
Di sebuah warung belakang sekolah, Aris nongkrong dengan semua anggota geng-nya, meskipun yang berkumpul hanya sepuluh orang tapi yang lainnya juga memiliki kesibukannya sendiri.
Javas menghela nafasnya. Meletakkan secangkir kopi di meja.
"Udah lama ya kita gak berantem sama geng lain," celetuknya memecah keheningan. Mereka sibuk dengan ponselnya sendiri.
Aris mengangguk. Benar apa yang di katakan Javas.
"Gue terlalu sibuk ngurus OSIS sama Allisya. Jadi lupa deh kalau geng kita seneng tawuran," rasanya ada yang kurang, sudah dua minggu tidak ada masalah dari geng lain yang suka mencari gara-gara.
Ponselnya berbunyi, notifikasi lagi dari geng Cakrawala. Ia lupa geng itu pernah mengajaknya balapan beberapa hari yang lalu.
Gavin
Anggota lo nyari masalah sama geng gue. Lo tau? Temen gue sekarang sekarat masuk rumah sakit. Sebagai gantinya, siap-siap aja.
09:00 am
Aris menatap bengis satu-persatu anggotanya.
"Jawab! Siapa yang nyelakain salah satu anggota geng Cakrawala?!" Aris menggebrak meja, semuanya tak menjawab. Takut Aris akan main tangan.
"Ris, lo tau darimana?" tanya Javas bingung. Tidak mungkin temannya berani menyakiti anak buah Gavin.
"Ngaku! Siapa diantara kalian nyari gara-gara sama geng Cakrawala!"
Sudah baik berdamai tapi menyulut api. Dan Gavin tidak akan semudah itu memaafkannya.
"Gak mungkin dia ada disini ris," sahut Javas mencoba menenangkan suasana.
"Arif mana? Kenapa dia gak datang kesini?" tanya Aris curiga. Bisa saja cowok itu yang mencari masalah duluan.
"Lo nuduh Arif? Ris, kalau gak ada bukti mending-"
"Apa?" Aris menyela dengan cepat. "Kalau bukan Arif siapa lagi? Lo?" emosi yang tak terkendali, Aris sangat marah kali ini. Sebelumnya Gavin sudah baik, mengajaknya ke klub dan mengobrol.
Arif berlari dengan nafas tersengal. "Maaf, gue telat. Sshh," Arif meringis karena mendapati beberapa luka lebam di wajahnya.
Javas menghampiri Arif. "Lo kenapa? Kok luka gini?" tanyanya khawatir.
"Gue di keroyok sama geng Cakrawala. Jumlah mereka banyak, untung aja ada polisi. Jav, obatin dong. Sakit banget nih," keluh Arif kesakitan. Mereka sangat brutal saat memukulinya.
"Lo liat kan ris? Arif di keroyok sama geng Gavin sendiri. Arif gak mungkin nyari gara-gara duluan," Javas mencoba memberikan pengertian.
Arif bingung. Kenapa Aris menuduhnya?
"Apa? Gavin nuduh gue?" sahut Arif merasa tak terima. "Ris, dia fitnah gue. Itu gak bener," Arif menggeleng tak percaya. Gavin selalu saja menuduh tanpa bukti.
Aris menghampiri Arif. Ia mengangguk. "Gue percaya sama lo," mengenai Arif menolongnya di klub saat itu, Aris percaya tidak mungkin Arif seperti itu.
"Terus Gavin bilang apa sama lo?" Arif sangat khawatir, mengenai teman Gavin dimana-mana dan jumlah Cakrawala pun besar di badingkan geng Aris.
"Gak ada. Kalian makan aja, gue mau pulang," Aris akan mengatasinya sendiri tanpa melibatkan siapapun.
Setelah Aris pergi, Javas mengajak semuanya berunding.
__ADS_1
"Gak mungkin Aris cuman bilang gak ada. Kalian tau kan Gavin gimana? Kita ikuti Aris aja diam-diam," Javas mulai mengatur rencana. Mereka mengangguk setuju.
...🍒🍒🍒...
Gavin sudah siap dengan 36 anggota geng-nya.
"Kapan sih Aris dateng? Lama banget," tanya Evan kesal. Sudah 10 menit baginya sangat lama.
"Bentar lagi," sahut Gavin dingin.
Aris sengaja jalan kaki, lagipula jarak rumahnya dengan markas sangat dekat.
"Serang!" teriak Gavin lantang saat Aris berjarak 2 meter. Akhirnya cowok itu datang juga.
Aris menatap lurus, ia masih bingung dengan keberadaan Gavin yang sangat tiba-tiba. Ia kira, Gavin akan mengajaknya balapan atau berkelahi satu lawan satu, tapi tidak. Gavin main keroyokan.
Aris berusaha melawan pasukan Gavin, mereka melingkar tak akan membiarkannya lepas.
Bugh
Aris tersungkur, pukulan dari belakang itu membuatnya tak berdaya.
Tak jauh dari tempat kejadian, Javas memerintahkan teman-temannya segera membantu Aris.
