
Mading ramai, karena jadwal Ujian Nasional tertempel sesuai sesi jam yang di tentukan. Kaila yang merasa paling tinggi itu mencatat jam-nya, untung saja bisa di andalkan. Allisya dan Aqila hanya menunggu.
"Lama banget sih Kaila? Dia nulis atau ngukir?" tanya Aqila kesal, sudah berjalan 10 menit.
"Sabar aja, nanti juga bakalan dapet kok jadwalnya," ucap Allisya menenenagkan Aqila yang mulai marah.
Kaila tersenyum puas, akhirnya selesai juga mencatat jadwal Ujian Nasional. Langkahnya menghampiri Aqila dan Allisya yang sudah sabar menunggunya.
"Ayo ke kelas, nyatet disana aja. Masa iya nulis sambil berdiri? Mau pake bangkunya siapa?" tanya Kaila jahil, malah mendapatkan tatapan sinis dari Aqila. "Bangkunya lo!' jawab Aqila cepat.
Kaila hanya menyengir. Ganas juga Aqila. Padahal ia bicara baik-baik. Pada akhirnya Aqila dan Allisya mau menulis jadwal di kelas.
...🍒🍒🍒...
Disinilah, karena persiapan yang sangat mendadak dan tidak terencana belajar, Allisya mengajak Aqila dan Kaila ke perpustakaan saat jam istirahat. Sebelumnya Kaila protes karena harus mengisi perut dulu agar kosentrasi saat belajar. Tapi Allisya tak mau, hanya sebentar selesai belajar baru bisa makan saat balik ke kelas.
"Yah, gak asik lo sya. Udah keroncongan banget nih perut gue. Males ah kalau gini mau belajar, apalagi bahasa Indonesia duluan. Soalnya banyak banget, jawabannya membingungkan," keluh Kaila yang memang ada benarnya. Apa yang di tanyakan sangat terperinci namun jawabannya sangat menjebak apalagi menerapkan HOTS.
Allisya terkekeh, meskipun Kaila mengeluh dan mudah menyerah tapi tetap membaca buku detik-detik UN yang sudah di bagikan tadi dengan seksama.
"Gimana sih caranya biar ngerjain bahasa Indonesia itu gak makan waktu lama? Nih sya, bacaan soalnya kan banyak. Terus buat jawab dalam waktu singkat gimana?" tanya Kaila, meskipun tidak pandai nyatanya usaha dan mencoba itu perlu.
"Di baca aja setengah dulu. Kalau kamu literasinya bagus, pasti langsung faham."
"Gak mungkin! Kaila aja males baca novel, katanya tulisan semua. Mana ada buku isinya makanan semua?" sahut Aqila kesal, entahlah hanya itu yang ada di pikiran Kaila, makanan.
"Udah jangan berantem. Fokus aja dulu. Ayo belajar jangan mikirin yang lain," tapi pikirannya berkelana tentang Aris dan mama Inez, bagaimana kondisinya sekarang? Andai saja tak sda Ujian Nasional, mungkin sepulang sekolah nanti ia akan ke rumah sakit menjenguknya.
Di sebuah tempat dan ruangan yang gelap, Zahra berusaha melepaskan simpul yang mengikat di tangannya. Untung saja kakinya tidak di ikat juga.
Meskipun sudah pagi, tapi pencahayaan yang menembus celah-celah jendela dan lubang kecil dinding itu menerangi ruangan Zahra tempati.
__ADS_1
"Semoga aja disini ada pisau, jadi gue bisa cepet-cepet kabur darisini," Zahra menatap sekeliling mencari benda tajam itu, sampai akhirnya ketemu. Jaraknya sedikit jauh, dengan menggunakan kakinya mendorong kursi yang di duduki itu mendekat. Tangan Zahra berusaha menggapai pisau yang tergeletak di atas meja.
Hap!
Berhasil. Dengan susah payah Zahra mengiris tali itu. Sampai usahanya berhasil, akhirnya terleas juga dari tali sialan itu.
Zahra berhasil kabur dari rumah itu. Semua ini gara-gara Andre, ayah Aris yang sok tau tentang pelaku kecelakaan itu.
Melangkah entah kemana, Zahra menyusuri jalan raya yang sepi. Dekat dengan hutan dan jurang, ia takut salah langkah lalu tersesat.
"Mana ponsel gue gak ada lagi. Pasti di sekolah sekarang lagi ada ujian," rasanya lelah, entah ia sanggup mengikutinya atau tidak sama sekali mengenai ujian itu sangatlah penting bagi kelulusannya.
