
Daniel yang sedang berjalan menuju kelasnya mendengar desas-desus dari siswi tukang gosip.
"Eh, lo tau gak? Allisya kemarin pelukan sama Alvian loh,"
"Masa sih?"
"Iya," cewek itu mengangguk. "Terus ada Aris yang nyamperin,"
'Allisya pelukan sama Alvian? Ngapain sih,' batin Daniel kesal.
Allisya yang baru saja turun dari ojekannya langkahnya di hadang oleh Daniel.
"Bener kemarin kamu pelukan sama Alvian?" tanya Daniel dingin. Mata tajamnya menusuk sekali.
Allisya terdiam. Darimana Daniel bisa tau?
"Gak. Kata siapa?" Allisya menggeleng, dengan wajah gugupnya ia berkilah. Ketauan Daniel biasa UGD nantinya.
Daniel menghela nafasnya. "Kalau kamu masih deket sama Alvian, mending kita putus,"
"T-tapi,"
Daniel pergi begitu saja. Ia lelah cemburu, sahabat memang boleh dekat. Tapi ia tak ingin Allisya pergi meninggalkannya hanya karena Alvian.
Di kelas, Allisya tidak memperhatikan guru yang tengah menjelaskan matematika.
Aqila menoel dagu Allisya. "Lo kenapa? Ngelamun terus daritadi,"
Alvian menatap Allisya. "Sya? Kamu gak papa kan?" tanyanya khawatir.
Allisya menoleh. "Gak,"
'Jika ini memang pilihan Daniel, aku ikhlas. Aku tau hatinya bukan buatku lagi, tapi Luna,' sedih, merasa kehilangan tapi tak menangis. Dalam kamus Allisional tidak ada kata menangisi laki-laki.
Kaila bosan, sudah cukup ia menghambar boruto untuk kesekian kalinya.
"Laper," keluhnya, tadi pagi tidak sarapan. Siapa tau Aqila yang baik hati itu membelikan roti salju 10 sekarang.
Aqila menatap Kaila was-was. "Makanya makan, berangkat pagi banget lagian ngapin sih?"
Kaila menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. "Biar jadi yang pertama kali," ucapnya bangga.
Aqila berdecak kesal. Ada-ada saja alasannya.
"Sya?" Aqila kembali berbicara pada Allisya, cewek itu kehilangan baterai dan perlu beli lagi di warung.
Allisya menoleh. "Apa?"
Ponsel Allisya berdering. Sebuah pesan dari Daniel.
Bukankah tadi pagi memutuskan hubungannya?
'Daniel kenapa sih?' Allisya hanya membacanya. Daniel menyuruhnya ke rooftop. Tapi Allisya memilih mengikuti pelajaran saja daripada bolos.
__ADS_1
"Chat dari siapa sih?" tanya Aqila penasaran.
"Daniel," jawabnya malas.
"Oh," Aqila ikutan malas, mungkin ini alasannya Allisya kurang bersemangat.
Bel istirahat berbunyi. Kaila tampak heboh sendiri menitipkan uang ke Aqila tapi cewek itu menolaknya dengan alasan beli saja sendiri punya kaki buat apa kalau jalan?
"Ayolah la, beliin roti salju sepuluh. Masih untung pakai duit gue, coba lo," bujuk Aqila rewel seperti aku bukan anak kecil paman.
"Sya? Lo mau ke kantin kan?" tanya Kaila memastikan. Sedari tadi Allisya hanya meletakkan kepalanya diatas tas sebagai bantalannya.
Allisya menggeleng lemah.
"Oh, yaudah deh. Mumpung gue baik hati, kalian nitip apa?" tak ada awan, hujan dan angin Kaila berubah baik dan kalem.
"Gue kayak biasanya aja kai," Aqila memberikan uang gocengnya.
Setelah Kaila pergi, Aqila menghibur Allisya.
"Sya, ciluk baa!" Aqila menutup wajahnya dengan kedua tangan, menghibur bayi yang rewel.
Alvian berpindah tempat duduk dimana Kaila singgah tadinya.
"Sya, wajah kamu pucet banget. Sakit?" Alvian memperhatikan wajah Allisya.
Aqila tercengang. "Ke UKS yuk sya,"
Allisya menggeleng. "Gak, males ah bau obat," baunya memang bikin pusing.