Saat Arif akan ikut, Javas menahannya.
"Rif, lo disini aja. Nanti lo terluka lagi," ucap Javas memohon, Arif mementingkan Aris daripada dirinya sendiri. Arif sudah menganggap Aris sebagai kakaknya.
"Iya. Tapi Aris gak bakalan luka kan Jav?"
Rio membawa Aris keluar dari lingkaran baku hantam itu. Aris melemah.
"Mending lo pulang aja deh ris, daripada ke rumah sakit yang ada lo di rawat inap," ucap Rio memberikan saran, keadaan Aris sangatlah parah.
Aris mengangguk, Rio benar juga. "Anterin gue pulang. Gue gak kuat lagi Ri," Aris limbung, dengan sigap Rio membopong Aris.
"Javas! Siapin mobilnya!" teriak Rio, Javas mengangguk dan menghubungi Gibran.
Tak lama kemudian mobil sport berwarna hitam metalic itu datang.
Selama perjalanan, Rio bercerita pada Gibran bagaimana awal mula pertarungan itu.
"Gavin marah banget Gib, dia gak bakalan tinggal diam. Salah satu anggotanya masuk rumah sakit," Rio mulai bercerita.
Gibran mengangguk. "Biar gue aja yang ngatasi ini semua. Aris gak perlu ikut campur, udah cukup dia capek ngurusin geng kita. Bukan berarti gue ngerebut posisi ketua, tapi melindungi Aris," sudah lama dirinya tidak terlibat geng-geng motor atau sekedar geng yang bersenang-senang untuk tawuran, kesibukannya bekerja rodi tanpa henti.
Saat sampai di rumah Aris, Rio menidurkan cowok itu di kamar Aris.
"Apa gak ada keluarganya atau teman terdekat gitu?" tanya Rio bingung, biar ada yang menjaga Aris.
Rio mengambil ponsel Aris yang ada di saku celananya. Mencari kontak seseorang dan meneleponnya. Hanya ada satu nama yang di berikan emoticon love, Allisya my girl.
Anda
Cepet datang kesini, gue butuh lo.
__ADS_1
05:00 pm
Pesan terbaca, Rio melangkah pergi. Meninggalkan Aris sendirian di kamarnya.
Sedangkan Allisya yang mendapat pesan itu bergegas keluar, untung saja kedua orang tuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Allisya mengendarai motor milik ayahnya, gila memang. Motor ninja yang ukurannya besar dan tubuhnya kecil tak seimbang, tapi Allisya tidak mengebut. Melajukan motornya sesuai standar.
Tak butuh waktu lama, Allisya sampai di rumah Aris.
Pintu tidak di kunci, Allisya memanggil nama Aris tapi tak ada sahutan. Mencari di ruang tamu, dapur, sampai yang terakhir di kamar.
Aris berbaring dengan mata terpejam dan luka lebam yang menghiasi wajahnya.
Allisya terkejut. Kenapa Aris bisa begini?
"Aku harus obati lukanya," Allisya melangkah menuju dapur, hanya butuh air hangat saja sudah cukup.
"Kak Aris pasti habis berantem. Buat apa sih? Biar kayak jadi cowok cool?" gerutu Allisya kesal. Saatnya mengobati luka Aris dengan cepat.
Melihat Aris terluka, hati Allisya merasakan luka itu.
Dengan hati-hati Allisya mengompres luka lebam itu. Aris meringis dan terbangun.
"Ngapain kamu ada disini?" dengan nada tidak suka, Aris bertanya seperti itu.
Allisya meletakkan kain kompresnya di nakas.
"Kenapa? Aku khawatir sama kak Aris. Habis berantem kan?"
Aris tak menjawab.
"Kalau kak Aris kenapa-napa gimana? Bahaya tau kak berantem itu," Allisya menasehati.
"Aku gak berantem sya. Dia aja yang duluan ngajakin berantem, main keroyokan lagi. Aku gak bisa ngelawan sya," jawab Aris putus asa.
"Habis pulang sekolah, kak Aris langaung pulang. Gak usah nongkrong lagi," tegas Allisya dingin.
"Kenapa sih sya ngelarang aku? Mereka itu temen aku," sanggah Aris tak mau kalah.
"Kenapa kamu jadi ngatur aku sya?"
"Oh, kak Aris gak mau gitu aku atur? Salah ya aku perhatian? Aku peduli sama kondisi kak Aris," jawab Allisya lirih, suaranya tercekat.
"Bukan gitu sya," Aris salah mengatakan itu. "Sya, kamu disini ya?" Aris meraih tangan Allisya, menggenggamnya.
Allisya menjauhkan tangannya. "Aku pulang aja. Kak Aris istirahat, aku udah masak tadi. Jangan lupa makan kak," Allisya melangkah keluar dari kamar.
Aris menatap kepergian Alliaya sedih. Apakah perkatannya menyakiti hati Allisya?
...🍒🍒🍒...
...Telat up, sibuk di dapur nih. Jadi bingung mau nulis TMOO apa yg MWTB...
...See you......
__ADS_1