
Daniel mengejar langkah Luna. Dengan sigap ia meraih tangan Luna.
"Luna, maafin aku ya? Aku belum siap jatuh cinta dengan kamu. Karena-"
"Allisya kan?" sela Luna dengan nada malasnya.
"Tapi aku akan berusaha buat mencinta kamu Luna," jawab Daniel dengan keseriusannya. Entah hanya sekedar kata penenang atau sebaliknya, semua itu tak bisa di tebak.
Luna mengangguk, hatinya sedikit senang mendengar Daniel mengungkapkan kepastian hubungannya.
"Ok, buktikan kalau kamu mau mencintai aku. Ayo pulang," Luna menggamit lengan Daniel tanpa ragu, semoga saja hubungannya selalu membaik.
Hujan turun rintik-rintik.
Luna tersenyum melihat hujan, itu artinya Daniel akan semakin perhatian dengannya.
"Kita berteduh di halte aja," Daniel menarik Luna dengan berlari kecil menuju halte.
Luna menggigil, ia kedinginan.
'Daniel peka gak ya? Dingin banget lagi, Daniel enak pakai jaket. Kalau di drama Korea jaketnya buat aku. Tapi Daniel kok gak peduli?' batin Luna mulai kecewa.
Daniel menoleh. "Luna? Kamu sakit?" Daniel menyadari wajah Luna yang pucat.
Luna hanya menggeleng, bukan itu. "Gak kok niel. Aku sehat," aku kedinginan niel! batin Luna ingin meneriakkan ucapannya tapi tertahan, ia harus sadar diri Daniel tidak akan memberikan perhatian atau rasa khawatir sepenuhnya lain halnya jika itu untuk Allisya.
Daniel melepas jaketnya, memakaikannya pada tubuh Luna.
"Kamu sakit lun, pokoknya kalau hujannya udah reda kita ke rumah sakit aja ya?"
Kalau bukan karena sakit, Daniel tidak mungkin memberikan jaketnya. Luna sedikit senang, itu juga termasuk rasa khawatir kecil yang tak terlihat.
Luna menggeleng. "Gak usah niel, aku bisa kompres sendiri di rumah," tolaknya halus, percuma saja ke rumah sakit kedua orang tuanya tak akan peduli bagaimanapun kondisinya.
Daniel mengangguk pasrah. "Tapi aku aja ya yang kompres kamu? Nanti aku bikinin bubur yang enak, meskipun hambar kalau liat aku bisa jadi ada manis-manisnya."
Luna tersenyum simpul. "Makasih ya niel."
"Sama-sama."
Tapi hati Luna berharap lain, ia ingin Daniel memeluknya. Rasanya tidak mungkin. Lucu, Luna terlalu membayangkan hal manis dan romantis dengan Daniel. Semua itu hanyalah sekedar khayalan.
...🍒🍒🍒...
Daniel mengompres dahi Luna, setelah ia mengecek suhu badan Luna memang panas.
"Niel buatin bubur dong. Aku laper nih," pintanya memelas, untuk hari ini sampai seterusnya Luna ingin menjadi pusat orbit perhatian Daniel. Hanya dirinya, bukan Allisya.
"Iya lun, tunggu ya? Chef Daniel akan membuatkan bubur spesial dari hati ke hati hehe," Daniel terkekeh.
Senyuman itu tak luput dari mata Luna, ia ingin merekam senyuman indah itu untuk di jadikan kenangan selamanya.
Daniel melangkah ke dapur, membuatkan Luna bubur meskipun skill memasaknya lumayan.
"Kalau aja yang sakit Allisya, udah aku peluk, suapin bubur buatan aku, ketawa bareng. Lebih suka lagi aku memandang Allisya saat tidur, tenang dan damai," Daniel merasa terpaksa menemani Luna kalau saja cewek itu tak sendirian di rumah, lebih baik ia tidur atau berkumpul dengan teman-temannya.
Di tempat lain, Allisya terpaksa jalan sendirian karena Aris tiba-tiba ada keperluan mendadak karena bisnis orang tuanya.
Allisya menatap sepatunya, ternyata Aris juga sama meninggalkannya sendirian.
Lima pria berpakaian ala preman pensiun salah preman pasar itu mengikuti Allisya diam-diam.
__ADS_1
"Ada cewek tuh bos, gimana? Langsung sikat aja gak?" tanya salah satu anak buahnya.
"Yuk, jangan sampai lolos. Lo pegangin tangannya, kalau sampai kabur kan sayang banget gak dapat jatah," sahut sang ketua mengangguk setuju.
Langkah Allisya di hadang 5 preman jalanan.
"Hai perempuan cantik. Daripada jalan sendirian terus kenapa-napa mending bareng sama kita aja ya gak bro?"
"Yoi, disini sepi. Tapi kalau ada kamu rame dong."
Allisya memundurkan langkahnya, tubuhnya gemetar ketakutan.
'Kak Aris aku takut. Kak Aris datang kesini dong,' batin Allisya, dengan cepat Allisya berlari menjauhi 5 preman itu sekuat tenaga. Entah berlari kemana asalkan ia bisa bersembunyi di tempat yang aman.
Allisya menoleh menelisik sekitarnya, akhirnya ia menemukan tong sampah yang lumayan besar untuk menutupi tubuhnya. Semoga saja aman.
Allisya mendial nomor Aris secara otomatis, menunggu sampai suara operator yang menjawab jika nomor Aris sedang sibuk.
Rasa takut Allisya semakin menjadi, tangannya dengan lincah mengetikkan pesan kepada Aris. Tapi cowok itu terakhir online tadi pagi. Perasaan Allisya semakin takut dan cemas.