...🍒🍒🍒...
Di rumah, Allisya hanya belajar. Itulah tugasnya, bahkan ponselnya pun disita oleh mamanya setelah mengetahui Ujian Nasional semakin dekat. Dan ditemani Aris untuk belajar bareng. Allisya tak bisa bebas.
"Coba kamu kerjain soal bahasa Indonesia yang ini. Teks narasi dulu, eksplanasi sama eksposisi. Kalau bener semua, aku kasih kamu sesuatu," dengan sedikit hadiah mungkin Allisya akan lebih semangat belajar.
Aris menggeleng. "Bukan sya. Kerjain aja dulu, waktunya cuman 15 menit dari sekarang."
Dengan teliti dan serius Allisya mengerjakan tugas yang di berikan oleh Aris. Sampai kepalanya terasa sedikit pusing karena bagitu banyaknya bacaan teks yang di jelaskan dalam satu soal.
15 menit kemudian, akhirnya Allisya selesai. Aris mengoreksi jawabannya, kerutan dahi dan alis yang menyatu membuat jantung Allisya merasa deg-degan takut jawabannya salah dan gagal mendapatkan hadiah itu.
"Semuanya-hm...benar!" Aris menatap Allisya yang kini melongo tak berkedip. "Benar sayang, nih hadiahnya. Mana jari manis kamu?"
Aris mengeluarkan sebuah kotak merah kecil yang menampilkan cincin, hadiah setelah Allisya lulus.
Sedikit ragu, Allisya mengulurkan tangannya. "Kak Aris? Kenapa aku di kasih cincin?" tanyanya masih heran.
Aris tersenyum. "Pas banget di jari kamu. Dan aku janji setelah kamu lulus, aku nikahin kamu sya sebelum jadi milik orang lain," ia hanya takut Allisya kembali lagi dengan Daniel, Aris tak akan membiarkan hati Allisya terluka lagi.
__ADS_1
Allisya mengangguk setuju. "Makasih ya kak Aris udah mau mencintai aku," Allisya terharu, Aris adalah pengganti yang lebih baik daripada Daniel. Mantan-nya itu lebih banyak menyakiti hatinya dan membuatnya menangis. Berbeda dengan Aris yang memberikan kebahagiaan kecil di setiap harinya.
"Sya? Jangan deket-deket Daniel ya? Aku gak mau melihat kamu nangis lagi," pinta Aris dengan suara melemah, ada perasaan takut jika sewaktu-waktu Daniel berhasil mengambil Allisya-nya kembali.
Allisya mengangguk. "Ayo kak makan malam. Aku udah laper banget nih habis belajar seharian," keluhnya dengan bibir mengerucut. Dari pagi sampai pagi lagi tak lepas dari buku.
"Kamu mau kuliah?"
Allisya tak bisa menjawab. Itu tidak pasti.
Aris menggenggam tangan Allisya. "Kuliah aja, gak apa-apa. Nanti ke kampusnya bareng sama aku. Jangan jauh-jauh aku gak mau rindu," Aris mulai menggombal, memang jurus andalan cowok untuk merayu para cewek. Benar bukan?
"Kirain gak di boleh kuliah. Kan kita udah nikah kak," Allisya pikir setelah menikah ia akan berdiam diri di rumah saja, tak bisa keluar atau bermain seperti saat ini. Entah mengurusi rumah atau anak. Tunggu, kalau-
Lamunan Allisya buyar ketika Selena mengagetkan-nya.
"Ayo makan. Kok malah betah di kamar? Hm, apa kalian gak sabar buat-" ucapan Selena tersela oleh Allisya di tanggapi dengan kesal.
"Apa sih ma? Siapa juga yang betah di kamar. Gerah banget, aduh AC juga mati daritadi," Allisya beranjak dari duduknya, kalau sudah ada mamanya pasti salah tingkah. Ada saja alasannya.
Aris hanya tersenyum. "Gak sabar kok ma. Allisya lulus aku nikahin. Ya pingin pun-"
"Kak Ariiiss!" Allisya menoleh melayangkan tatapan tajamnya, Aris pun terdiam.
Selena menahan senyumnya. Memang bertolak belakang. Selena senang bisa menjodohkan Allisya dengan Aris.
...🍒🍒🍒...
Gak mood, kata quotes gak usah dengerin ucapan orang lain. But i just wanna smile and laugh everyday 😊😊😊
08:04 pagi
__ADS_1
See you-,