
Setelah melalui liburan panjang, akhirnya memasuki sekolah lagi dengan kelas barunya.
Kaila dan Aqila melihat mading karena setelah kenaikan kelas sudah pasti di acak lagi sesuai nilai ujian.
"Gue ada di kelas apa? Pokoknya jangan Ips 5 deh," Kaila sangat serius mencari namanya di 5 kertas yang terpajang itu.
Aqila mengernyit heran. "Emang kenapa kalau Ips 5? Ya bagus dong, tau gak? Itu dulu kelasnya mantan kapten basket yang udah lulus. Satu angkatan gitu sama kak Aris, namanya Aldi. Tertarik gak lo?"
Kaila cemberut. "Ya gak lah la. Gimana mau tertarik Aldi-nya aja udah lulus. Mana semangat gue."
"Eits tapi gak boleh patah semangat gitu dong. Masih ada adiknya yang satu angkatan sama kita. Gak kalah ganteng, namanya Ardy. Kalau aja kak Javas itu gak ngasih harapan apalagi pdkt-in gue udah di embat tuh. Mau gak?"
Kaila mengangguk antusias. "Kalau itu sih mau. Emang dia ada di kelas mana?"
Aqila menggeleng. "Cari aja dulu nama lo. Baru deh Ardy. Semoga beruntung ya," Aqila menepuk bahu Kaila memberikan semangat.
Sedangkan Allisya menghela nafasnya, badannya yang kecil dan pendek itu tak bisa melihat papan pengumuman di mading.
"Aku ada di kelas apa ya? Kalau ada Kaila sama Aqila enak nih bisa di suruh. Huh," Allisya melihat sekitarnya, ada Kaila dan Aqila yang saling bisik-bisik entah menggosipkan apa.
"Aqila! Kaila!" teriak Allisya lantang, mengalahkan suara bisingnya para cewek-cewek yang protes karena kelasnya di pindah.
Kedua cewek nama kembar tak semirip itu menoleh.
"Apa sya?" tanya Kaila menunduk, tinggi Allisya hanya sampai di dagunya saja.
"Aku kelas apa? Tolong liatin di mading ya?" pintanya memohon, biasanya Kaila tak mudah di bujuk kecuali sogokannya roti putri salju.
"Oke jangan lupa imbalannya dong sya," Kaila fokus melihat abjad A. Sampai ketemu di kelas 12 Ips 2 namanya dengan Kaila juga ikutan ada disana.
"La?!" teriak Kaila membahana sampai di sekelilingnya menatap aneh dan heran.
Aqila mendengus. "Apaan? Gue gak budek ya sampai lo harus teriak-teriak. Sakit nih telinga gue!"
"Kita satu kelas lagi!" Kaila masih tak percaya, mungkin saja di takdirkan agar bersama-sama bukan seperti orang hilang gak ada kabar setelah bilang aku gak akan ninggalin kamu.
Aqila memeluk Kaila terharu. "Alhamdulillah deh kita satu kelas lagi. Yuk kesana cari tempat duduk yang adem."
Ketiganya berjalan bersisian, tak lupa Kaila selalu mengisi lelucon receh andalannya.
"Sya coba deh lo itu tinggi kayak jerapah. Pasti bisa liat pengumuman di mading," saran Kaila tapi membuat tawa Allisya luntur, apakah dirinya se-pendek itu?
"Apa sih? Aku lebih nyaman pendek. Lagian aku juga udah minum susu, loncat-loncat juga masih aja gak bisa tinggi. Huh, nyerah deh," Allisya putus asa, memang tumbuh tinggi itu idaman semua orang selain menyempurnakan tampilan serta membuat siapa saja tertarik.
"Kak Aris aja gak masalah kalau Allisya pendek. Justru bagus kai, bisa gendong Allisya kayak karung beras. Bener gak?" Aqila menaik-turunkan alisnya.