Derap langkah itu semakin dekat. Allisya hanya bisa berdoa kepada sang maha kuasa agar mendapatkan sebuah penolong yang datang.
Tiba-tiba Allisya terpikirkan satu nama. Ya! Daniel, Allisya mencoba menghubungi mantannya itu. Tersambung!
Dengan suara lirih, Allisya meminta tolong pada Daniel.
"Kamu dimana sya? Aku bakalan cepet datang kesana sekarang juga. Allisya! Share lokasinya!" suara Daniel dari seberang telepon sangat cemas dan marah.
Untungnya Allisya tidak mengaktifkan loudspeker yang bisa membuat para preman jadi-jadian itu memergokinya.
Allisya hanya bisa menunggu, harapannya hanya satu yaitu kedatangan Daniel.
"Dimana perempuan itu!"
"Gak akan! Dia pasti masih di sekitar sini. Berpencar sekarang!" titah sang ketua lantang.
Allisya memeluk lututnya, entah sampai kapan Daniel segera datang dan menyelamatkannya.
Deg!
Dua kaki di hadapan Allisya itu menarik tangannya dengan paksa.
"Ternyata kamu bersembunyi disini. Jangan takut my little, aku akan memanja-"
BUGH!
Daniel datang dan langsung menghajar pria yang sudah berani menyentuh Allisya.
Sang ketua preman itu terkekeh. "Oh, pahlawannya udah datang. Mau bermain-main sama gue?"
Daniel mengangguk. "Boleh, dengan senang hati!"
Daniel berduel dengan si bos itu, lalu personil anak buah lainnya ikut campur melayangkan bogem mentah tiada henti.
"Daniel! Udah! Jangan berantem! Daniel! Aku gak mau kamu kenapa-napa!" teriak Allisya dan berhasil membuat Daniel semakin semangat dan menumbangkan kelima pria itu dengan mudah.
Allisya memeluk Daniel. "Makasih ya? Kamu udah mau datang kesini nolongin aku."
Daniel meringis saat Allisya memeluk punggungnya erat, pukulan keras dari kelima pria itu sangat sakit.
Allisya melepas pelukannya. "Daniel? Sakit ya? Yang mana?" tanyanya khawatir, melihat wajah babak belur dan sudut bibir yang robek pun membuat Allisya ngeri sendiri.
__ADS_1
"Aku anterin kamu pulang. Ayo."
Allisya masih setia diam. "Gak niel, aku gak mau pulang. Kalau kamu yang anterin aku sampai rumah, mama pasti marah."
Daniel menoleh. "Yang penting kamu pulang dengan keadaan selamat sya. Jangan takut, aku selalu ada untukmu," Daniel mengunci pandangan Allisya, tatapan teduh itu yang ia rindukan.
"Andai aja kamu itu masih pacarku niel. Aku gak bakalan kayak gini," Allisya mulai berkeluh kesah, melepas tanpa rasa ikhlas.
"Jadi, kamu masih cinta sama aku?" Daniel tersenyum tak percaya, itu berarti ia masih ada harapan untuk memperbaiki hubungannya.
Allisya mengangguk. "Masih."
"Mau gak balikan sama aku? Janji gak akan nyakiti hati kamu lagi. Aku akan berusaha membuatmu bahagia," Daniel mengulurkan jari kelingkingnya.
Sejenak Allisya teringat bagaimana perhatian dan rasa kasih sayang Aris melebihi Daniel.
"Tapi percuma niel, aku bakalan nikah sama kak Aris. Gimana mau bisa pacaran lagi sama kamu?"
Daniel menggeleng. "Gak papa sya, diam-diam aja."
Daniel sudah gila, asalkan Allisya kembali ke pelukannya.
Allisya menggeleng pelan. "Maaf niel, kita jadi teman aja ya?"
"Sahabat boleh gak?" asalkan Daniel bisa memberikan perhatian lebih, jika teman mungkin sekedar berkomunikasi biasa saja berbeda dengan sahabat yang bisa menjadikan tempat curhat kapan pun saat butuh.
"Anterin aku pulang di depan gang jalan aja niel."
"Ok."
...🍒🍒🍒...
Setelah selesai mengantar Allisya pulang, Daniel mengambil bubur yang sudah jadi 30 menit yang lalu.
Astaga! Bagaimana dengan Luna?
Dengan langkah cepat, Daniel menuju kamar Luna mengecek kondisi cewek itu.
Dan...
"Hiks hiks, kamu kemana niel? Aku laper banget, aku lemes, pusing. Kenapa lama banget niel?" Luna menangis sesenggukan.
"Maaf ya? Aku tadi habis nolongin Allisya yang di kepung sama pre-"
"PACAR KAMU AKU ATAU ALLISYA SIH?!" teriak Luna emosi, ia menatap Daniel nyalang. Lagi-lagi Allisya selalu menjadi prioritasnya. Dan ia di lupakan begitu saja.
Daniel meletakkan bubur di atas nakas. Ia memeluk Luna.
"Aku khawatir sama Allisya lun. Tapi percaya cintaku cuman buat kamu," ungkapnya jujur, ah bohong tadinya malah mengajak Allisya balikan.
Luna mendorong Daniel. "Mending kamu pergi! PERGI!"
"Jangan lupa di makan buburnya ya lun? Selamat malam, cepet sembuh," dengan langkah berat, Daniel pergi dari kamar Luna.
"Aku harus singkirkan Allisya. Berani banget ambil Danielku? Arghh!" Luna menghempaskan mangkuk bubur itu hingga tumpah.
...🍒🍒🍒...
...Penulis pijat tangan relaksasi....
...Minggu 13 juni 3:34 pm...
__ADS_1
...See you next episode~...