Married With The Badboy

Married With The Badboy
46. Gara-gara PIB


__ADS_3

Mengantuk, itulah yang di rasakan penghuni kelas 12 Ips 2 sedang berlangsung live streaming pelajaran Sejarah. Tidur, mencatat hal yang penting di sampaikan oleh guru, bertanya jika kurang mengerti, ada yang sekedar memperhatikan saja.


Kaila menguap, lama-lama bosan juga.


"La," panggil Kaila berbisik. Aqila menoleh dengan wajah suntuknya.


"Lo pernah gak sih merasa kalau cowok yang kita sukai itu menjauh?" tanya Kaila sekedar iseng, hanya ingin tau bagaimana tanggapan Aqila si otak cerdas.


Aqila mengernyit, Kaila sedang galau rupanya.


Aqila menggeleng. "Kak Javas gak pernah gitu. Dia selalu ngasih kabar kok. Emangnya lo ada masalah apa sama kak Arif? Apa dia udah nyerah sama lo?"


Kaila menggeleng lemah. "Gak tau la. Meskipun terkadang gue bales chatnya galak dan cuek, tapi notifikasi dari dia itu udah bikin hati gue seneng banget."


Aqila mengusap bahu Kaila memberikan ketenangan.


"Sabar aja kai, mungkin kak Arif punya kesibukan sendiri makannya jarang ngasih kabar. Positive thingking aja."


Kaila menghela nafasnya. "Kalau kenal cinta bikin hati gue sakit kayak gini, mending dulu gak usah tau makna cinta apalagi berani kenal," nadanya tampak kesal dan marah. Hatinya benar-benar lelah di permainkan.


Allisya yang mendengar keluh kesah Kaila galau akut pun ikut sedih.


Allisya menoleh ke belakang. "Curhatnya nanti aja di chat. Masih pelajaran," nasihatnya, karena suasana kelas yang sepi dan suara Kaila dan Aqila grasak-grusuk.


"Bener apa yang di katakan Allisya, nanti aja di chat. Lagian gue gak kemana-mana kok kai," Aqila selalu siap menemani Kaila 24 jam seperti ronda malam asalkan sahabatnya itu selalu bahagia bukan mengsedih seperti ini.


"Makasih banget ya la? Lo selalu ada buat gue sama Allisya juga," Kaila tersenyum tipis.


"Sama-sama kai."


"Saya ada infromasi penting untuk besok pagi, kalian harus sampai di sekolah pada pukul jam enam tepat. Karena PIB khusus kelas duabelas untuk perisapan Try Out berbasis CBT. Dengan adanya PIB semoga kalian faham dengan penyampaian materi yang di ulang-ulang oleh guru kalian. Sekian pelajaran Sejarah hari ini. Silahkan pulang."


Bel pulang pun berbunyi, membebaskan rasa bosan dan kantuk kelas 12 Ips 2.


Saat Allisya sudah keluar duluan, Aqila menarik tas Kaila yang mau ikutan keluar tak sabaran ingin pulang.


Kaila berdecak kesal. "Apaan? Gak usah tarik-tarik tas gue ah!"


Aqila terkekeh. "Gue ada ide nih. Kan Allisya bangunnya molor kayak kebo. Kita bilang aja ke kak Aris kalau besok harus berangkat pagi-pagi banget. Kan PIB, lo setuju gak?"


Kaila mengangguk antusias. "Setuju banget! Ya udah, bilang sekarang!"


Aqila mengetikkan pesan kepada Aris.


"Udah, hahaha liat aja besok pasti wajah Allisya masih ngantuk banget," Aqila tertawa jahat, sungguh senang mengerjai Allisya gadis polos juga menggemaskan di mata Aris itu.


"Sip! Kita liat aja besok," Kaila juga tak sabaran melihat Allisya menekuk wajahnya saat memasuki kelas nanti.


Aris yang sedang makan di kantin kampus mendapatkan notifikasi pesan dari Aqila.