"Hai guys kembali lagi di channel ku. Kaila cantik, silahkan di nikmati jajannya," Kaila memberikan satu bungkus bakso beserta mangkok ayam jagonya ke Aqila.
Aqila mendengus. "Kewarasannya mulai hilang ya gini,"
"Dan yang ini, buat nyonya Allisya," Kaila memberikan satu roti saljunya, menyedekahkan dengan rasa ikhlas dan tabah.
Allisya menerimanya. "Makasih kai,"
"Sama-sama. Eh, Al kok tempat gue di tempatin sih?" sedikit tidak nyambung, Aqila sampai malas mendengarnya.
"Maksutnya?" Alvian kurang mengerti.
"Minggir, tempat lo bukan disini. Gue laper nih, mau makan. Biar pelajaran nanti kosentrasinya kuat dan sehat," seperti iklan lewat, Kaila membuat seisi kelas yang ada beberapa manusia itu tertawa.
Dengan hati tak rela Alvian menyingkir dan pindah ke belakang.
Allisya makan roti salju itu. Pengganjal lapar sementara.
"Tau gak sya? Daniel tadi suapin Luna loh," heboh Kaila memulai acara pembicaraan ter-dahsyat ini.
Aqila menampol Kaila. "Heh, mulutnya gak ada rem,"
Hati Allisya sakit, masih ada rasa cinta terhadap Daniel.
__ADS_1
'Benerkan? Daniel mutusin aku gara-gara Luna,' Allisya cukup tau diri, Luna cantik, ia natural. Minggir sedikit daripada di senggol, pepatah dari Kaila.
"Apaan sih la. Gue kan ngasih tau Allisya, sebelum ada yang gosipin," benar juga, semakin di tambahi selera balado hingga pedas.
Allisya kehilangan selera makan. "Gak laper," ia meletakkan roti salju yang tinggal setengah itu.
"Tuh kan, gara-gara lo sih. Huuh," Aqila menirukan nada iklan permen susu di televisi.
"Maaf, tapi Luna tadi udah gue marahin kok. Kayak gini," Kaila bangkit dari duduknya. Berkacak pinggang. "Jangan deketin Daniel, dia pacarnya Allisya!"
Kaila mengomeli Aqila sebagai contoh korban bernama Luna itu. "Lo tau reaksinya gimana?"
Aqila diam saja, lebih baik makan bakso dengan aman dan sejahtera.
"Malah bilang, Daniel udah putus sama Allisya,"
Aqila menarik seragam Kaila. "Duduk nak, kalau makan jangan bicara," nasehatnya.
Kaila menurut. "Baik bu," sejenak ia tersadar. "Apaan sih la, emang gue anak kecil yang kayak di Shiva? Jangan bioang aku anak kecil paman. Namaku adalah Shiva, Shiva," Kaila memperagakan telunjuknya ke kanan dan ke kiri persis seperti Shiva.
Allisya meringis kesakitan. "Sakitt," sepertinya asam lambung kumat lagi. Lupa sarapan.
Alvian cemas. "Mana yang sakit sya? Kamu belum makan ya?"
Allisya tidak menjawabnya.
"Mending Allisya di bawa ke rumah sakit aja deh. Di UKS antri," ujar Kaila yang ada benarnya, dimana para siswi mengeluh pusing, sakit perut, juga demam.
Alvian mengangguk. "Ayo sya, biar aku gendong kamu,"
Aqila menyingkir. "Hati-hati ya Al,"
Setelah Alvian pergi membawa Allisya, Aqila kembali melanjutkan makannya.
"Seharusnya lo bawain nasi bungkus buat Allisya," Aqila menyalahkan Kaila.
"Mahal la! Lima ribu!"
Apa kabar dengan roti salju sepuluh yang hampir sepuluh ribu itu.
"Terserah lo deh,"
Daniel yang akan menuju kelasnya, melihat Allisya di gendong Alvian pun mempercepat langkahnya. Pasti Allisya kenapa-napa.
"Tunggu!" teriak Daniel, tapi Alvian tetap berjalan.
Hingga sampai di mobil kepala sekolah, Alvian memasukkan Allisya. Beberapa guru menghampirinya bertanya mengenai keadaan Allisya.
Mobil kepala sekolah itu mulai melaju pergi, Daniel terlambat.
"Semua ini gara-gara gue,"
...🍒 🍒 🍒...
__ADS_1
...Next chapter coming soon 》 》 》...