
Di kantin, meskipun tempat duduknya sudah penuh dan terisi, Zahra tetap keukeuh untuk makan satu meja dengan Alvian. Bahkan ia telah mengambil satu kursi punya tukang bakso lebih tepatnya meminjam.
"Kasihan kursinya di ambil, terus pembelinya mau duduk di tanah gitu?" ujar Kaila menyindir Zahra.
"Gak apa-apa, nanti juga gue balikin kok. Yang penting, bisa makan bareng sama Alvian. Ya kan sayang?" dengan berani dan percaya dirinya memanggil Alvian sayang.
Reaksi Alvian hanya diam saja, tak menganggap kehadiran Zahra.
Merasa di abaikan Zahra menawarkan siomay-nya. Menyuapkannya pada Alvian ketika mulut cowok itu terbuka.
Zahra tersenyum puas saat Alvian menerima suapannya.
"Gimana? Pasti enak dong, apalagi di suapin sama cewek cantik kayak aku," ucap Zahra penuh percaya diri.
Kaila berdehem. "Gimini? Pisti inik ding. Gak enak! Al, mending muntahin aja deh."
"Kai, mana bisa ah. Udah gue makan juga," Alvian masih sehat, lagipula siomay dari Zahra enak dengan bumbu kacangnya yang lumer di hati.
"Heh! Ada orang makan malah bahas muntah. Gue jadi gak nafsu makan lah!" protes Aqila meletakkan sendoknya, padahal mie ayam mantul banget itu favoritnya.
"Lo aja yang ngebayangin. Makan ya makan!" Zahra memarahi Aqila memang cewek itu terlalu bawel.
"Kenapa lo jadi nyalahin gue?" Aqila jadi ikutan emosi. Ia berdiri menantang Zahra.
"La, udah jangan ribut terus ah. Malu di liatin," Allisya berusaha menenangkan Aqila.
"Dia yang nyari gara-gara duluan," Aqila menunjuk Zahra.
"Gak, lo aja yang gampang emosian. Cepet tua tau rasa."
"Gue kenyang. Yuk la balik ke kelas," Kaila mengajak Aqila pergi dari hadapan Zahra, lama-lama muak.
"Ayo, bete banget gue makan satu meja sama cewek gatel itu," Aqila melempar tatapan sinis kepada Zahra, cewek itu hanya menatapnya kasihan.
Hanya ada Allisya, Alvian dan Zahra. Membuat suasana semakin canggung.
"Boleh minta nomer kamu gak? Biar kita bisa chat. Kalau ada tugas, aku bisa tanya ke kamu deh," dengan cerianya Zahra meminta nomor pada Alvian, belum tentu cowok itu akan memberikannya.
"Nanti kan kamu di masukkin ke grup kelas. Mau tugas apapun di umumkan disana sama ketua kelas," jawab Allisya, ia hanya tak ingin Alvian semakin marah.
"Gak mau males. Yang ada nomor gue jadi inceran cowok-cowok gatel. Alvian, minta ya? Pleasee," Zahra begitu sangat memohon.
"Gabung aja sama grup kelas. Gak usah cari alesan pake minta nomer gue," ketus Alvian.
"Ihh kok gitu sih. Kamu mau apa? Aku beliin. Terserah deh," Zahra yakin dengan cara ini Alvian pasti akan luluh.
"Beneran? Apa aja nih? Wahh! Yeayy. Oke, pertama beliin aku boneka yang warna pink gede enak di peluk pas tidur, terus notebook indah limited editon, sepatu baru buat sekolah, perlengkapan make up, lima novel best seller yang baru terbit. Pokoknya itu semua di beli deh," Allisya sangat antusias, karena Alvian tak akan mau dengan penawaran Zahra jadi ia saja yang berhak di belikan.
Zahra melongo. "Banyak banget. Heh! Sadar diri lo, yang gue maksud itu Al-"
"Jangan bentak Allisya, atau lo berurusan sama gue. Turutin apa yang dia mau, jangan bikin Allisya sedih," sela Alvian menatap Zahra tajam.
'Banyak aja maunya. Nyesel gue bikin penawaran gitu tau aja gak usah,' batin Zahra kesal.
Bel istitahat telah selesai, akhirnya kembali lagi dengan pelajaran.
Allisya berjalan sendiri, sedangkan Alvian berdampingan dengan Zahra.
__ADS_1
"Al, aku nanti pulangnya bareng kamu aja ya? Aku gak di jemput, papa sibuk. Kalau jalan kaki aku-"
"Loh? Kok pulang? Gak jadi beli ya?" Allisya menoleh dengan ekspresi sedihnya.
"Beli apa sih?" tanya Zahra ngegas.
"Katanya janji, tapi pura-pura lupa. Dasar ingkar janji. Lo pikun atau gimana sih?" sekarang Alvian yang memarahi Zahra.
'Ish, emang Allisya itu bisa bikin gue rugi. Ngapain juga tuh cewek masih inget aja?' batin Zahra menggerutu kesal.
"Pulang sekolah," dengan tak ikhlas, Zahra terpaksa menuruti Allisya.