"Heh aku bukan karung beras ya?" Allisya memukul lengan Kaila kesal.
"Hahaha dasar pendek tapi imut," Kaila merasa gemas dengan Allisya, cewek itu sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Duduk dimana nih?" tanya Kaila masih bingung saat sudah berada di dalam kelas 12 Ips 2.
"Belakang aja tuh. Biar bisa santai-santai pas pelajaran," jawab Aqila dengan ide bagusnya.
__ADS_1
"Tapi kan aku gak keliatan, kalian sih enak tinggi," protes Allisya tak mau.
"Kalau mau duduk di depan silahkan sya. Tapi gue sama Aqila nyaman disini," Kaila juga malas, duduk di depan kadang di tunjuk menjawab soal secara tiba-tiba.
"Gak," Allisya menggeleng. "Disini aja sama kalian."
Bu Cantika memasuki kelas. Senyum ramahnya membuat siapa saja yang melihat hati jadi adem.
"Selamat pagi."
"Pagi bu."
"Saya bu Cantika guru bahasa Jawa yang akan menjadi wali kelas kalian selama satu tahun ini. Semoga kalian betah disini ya?"
"Bu udah punya pacar ya?" tanya salah satu cowok yang terpesona dan kagum dengan kecantikan bu Cantika itu.
"Maaf saya sudah bersuami. Kalian jangan memikirkan pacaran dulu, sangat mengganggu kosentrasi belajar apalagi kalian ini sudah kelas 12 yang semestinya belajar dengan giat agar bisa lulus dengan nilai terbaik dan bisa melanjutkan ke universitas favorit atau bekerja di suatu perusahaan," dengan sopan dan lugas bu Cantika menanggapi cowok-cowok yang menyukai kecantikannya.
"Pelajaran pertama adalah bahasa Jawa. Bentuklah kelompok tiga orang, berikan nama kelompok yang unik. Tugas kalian adalah buatlah teks deskripsi setelah membaca halaman lima tentang Gunung Bromo. Jika ada pertanyaan silahkan maju ke depan."
"Kita selalu pas deh. Gak perlu susah-susah nyari ya gak?" Kaila mengajak Aqila yang sibuk membuka LKS bahasa Jawa, di abaikan. "Kok gue di cuekin sih?"
Allisya menoleh. "Aqila lagi baca, makannya kamu di cuekin."
"Pingin deh gabung sama kalian, tapi udah pas ya tiga orang?" pinta seorang cewek berkacamata yang duduk di sebelah Allisya.
"Sayang banget. Cari aja yang lain. Semoga dapat ya," Kaila menyemangati, cewek itu mengangguk dan berterima kasih.
"Kita kasih nama Rafflesia aja? Unik kan?" usul Aqila setelah selesai membaca teks deskripsi itu.
"Di depan sana udah pakai mawar, terus deret kedua anggrek, ketiga melati, empat kamboja, lima orchid. Emang mau pilih bunga apa kalau bukan Rafflesia?" pendengaran Aqila tajam, meskipun se-ramai pasar tapi ia bisa mendengar percakapan penting saja.
Kaila mengangguk. Benar juga sih.
"Iya deh Rafflesia. Lo aja yang ngerjain ya? Gue gak bisa bahasa Jawa," marga Kaila adalah Sunda, rasanya melelahkan belajar yang baru dan memulainya dari awal apalagi setelah gagal move on.
"Aku bantu la, biar cepet selesai. Kayaknya di presentasikan deh," Allisya membaca LKS dengan serius.
"Objek yang pas buat bikin teks deskripsi apa?" Aqila juga masih bingung menentukan topik mana yang pas di jadikan objeknya.
"Taman selecta aja gimana? Daripada yang lain kan ribet mikirnya," usul Allisya akhirnya menemukan ide cemerlangnya.
Aqila mengangguk setuju. "Oke."
...🍒🍒🍒...
