya Allisya canggung.
Daniel tersenyum. Tangannya menyingkirkan daun yang jatuh di rambut Allisya.
Mendapatkan usapan lembut dari Daniel membuat hati Allisya menghangat. Rupanya rasa itu masih ada.
"Kenapa niel?" tanya Allisya lirih bahkan terdengar seperti bisikan kecil.
"Ada daun di rambut kamu. Nanti cantiknya hilang," jawab Daniel sekaligus memuji kecantikan Allisya hari ini, cewek itu terlihat sangat natural tanpa polesan make up atau bedak sedikitpun hanya kulit kuning langsatnya saja.
Allisya mengangguk. "Makasih ya niel."
Luna sama sekali tak cemburu karena sebelumnya ini memang rencananya dengan Daniel dari awal yaitu membuat Aris cemburu sekaligus marah.
"Daripada sendirian disini ayo ikut kita berdua. Makan-makan bareng, masa habis jogging cuman duduk doang. Gak laper?" Luna bersikap sok akrab, padahal dalam hatinya ia ingin mengatai Allisya dengan senyuman sok cantiknya itu bisa membuat Daniel pacarnya gagal move on.
"Tapi aku gak mau jadi pengganggu diantara kalian," Allisya sadar diri, mau bagaimana pun Luna itu adalah pacar Daniel sekarang, kehadirannya pasti dianggap sebagai pelakor mungkin.
Luna terkekeh. "Hey, gak kok sya. Ayo," Luna menarik tangan Allisya, membawa ke tempat makan yang dekat dengan taman yaitu kafe.
__ADS_1
Luna memesan spageti dan es teh.
Luna mengernyit melihat Allisya hanya diam tanpa berbicara sedikit pun. Cewek itu kenapa?
"Sya? Gak pesen makanan?"
Allisya menatap Luna kikuk. "Ha? Iya juga ya hehe. Aku mau makan-"
"Menu yang sehat aja Lun, jangan kasih pedes-pedes nanti Allisya sakit," sela Daniel cepat.
Allisya mendesah kecewa. "Huh. Pedes aja ya Luna? Aku bosen makan yang itu-itu aja. Plesee," Allisya menyatukan kedua tangannya dengan binar mata yang semakin imut dimata siapapun.
Luna mengangguk. "Niel biarin aja Allisya makan pedes, lagian level pedesnya gak terlalu kok."
Allisya bersorak senang. "Yes! Makasih ya Luna?"
Luna mengangguk dengan senyumannya. Allisya mudah saja di bohongi.
Luna menyebutkan pesanannya pada seorang writers.
Setelah menunggu kepastian beberapa saat akhirnya pesanannga datang.
Luna tersenyum miring melihat makanan Allisya yang merah itu, sengaja Luna memesan ekstra pedas.
Di taman, Aris mencari Allisya. Perasannya seketika gundah dan tak tenang. Dimana kekasihnya itu?
"Allisya kamu jangan bikin aku khawatir gini," Aris mengacak rambutnya frustasi.
Aris menanyakan ciri-ciri Allisya kepada beberapa orang yang lewat. Mereka melihatnya dan memberitahu kemana Allisya pergi. Kafe.
Aris mencari Allisya dengan mata jelinya menelisik sekitar. Sampai ia menemukan Allisya yang duduk satu meja dengan Daniel dan Luna.
Tunggu..
Daniel memberikan minum pada Allisya, dan usapan tangan Daniel itu sangat menganggu matanya.
Dengan langkah lebar, Aris menarik tangan Daniel kasar.
"Gak usah pegang-pegang Allisya! Dia itu pa-"
"Pacar lo? Ya gue tau, seisi bumi juga tau kalau Allisya pacar lo? Protes? Allisya aja gak merasa terganggu," Daniel mendekat membisikkan kata-kata yang mampu membangkitkan emosi Aris. "Allisya malah menikmatinya," setelahnya ia tertawa seperti orang gila.
Daniel menunjuk Allisya. "Liat! Allisya duduk sendirian di taman. Karena gue gak mau Allisya kenapa-napa makannya Luna ngajak kesini makan bareng. Tapi Allisya sekarang lagi kepedesan, gak salah kalau gue ngasih dia minum."
Aris bersimpuh menatap Allisya dari samping. Wajah gadisnya itu memerah, Allisya benar-benar kepedasan.
"Allisya? Kamu gak boleh makan pedes banyak-banyak," Aris sangat melarang Allisya untuk saat ini.
__ADS_1
Allisya menoleh. "Apa? Kak Aris ngelarang juga?" ia pikir Aris akan memberikan susu kotak rasa stroberi atau yang lainnya agar rasa pedas membakar lidahnya itu bisa hilang, tapi lain malah melarangnya.
"Karena aku gak mau kamu sakit sya," Aris mengambil sapu tangan di saku celananya, mengusap keringat di pelipis Allisya. "Nurut ya? Itu bukan pedes sembarangan. Kamu di bohongi sama Daniel."
Allisya menggeleng. "Gak bohong, Luna bilang cuman pedes biasa."
"Bohong sya!" suara Aris meninggi. "Luna pingin kamu sakit. Ngerti gak sih?" Aris terlanjur kesal.
Allisya menunduk tak berani menatap mata Aris yang tajam itu. Baru kali ini Aris sangat marah dan membentaknya.
Daniel menarik kaos Aris dan menghempaskannya kasar.
"Jangan bentak Allisya! Liat! Dia ketakutan!" Daniel tak terima Allisya di marahi, cewek itu pasti ketakutan dan bergetar.
Daniel menggenggam tangan Allisya. "Sya? Jangan di pikirin ya apa yang di bilang pacar kamu? Sekarang pulang, istirahat aja," Daniel meraih jemari Allisya.
Aris tak mau kalah start, ia menepis tangan Daniel. "Urus aja Luna! Gak usah sok perhatian sama Allisya deh," nafas Aris memburu, hari minggu ini sangat kacau karena ulah sepasang kekasih dengan niat jahatnya.
"Allisya pulang sama gue. Lo gak berhak! Cowok macam apa kalau-"
"Apa? Gue marah berarti sayang!" sanggah Aris tak mau tau. Daniel berusaha menjatuhkan image-nya di depan Allisya.
Keduanya menjadi pusat perhatian, tak ada yang berani ikut campur atau memisahkan takut menjadi sasaran nantinya.
"Kak Aris," cicit Allisya memeluk Aris.
Rasa hangat dan tenang itu menjalar ke hati Aris, amarahnya hilang seketika.
"Maafin aku ya sya? Aku cuman khawatir aja. Yuk pulang," Aris merangkul bahu Allisya.
"Kok kamu belain Allisya sih?" Luna tak terima, apalagi Daniel sangat berani menggenggam tangan Allisya jelas saja hatinya cemburu dan iri melihat itu.
"Aku gak belain Allisya tapi-"
"Masih cinta? Sayang? Apa belum move on huh?!" Luna tak bisa membendung air matanya, Luna menangis.
"Jangan sampai kamu mencintai aku hanya sekedar pelampiasan niel," setelahnya Luna pergi dengan perasaan dan hati yang kecewa.
"Maafi Luna. Aku masih mencintai Allisya, sampai kapanpun itu. Dan kamu sekedar pelampiasan dan pengganti sementara," Daniel menatap punggung Luna yang menjauh.
...🍒🍒🍒...
...Penulis gabut nunggu yang gak pasti-pasti....
...Jumat 11 Juni 6:02 pm...
...See you-,...
__ADS_1