"Yess! Bisa belanja sepuasanya nih," Allisya begitu senang, senyumannya tak luntur.
Alvian ikut bahagia. 'Pokoknya Allisya selalu bahagia,' batinnya.
...🍒🍒🍒...
Sebelum bel pulang berbunyi, Zahra memikirkan sebuah rencana agar Allisya tak bisa membeli apapun.
'Hm, apa ya? Biar batal dan gue bisa pulang bareng Alvian?' Zahra berperang dengan hati dan pikirannya.
Sampai menemukan ide cemerlang, Zahra tersenyum puas.
Kriingg..kriingg
Bel pulang sekolah berbunyi, semuanya berhamburan keluar kelas. Tapi berbeda dengan Zahra, ia menunggu Allisya beranjak dari duduknya.
"Sya, mau pulang bareng kita berdua gak?" tawar Aqila.
Allisya menggeleng. "Aku-"
"Iya, kan mau belanja bareng Zahra. Kalian duluan aja."
Aqila berbisik pada Kaila." Gue gak percaya deh, masa Allisya mau-mau aja sama anak baru? Kenal juga barusan."
Kaila mengangguk. "Ya udah, kan ada Alvian dia pasti jagain Allisya kok."
Setelah Aqila dan Kaila pulang, Allisya dan Zahra keluar kelas memgambil sepatu yang ada di rak.
Kaki Zahra menyandung Allisya hingga cewek itu terjatuh.
"Loh sya? Sorry ya? Gue gak sengaja sumpah," Zahra merasa bersalah.
"Tapi inget ya, jangan ngadu sama Alvian. Dan buat belanja, itu batal. Gak usah ngarep deh lo. Beli aja sana sendiri," Zahra mengambil sepatunya, melangkah pergi begitu saja tanpa menolong Allisya.
Alvian yang melihat Allisya terduduk memegangi lututnya pun menghampiri cewek itu.
"Ya ampun, Allisya. Kamu gak apa-apa kan? Jatuh ya? Ada yang sakit?"
Allisya mencoba berdiri, namun tidak bisa.
"Aww, Al sakitt banget kakiku," Allisya meringis.
Alvian mengecek kaki Allisya yang membiru.
"Kamu emang jatuh atau Zahra yang bikin kamu kayak gini? Jawab jujur sya," ucap Alvian menuntut.
__ADS_1
"Aku jatuh sendiri Al. Aku aja yang kurang hati-hati. Zahra pulang duluan karena di jemput sama papanya," terpaksa Allisya berbohong, ia takut dengan ancaman Zahra.
"Naik, kamu gak bisa jalan. Kakinya masih sakit. Nanti di rumah, kamu obatin ya?"
Allisya mengangguk. "Iya Al."
Alvian menggendong Allisya ke parkiran sekolah.
"Kamu pake helm-nya ya. Ada polisi patroli di lampu merah. Daripada kena tilang," Alvuan memasangkan helm dengan hati-hati.
Jarak yang sangat dekat itu membuat Allisya tak bernafas sejenak. Memandangi wajah Alvian yang begitu tampan dengan keringat menghiasi pelipisnya.
'Aku juga suka sama kamu Al. Tapi hati aku sepenuhnya udah jadi milik kak Aris,' batinnya.
"Allisya pulang bareng gue bukan lo. Sya, ayo turun. Ngapain sama dia."
Suara Aris yang marah-marah itu mengejutkan Allisya.
"Kaki Allisya sakit lo minta dia turun gitu?" Alvian lama-lama kesal dengan Aris, selalu saja datang di waktu yang tidak tepat dan parahnya marah-marah.
"Sakit? Kok bisa sih. Lo gak becus jagain Allisya!" Aris menyalahkan Alvian.
"Dia jatuh sendiri."
"Sini, aku obatin di dalam mobil aja. Nanti mama kamu khawatir," Aris menggendong Allisya ala bridal style.
"Woy!" teriak Alvian.
"Apaan?" Aris menghentikan langkahnya.
"Helm-nya lepas! Sinting apa pake helm dalam mobil?"
Aris berdecak kesal. "Ya, nanti gue balikin."
"Jangan lama-lama!"
Di dalam mobil, Aris melepaskan helm yang melekat di kepala Allisya.
"Kamu itu pulangnya selalu sama aku bukan Alvian," Aris mengomeli Allisya.
"Iyaa kak," Allisya gemas ingin mencakar Aris sekarang juga.
"Selalu aja datang tiba-tiba," gumamnya lirih.
"Siapa? Aku?"
"Ha? Gak kok kak. Aku gak bilang apa-apa."
"Ya udah, kamu tunggu disini aku mau balikin helm Alvian."
"Kok bisa ya dua cowok datang bersamaan dalam hidup aku?" Allisya memandangi Aris yang kini kembali adu debat dengan Alvian.
...🍒🍒🍒...
Telat update 3 hari ini aku sakit gak bisa ngapa-ngapain.
5:02 sore.
__ADS_1
Sampai jumpa segera-,