Aqila


Besok Allisya PIB kak, harus sampai jam 6 tepat di sekolah. Biasanya Allisya kan susah bangunnya. Jemput aja jam 5 kak.


12:30 pm


Aris tersenyum tipis. Pasti sangat menyenangkan.


Javas yang melihat Aris senyum karena ponselnya pun heran.


"Lo kenapa senyum ris? Oh, lagi chat sama Allisya?" tebak Javas, tak ada lagi alasan Aris bisa tersenyum kalau bukan karena Allisya seorang.


"Besok Allisya PIB, kelas duabelas kan ujian terus."


"Astaga! Oh ya juga sih," Javas mengangguk faham.


"Harus jemput Kaila lebih pagi nih. Kemarin emang gak bisa jemput, chat aja gak. Gue sibuk bantuin bokap masalah kantor soal keuangan, lagi ada masalah," Arif mulai jujur, ia sampai lupa dengan Kaila tak memberikan kabar seharian. Hatinya merasa bersalah, pasti cewek itu sedih juga merasa kecewa.

__ADS_1


"Ya lo bilang sama Kaila langsung, masa ke kita? Lurusin dulu tuh, bisa aja Kaila salah paham sama lo," ujar Javas sengit dan ketus.


"Gue duluan. Maaf, hari ini gue gak ikut kelas dulu," Arif menyampirkan tasnya, Kaila-nya tak boleh bersedih.


Javas menggeleng heran. "Kayaknya bener Arif udah mulai cinta banget sama Kaila."


"Bagus lah, kalau Arif cinta sama Kaila dan di perjuangin sampai sekarang. Lo juga, udah pacaran gak sama Aqila?"


Javas mengangguk. "Semalem, gue tembak Aqila di taman kota. Dia baper juga malu, banyak yang ngeliatin aksi romantis gue," jawab Javas berbangga diri, jago gombal.


"Jangan bikin anak orang nangess! Gue hajar juga lo," Aris menggebu-gebu, tak sadar dengan cerminannya sendiri yang kadang membuat Allisya galau.


"Lo juga lah, jangan bikin Allisya sedih. Dia terlalu subhanallah untuk lo yang astaghfirullahaladzim."


Aris melempar tisu tak mengenai wajah Javas.


"Sok bawel lo!"


Javas hanya tergelak melihat Aris yang kesal.


...🍒🍒🍒...


Disinilah Arif dengan Kaila di kafe. Hanya memesan Thai Tea.


"Aku bisa jelasin kenapa seharian kemarin gak ada kabar. Aku-"


"Apa? Belajar? Kak, belajar juga perlu istirahat," dengan cepat Kaila menyela.


"Cuman kak Arif belajar sampai lupa sama aku?" tanya Kaila dengan suara lirihnya.


Arif menggeleng, tangannya meraih jemari Kaila yang begitu hangat.


"Aku bantuin papa kai, di kantor ada masalah. Keuangannya gak stabil, bahkan hampir bangkrut. Semua karyawan juga belum dapat gaji," Aris menjelaskannya dengan serius.


Kaila terdiam. Kalau memang itu alasannya, seharusnya ia tak marah dan negative thingking dulu.


Kaila terpaku. Sayang? Apa juga termasuk cinta? Entahlah, ia tak yakin dengan ucapan Arif itu.


"Aku jatuh cinta sama kamu Kaila Sherly Sifabella. Will you be my girlfriend?"


Kaila mengangguk pelan. "Iya aku mau."


"Mau pesen makanan gak? Masa minuman aja, emang kamu kenyang?"


Dan baru kali ini Arif bisa sejinak ini, berbeda sebelumnya yang ingin mengajak duel gelud.


"Samain aja sama kamu. Jangan banyak-banyak, aku gak laper."


"Ok. Siap Kailaku."


Kedua pipi Kaila bersemu. Ah dasar gombal.


...🍒🍒🍒...


Ting tong ting tong.