Setelah satu jam, bu Cantika memanggil kelompok secara acak. Bu Cantika memberikan intruksi agar di sampaikan di depan dengan percaya diri.
"Rafflesia. Silahkan maju."
Kaila yang malah deg-degan, ia tak bisa apa-apa.
"La, gue gak bisa ngomong apa nanti?" bisiknya lirih.
__ADS_1
"Bu Cantika, Kaila gak bisa bahasa Jawa. Kaila hanya memahami bahasa Indonesia dan Sunda saja bu," tanpa perlu pikir panjang, lebih baik Aqila jujur saja pada bu Cantika.
"Tidak masalah. Ayo silahkan jelaskan secara rinci dan lugas. Nilai kalian akan saya masukkan ke dalam nilai tugas."
Aqila berdehem. Ia mulai menjelaskan ide pokok dari teks deskirpsi tersebut. Sampai dengan detail objeknya.
Dan Allisya menambahi tujuan dari pembuatan taman selecta itu.
"Beri tepuk tangan pada kelompok Rafflesia!"
"Itu Aqila yang lagi dekat sama kak Javas kan?"
"Iya, Allisya apalagi sama kak Aris."
"Kaila juga sama kak Arif. Mereka itu ceweknya geng Death Night!"
Kaila duduk dengan menarik nafasnya perlahan.
"Haduh, lebih deg-degan sebelum di tembak sama cowok. La, tadi lo pinter banget kayak calon presenter gitu deh. Salut gue," Kaila memeluk Aqila terharu, selain Allisya Aqila juga bisa di andalkan dalam beberapa pelajaran saja.
Aqila tersenyum. "Lo juga hebat kok kai, ekonomi jagoannya. Gue suka pusing kalau akuntansi gitu."
"Kita itu saling melengkapi, tapi lebih dominan Allisya yang pinter semuanya. Aduh sya, mama lo pas hamil ngidam apa sih?" tanya Kaila kepo.
Allisya berpikir. "Setau aku mama ngidam jagung rebus aja."
Kaila dan Aqila terbelalak tak percaya. Jagung rebus? Bukannya kadang mangga dan makanan lain?
"Soalnya jagung rebus itu baik buat bayi, apalagi otaknya. Biar cerdas hehe," Allisya terkekeh, sangat beruntung sekali memiliki mama seperti Selena, cerewetnya itu karena khawatir dan sayang.
"Hm, boleh juga nih di coba. Siapa tau anak gue nanti bisa pinter kayak lo sya," Kaila jadi membayangkan anaknya se-pintar Albert Einstein.
"Kak Arif tuh juga pinter," Allisya kembali mencomblangkan Kaila dengan Arif.
"Apa sih sya! Gue gak suka dia. Ngapain juga mau pacaran sama cowok romantis. Bosen!" lain di mulut lain di sanubari, tapi Kaila menyukai sisi perhatian Arif.
"Hahaha awas aja jilat ludah sendiri. Kalau lo pacaran sama kak Arif apalagi cinta mati, beliin gue tas baru, skincare, sepatu, dress. Em-apalagi ya?" Aqila bingung, sesekali membuat Kaila kesal tak ada salahnya.
"Sekalian sana! Borong satu mall!" seru Kaila terlanjur kesal. Kalau saja tak ada bu Cantika, rambut Aqila sudah awut-awutan seperti Karmila yang ada di lampu merah itu.
Aqila terkekeh. "Becanda. Semoga Kaila cepet-cepet pacaran sama kak Arif. Aamiin."
"Aaminnn," Allisya ikut mendoakan yang terbaik.
Kaila dongkol menendang meja sampai bu Cantika memperingatinya agar diam.
"Rasain," Aqila memeletkan lidahnya, wajah Kaila merah pemadam maksudnya padam.
...🍒🍒🍒...
Penulis yang suka semangat ngetik gak sadar ada typo
Senin 7 Juni 9:26 am
__ADS_1
See you-,