Bel di tekan beberapa kali, Aris ke rumah Allisya jam 5 pagi sesuai permintaan Aqila.


Selena yang masih berkutat di dapur pun heran.


"Siapa ya masih pagi-pagi banget ke rumah?" langkah Selena menuju ruang tamu, di bukanya pintu utama. Ternyata Aris.


"Loh? Aris? Tumben datang kesini pagi-pagi banget lagi. Ada perlu apa?"


"Saya kesini mau jemput Allisya. Apa dia udah bangun ma?"


Selena menggeleng. "Masih tidur tuh, ngorok lagi."

__ADS_1


"Bangunin Allisya ma, pagi ini dia harus berangkat ke sekolah awal. Karena ada PIB, kelas duabelas kan sebentar lagi di hadapkan dengan ujian."


"Iya, aku bangunin Allisya dulu. Kamu duduk aja ya? Maaf hehe belum mateng makanannya."


"Saya udah sarapan kok."


"Tunggu bentar ya?"


Aris mengangguk.


Di kamar Allisya, Selena mulai ancang-ancang menarik nafas. Saatnya berteriak. Hanya cara inilah yang ampuh membuat Allisya bangun dengan sempurna.


"Allisya!! Banguunn! Bangun sahur! Sahur! Sahur!" Selena menirukan nada mimiperi.


Allisya terlonjak kaget, ia langsung berdiri dengan wajah fresh-nya.


"Apa sih ma? Ngagetin orang lagi tidur aja deh."


"Kenapa kamu gak bilang kalau berangkat jam 6 pagi? Tuh disana Aris udah nungguin kamu. Udah ganteng, kamu masih ileran. Sana mandi!"


Allisya beranjak dari kasurnya, dengan langkah malas dan gontai menuju kamar mandi.


Setelah selesai melakukan ritualnya Allisya sarapan dengan tergesa-gesa karena mamanya selalu bilang Aris sudah menunggu.


"Akwu berangkwat dulwu ywa mwa?" Allisya salim pada mamanya dengan mulut yang masih penuh dengan roti gandumnya.


Selena terkekeh. "Ya, hati-hati."


"Kak Aris. Ayo, nanti aku telat," Allisya sesekali melirik jam tangannya, kurang 20 menit lagi.


Aris mengangguk. "Iya, ayo."


***


Sampai di sekolah, tanpa mengatakan apapun Allisya berlari menuju kelasnya.


Aris yang melihat Allisya lari kocar-kacir itu terkekeh.


"Kalau gak aku jemput jam lima, pasti masih molor."


Nafas Allisya tersengal, rambut mulai berantakan. Untungnya tinggal 5 menit lagi. Ia tepat waktu.


Saat memasuki kelas, sudah hampir terisi penuh. Di meja mereka sudah siap dengan buku PIB-nya.


Allisya meletakkan tasnya. Seperti lari marathon saja.


Aqila terkekeh. "Gimana sya? Enak gak bangun pagi-pagi? Pasti di omelin sama mama nih karena susah di bangunin."


"Tapi Allisya kesini gak telat kok. Bagus, hebat banget lo sya," Kaila bertepuk tangan.


Allisya hanya tersenyum garing. "Ya, makasih. Pasti kak Aris tau aku PIB dari kalian. Ya kan?"


Aqila mengangguk. "Daripada lo telat, emang mau?"


"Gak lah. Aku gak mau di hukum," Allisya menggeleng kuat, selama bersekolah ia bersih dari hukuman.


"Aku gak sempat minum susu coklat! Mama sih bikin aku buru-buru makan. Sya Aris udah nungguin tuh cepetan jangan lama-lama."


Aqila dan Kaila hanya tergelak mendengar keluhan Allisya. Lucu sekali.


...🍒🍒🍒...


Sarapan keburu ngetik lanjutin cerita ini gak bisa kenyang.


6:17 pagi


Sampai jumpa-,

__ADS_1


__ADS_2